
Di kediaman Fandi.
”Pa...Hana dan Ardi belum pulang ke rumah. Kemana mereka, yah?” tanya Fatma.
”Sudah cek di taman? Mungkin saja kedua anakmu sedang duduk di taman.”
”Oh, Mama akan cek di taman.” Fatma pergi ke taman. Tetapi, sampai di taman, dia juga tidak menemukan Fitri dan Ardi. Akhirnya dia kembali masuk ke rumah.
”Mereka berdua tidak ada di taman, Pa.” ucap Fatma. Dia duduk di samping suaminya yang sedang membaca koran.
”Mungkin mereka sedang jalan-jalan. Mama jangan khawatir, anak-anak mu sudah besar semua. Kalau Mama masih tidak tenang, hubungi saja nomornya.” usul Fandi.
”Mana hape Papa? Hapenya Mama pulsanya habis. Mama akan menelfon Ardi.”
”Ada di dalam laci kamar” jawab Fandi, matanya tetap melihat koran.
Fatma berdiri dan pergi ke kamar. Dia mengambil hape dan menghubungi nomor kontak Ardi. Dia duduk di kursi meja hias.
Telfon tersambung.
”Ya, halo, Pa.”
”Sayang, ini Mama.”
”Oh, Mama. Ada apa, Mah?”
”Kamu di mana?”
”Masih di kantor, Mah. Kenapa?”
”Apa kamu tahu Hana di mana? Hana tidak ada di rumah. Hapenya juga di tinggalkan di kamarnya.”
”Hana? Tadi..Hana bersama Ardi, di kantor Ardi. Tapi, Fajrin datang menemui Hana dan mereka berdua pergi ke kafe untuk berbicara.”
”Apa? Hana bersama Fajrin? Kok bisa!” Fatma terkejut. Dia berdiri dan bergegas keluar kamar menghampiri suaminya. Dia terlihat panik dan khawatir.
”Mama jangan khawatir. Hana akan baik-baik saja bersama Fajrin.” bujuk Ardi.
”Pa...Pa...Hana, anakmu pergi bersama Fajrin!” Fatma berucap khawatir.
Ardi menggeleng mendengar suara mamanya yang khawatir, yang mengadu pada suaminya.
”Apa?! Hana bersama Fajrin? Bagaimana mereka bertemu?” sahut Fandi, ia juga terkejut.
Ardi seakan merasa bersalah mendengar ucapan papanya. Sang mama menelponnya tetapi, sekarang dia di abaikan. Mamanya malah sedang berbicara dengan papanya.
”Ini Pa. Papa dengar sendiri saja dari Ardi.” Fatma memberikan hape pada Fandi. ”Aduh...apa Fajrin akan menindas Hana, Pa?” Fatma masih khawatir.
Fandi mengambil hapenya dan berbicara dengan Ardi.
”Halo, Ardi...apa maksudnya Hana bersama Fajrin? Bagaimana mereka bertemu?”
”Pa. Tadi Ardi mengantar Hana pulang ke rumah dari kampus. Tapi, di rumah kosong, tidak ada orang. Dan Ardi ada pekerjaan di kantor. Ardi kembali ke kantor dan Hana meminta untuk ikut. Jadi, Ardi membawa Hana ke kantor. Tapi...tidak tahunya, Fajrin tahu Hana ada di kantor ku, jadi, dia datang dan membawa Hana pergi untuk berbicara.” ungkap Ardi.
”Mengapa kamu izinkan adikmu? Apa dia memaksa kan kehendaknya?”
”Tidak, Pa. Hana pergi dengan sukarela. Lagi, jika Hana bersama Papa, apa Papa akan melarang Fajrin untuk membawa Hana pergi?”
Fandi terdiam. Itu benar! Jika dia yang bersama dengan Hana, apakah dia akan melarang Fajrin untuk pergi dengan Hana?
”Tapi...”
”Pa, ternyata atasan Papa itu adalah atasan Ardi juga dan dia juga dosen di kampus Hana, Zahidin.” ungkap Ardi.
”Hah! Jadi, Fajrin dan Zahidin adalah orang yang sama?” Fandi melihat istrinya dengan ekspresi terkejut.
__ADS_1
”Iya, Pa. Seharusnya, menurut Ardi, Fajrin tidak akan berbuat macam-macam pada Hana.” tutur Ardi.
”Pa, maaf, Ardi sudahi dulu telfonnya. Ardi mau selesaikan pekerjaan Ardi. Tinggal sedikit lagi ini selesai.” ucap Ardi lagi.
”Iya. Kalau kamu pulang, jemput adikmu.”
”Insya Allah, Pa.” tut tut tut! Sambungan terputus.
Fandi menyimpan hapenya di atas meja. Dia menghela nafas.
”Pa, bagaimana? Coba Papa telfon Fajrin.” ucap Fatma.
”Mah, Mama itu hari bilang, Mama akan lebih memilih Zahidin daripada Fajrin, kan?” tanya Fandi.
Fatma mengangguk.
”Mah, Fajrin dan Zahidin adalah orang yang sama. Papa baru ingat nama lengkap Fajrin adalah Zahidin Mufajrin.” ungkap Fandi.
”Lalu, apa Hana aman bersama dia? Dia hebat sekali, memerankan dua karakter. Menjadi dosen dengan nama Zahidin. Menjadi bos Papa dengan nama Fajrin. Kita tahu, Fajrin penuh dengan diktator. Sementara Zahidin, penuh dengan kelembutan. Yang mana dia sebenarnya?”
”Mah, jangan pikiran macam-macam! Begitu-begitu Fajrin tidak akan mencelakai Hana. Untuk itu, Papa bisa menjaminnya.”
”Papa sama saja dengan Ardi. Tidak usah khawatir, Fajrin tidak akan mencelakai Hana. Papa dan Ardi tidak khawatir, tapi, Mama. Mama sangat khawatir Hana berada dengan manusia yang mempunyai dua kepribadian itu.” kesal Fatma berucap sambil berjalan masuk ke dalam kamar.
Fandi menghela nafas melihat punggung istrinya.
Apa aku telfon Fajrin saja? benak Fandi.
Matanya menatap handphone nya yang ada di atas meja. Satu menit, lima menit, delapan menit, ia pun mengambil hape dan melakukan panggilan suara dengan Fajrin.
Namun, nomor telepon Fajrin tidak aktif. Fandi kembali menghela nafas dan berpikiran positif saja. Fajrin atau Zahidin, tidak akan mencelakai Hana, anaknya.
.. ..
Di rumah Fajrin.
”Iya, benar! Terlihat sekali kalau bos menyayangi wanita ini”
”Apa dia yang akan menjadi nyonya rumah di kediaman ini?”
Bisik-bisik para pelayan Fajrin. Mengomentari wanita yang di bawa oleh Fajrin di rumah utamanya.
Selama ini, wanita yang menginjakkan kakinya di rumah utama Fajrin terhitung baru dua orang bersama Fitri.
Tapi, wanita yang satunya di bawa masuk oleh adik sepupunya Fajrin. Dan Fitri, Fajrin sendiri yang bawa masuk ke dalam rumah.
”Lihat! Bahkan bos rela menjadikan pahanya sebagai bantal kepala wanita itu. Siapa ya wanita itu?”
”Untuk apa kalian berbisik-bisik di situ? Ayo, kembali bekerja!”
Para pelayan tadi pun ketakutan mendengar suara wanita yang baru saja berbicara. Mereka membubarkan diri dan pergi ke dapur.
”Mengapa Murni selalu marah kalau ada wanita yang masuk di kediaman ini? Ini aneh kan?”
”Iya, ini aneh! Waktu itu, sepupunya bos saja yang datang kemari di judesin sama dia!”
Para pelayan itu berbisik lagi mencibir Murni, yang sesama pelayan di kediaman Fajrin.
Murni adalah kepala pelayan baru yang di tugaskan oleh Aida, untuk memata-matai Fajrin.
Namun, saat Murni masuk di kediaman itu, sejak pertama kali dia melihat Fajrin, dia pun terpikat dengan ketampanan Fajrin.
Dia pun berangan-angan ingin memiliki Fajrin dan dia mengkhianati Aida, temannya.
Murni berwajah marah melihat Fitri yang tertidur pulas di paha Fajrin. Dia marah bercampur cemburu.
__ADS_1
Dasar wanita ******! Beraninya dia merayu Fajrin. benak Murni.
Dia pergi ke dapur masih dengan marah.
Mata Fitri terbuka, dia terkejut melihat sebuah tangan saat membuka matanya. Dia bangun dengan tiba-tiba.
Dia terkejut, bagaimana bisa dia tidur nyenyak di rumahnya orang? Dia melirik jam dinding, pukul 20 : 35.
Hah! Aku...aku sudah lama berada di sini. Ini...sudah malam, aku harus pulang. benak Fitri.
Kucing liar ku sudah bangun. Kira-kira apa yang akan dia lakukan? benak Fajrin.
Tapi, dia tersadar. Bagaimana dia akan pulang? Menghubungi Ardi? Menghubungi papanya? Dia tidak membawa hapenya. Lagi pula, jika dia menelfon mereka, dia sekarang ada di mana? Jika mereka bertanya alamatnya, apa yang harus di jawab?
Apa aku bangunkan pria ini saja dan menyuruhnya mengantar ku pulang? benak Fitri.
Dia melihat Fajrin yang tidur. Dari melihat, kini dia memperhatikan detail wajah Fajrin.
Wajahnya sangat tampan. Matanya mata elang, bibirnya begitu seksi, hidungnya mancung, alisnya tegak seperti ujung pedang. Tubuhnya sixpack. Eh...kenapa aku malah terpana dengan wajahnya? benak Fitri.
Lebih baik, aku pergi dari sini dengan segera. Jika tunggu dia bangun, ada baik kalau dia mau mengantar ku pulang. Kalau dia masih sengaja menahan ku di sini bagaimana?
Aku akan naik taksi saja, paling tidak aku tahu alamat rumah ku. Tapi, aku tidak punya uang untuk pulang. benak Fitri.
Fitri melihat pelayan Fajrin lewat. Dia berdiri dan mengejar pelayan tersebut.
”Mba! Tunggu!” Fitri menahan tangan pelayan itu.
Fajrin membuka mata dan melihat mereka. Pelayan tersebut terkejut melihat Fajrin yang sudah bangun.
Dia ingin berucap, tapi, tidak jadi saat melihat kode dari Fajrin untuk diam.
Fitri menyipit melihat pelayan tersebut yang tiba-tiba jadi panik. Fitri menoleh, melihat di belakangnya. Fajrin masih tidur.
”Maaf, Nona. Ada yang bisa saya bantu?”
”Apa kamu punya lima puluh ribu atau seratus ribu. Aku ingin meminjamnya. Aku akan gantikan uang mu nanti.”
Dasar kucing liar! Dia lebih baik meminjam uang pelayan ku dari pada meminta ku mengantarnya pulang! Apa aku tidak di anggapnya? benak Fajrin.
”Itu.... Nona...aku...” pelayan itu gugup. Dia kembali melihat Fajrin. Dia mengerti dari kode yang di katakan oleh bosnya itu.
”Ada...hanya lima puluh ribu.” jawab sang pelayan tersebut.
Fitri tersenyum senang. ”Alhamdulillah! Tidak apa-apa. Mana?” Fitri mengulurkan tangannya.
Pelayan itu mengambil uang dari saku nya dan memberikannya pada Fitri.
”Uangnya aku pinjam dulu. Aku akan menggantinya dengan selembar uang seratus ribu nanti. Aku akan menitipkan nya pada Fajrin. Ok?”
”Baik, Nona.”
”Ok, aku pulang dulu. Kalau bos mu bangun. Menanyakan kan ku, katakan padanya, aku sudah pulang.”
”Baik, Nona.”
Fitri pun berbalik meninggalkan pelayan itu. Dia menghampiri Fajrin terlebih dahulu.
Nona...harus kah aku bilang, uang lima puluh ribu itu akan jadi percuma. Nona tidak akan bisa keluar dari rumah ini tanpa tuan. benak pelayan itu.
Fitri menyalakan melihat layar laptop Fajrin yang menyala. Dia menulis sesuatu di layar itu.
”Kamu kira kamu bisa menahan ku di sisi mu? Itu tidak akan! Satu lagi! Aku bukan milik mu! Jika kita bertemu di kampus, jangan sok dekat dengan aku! Mengerti? Pria brengsek! Mesum!”
Fitri tersenyum kecut. Dia berdiri dan berjalan keluar dari rumah Fajrin.
__ADS_1
Fajrin menyeringai melihat punggung Fitri yang membuka pintu rumahnya.
”Pergilah, jika kamu bisa pergi!” gumamnya.