
Keesokan harinya, di kantor Randi.
”Selamat pagi, Ita! Bawakan jadwal ku hari ini!”
”Selamat pagi, Pak! Baik, Pak!”
”Em... Pak Randi!” Ita mencegah langkah Randi. Randi menghentikan langkahnya, menoleh melihat Ita, sekretarisnya itu.
”Hmm? Ada apa?” tanya Randi.
”Di dalam ruangan Bapak, ada nona Cindy yang menunggu Bapak dari tadi.”
Kening Randi mengerut, Sudah berapa kali aku katakan padanya untuk tidak datang menemui ku di kantor! Tapi, masih saja dia melanggar nya. Hah! Seandainya itu Fitri...ia menuruti semua ucapan ku. benaknya.
”Hum! Setelah Cindy keluar dari ruangan ku, bawakan jadwal ku hari ini dan siapkan file yang di butuhkan untuk rapat besok, aku akan mempelajarinya hari ini.”
”Baik, Pak!” Jawab Ita.
Randi melanjutkan langkahnya menuju ruangannya. Randi menghela nafas terlebih dahulu baru membuka pintu ruangannya.
Di dalam ruangan Randi.
”Randi, kamu sudah datang?” Cindy menghambur ke pelukan Randi, menyambut pria itu.
Randi membalas pelukan Cindy sesaat dan melepaskan tangan Cindy yang melilit pinggangnya. Ia berjalan ke meja kerjanya.
”Kenapa kamu selalu mengabaikan ucapan ku?” Ia menarik kursi dan duduk di sana. Ternyata Cindy mengikuti langkah Randi dan ia duduk di pangkuan pria itu.
”Karena aku tahu, kamu tidak akan marah padaku.” Senyumnya menghias bibirnya, tangannya mengelus wajah Randi. Randi menahan tangan Cindy.
”Ini di kantor! Bagaimana jika karyawan ku tiba-tiba masuk dan melihat kita seperti ini? Apa kamu gak peduli dengan reputasi ku?”
Cindy berdiri dari pangkuan Randi, wajahnya sangat kesal. Ia berdiri, bersandar di tepi meja kerja, di hadapan Randi.
”Hmm? Kamu kenapa? Kok kayak berubah begitu semenjak kepergian Fitri?” Wajah Cindy di buat masam, ia merajuk.
”Cindy, please! Ngertiin posisi ku sekarang! Ok?” Randi melihat Cindy dengan serius. Cindy mendengus kesal.
”Lagi pula, kenapa sih harus peduli dengan tanggapan orang-orang tidak penting itu?” Tangannya terlipat di depan dada, wajahnya sangat tidak bersahabat.
Randi menghela nafas, ia berdiri dan memegang kedua bahu Cindy, mencoba menenangkan wanita itu.
”Cindy, mengertilah! Statusku masih duda di mata orang-orang! Kuburan istriku belum kering, seratus harinya juga belum kelar. Tolong! Selama itu, jaga jarak dari ku! Baik-baiklah menunggu ku di rumah. Ok?” Randi mencoba memberi pengertian pada Cindy akan kondisinya.
”Baiklah!” Cindy mengalah. ”Aku akan pulang ke rumah dan menunggu mu. Tapi, sebelumnya, aku ingin pergi berbelanja barang kebutuhan ku dulu.” Tangannya terulur ke depan meminta uang dari Randi.
Cindy hanya taunya untuk menghabiskan uangku, tidak membantu ku. Berbeda sekali dengan Fitri. Bahkan ATM milikku sudah ku berikan padanya. Isinya juga lumayan banyak, apakah sudah habis begitu saja? benak Randi.
”Bukankah, ATM ku ada sama kamu?”
”Itu mana cukup, Randi! Berikan aku ATM milik Fitri! Karena dia sudah tiada, ATM nya jadi milikku!”
Randi terdiam memandang Cindy.
”Kenapa? Tidak mau memberikannya?” Keningnya mengerut menatap Randi. Matanya mencari jawaban apa yang membuat Randi melindungi ATM milik Fitri.
Randi mengambil dompetnya, membukanya dan mencari kartu ATM miliknya yang lain. Ia menariknya dan memberikan pada Cindy.
”Ini kartu ATM milikku, uang tabungan ku semua ada di situ. Pakailah sepuas hatimu, tapi, jangan mengambil ATM milik Fitri. Kartu Fitri di lindungi sama perusahaan.”
Daripada memberikan ATM nya Fitri, dia memilih memberikan ATM nya sendiri? benak Cindy.
”Hah! Yang benar saja! Kamu sengaja membohongi ku, kan? Agar aku tidak bisa memiliki kartu nya Fitri. Iya, kan?” Cindy berkata marah. Randi menghela nafas.
__ADS_1
Mengatur Cindy sangat setengah mati! Fitri...mas merindukan kamu yang mengerti mas, yang menurut sama mas. Mas sungguh merindukanmu, Fitri. benak Randi.
”Aku tidak membohongi kamu! Kartu yang kamu lihat itu, memang dilindungi oleh perusahaan! Kartu itu hanya di gunakan untuk keperluan perusahaan.” Randi mencoba menjelaskan. Cindy mulai percaya.
”Baiklah! Aku ambil kartu mu, aku akan berbelanja sepuas hati ku! Terima kasih, aku pergi dulu.” Cindy mencium pipi Randi dan melenggang keluar dari ruangan Randi.
Randi menjatuhkan dirinya di kursi sambil menghela nafas berat berkali-kali.
Tok tok tok! ”Permisi, Pak!” Terdengar suara ketukan di pintu ruangan. Randi memperbaiki raut wajah dan cara duduknya dengan benar.
”Masuk!” Randi menyalakan laptop.
”Pak, ini adalah file yang bapak perlukan untuk rapat besok.” Ita menaruh file itu di samping kanan Randi.
”Hum! Bacakan jadwal ku!” Titah Randi.
”Baik, Pak!” Ita membuka jadwal Randi yang di catatnya.
”Pukul sembilan lewat lima belas menit, Bapak akan bertemu dengan kolega dari kota M, di Citi mall. Pada jam dua belas siang, Bapak ada janji dengan wakil sekretaris dari perusahaan xxx sekaligus makan siang bersama di mall xx. Pada jam dua siang, ada rapat bersama beberapa divisi terkait pembangunan hotel yang akan kita bangun. Untuk hari ini, jadwal bapak hanya itu saja.” Ita menutup kembali buku agenda di tangannya.
”Kurang dua puluh lima menit lagi jam sembilan. Bapak masih ada waktu dua puluh lima menit untuk bertemu dengan kolega dari kota M tersebut. Perjalanan dari perusahaan ke Citi mall memakan waktu dua belas menit. Saya mendengar... jika beliau selalu tepat waktu datangnya.” Papar Ita.
”Baik, kamu bersiaplah untuk mengikuti aku ke Citi mall bertemu dengan mereka. Tunggu aku di meja mu, aku akan menyelesaikan pekerjaan ku dulu.” Ucap Randi, matanya fokus ke layar laptop dan tangannya mengetik di keyboard laptop tersebut.
”Baik, Pak!” Ita pun keluar dari ruangan Randi.
*
*
*
Di kediaman Fandi, kota P.
”Mama, ingat pesan Papa. Papa berangkat dulu. Jaga diri Mama dan anak-anak dengan baik.” Fandi mencium kening istrinya, Fatma.
”Ardi! Kamu sebagai lelaki di sini, Papa memberimu tugas, jaga Ibumu dan adik mu dengan baik. Jika saat Papa kembali, Ibu dan adik mu ada yang terluka, Papa akan memberikan luka yang sama pada tubuh mu.” Ancam Fandi pada Ardi.
”Papa mengancam Ardi?”
”Ya, Papa mengancam keselamatan kedua wanita ini dengan nyawamu!” Tegas Fandi. Fatma dan Fitri tersenyum melihat Ardi yang tertekan.
”Pa, apa Ardi masih anak kandung, Papa?”
”Tentu saja!” Jawab Fandi dengan santai.
Fitri dan Fatma tersenyum melihat Ardi dan Fandi. Anak dan bapak itu terkadang akur dan terkadang selalu saling mengancam. Namun, mereka tetap saling menyayangi satu sama lain.
”Baik! Papa jaga diri baik-baik di sana. Kembalilah dengan cepat, jika tidak ingin kami mencari Papa yang baru!” Ardi mengancam Fandi.
Fandi dan Fatma sama-sama membelalakkan mata melihat Ardi. Mereka tidak percaya anak satu-satunya laki-laki itu berbicara seperti itu kepada papanya.
”Memangnya kamu bisa mendapatkan seorang ”Papa” Seperti Papa mu ini? Hum?” Fandi tidak mau mengalah.
”Te...” Ucapan Ardi terhenti oleh Fatma.
”Ardi! Sudah stop! Biarkan Papa mu berangkat kerja. Kamu juga bersiap-siaplah, kita akan berangkat ke kebun bunga sekarang!” Fatma memisahkan kedua pria dewasa yang kadang masih bertingkah ke kanak-kanak kan itu.
Namun, keharmonisan keluarga mereka terkadang tercipta dari candaan yang mereka perlihatkan.
”Baik, Ma. Ardi akan mengambil koper dulu.” Ardi pergi melangkah masuk ke dalam rumah.
”Baiklah! Papa berangkat sekarang! Kalian berhati-hatilah selama Papa tidak menemani kalian.” Fandi menyentuh wajah Fitri. ”Hana, maafkan Papa jika Papa bukan Papa yang baik untuk Hana.”
__ADS_1
Fandi menarik tangannya dari wajah Fitri. Ia masuk ke dalam mobil, mobil jemputan dari perusahaan tempat kerjanya. Mobil tersebut mulai pergi.
Fitri masih menampilkan wajah bingungnya. Ia tidak mengerti dan bingung mencerna ucapan papanya Hana itu.
Fitri melihat Fatma, mamanya. ”Ma, apa Mama mengerti maksud ucapan papa barusan?” Ia penasaran. Fatma terdiam.
”Mama, Hana! Koper pakaian sudah Ardi masukkan ke dalam mobil! Apakah masih ada barang yang mau di bawa?”
Syukurlah, Ardi datang tepat waktu. benak Fatma.
”Tidak ada lagi, Nak! Ayo kita masuk ke mobil!” Fatma melangkah masuk duluan ke mobil.
Seperti nya ada sesuatu yang di sembunyikan mama! Tapi, apa itu ya? benak Fitri.
Ia pun menyusul Fatma masuk ke dalam mobil. Tidak lama, Ardi masuk ke dalam mobil dan duduk di bagian setir.
”Tidak ada yang ketinggalan lagi, kan?” Ardi memastikan lagi jika tidak ada barang yang ketinggalan untuk di bawa ke taman bunga.
”Beres, Bos! Aman dan terkendali!” Sahut Fatma dan Fitri sambil tersenyum manis melihat Ardi. Ardi sedikit terkejut melihat kekompakan ibu dan anak itu.
”Wow! Mama dan Hana bisa kompak juga, ya!” Ardi mulai menyalakan mesin mobil dan mulai menjalankannya.
Fatma dan Fitri hanya tertawa kecil sambil mengangguk, menanggapi ucapan Ardi.
*
*
*
Di bandara kota P.
Fajrin menunggu kedatangan Fandi di bandara. Mobil perusahaan yang menjemput Fandi sudah pergi cukup lama untuk menjemput Fandi, tetapi belum juga datang sampai sekarang.
”Tuan, 3 menit lagi kita akan berangkat!” Salah satu karyawan Fajrin mengingatkan Fajrin waktu keberangkatan.
”Hum! Asistenku belum datang. Dia datang baru berangkat.”
”Baik, Tuan!”
Apa yang membuatnya terlambat! benak Fajrin.
Tidak lama kemudian, mobil perusahaan tiba di bandara. Fandi segera turun dari mobil. Ia melihat Fajrin bersama rekan-rekan lainnya telah berkumpul di bandara.
Ia berjalan cepat sambil mendorong koper pakaian.
”Pak direktur!” Fandi sampai di hadapan Fajrin.
Fajrin menjulurkan tangan ke depan, ia melihat jam yang berada di pergelangan tangannya itu.
”Anda terlambat dua puluh menit!” Ucapnya tegas.
”Maaf, Pak direktur atas keteledoran saya!” Fandi hanya dapat meminta maaf atas keterlambatannya.
”Hum! Ini yang terakhir, jika terjadi lagi, jangan muncul lagi di perusahaan! Gaji terakhir akan di kirimkan di nomor rekening pekerja.” Tegas Fajrin.
Ia bukan hanya memperingatkan Fandi saja, tetapi juga, memperingatkan karyawannya yang lain untuk tepat waktu.
”Baik, Pak direktur!” Jawab Fandi.
”Hum! Ayo kita berangkat!” Fajrin memutar badan dan berjalan ke pesawat pribadinya.
Para rekannya yang ikut menyusul di belakangnya.
__ADS_1
Direktur yang baru ini sungguh kejam! Lebih kejam lagi dari direktur sebelumnya. Bagaimana nasib Hana saat menikah dengan nya, ya? Aku tidak berani membayangkan itu! benak Fandi.
Mereka telah masuk ke dalam pesawat. Pilot mulai menyalakan mesin pesawat. Dan beberapa menit kemudian, pesawat pun lepas landas.