
Siang hari di kediaman Fandi.
”Bagaimana? Apakah semuanya sudah siap, Ma? Gak ada barang ketinggalan lagi?” tanya Fandi pada istrinya.
”Iya, semuanya sudah siap. Kita berangkat sekarang? Bagaimana dengan anak-anak, Pa?” tanya Fatma. Ia mengunci pintu rumah lalu memasukkan kunci ke dalam tas.
”Papa sudah beritahu pada Ardi... mereka langsung pergi ke taman bunga, kita bertemu di sana.” Fandi membukakan pintu mobil untuk istrinya. ”Ayo masuk, kita pergi sekarang.”
Fatma masuk ke dalam mobil. Fandi juga bergegas masuk ke dalam mobil. Ia menyalakan mobil dan menjalankannya.
”Apa tidak apa-apa mereka pergi ke taman bunga menggunakan motor, Pa? Tamannya lumayan jauh, loh! Mama takutnya ada apa-apa di tengah perjalanan mereka, seperti kehabisan bensin, misalnya. Di perjalanan ke sana tidak ada yang menjual bensin eceran, Pa. Atau... tiba-tiba ban motor kempes atau ban-nya pecah... gimana, Pa?”
”Tidak akan apa-apa, Ma. Tidak usah khawatir dan cemas. Papa sudah memberitahu Ardi untuk mengisi bensin sebelum berangkat dan memeriksa motornya sebelum dia menjemput Hana di kampus.” jelas Fandi.
”Oh, alhamdulilah kalau begitu. Mama tidak perlu khawatir lagi...” Fatma menghela nafas lega. Fandi tersenyum sambil mengangguk melihat istrinya.
*
*
Di perjalanan Ardi dan Fitri.
”Kakak, singgah di rumah dulu, ya? Simpan tasnya Hana, sekalian Hana mau mengambil laptop.” pinta Fitri pada Ardi.
”Kamu pegang kuncinya rumah? Kakak tidak membawa kunci rumah, papa dan mama pasti sudah berangkat.”
”Ada kak....”
”Ok, kita singgah di rumah,” sahut Ardi.
Beberapa menit berlalu. Ardi menghentikan motornya di depan rumah. Hana turun dari motor.
”Jangan lama! Kakak nungguin kamu di sini.” ucap Ardi.
”Iya... kak.” Fitri melangkah ke depan pintu rumahnya sambil mencari kunci rumah dari dalam tasnya. Ia menemukannya.
Fitri segera membuka pintu rumah dan masuk ke dalam rumah. Ia bergegas ke kamarnya. Dia menyempatkan diri untuk berganti pakaian santai dan mengambil baju penghangat. Ia memasukannya ke dalam tas lain bersama laptop dan ponselnya. Ia menyandang tasnya. Dia bergegas keluar dari kamar. Ia keluar dari rumah. Fitri menutup pintu dan kembali menguncinya. Ia simpan kunci rumah ke dalam sakunya.
”Pantas lama... kamu sempatkan diri untuk berganti.” omel Ardi.
”Hehehe. Maaf kak. Tidak nyaman pergi ke taman dengan pakaianku tadi... nyamannya pakai baju santai ini....”
”Sudah... ayo naik!” titah Ardi. Ia telah menghidupkan mesin motornya. Fitri naik ke atas motor setelah ia mengenakan helm. Ardi menjalankan motornya meninggalkan kediamannya.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata memperhatikan mereka dari jarak jauh.
”Mereka akan pergi kemana?” gumam seseorang dari dalam mobil. Ia menghidupkan mesin mobilnya dan mengikuti motor Ardi dan Fitri dari belakang motor Ardi.
Perjalanan sudah lumayan jauh. Namun, pria yang ada di dalam mobil tidak dapat menebak kemana arah tujuan adik dan kakak tersebut.
”Mereka kemana sih? Sudah lumayan jauh perjalanan ini... mereka belum-belum sampai juga di tempat tujuannya?” gumam pria tersebut lagi.
”Oh, apakah ini... taman bunga milik keluarga Hana? Jadi... mereka menggunakan waktu senggang mereka dengan berlibur di taman bunga,” gumamnya lagi saat mobilnya di belokan ke arah kanan sudah terlihat ada bunga-bunga di sepanjang kiri dan kanan jalan.
Pria itu melihat Ardi kembali membelokkan motornya. Ia masih membuntuti Ardi. Ia dapat melihat hamparan bunga-bunga yang cantik. Di sepanjang jalan kecil yang hanya bisa di gunakan untuk satu buah mobil. Ia mengagumi keindahan bunga-bunga tersebut.
”Kakak, sepertinya... mobil di belakang itu mengikuti kita. Bukankah mama dan papa sudah duluan ke taman? Lalu... dia?” Fitri menoleh ke belakang melihat mobil tersebut. Ia tidak mengenali siapa milik mobil tersebut.
Ardi menghentikan motornya, namun, tidak mematikan mesinnya. Ia menoleh melihat mobil tersebut. Keningnya mengerut.
Apakah dia Fajrin? Mobilnya memang baru ku lihat. Tapi... plat nomornya ada tulisan ZM dan di setiap plat kendaraan motor ataupun mobil milik Fajrin, selalu di tandai dengan huruf ZM di belakangnya, benaknya.
__ADS_1
Melihat Ardi menghentikan motornya, mobil itu juga berhenti.
”Sudah kak, ayo jalan kembali.” ucap Fitri.
Ardi kembali menjalankan motornya. Mobil tersebut juga perlahan mengikuti motor Ardi. Mobilnya berhenti saat melihat motor Ardi berhenti di samping sebuah mobil di pekarangan luas tersebut. Mereka telah sampai di rumah, di taman bunga tersebut.
Hana turun dari motor. Pandangannya tidak henti melihat mobil yang ikut berhenti di pekarangan tersebut. Ardi juga bergegas turun dari motor, ia juga menatap mobil tersebut.
Fitri terkejut saat melihat si pemilik mobil tersebut keluar dari mobil. ”Fajrin,” gumamnya pelan.
Ardi menatap pria itu dengan tajam. Ia sudah menduga kalau dia yang mengikuti dirinya. Hanya... ia tidak menyangka, untuk apa dia mengikuti mereka sampai di taman?
Fajrin berjalan menghampiri mereka berdua.
”Hana, kamu masuklah ke dalam rumah. Bilang pada papa dan mama ada tamu yang tidak di undang datang ke sini.” ucap Ardi pada Fitri.
Fitri menurut. Ia pergi dari sana, sebelum Fajrin dekat pada mereka.
*
*
Di dalam rumah.
”Mama, Papa, Hana dan kak Ardi sudah sampai.” teriak Fitri sambil melangkah masuk ke dalam rumah. ”Ma... Pa...”
”Mama dan Papa di dapur, sayang.” terdengar sahutan mamanya dari arah dapur.
Fitri melepas tasnya dan menyimpannya di atas kursi di depan. Ia melangkah ke dapur.
”Mama dan Papa lagi buat apa?” Fitri melihat masakan sudah tersedia rapi di atas meja, ”Wow, Mama dan Papa yang sudah menyiapkan makan siang? Kenapa gak tunggu Hana dan Ardi sih, Pa, Ma?” protes Hana.
”Kelamaan kalau nungguin kalian berdua.” jawab Fatma sembari tersenyum.
”Oh, Hana lupa. Ma, Pa, ada Fajrin di depan sana.”
”Apa?” pekik Fatma dan Fandi terkejut. ”Fajrin? Kalian mengajaknya ke sini?” lanjut Fandi bertanya kesal. Wajahnya marah.
Hana menggeleng. ”Kami gak tahu Pa... kalau Fajrin diam-diam mengikuti kami dari belakang. Nanti sudah sampai di pembelokan masuk ke sini baru kami sadari,” jelasnya.
Fandi menghela nafas. Ia berdiri dan berjalan keluar rumah. Fatma dan Fitri ikut keluar.
Di luar rumah.
Fandi melihat Ardi sedang berbicara dengan Fajrin. Dari bahasa tubuh keduanya, mereka nampak berbicara ketus. Fandi menghampiri mereka.
”Ada apa ini? Mengapa kamu diam-diam mengikuti anakku sampai ke sini?” tanya Fandi dengan marah pada Fajrin.
”Apa begini cara kalian memperlakukan tamu yang berkunjung ke rumah kalian?” ucap Fajrin santai namun terdengar tegas.
”Kami tidak merasa mengundang kamu ke sini!” sahut Ardi ketus.
”Aku sudah sampai di sini... kalian tidak ingin menyambut ku? Aku datang dengan baik-baik dan tujuan baik. Jika kalian bersikap tidak sungkan padaku... aku juga tidak perlu sungkan pada kalian.” ucap Fajrin mengancam. Ardi dan Fandi terdiam. Fajrin berjalan ke rumah meninggalkan Ardi dan Fandi yang terdiam.
”Berhenti!! Siapa yang suruh kamu masuk ke dalam rumah ku?” pekik Fandi marah. Ia berjalan cepat dengan emosi mengejar Fajrin. Ardi ikut mengejar.
Fajrin tidak mengindahkan ucapan Fandi. Ia membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam rumah.
”Apa yang dia lakukan disini?” tanya Fandi pada Ardi.
”Katanya ada hal yang ingin dia katakan pada kita. Aku sudah mengusirnya untuk pulang. Tapi... dia enggan menurut. Dia justru bilang padaku jangan keterlaluan padanya. Dia masih mengalah dan mencoba tidak mencari keributan di sini, jadi... jangan membuatnya marah.” jawab Ardi.
__ADS_1
”Cih! Selalu mengancam!” gerutu Fandi kesal.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah dan terus melangkah ke dapur. Mereka tahu Fajrin pasti berada di dapur sekarang karena di ruang depan, wajah pria itu tidak terlihat.
Di dapur.
Ardi dan Fandi melihat Fajrin yang duduk di samping Fitri. Ardi dan Fandi duduk mengisi kursi yang masih kosong.
Tatapan Ardi, Fandi, Fitri tidak senang pada Fajrin. Fajrin menyadarinya. Fatma juga tidak senang dengan kehadiran Fajrin.
”Kamu sungguh sangat lancang dan tidak tahu malu, Fajrin! Kamu sama sekali tidak menghargai perasaan keluarga ku.” ucap Fandi.
”Sebaiknya... Abang pergi saja dari sini. Kehadiran Abang, sungguh tidak kami inginkan.” sambung Ardi.
”Sudah ku bilang, aku masih mencoba menahan amarah ku dan tidak memperlakukan kalian semua dengan buruk. Jadi... jangan pancing emosi ku.” sahut Fajrin masih dengan santainya namun, jelas dan tegas.
”Pa, Ardi, Hana, kita lagi berhadapan dengan rezeki Allah... perbaiki raut wajah dan tatapan kalian. Ambillah piring masing-masing dan mulailah mengambil makanan. Makanlah dengan tenang.” ucap Fatma menasehati anak dan suaminya agar tidak ada keributan di meja makan.
Mereka bertiga menurut. Mereka mulai mengambil makanannya masing-masing. Mereka makan dengan diam.
*
*
*
Di kota C.
”Bagaimana, apakah sudah ada tanggapan dari perusahaan Wisma Grup pada permintaan kita?” tanya Randi pada asistennya.
”Maaf, Pak. Sampai sekarang... mereka belum menanggapinya. Mungkin Pak Fajrin nya belum kembali dari luar negeri. Bersabarlah sedikit Pak. Mungkin satu dua hari ini akan dapat tanggapan dari mereka.” jawab Sang asisten.
Randi menghela nafas. ”Uangnya, bagaimana?” tanyanya.
”Uannya seharusnya sudah ada pada mereka.” jawab Sang asisten. ”Pak, ini ada surat lamaran magang dari seorang mahasiswi dari kota P.”
”Siapa dia?” tanya Randi penasaran melihat asistennya.
”Saya sudah mengirimkan surat lamarannya pada email Bapak. Silahkan Bapak cek.” jawab Sang asisten.
Randi mengalihkan pandangannya pada layar laptop di hadapannya. Ia mengklik email pada layar tersebut. Ia membaca lamaran magang tersebut.
”Kenapa dia ingin magang di perusahaan kita? Bukankah perusahaan Wisma Grup... perusahaan terbesar, terkenal, dan perusahaan nomor satu di kotanya?” Randi penasaran.
”Saya juga mengerti, Pak. Mungkin saja dia takut tidak ke terima magang di sana. Bapak tahu sendiri kan di perusahaan tersebut sangat ketat dengan aturan.” jawab asistennya.
”Fitri Raihana Fandi.” Randi membaca nama si pengirim lamaran magang tersebut.
”Lalu, bagaimana... Pak? Terima atau... tolak?” tanya Sang asisten.
”Tolak!” jawab Randi.
”Baik, Pak. Saya undur diri dulu.” pamit Sang asisten.
”Hum.” singkat Randi menyahuti.
Sang asisten berjalan keluar dari ruangan Randi.
Randi memperbesar foto Fitri Raihana tersebut.
Foto wanita ini hampir mirip dengan wajah Fitri dan namanya juga sama Fitri Raihana. Apakah ada hal yang serba kebetulan seperti ini? Yang membedakan wanita ini memiliki foni dan memakai kacamata.
__ADS_1
Sengaja menolaknya bekerja di sini... aku takut akan akan merasa sangat bersalah pada Fitri. Dan tanpa sadar, aku melampiaskan pada wanita ini karena punya kemiripan dengan almarhum. benak Randi.