
Di hotel, di kota B, di kamar Fajrin.
Fandi tidak enak hati dengan Fajrin, atasannya itu. Ia terus menunduk saat anak perempuannya menguraikan pendapatnya tentang atasannya dan di dengar langsung oleh atasannya tersebut.
Hapenya tetap berada di atas meja, meski anak lelakinya telah memutuskan sambungan telefon.
Ia menelan saliva nya dengan kasar. Aura dingin ia rasakan seakan mencekamnya dari depan.
Sudah seperti ini, semuanya aku pasrahkan saja sama dia. Jika dia ingin mendepak ku, sebelum aku mengundurkan diri dari perusahaan, maka aku terima saja nasib ku. Kebahagiaan putri ku lebih utama.
Yang aku tidak sangka adalah putri ku sekarang lebih santai dan berpikiran dewasa, tidak seperti biasanya yang selalu ceroboh dalam bertindak dan berkata-kata. benak Fandi.
Ia mendongak sebentar melihat Fajrin, pria itu masih terdiam, pandangannya lurus menatap ke depan.
Semenjak tadi ia terdiam seperti ini. Apa yang dia pikirkan sekarang? benaknya lagi.
”Putri mu sangat menarik, Pak Fandi!” Fajrin melihat Fandi dengan datar.
”Maafkan putri ku, Pak direktur. Pikirannya masih labil, belum dewasa.”
”Hahahaha!” Fajrin tertawa, setelah beberapa detik terdiam.
Fandi terkejut. Ia ketakutan sekarang. Apakah Fajrin akan mencari putrinya dan membuat perhitungan dengan putrinya itu?
”Masih labil? Dia bukan anak TK lagi, Pak Fandi! Hana memberikan ide untuk mendapatkan pendapatan keluarga kalian dari taman bunga yang kalian miliki, membangun sebuah toko bunga, setelah saya mendepak Anda dari perusahaan. Apakah itu masih di bilang anak labil? Dia mengatakan aku bukanlah orang baik karena memaksakan kehendak ku untuk keluarga kalian, apakah kata-kata itu yang dapat di keluarkan dari mulut seorang anak yang labil?
Dia ingin kuliah baik-baik, bekerja, untuk hidupnya di masa depan, apakah itu jalan pemikiran anak yang masih labil? Coba... coba Anda katakan padaku, di mana letak labilnya?”
Fandi terdiam sambil menunduk. Dia tidak mengelak. Ia pun mendengar sendiri percakapan putrinya tersebut. Semua di ucapkan dengan sadar dan secara dewasa dan tenang.
”Lalu... apa yang ingin Pak direktur lakukan sekarang? Anak saya sudah menolak Bapak. Saya menerima jika Bapak mendepak saya dari perusahaan Bapak.” Ucap Fandi menyerah. Fajrin menghela nafas, wajahnya semakin serius melihat Fandi.
”Saya, Fajrin akan tetap melanjutkan pertunangan dengan Fitri Raihana! Bisa saja setelah kita pulang dari kota ini, saya langsung menuju rumah Bapak untuk melangsungkan pertunangannya.” Tegas Fajrin.
”Sebagai seorang ayah, saya ingin kebahagiaan anak saya. Jika anak saya sudah tidak bersedia, saya akan mendukung keputusan anak saya.” Fandi berucap tegas tak kalah tegasnya dari Fajrin. Mereka berdua beradu dalam pandangan.
Baik, aku ingin melihat, bagaimana anakmu akan menolak ku nanti. benak Fajrin.
”Siapkan berkas-berkas yang di perlukan untuk pembangunan di lokasi kedua. Waktu kita tinggal satu hari di sini, saya tidak ingin ada penundaan waktu untuk kita kembali ke kota P.” Ucapnya, ia sengaja mengalihkan pembicaraan.
”Baik, Pak direktur. Semua akan saya persiapkan. Dan saya akan usahakan, kita akan kembali sesuai jadwal.”
”Hum, keluarlah! Saya ingin istirahat.”
”Baik, saya permisi!” sahut Fandi. Ia mengambil hapenya lalu berdiri dan pergi dari kamar hotel Fajrin.
”Jalu!”
Seorang pria sigap berada di depan Fajrin. ”Siap, Tuan!”
”Katakan pada direktur Wira, tambahkan nama Affandi sebagai penanggung jawab utama dalam kontrak.”
”Baik, Tuan!”
”Pergilah!”
__ADS_1
Jalu sedikit membungkuk kan badan di hadapan Fajrin dan bergegas keluar.
Fajrin kembali mengingat percakapan Fitri Raihana. Ia tersenyum, saat mengingat kata yang di ucapkan Fitri Raihana.
”Um...kalau begitu, biarkan Fajrin datang ke rumah untuk bertunangan dengan kakak Ardi?”
”Hahahaha, kakak dengan dia pasti cocok!”
”Kau sungguh berani menghayal kan aku bertunangan dengan seorang pria, Hana?” Bibirnya masih mengukir senyum, ”Konyol!”
Di kamar Fandi.
”Sebaiknya, setelah aku menyiapkan berkas pembangunan, aku akan menyiapkan surat pengunduran diriku.”
Fandi duduk menatap layar laptop di depannya. Tangannya, lihai mengetik keyboard di laptop tersebut.
”Ucapan Hana benar! Untuk tunangan saja Fajrin sudah memaksa, mengancam, bagaimana kalau sudah menikah dengan Hana nanti? Aku tidak ingin anakku menderita.”
Meskipun bibirnya bergumam, namun, pikirannya tetap fokus pada kata-kata yang ia rangkai untuk penyerahan berkas besok.
*
*
*
Di kota P, di taman bunga.
”Kamu yakin ingin tidur di sini? Tidak ingin tidur di dalam rumah?” Tangan Ardi sibuk memasang ayunan jaring ada dua batang pohon besar untuk di jadikan tempat tidur Fitri dan dirinya.
”Iya, kak. Kenapa? Kakak takut? Jika kakak takut, kakak tidur di dalam saja, temani mama.” Mulutnya kembali mengunyah keripik singkong sambil berjalan ke ayunan miliknya yang telah jadi.
”Namanya juga manusia, kak. Selalu ada perubahan yang terlihat di setiap harinya. Begitu juga dengan Hana. Lagian, tidak selamanya orang takut itu akan takut. Sama seperti, orang jahat, tidak selamanya dia akan membuat kejahatan terus. Contoh lagi nih pada kakak, yang tadinya kakak selalu menemani Hana kemanapun Hana pergi. Apapun yang Hana lakukan, kakak selalu ada di samping Hana. Bisa saja kan besok-besok kakak tidak akan lakukan itu lagi...” Ucapannya terhenti karena Ardi memangkasnya.
”Kakak akan selalu ada buat Hana, kakak akan selalu menemani Hana, seperti biasanya.”
Fitri menggeleng sambil tersenyum. ”Kakak tidak akan melakukan itu lagi kelak. Yang pertama, jika kakak sudah punya kekasih, hal yang kakak utamakan adalah kekasih kakak.
Kedua, kakak punya kesibukan sendiri. Ketiga, Hana bukan anak kecil lagi yang selalu harus di temani kakak kemanapun Hana pergi.”
”Ya...ucapan Hana memang benar. Tapi, selama kakak masih belum punya pacar... kakak akan selalu menempel pada adik kakak yang masih kecil ini.” Tangannya mencubit dagu dan hidung Hana.
”Ah, kakak! Sakit ni cubitannya kakak!” Keluh Hana. Ardi hanya tertawa dan kembali mencubit hidung mancung adiknya itu.
”Apa kakak tidak takut nanti tidak ada perempuan yang mendekati kakak jika kakak selalu menempel pada Hana?”
”Tidak!” Ardi menjawab langsung.
”Tidak?” Fitri mengulang ucapan Ardi.
”Iya, kakak tidak takut! Justru bagus buat kakak. Kakak ingin melihat adiknya kakak ini menikah dan bahagia dulu baru kakak akan mencari kekasih.”
Hati Fitri tersentuh, Hana kamu pasti sangat bahagia sebelumnya, karena kamu memiliki seorang kakak yang melindungi mu, menyayangi mu, selain kedua orang tua mu. benaknya.
Ia merubah wajahnya jadi kesal. ”Ih...kakak! Siapa juga yang mau menikah! Mending kakak pergi ke ayunan kakak deh! Hana mau tidur sekarang!” Ucapnya ketus, tangannya mendorong tubuh Ardi untuk segera berdiri dan pergi dari ayunan miliknya.
__ADS_1
”Ya, ya...kakak akan berdiri. Jangan dorong lagi nanti kita berdua jatuh dari sini.”
Hana menghentikan mendorong Ardi. Ardi tersenyum, adiknya itu memang penurut.
”Selamat malam! Istirahatlah.” Tangannya membelai lembut kepala Hana.
”Iya, kakak. Selamat malam!” Sahut Fitri. Ia membaringkan tubuhnya di ayunan, matanya terpejam.
Ardi melihat Fitri sekejap, lalu, ia pergi di ayunan miliknya. Ia duduk di sana menghadap Fitri. Ia tersenyum sendiri lalu menggeleng dan membaringkan tubuhnya di ayunan itu.
Di dalam rumah, taman bunga.
”Ya, Pa. Bagaimana keadaan Papa di sana? Apakah semuanya berjalan lancar?”
”Papa baik-baik saja, Ma. Bagaimana dengan kalian di sana, apakah baik?”
”Iya, Pa. Kami baik-baik saja! Papa tidak perlu khawatir! Papa fokus saja pada pekerjaan Papa,” sahut Fatma. Ia dan suaminya, Fandi sedang berbicara via telfon.
”Pekerjaan Papa hampir selesai, jika tidak berhalangan, besok kami sudah terbang kembali di kota P.”
”Alhamdulillah! Kami malam ini masih tidur di taman, besok juga baru kembali ke rumah.”
”Hum! Ma, Papa sudah membuat keputusan, keputusan Papa sudah bulat,” ia sengaja menjeda ucapannya. Menunggu sahutan sang istri. Namun, isterinya tidak bersuara.
”Papa tidak akan takut lagi dengan ancaman Fajrin. Papa hanya ingin kebahagiaan anak-anak Papa.” Akhirnya Fandi melanjutkan ucapannya.
”Papa serius? Papa tidak takut kehilangan pekerjaan itu?” Fatma memastikan.
”Iya, Papa tidak takut di depak dari perusahaan ternama itu. Tapi....” Fandi terlihat ragu untuk berbicara.
”Tapi...kenapa, Pa?” Fatma penasaran.
”Papa ragu, Fajrin bertekad akan tetap melangsungkan pertunangannya dengan Hana, apapun yang terjadi. Papa tidak tahu, apakah dia mencintai anak kita ataukah hanya terobsesi untuk memiliki anak kita.” Ia pun mengungkapkan keraguannya.
”Astaghfirullah! Bagaimana ini, Pa?” Fatma jadi takut.
Fandi menghela nafas. ”Tidak tahu, Ma. Alangkah bagusnya jika mereka berdua bertemu dulu untuk berbicara. Tapi, Mama tahu Hana kan? Dia gak akan mau menemui Fajrin. Dan Fajrin pun, entah, apakah ada waktu luangnya untuk bertemu dengan anak kita. Beliau begitu sibuk.”
”Papa atur mana baiknya saja. Mama pusing mikirnya.” Ujar Fatma.
”Hum! Anak-anak mana? Kok sepi?”
”Anak-anak mungkin sudah tidur di luar. Hana ingin tidur di ayunan di luar. Ardi menemaninya.”
”Anak kita... Papa rasa Hana telah berubah.”
”Iya, Pa. Mama juga merasakan hal yang sama, Hana berubah. Dan, Pa, Mama terkejut sekali saat kemarin siang dia membantu Mama memasak. Dan pagi tadi, dia sendiri yang membuat sarapan. Dia pintar memasak, padahal, sebelumnya dia tidak tahu apapun mengenai dapur,” ungkap Fatma.
”Hah! Perubahannya begitu besar! Apakah dia masih Hana kita yang manja itu?” Fandi seakan tidak percaya, perubahan Fitri sangat besar.
”Iya lah, Pa! Lalu dia anaknya siapa lagi kalau bukan anak kandung dari Affandi dan Fatma?” Ucap Fatma sedikit ketus. Fandi tertawa kecil, ia tahu istrinya lagi sebal sekarang.
”Mama, ini hampir larut malam. Mama istirahatlah, Papa juga ingin istirahat.” Fandi ingin mengakhiri panggilan telfonnya dengan sang istri.
”Iya, Pa. Terima kasih, Papa sudah menghubungi Mama, melepaskan sedikit kerinduan Mama pada Papa.”
__ADS_1
”Mama, mengapa menggoda Papa di saat Papa dan Mama jauh? Papa jadi rindu kan untuk... tut tut tut” Fandi melihat layar hape, telfon telah terputus.
Ia tersenyum. Istrinya masih saja malu jika dia mengatakan hal vulgar secara langsung, padahal mereka sudah lama berumah tangga.