Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 34


__ADS_3

Keesokan paginya di kampus.


Para mahasiswi di kampus di hebohkan dengan hadirnya kembali pak dosen tampan di kampus itu. Namun, tidak untuk Fitri Raihana. Dia bersikap biasa saja.


”Selamat pagi semua? Apa kalian tidak merindukan Bapak?” tanya Sang dosen pada mahasiswa dan mahasiswi nya. Tatapannya terdiam pada Fitri.


”Sangat rindu Pak dosen, tampan!” seru para mahasiswi, termasuk Zulfa. Kecuali Fitri, mulutnya tetap tertutup rapat.


Mulut itu tertutup rapat, di mana keberanian dia menyindir ku dalam medsos kemarin? Dasar kucing liar! benak Zahidin.


”Kemana saja selama ini, Pak dosen?” tanya Zulfa.


”Ada sesuatu yang Bapak urus. Ok, kita lanjutkan pelajaran yang telah di berikan sama pak dosen pengganti Bapak sebelumnya. Apa semua sudah siap untuk belajar?”


”Belum, Pak! Masih rindu sama Bapak. Masa langsung mau belajar sih, Pak! Bapak hibur kita dong!” goda salah satu mahasiswi nya.


Zulfa memandang wanita itu dengan tajam. Beraninya dia merayu Zahidin di hadapannya!


Sementara Fitri hanya diam saja. Ia melihat buku materinya. Tidak mau di pusingkan dengan hal-hal yang menurutnya tidak penting.


Zahidin melihat Fitri. Dia kesal dengan wanita itu. Semenjak dirinya masuk ke dalam kelas. Wanita itu enggan melihat ataupun meliriknya.


Saat mahasiswi lain menggoda dirinya, dia malah asyik membaca buku yang ada di hadapannya. Apa dia tidak menganggap ku?


Biasanya... jika aku masuk dalam kelas ini, Hana selalu memandang ku, tersenyum padaku, dan mencari perhatian padaku. Tetapi... kenapa sekarang dia malah cuek padaku? Bahkan waktu ketemu di taman saja, dia berpura-pura tidak mengenaliku. benak Zahidin.


”Fitri Raihana!” panggil Zahidin dengan lantang menatap gadis itu.


Fitri mendongak melihat Zahidin. ”Ya, Pak,” jawabnya. Keningnya mengerut saat memperhatikan seksama raut wajah dari pria yang memanggilnya. Pria itu sedang kesal. Apakah kesal pada dirinya?


”Apa yang di maksud dengan financial analyst?”


”Meng-analisi keuangan, meneliti tentang kondisi makro ekonomi dan mikro ekonomi untuk membuat prediksi suatu bisnis, industri, dan sektor, Pak.” jawab Fitri tanpa ragu.


”Masih kurang tepat! Apa saja tugas dari financial analyst?” tanya Zahidin lagi.


”Mengumpulkan informasi dan data, mengatur data informasi, mengetahui dan memprediksi hasil analis keuangan, memikirkan solusi terbaik dan menghasilkan laporan untuk internal, Pak.” jawab Fitri.


”Bagaimana caranya untuk menghasilkan laporan internal tersebut?” tanya Zahidin lagi.


”Meng- input hasil analis data dalam format Excel dan memindahkan ke bentuk power point untuk di buat grafik, Pak.” jawab Fitri lagi.


Dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan pada Fitri, sedikitpun Fitri tidak mengalihkan pandangannya pada Zahidin. Zahidin merasa puas.


Namun, Zahidin tidak bisa hanya fokus memberikan pertanyaan pada Fitri saja. Ia juga memberikan pertanyaan pada murid lain.


Setelah Zahidin memberikan pertanyaan kepada tiga mahasiswa nya, ia pun menjelaskan tentang materi hari ini.


Sepanjang Zahidin menjelaskan materinya, Fitri mendengarkan dan memperhatikan Zahidin dengan seksama. Fitri melihat kertas yang jatuh di lantai tepat di kakinya. Ia memungut kertas tersebut.


”Apa yang kamu ambil itu Hana? Berikan pada Bapak!” titah Zahidin.


Zulfa panik seketika. Waduh, gawat! Jangan sampai Zahidin baca, benaknya.


Hana maju ke depan dan memberikan kertas itu pada Zahidin. Zahidin mengambil kertas itu. Ia membukanya namun, pandangannya tertuju pada Fitri. ”Apa kamu bertukar kertas dengan kekasih mu untuk menyampaikan perasaan mu dengannya?” tanyanya.


”Tidak, Pak! Kertas itu saya tidak tahu siapa yang melemparkan nya padaku, Pak.” jawab Fitri.


”Siapa yang melempar kertas ini pada Hana?” Zahidin bertanya pada semua anak muridnya.


Muridnya terdiam semua. Namun, ia menangkap wajah gelisah Zulfa. Dia curiga Zulfa lah yang melempar kertas itu pada Hana.


”Tidak ada yang mau mengaku? Hana, bacakan isi dari kertas itu.” Zahidin memberikan kertas itu pada Fitri.


Fitri mengambilnya. Ia melihat tulisan di kertas itu. Fitri terkejut.


Ternyata aku sudah memberi pelajaran pada tunangan Zahidin. Bagaimana ini? Apakah Zahidin kembali mengajar untuk membalas perlakuan ku pada tunangan nya? benak Fitri.

__ADS_1


”Bacakan dengan keras tulisan pada kertas itu, Fitri Raihana!” titah Zahidin dengan ketus melihat Fitri.


Fitri melihat Zahidin sebentar, lalu ia membaca isi kertas itu. ”Heh! Wanita ******! Berhentilah melihat Zahidin. Dia adalah tunangan ku! Kamu berhentilah memimpikan Zahidin. Asal kamu tahu, kakek ku dan kakeknya Zahidin telah menjodohkan kami berdua.”


Kedua rahang Zahidin mengeras menatap Zulfa. Ia tidak menduga Zulfa akan mengatakan itu pada Fitri.


Zulfa semakin panik melihat tatapan tajam dan marah Zahidin padanya. Ia menunduk.


”Wah, gak nyangka ternyata tunangannya Pak Zahidin ada di dalam kelas kita!”


”Iya. Wah, beruntung sekali orang itu! Kira-kira siapa yah? Aku jadi iri...”


”Iya, siapa ya, dia? Aku juga penasaran. Pak Zahidin, siapa tunangannya Bapak? Beritahu dong!”


Komentar-komentar para anak murid di dalam kelas itu menanggapi tulisan yang di bacakan Fitri.


”Semuanya... diam!” gertak Zahidin.


Namun, semua orang di dalam kelas tersebut acuh saja dengan gertakan Zahidin.


”Eh...sabar! Itu artinya Fitri Raihana adalah orang ketiga yang mau merusak hubungan Pak Zahidin dengan tunangannya, dong!”


”Hu....gak malu sekali ingin mengganggu tunangannya orang!”


Komentar para murid mengucilkan Fitri Raihana.


Alvin, Alin, Nita, sudah pasti tahu siapa yang menulis kalimat indah itu. Fitri juga sudah bisa menebak siapa yang melemparkan kertas itu padanya.


”Hei...kalian kira Hana adalah wanita seperti itu!” ucap Alvin dengan marah menatap temannya. Fitri tersenyum melihat Alvin yang membelanya.


Zahidin berdiri sambil menggebrak meja dengan kuat. ”Diam...!” bentaknya.


Semua terdiam.


”Siapapun yang sudah menulis kata-kata indah ini dan melemparkannya padaku, dengar baik-baik ucapan ku. Aku, Fitri Raihana tidak tertarik sedikit pun dengan Pak Zahidin.” ucap Fitri.


Zahidin menatap Fitri Raihana dengan tajam. Ia tidak terima kata itu terlontar dari bibir wanita yang ia cintai.


”Dan... aku tidak peduli dia tunangan mu ataupun bukan, niat ku datang kesini hanya untuk belajar. Kamu jangan ke gr-an, aku tidak menatap tunangan mu. Aku hanya mendengarkan penjelasan materi darinya. Aku sudah punya kekasih yang lebih tampan lagi dari tunangan mu ini. Ku harap, kamu bisa mengerti dengan ucapan ku.” tutur Fitri. Ia kembali ke tempat duduknya.


Zahidin semakin marah menatap Fitri.


Apa? Punya kekasih lain? Lebih tampan dariku? Berani sekali kamu berlagak di hadapan ku, Hana. Beraninya kamu membandingkan aku dengan pria lain! benak Zahidin. Dia sangat geram pada Fitri.


”Yang menulis di selebaran ini... maju ke depan!” titah Zahidin.


Zulfa sangat gugup. Ia ragu mau maju atau tidak. Tetapi, nika ia maju... Zahidin akan semakin marah padanya. Akhirnya Zulfa memberanikan diri maju ke depan menghadap Zahidin.


”Ini adalah kampus, tempat untuk belajar! Mengapa kamu membawa urusan pribadi mu di kampus dan menyebar fitnah!” tanya Zahidin dengan ketus pada Zulfa.


”Ta__tapi ini bukan fitnah, Zahidin. Kamu dan aku memang di jodohkan oleh kedua kakek kita. Tanggal pertunangan kita juga sudah di tetapkan. Apalagi yang harus di sembunyikan?!” tanya Zulfa.


Cih, sudah punya tunangan saja masih melirik wanita lain! Paras memang ganteng, cool, gak taunya malah kelihatan seperti orang tidak berpendidikan. benak Fitri.


Fitri menatap jijik melihat Fajrin. Fajrin sangat kesal mendapatkan tatapan jijik dari Fitri.


”Kamu tulis kata "Maafkan aku Pak, aku sudah menyebar fitnah. Aku tidak akan mengulangi lagi dan tidak akan mengaku-ngaku tunangan Bapak" Sebanyak tiga ratus lembar kata. Serahkan padaku besok!” titah Zahidin dengan marah pada Zulfa.


”Tapi, Pak! A__”


”Tidak ada kata tapi! Tulis dan berikan padaku besok!” pangkas Zahidin.


Zahidin melihat Fitri dengan wajah kesal, marah, dan pandangan tajam dan berkata, ”Fitri Raihana, ikut Bapak ke kantor!” Ia melangkah keluar dari kelas setelah memberi perintah pada Fitri.


”Tapi, Pak! Saya tidak membuat kesalahan!” protes Fitri.


Zahidin berhenti di pinggir pintu kelas. Ia melihat Fitri. ”Ikut Bapak ke kantor atau... Bapak akan mengirim surat untuk orang tuamu untuk datang menghadap padaku!” ancam Zahidin.

__ADS_1


”Salahku di mana, Pak?” tanya Fitri.


Namun, Zahidin sudah bergegas pergi.


Fitri kesal. Ia melihat Zulfa dengan marah. ”Semua karena mu!” Ia keluar dari kelas mengejar Zahidin ke kantor.


Apa Zahidin suka mengancam juga? Dia dan Fajrin sama saja! Sama-sama suka mengancam! benak Fitri.


Fitri sangat kesal sekali memandang punggung belakang Zahidin. Dia terus mengikuti langkah kaki Zahidin. Keningnya berkerut saat ia melewati kantor ruang dosen telah di lewati.


Kemana perginya Zahidin ini? Fitri melihat Zahidin membuka pintu perpustakaan, perpustakaan? Ngapain dia bawa aku ke perpustakaan? benak Fitri.


Fitri mengikuti Zahidin dengan ragu. Dia terus berjalan, ia berbelok ke arah kiri. Fitri melihat Zahidin membuka kunci di pintu itu.


Loh, masih ada jalan di sini! Tapi... ini jalan kemana? Fitri melihat tangga. Ada tangganya juga. Dia akan membawaku ke lantai atas. Ada apa di lantai atas? benak Fitri.


Mereka telah sampai di lantai dua. Lantai itu sangat bersih. Ia melihat Zahidin membuka pintu. Di lantai dua itu hanya ada satu kantor.


”Pak...”


”Masuk!” suara Zahidin terdengar marah. Zahidin sendiri telah masuk.


Fitri menghela nafas lalu masuk ke dalam ruangan itu. Ruangan itu sangat bersih dan besar. Tapi, di dalam ruangan itu ada sebuah ruangan lagi. Ia tidak melihat Zahidin.


Fitri duduk di kursi menunggu pria itu datang.


”Siapa suruh kamu duduk?” Zahidin berbicara dengan ketus menegur Fitri.


Fitri berdiri. Ia berkata, ”Maaf, Pak. Kalau boleh tahu apa salah saya? Mengapa saya... Bapak bawa kesini? Bukankah yang buat salah itu tunangannya Bapak?”


”Ulangi ucapan mu saat di kelas tadi.” titah Zahidin. Ia duduk di kursi dengan memangku sebelah kakinya dan menatap Fitri.


”Yang mana, Pak?”


”Saat kamu menjawab perkataan Zulfa.”


”Oh, itu. __” Fitri terdiam seketika saat mengingat ucapannya.


Apakah dia marah karena aku bilang dia tidak menarik dan lebih ganteng kekasih ku di banding dirinya? benak Fitri.


”Kenapa terdiam?” bentak Zahidin.


”Em... Pak, maaf. Bukan maksud ku untuk mengatai Bapak jelek. Tetapi... tunangan Bapak sudah membuat ku__”


Ucapan Fitri terpangkas. Zahidin membungkam bibir Fitri dengan menciumnya secara tiba-tiba. Mata Fitri membulat sempurna. Ia sangat terkejut.


Ia tersadar sadar Zahidin menghisap kasar bibirnya. Ia berontak. Zahidin menahan kedua tangannya.


Fitri menggelengkan kepalanya agar Zahidin melepas ciumannya. Tapi Zahidin malah menyudutkan Fitri ke kursi. Tidak ada kesempatan bagi Fitri untuk berontak saat ini.


Ciuman kasar Zahidin berubah menjadi sebuah ciuman yang lembut. Namun, Fitri menangis membuat Zahidin melepaskan ciumannya. Zahidin melihat Fitri.


Plak! Fitri melayangkan tamparan pada wajah Zahidin. Zahidin terkejut.


”Kalau Bapak haus akan sebuah ciuman, Bapak sudah salah orang untuk di cium. Aku bukan tunangannya Bapak! Jika Bapak mengulang hal ini lagi... saya akan laporkan Bapak pada kepala sekolah!” ancam Fitri.


Fitri menghapus air matanya lalu melangkah keluar dari ruangan Zahidin.


Zahidin menahan tangan Fitri, menariknya dan membawa Fitri ke dalam pelukannya.


”Dia bukan tunangan ku. Aku serius dengan ucapan ku waktu di taman itu. Aku menyukaimu.” bisik Zahidin pada telinga Fitri.


”Aku tidak menyukai mu! Lepaskan aku!” Fitri berontak. Zahidin melepaskan pelukannya. Fitri kembali melangkah.


”Siapa pria itu?”


Pertanyaan Zahidin menghentikan langkah Fitri yang ingin membuka pintu. ”Dia Randi, orang yang ku cintai! Jangan ganggu aku! Bapak dan tunangan Bapak sama saja... sama-sama suka mengganggu ku.”

__ADS_1


Fitri membuka pintu dan segera pergi setelah menghapus sisa air matanya.


Zahidin terdiam. Ia memikirkan siapa sosok Randi, pria yang di maksud Fitri. Sementara, orang tua Fitri dan kakaknya Fitri mengatakan pada dirinya jika Fitri tidak memilik seorang kekasih.


__ADS_2