
Di teras rumah kediaman Fandi.
”Terima kasih, kalian telah menyuguhi ku dengan makanan yang lezat. Aku sangat bersyukur bisa makan bersama dengan kalian. Kapan- kapan, boleh kah aku singgah untuk makan lagi?” tanya Fajrin.
Fandi dan Fatma saling pandang.
”Boleh.” jawab Fandi.
”Terima kasih, aku senang mendengarnya.” Fajrin melihat Fitri. ”Hana, terima kasih, telah membantu ku mengerjakan sebagian tugas ku. Dan terima kasih, atas saran yang kamu berikan. Jika aku butuh saran dan membutuhkan pikiran mu, aku akan datang mencari mu.”
Saran apanya? Bantuan apanya? Huh...pandai mengarang kata-kata, tapi, dia menggunakan alibi itu untuk melindungi ku. Jika tidak, aku sendiri akan kebingungan menjawab pertanyaan orang tuaku. benak Fitri.
”Aku tidak mau, cukup sekali ini saja aku membantu mu. Aku tidak mau bertemu masalah lagi, di dalam rumah mu.” tolak Fitri.
Cukup sudah untuk aku ikut sama kamu. Jangan harap kamu bisa membawa ku lagi ke rumah mu untuk melecehkan ku. benak Fitri.
”Aku janji, tidak ada lain kali. Semua pelayan ku, aku akan mendisiplinkan nya. Dan, tidak ada tambahan pelayan lagi di rumah ku.” sahut Fajrin.
”Mendisiplinkan pelayan mu, bukan urusan ku, itu urusan mu sendiri. Dan jangan mencari ku lagi, hubungan kita cukup hanya antar murid dan dosen.” tegas Fitri. Dia masuk ke dalam rumah setelah berucap.
Ardi menyipit melihat Fitri. Apa yang dia alami di rumahnya Fajrin? benaknya.
Ardi masuk ke dalam rumah, menyusul adiknya.
Fandi dan Fatma saling pandang. Mereka menahan tawa. Ternyata, seorang bos besar, pemilik saham terbanyak, ada juga orang yang berani menantangnya. Dan dia adalah seorang wanita, dan wanita itu adalah anaknya sendiri.
Fitri Raihana menegaskan jika dia tidak peduli, tidak menyukai dan secara langsung menolak Fajrin dengan tegas, di hadapan mereka dan di dengar langsung oleh Fajrin.
Fajrin mengepalkan tangannya. kucing liar! Kamu berani membuka suara di hadapan orang tuamu, menegaskan batasan hubungan kita? Jangan harap kamu bisa lepas dari kendali ku. benaknya.
”Baiklah, aku pergi dulu.” pamit Fajrin.
”Iya.” sahut Fatma dan Fandi.
Fajrin pergi dari teras rumah Fandi. Dia masuk ke dalam mobil. ”Anak itu...apa kurangnya dari ku? Kenapa dia tidak tertarik padaku?” gumamnya.
Fajrin menyalakan mobil dan menjalankannya, meninggalkan kediaman Fandi.
....
Di kamar Fitri.
”Pria brengsek! Mesum! Mau membawaku ke rumahmu? Jangan harap, aku tidak akan mau! Cukup hari ini saja aku datang ke rumah mu!” Fitri sangat kesal.
”Aku bukan wanita yang bisa kamu pakai untuk melakukan mesum mu itu!” dia mengambil buku magang, yang di belikan oleh Alvin dan meletakkannya kasar di atas meja. Dan dia duduk bersandar di kursi. Dia menghela nafas.
Dia memejamkan matanya. Tanpa di inginkan olehnya, perbuatan Fajrin yang menciumnya dan memeluknya terbayang di matanya.
Si mesum itu satu hari ini sudah berapa kali dia mencium ku dan memelukku dengan paksa. Lain kali, aku akan menghajarnya dan gak akan memandang dia sebagai atasannya papa dan kakak lagi. benak Fitri. Dia mendengus kesal.
”Bagaimana bisa kamu pergi ke rumahnya Fajrin, Hana!” nada suara Ardi tinggi dan marah.
Fitri membuka matanya. Dan melihat Ardi. Ardi sudah berada di depannya, memojokkan dirinya di kursi.
__ADS_1
”Aku tidak tahu kalau dia membawa ku ke rumahnya kak. Sungguh! Aku kira dia akan mengantar ku pulang ke rumah.” Fitri sedikit ketakutan melihat wajah marah pada kakak nya itu.
”Kenapa kamu bisa tidur di rumahnya? Dia seorang pria, pria yang normal. Kemana kewaspadaan dirimu berada, saat kamu di rumahnya? Hum? Kalau dia melakukan hal yang melecehkan mu, bagaimana? Siapa yang akan melindungi mu? Hum?” raut wajah dan nada suara Ardi tidak berubah sama sekali. Justru suaranya semakin tinggi dan menatap Fitri dengan tajam.
”Ma..maaf, Hana memang salah. Hana tidak akan mengulanginya lagi! Hana benar-benar salah, maaf!”
”Apa yang sudah dia lakukan sama kamu?” Ardi tetap bernada marah, meski raut wajahnya berubah lembut.
”Tidak ada...dia tidak melalukan hal apapun padaku.”
Hanya mencium dan memelukku saja. Tapi, tidak mungkin kan aku akan mengatakan ini pada kakak? benak Fitri
”Lalu, masalah apa yang kamu hadapi di sana? Kamu berkelahi dengan pelayannya Fajrin?”
Dari celah pintu kamar Fitri, Fatma dan Fandi baru saja ingin masuk ke kamar Fitri untuk menasehatinya. Namun, mereka telah melihat Ardi yang duluan datang untuk menegur dan mengajari adiknya.
Mereka pun pergi dari sana. Biarkanlah, cukup Ardi saja yang menegur dan memarahinya. Jika ada lain kali lagi, Fandi sendiri yang turun tangan mengajari anak perempuannya itu.
”Pelayannya tidak suka melihat ku berada di rumah Fajrin. Dia juga tidak suka melihat Fajrin memperhatikan ku. Dia marah, dia mengatai ku wanita penggoda, wanita ******. Jadi, aku menamparnya.” ungkap Fitri.
”Hum? Memang ada yah pelayan yang berani dengan berbuat kurang ajar dengan tamu tuan nya, begitu?” suara Ardi melunak, dia berdiri bersandar di sisi meja belajar Fitri.
”Dia menyukai Fajrin. Itulah sebabnya dia tidak senang melihat ku.”
”Kamu tahu, gara-gara kamu, kakak kena marah sama papa sejak sore hari. Bahkan di saat dua menit, sebelum kamu datang, papa lanjut memarahi ku. Kepala kakak mau pecah rasanya! Kakak ingin menghajar mu saja, jika kamu ada di situ.” Ardi mengeluarkan unek yang ada di hatinya.
”Maaf, kak.”
”Lain kali, kamu harus berpikir seribu kali untuk mengikuti Fajrin di rumahnya lagi. Kamu harus memikirkan tentang harga dirimu, harga diri kedua orang tuamu dan kakak mu ini. Hati kami tidak mau terluka karena gunjingan orang tentang kamu. Mengerti?”
”Mengerti, kak. Maaf, kak. Hana tahu, Hana salah. Hana ingin menghubungi kakak untuk menjemput ku, tapi, Hana tidak tahu alamat rumah Fajrin. Hana juga sudah meminjam uang dari salah satu pelayan Fajrin untuk biaya taksi. Tapi, pintu pagar rumah Fajrin, tidak bisa di buka sembarang orang. Jadi, Hana menunggu Fajrin yang mengantar pulang.” ungkap Fitri lagi.
Kening Ardi mengerut. Apa masih ada rumah Fajrin yang lain? Yang aku tahu hanya rumah Fajrin yang di apartemennya. Sepertinya, Fajrin membawa Hana di rumah pribadinya. Apakah Fajrin benar-benar serius pada adikku? benaknya.
”Kakak pikirkan apa?” tanya Fitri.
”Tidak, kamu belajar apa? Buku magang? Sejak kapan kamu punya buku itu? Kamu ingin magang?” Ardi mengambil buku tersebut dan membukanya.
”Aku hanya membacanya dan mempelajarinya saja. Aku ingin menjadi mandiri dan sukses dalam bekerja.” ucap Fitri bersemangat.
”Hum...untuk itu butuh setahun lagi. Belajarlah dengan baik.” nasehat Ardi.
”Nah, justru itu kak, Hana membaca buku ini. Hana ingin magang saja baru mengambil skripsi.”
”Oh, kamu ingin magang di mana rencana nya? Kenapa gak ambil KKN saja?”
”Tidak, Hana langsung ingin terjun bekerja di perusahaan.” tatapannya tajam menatap satu arah
*Bekerja langsung di p*erusahaan ku sendiri. benaknya.
”Han, tatapan mu aneh! Kamu kenapa?”
”Oh, gak kenapa-napa kak. Hanya perasaan kakak saja kali melihat tatapan Hana yang aneh.” ucap Fitri sambil tersenyum.
__ADS_1
”Hum ya sudah lah. Kamu lanjut belajar. Kakak juga mau istirahat.”
”Iya, kak.”
”Tidurnya jangan larut malam. Ok?”
”Iya, kak.”
Ardi keluar dari kamar Fitri. Fitri berdiri dan mengunci pintu kamarnya. Dia kembali duduk dan membaca buku yang ada di atas mejanya.
.. ..
Di kamar Zulfa.
”Zulfa, ada perubahan tempat untuk mengadakan ulang tahun kampus. Semua alumni sebelumnya pun akan hadir nanti di acara tersebut. Kali ini adalah acara besar-besaran. Dan acaranya akan di adakan di Fazhr Hotel.” ungkap Hasan.
”Fazhr Hotel? Bukan kah itu hotel terbesar, termewah di kota ini? Apakah kampus memiliki banyak dana untuk menyewa hotel tersebut untuk satu hari?”
”Yah, tentunya di setiap pemilik saham kampus akan menyokong dana untuk menyewanya kan? Dan tempat itu akan di kosongkan untuk umum. Acaranya pasti meriah. Dan, kita akan jalankan rencana kita di sana?” Hasan tersenyum licik.
”Memang bisa kak? Pasti semua akan berbaur dan kita akan kesulitan mencari Hana dan Zahidin.” wajah Zulfa cemberut.
”Hanya si awal saja baru berbaur. Untuk mendengarkan kata-kata sambutan dan pembukaan acara dari orang-orang penting di dalamnya. Setelah itu, akan ada pembagian tempat. Dan untuk kita, yang masih kuliah di sana, di tempatkan di lantai empat. Sementara para dosen juga berada di lantai yang sama hanya di ruangan yang berbeda. Jadi, gampang untuk menemukan mereka.”
”Kok kakak tahu dengan detail untuk acara kampus?” Zulfa penasaran.
”Kan kakak ikut serta dalam kegiatan itu.” ungkap Hasan.
”Oh...wah...bagus, bagus! Kapan acara nya kak?”
”Dua hari lagi.” jawab Hasan.
”Gak sabar kak menunggu hari itu. Aku sangat bersemangat.”
”Ok, yang penting, kamu jangan cari gara-gara sama Hana!”
”Kakak mengancam ku?
”Memperingatkan mu, lebih tepatnya. Sudah, kakak keluar dulu. Belajar baik-baik. Kamu sudah masuk semester akhir. Dan jangan cari hal dengan mahasiswa di sana, kakak gak bisa lindungi kamu.”
”Iya, tahu, lagipula, siapa yang berani dengan Zulfa, maka akan di keluarkan dari kampus. Setelah ambil ijazah kakak akan bekerja dimana? Kakak gak jadi ke luar negri kan?”
”Kenapa kalau kakak ke luar negri? Bukannya kamu senang? Cuma kamu seorang yang akan di perhatikan sama papa dan mama.”
”Gak lah kak. Cuman, kalau gak ada kakak rumah sepi, kan kakak tahu mama dan papa punya kesibukan sendiri. Yang temani Zulfa cuma kakak doang.” wajah Zulfa sedih.
”Kakak akan bekerja di kota ini saja.” ucap Hasan.
Membuat Zulfa tersenyum senang. ”Terima kasih kak. Kakak paling pengertian dengan Zulfa.” dia memeluk kakaknya.
Hasan tersenyum sambil membelai kepala adiknya itu. ”Sudah, kamu pergilah istirahat. Kakak juga butuh istirahat.”
Zulfa mengangguk. Hasan keluar dari kamar Zulfa. Zulfa membaringkan dirinya di ranjang sambil tersenyum-senyum sendiri.
__ADS_1