
Di perjalanan.
Fajrin menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi. Emosinya sangat memuncak sekarang.
Tangannya memegang erat setir mobil. Tatapannya tajam melihat jalan raya. Pikirannya melayang mengingat Hasan membius Fitri hanya untuk meniduri wanita nya itu.
Fajrin memelankan laju mobil setelah berada di depan pagar rumah Hasan. Dia memundurkan mobilnya. Dengan menancap gas tinggi dan kecepatan tinggi, dia melajukan kendaraannya.
Buum! Bruk! Krak!
Pinti pagar rumah Hasan terbuka, bahkan di pagar tersebut ada yang bengkok. Tentu saja, mobil yang di kendarai oleh Fajrin juga penyok akibat gesekan dengan pagar besi.
Akibat suara keras dan deru mobil, penghuni rumah megah itu terganggu, terkecuali Hasan dan Zulfa yang sudah terlelap tidurnya. Papa dan mama Hasan keluar dari dalam rumah untuk melihat apa yang terjadi di luar.
”Di mana para penjagaan?! Mengapa tidak menjaga dengan baik?” ayah Hasan begitu marah melihat pagarnya hancur.
”Ah! Maaf, Tuan! Saya baru datang dari toilet.” penjaga keamanan itu berlari ketakutan mendekati majikannya yang sedang mencarinya dengan marah.
”Bodoh!” umpatnya pada karyawannya.
”Hei! Kamu? Cepat turun! Beraninya kamu merusak pintu pagar rumah ku!!” tangannya memukul keras kap mobil Fajrin.
Fajrin turun dari mobil dengan wajah suram dan tajam. Auranya sangat dingin dan pandangnya ingin membunuh.
”Fa... Fajrin? Bagaimana bisa kamu yang melakukan ini? A..ada apa ini?” ayah Hasan tergagap berbicara dengan Fajrin. Dia menciut ketakutan melihat ekspresi Fajrin saat ini.
”Nak? Ada apa dengan mu?” ibunya Hasan berusaha membujuk, menenangkan Fajrin, meskipun dia sendiri ketakutan.
Fajrin datang kerumahnya dengan seribu amarah yang nampak di wajahnya, dia datang di tengah malam sementara orang dalam waktu istirahat. Bukan kah jika begitu, masalahnya cukup besar?
Fajrin mengabaikan ucapan kedua orang tua yang ada di hadapannya. Dia melangkah masuk ke dalam rumah. Sikapnya terlihat seperti seorang yang tenang, tetapi di dalamnya bara api masih menyala.
”Pa...ada apa dengan Fajrin? Dia terlihat sangat marah. Apa yang dia lakukan tengah malam begini di kediaman kita?” ibu Hasan benar-benar takut.
”Papa juga tidak tahu. Mari kita cari tahu bersama. Ayo kita masuk.” ajak ayahnya Hasan pada istrinya.
Mereka masuk ke dalam rumah. Mereka tidak melihat Fajrin di ruang tamu, di ruang keluarga juga tidak ada.
”Kemana Fajrin, Pa?” ibu Hasan semakin ketakutan. Pikirannya pada kedua anaknya sekarang.
Bugh! ”Aargh!” terdengar jeritan dari lantai atas, dari kamar Hasan.
Mata papa dan mama Hasan membulat sempurna dan saling pandang. Mereka bergegas lari ke lantai atas.
Bugh! Bugh! Bugh! ”Argh!” teriakan itu terdengar lagi.
Kedua mata orang tua Hasan membulat sempurna melihat anaknya, Hasan sudah babak belur bergulir di lantai.
”Fajrin, ada apa ini?” ayah Hasan memegang tangan Fajrin yang masih melayangkan tinju pada Hasan, anaknya.
”Apa yang sudah di lakukan sama anakku, Fajrin?” ibu Hasan menangis memeluk Hasan.
”Tanyakan saja padanya, kejahatan apa yang sudah dia lakukan!!” Fajrin menekan setiap ucapannya. Api dalam tubuhnya masih menyala. Dia belum puas untuk memberi pelajaran pada Hasan.
__ADS_1
”Apa yang sudah kamu lakukan Hasan? Mengapa kamu membuat Fajrin marah?” ayah Hasan bertanya pada Hasan.
Hasan menggeleng, ”Hasan tidak tahu, Pa. Fajrin tiba-tiba datang merusak pintu kamar ku dan langsung memukuliku tanpa ampun.” jawabnya.
”Kurang ajar! Kamu tidak ingin bicara yang sebenarnya? Masih kurang pukulan yang ku berikan?” geram Fajrin.
”Mama, Papa, kakak, Fajrin, ada apa ini?” Zulfa menghampiri Hasan yang berada di pelukan mama nya.
”Tidak tahu Nak. Tiba-tiba saja Fajrin datang dan memukuli kakak mu.” jawab ibu Hasan.
Zulfa melihat Zahidin. Mata pria itu tajam menatapnya. ” Zahidin, ada apa ini? Bicarakan saja baik-baik, kenapa kamu perlu memukul kakakku!”
Fajrin menyeringai jahat, ”Bicarakan baik-baik? Baik! Ayo bicara!” Fajrin melangkah turun dari lantai dua ke lantai bawah.
Ibu, papa Hasan, Hasan dan Zulfa menghela nafas lega. Amarah Fajrin mereda. Papa Hasan melangkah menyusul Fajrin. Ibu Hasan dan Zulfa membantu Hasan berdiri dan memapahnya turun ke lantai bawah.
”Kesalahan apa yang sudah kamu perbuat anakku? Mengapa Fajrin begitu murka padamu?” sekali lagi ibu Hasan bertanya pada Hasan.
”Hasan tidak tahu, Ma. Hasan benar-benar tidak tahu. Dia sangat kuat, tulang ku rasanya remuk semua. Dasar singa sialan!” umpat Hasan.
”Tidak mungkin Fajrin akan memukul mu tanpa ada sebab. Coba kamu pikir-pikir ulang, apa saja yang sudah kamu lakukan hari ini hingga malam?”
Apa karena masalah di hotel itu Zahidin marah? Apa dia sudah tahu yang sebenarnya? Jika dia sudah tahu, pasti aku yang akan di marahi nya. Bukan Hasan, karena aku yang sudah memasukkan obat ke dalam minuman Zahidin. Atau apakah dia marah karena Hasan mengajak Hana berdansa? benak Zulfa.
”Hasan tidak melakukan kesalahan apapun, Ma.” ucap Hasan dengan yakin, membela diri.
”Kak, apa mungkin Zahidin marah karena kamu mengajak Hana berdansa?” tebak Zulfa.
”Argh! Pelan, turun tangganya, Ma. Kaki Hasan sangat sakit!” keluh Hasan.
Mereka telah sampai di lantai bawah. Mereka melihat Fajrin dan papa Hasan yang duduk saling diam. Mereka bertiga duduk di kursi sofa panjang. Fajrin sendiri duduk di sofa tunggal.
”Sekarang katakan! Kenapa kamu datang ke rumah ku malam-malam dan memukuli kakak ku?” tanya Zulfa.
Fajrin menyeringai, ”Dia pantas menerimanya. Pukulan itu saja belum cukup! Jika dia mati baru aku puas! Begitu juga dengan mu!” tatapannya tajam melihat Zulfa.
Zulfa terkejut dan takut sekaligus. Mungkinkah Zahidin sudah tahu kebenarannya?
”Fajrin! Setan apa yang sudah merasuki mu! Beraninya kamu bicara begitu pada anakku!” bentak papa Hasan.
Fajrin mengeluarkan hapenya, menggeser layarnya hingga timbul video. Dia melemparkan hapenya pada papa Hasan.
Papa Hasan menangkap hape Fajrin. Dia memutar video yang sudah di siapkan Fajrin.
Fajrin menatap marah pada Zulfa dan Hasan, tanpa kedip.
Ibu Hasan ketakutan. Zulfa dan Hasan pun sama, ketakutan. Bahkan, untuk menelan saliva nya saja sangat susah.
Mata papa Hasan membulat sempurna saat melihat video tersebut. Dia melihat bagaimana senyum licik yang di tampakkan kedua anaknya saat menaruh obat ke dalam minuman Fajrin dan Hana.
Membuat Hana dan Fajrin pusing dan kehilangan kendali. Di situ nampak Hasan yang selalu membuntuti Hana. Zulfa juga membuntuti Fajrin, terlebih Zulfa membawa Fajrin masuk ke dalam kamar hotel.
Fajrin menyeringai, ”Kejahatan yang di lakukan pada wanita ku, sangat fatal!” ucapnya dingin.
__ADS_1
Papa Hasan terkejut, dia berdiri dengan geram, tangannya terangkat ke atas.
Plak! Plak!
Plak! Plak!
”Kurang ajar! Biadab! Siapa yang ajarin kalian berbuat seperti ini!!” murka papa Hasan. Dia menampar wajah Hasan dan Zulfa bergantian.
”Papa!” Hasan dan Zulfa terkejut, melihat papanya yang marah.
Ibu Hasan sendiri juga terkejut. ”Papa! Kenapa menampar kedua anak mu?” tanyanya, dia membela kedua anaknya.
”Mereka pantas mendapatkannya! Anak tidak tahu diri! Bikin malu orang tua saja!” ucap papa Hasan. Suaranya sangat tinggi.
Papa Hasan kembali duduk di kursinya. ”Fajrin! Sudah seperti ini, apa mau mu?” suaranya melunak.
”Aku ingin saham mu yang ada di kota ini. Jam 05 : 00, pagi ada penerbangan ke negara L, kalian tinggalkan kota ini! Saya tidak mau lihat wajah kalian berada di kota ini lagi. Jika tidak...”
”Apa? Kamu gila ya Fajrin!” pangkas Hasan dan Zulfa. Mereka sangat terkejut dengan permintaan Fajrin.
”Diam kamu!! Ini semua karena ulah kalian berdua!!” papa Hasan membentak kedua anaknya.
Zulfa dan Hasan terdiam. Sebenarnya, kesalahan apa yang sudah mereka lakukan? Meskipun sudah menebak masalah obat, mereka masih penasaran, video apa yang telah di tonton papanya.
”Fajrin, kesalahan fatal apa yang sudah di lakukan anakku, sehingga membuat mu jadi bringas begini?!” tanya ibu Hasan.
”Kedua anakmu telah mencelakai Hana dan Fajrin di hotel!! Kedua anakmu sungguh tidak punya rasa malu!!” papa Hasan yang menjawab pertanyaan istrinya, suaranya bernada tinggi.
”Apa!” ibu Hasan Terkejut.
Hasan dan Zulfa menunduk. Bagaimana bisa Fajrin menemukan kebenaran itu?
Bukankah cctv di kafe sudah rusak? Sebelum aku menaruh obat ke dalam gelas Hana, aku mengeceknya sekali lagi. Dan itu benar-benar rusak. Apakah ada cctv lain yang aku tidak tahu? benak Hasan.
Apa?! Bukankah kakak bilang cctv di kafe rusak? Lalu, bagaimana Zahidin tahu niat buruk aku dan kakakku? benak Zulfa.
”Kamu ingin saham yang mana? Aku akan memberikannya padamu. Tetapi, biarkan kami tetap di sini.” papa Hasan mencoba bernegosiasi dengan Fajrin.
”Kedua saham mu! Kedua saham mu yang ada di perusahaan dan yang ada di kampus. Kamu tidak berhak bernegosiasi dengan ku!”
”Tapi, Fajrin! Berbelas kasihlah padaku! Kamu dan Hana juga tidak apa-apa. Ambillah saham di perusahaan, biarkan kami tetap berada di negara ini, hidup dengan saham di kampus.” ucap papa Hasan.
”Saya tidak punya waktu untuk bernegosiasi. Sekarang! Aku meminta kedua saham itu! Dan pergilah di jam lima pagi! Jangan biarkan aku masih melihat wajah kalian di kota ini lagi. Jika tidak, jangan salahkan aku jika aku lebih kejam lagi dari ini!” ancam Fajrin.
”Baik, baik! Kamu tunggu di sini!” papa Hasan kembali naik ke lantai dua, ke kamarnya. Beberapa menit berlalu, papa Hasan kembali lagi ke lantai satu menghampiri Fajrin.
”Ini...ini berkas saham ku, ambillah!” papa Hasan memberikan dua buah map kepada Fajrin.
Fajrin membuka kedua map tersebut untuk memastikannya, apakah benar atau tidak isi dari kedua map ini adalah saham milik papa Hasan. Dia menyeringai, dia mengeluarkan dua buah kertas kosong dari balik kantung jas nya. ”Ini, tanda tangan di bagian bawah! Tulislah nama mu dengan benar di bawah tanda tangan mu!” dia memberikan kertas kosong pada papa Hasan.
”Baik, baik!” papa Hasan membubuhi tanda tangannya di kertas kosong itu berikut nama lengkapnya. ”Sudah!”
Fajrin tersenyum puas. Dia mengambil kertas kosong itu dan map yang di berikan papa Hasan padanya. Dia berdiri. ”Ingat! Aku tidak ingin melihat wajah kalian di kota ini!” ancamnya.
__ADS_1
Fajrin pergi dari rumah Hasan.