Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 59


__ADS_3

Di dapur, di taman bunga Fatma.


Makan malam telah selesai. Semuanya masih duduk di tempatnya masing-masing. Suasana begitu hening.


”Makan malam sudah selesai, apa kamu masih ingin di sini? Mengganggu ketenangan keluarga ku?” ucap Ardi ketus pada Fajrin.


”Hati-hati ucapan mu, kakak ipar! Aku masih menahan diri dari amarah untuk menghadapi mu karena memandang Hana. Jika tidak... kamu tidak akan mampu untuk menyebut nama ku lagi,” sahut Fajrin, ia menatap Ardi dengan tatapan dingin.


”Fajrin, apa kamu tidak bisa untuk tidak mengancam keluarga ku saat berbicara?” tegur Fitri pada Fajrin.


”Itu semua tergantung dari cara keluarga mu memperlakukan ku, sayang. Jika mereka memperlakukan aku dengan baik, aku bisa memperlakukan mereka lebih baik lagi dari mereka,” jawab Fajrin.


Apaan manggil aku sayang di hadapan keluarga ku. Ini orang apa gak bisa membaca situasi ku? benak Fitri. Keningnya mengerut melihat Fajrin.


”Kamu tidak pantas untuk mendapatkan kebaikan ku jika ini berhubungan dengan Hana, adikku!” sahut Ardi ketus. Bahkan, tatapannya tajam menatap Fajrin.


”Fajrin. Bukankah aku sudah bilang padamu kalau aku tidak merestui hubungan mu dengan anakku, kan? Jangan kamu mengubah panggilan anakku seenak mu,” ucap Fandi tegas.


”Ayah mertua. Aku dan Hana sekarang telah berpacaran. Dan dua hari lagi... kami akan bertunangan...” ucap Fajrin dengan santai.


”Apa?” Fatma, Fandi, dan Ardi terkejut.


”Iya. Daripada Ayah mertua mendebat ku, lebih baik Ayah mertua memikirkan untuk mempersiapkan acara besok lusa.” ucap Fajrin lagi dengan tegas, wajahnya sangat serius.


Fandi, Ardi, dan Fatma melihat Fitri. Fitri menunduk seketika. Ia menjadi gugup.


Mama, Papa, dan kakak pasti kecewa dan marah padaku sekarang! Pria gila ini... tidak bisa apa memberikan aku waktu bicara baik-baik dengan keluarga ku mengenai pertunangan yang dia tentukan sendiri itu. Pria mesum sialan! benak Fitri.


”Nak, ada apa ini? Bukankah kamu sendiri yang bilang kamu tidak mencintai Fajrin? Lalu, ini apa? Bisa kamu jelaskan pada Mama!” tanya Fatma, wajahnya terlihat kecewa.


Rupanya kucing liar ku tidak mencintai ku dan terang-terangan bilang ke mamanya begitu. Heh, kau pintar sekali menyembunyikan perasaan. benak Fajrin. Ia menatap Fitri.


”Hana. Sebagai Bapak mu, Bapak tidak mau sesuatu terjadi padamu. Kamu sudah meyakinkan Papa untuk tidak menerima Fajrin. Kamu juga sudah tahu bagaimana sikap pria ini, mengapa dia bisa mengklaim kamu adalah pacarnya? Jelaskan!” sambung Fandi bertanya pada Fitri. Wajahnya sangat marah melihat Fitri.


”Hana, kamu adalah perempuan. Kamu pasti sangat mengerti bagaimana sakitnya hati saat di khianati. Kamu ingin merebut kebahagiaan orang, Hana? Meskipun Zulfa musuh mu dan kamu ingin memberinya pelajaran, bukan dengan cara merebut pria nya, Hana!” sambung Ardi.


”Hana. Jelaskan pada mereka kenapa kamu diam saja? Takut padaku? Atau... harus aku yang menjelaskan pada mereka,” ucap Fajrin santai, ia menyandarkan punggungnya di kursi.


Pria sialan! Ini semua karena mu. benak Fitri.


”Mama, Papa, kakak. Hana... tidak ada yang perlu Hana jelaskan. Lusa... lusa pertunangan ku dan Fajrin akan di gelar secara tertutup di rumah kita,” ucap Fitri sambil menunduk.


Fajrin tersenyum dingin, ”Heh, tertutup? Apa aku bilang begitu? Naif sekali kamu, Hana!” sahutnya.


”Iya. Tertutup, jika tidak... aku juga tidak akan mau bertunangan. Aku sudah mengikuti kemauan mu, kita bertunangan. Sekarang, keinginan ku adalah acaranya tertutup.” ucap Fitri dengan tegas memandang Fajrin.


”Aku tidak yakin akan hal itu, Hana! Dan aku takutnya bukan bagian mu yang menentukannya,” sahut Fajrin.

__ADS_1


Gubrak! Ardi dan Fandi sama-sama berdiri dengan marah sambil menggebrak meja dengan kuat. Membuat Fatma dan Fitri terkejut. Dan lagi, hal itu membuat Fajrin tidak senang.


”Tidak ada pertunangan lusa, besoknya, Minggu depan, bulan depan atau kapan pun! Kamu... Fajrin, berhentilah mengejar anakku! Apakah kamu belum puas dengan Zulfa, sehingga kamu ingin anakku juga?!” ucap Fandi, nada suaranya tinggi.


Fajrin terdiam mendengarkan. Namun, raut marah terpampang jelas di mata dan di wajahnya.


”Apa ini rencana mu, Fajrin! Kamu tahu Hana dan Zulfa tidak akur, kamu sudah memiliki Zulfa. Kamu ingin Hana lagi, kamu ingin kedua gadis itu bertikai saling membunuh? Jangan kamu kira kami belum tahu apa yang sudah kamu perbuat dengan Zulfa!” ucap Ardi. Nafasnya memburu karena marah.


Kedua tangan Fajrin terkepal kuat.


”Nak Fajrin,” panggil Fatma lembut.


Fajrin melihat Fatma. Dia ingin tahu apa yang akan di katakan oleh mama mantunya tersebut.


”Fajrin. Aku tahu kamu adalah anak yang baik. Kamu memang mencintai putriku, tapi...kamu tidak bisa menempatkan anakku sebagai orang ketiga dalam hubungan mu dengan Zulfa. Kasihanilah anakku, jangan persulit hidupnya anakku. Kamu... jalani lah hidupmu dengan Zulfa. Kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu pada Zulfa. Tolong, jauhi putriku...” ucap Fatma dengan lirih.


Fajrin menghela nafas. Jelas mereka ingin aku menjauhi Hana karena video sialan itu! Hah...benak Fajrin. Ia menghela nafas.


”Ayah mertua, kakak ipar, silahkan duduk. Tangan dan kaki kalian akan capek jika terus dalam posisi itu,” ucap Fajrin dengan tenang.


”Kamu lelaki tidak tahu malu Fajrin! Brengsek!” umpat Ardi. Tangan kirinya memegang kerah baju Fajrin. Kepalan tangan kanannya meninju wajah Fajrin. Namun terhenti, Fitri menangkap tangannya. Ardi melihat Fitri tidak senang. Fitri menggeleng. Ardi menarik tangannya namun, ia meninju meja untuk melampiaskan amarahnya.


Fajrin memperbaiki kerah bajunya lalu berkata, ”Apapun pendapat kalian aku tidak perduli. Aku dan Hana sudah berpacaran. Lusa adalah hari pertunangan kami berdua. Untuk zulfa, aku sama sekali tidak menyentuhnya.”


”Heh! Kamu kira aku akan percaya dengan kata-kata mu! Kamu dan dia berada di dalam satu kamar selama beberapa menit, masih bisa bilang kamu tidak menyentuhnya, sedang-kan kamu keluar dengan baju yang berantakan dari kamar tersebut! Fajrin, kamu sungguh keterlaluan!” ucap Fandi.


Ardi, Fatma, Fandi terdiam.


”Apa kamu kira aku percaya padamu, Fajrin!”


”Apa aku harus membuktikan diriku jika aku masih perjaka, Tuan Fandi? Aku sama sekali tidak keberatan untuk membuktikannya pada Hana.” ucap Fajrin dengan tegas.


Apa! Dia... ini... tidak. Dia tidak boleh melakukan itu pada anakku. benak Fandi. Ia terduduk dengan lemas di kursi.


Pria sialan ini mengancam papa ku dengan diriku. Dasar! Lelaki brengsek mesum! Apa kamu kira aku akan membiarkan diriku di makan oleh mu? Mimpi saja! benak Fitri.


Apa yang aku ingin katakan sudah ku katakan. Ku rasa mereka bukan orang bodoh yang menganggap aku berbohong tentang Zulfa. Sekarang waktunya aku pulang. Biarkan Hana sendiri yang membujuk keluarganya. benak Fajrin.


Fajrin berdiri. ”Hana, antar aku keluar,” titahnya pada Fitri.


”Pulanglah sendiri! Kenapa adikku harus mengantar mu!” Ardi yang menyahuti ucapan Fajrin.


”Kakak, kamu duduklah! Aku... aku antar Fajrin ke depan dulu,” ucap Fitri pada Ardi. Fitri berdiri.


”Ayah mertua, Ibu mertua, kakak ipar. Terimakasih atas makan malam dan sambutan hangat kalian. Aku pulang dulu. Ingat untuk mempersiapkan pertunangan kami,” pamit Fajrin. Fatma, Fandi, dan Ardi tidak menanggapi. Justru membuang muka dari tatapan Fajrin.


Fajrin melangkah pergi dari dapur, Fitri mengikuti di belakangnya.

__ADS_1


Ardi duduk dengan kesal. Fatma melihat anak dan suaminya yang tidak berdaya di hadapan Fajrin. Aura pria itu memang sangat kuat dan mendominasi.


Pria itu mengancam Hana dengan apa sehingga Hana setuju bertunangan dengan dia? benak Fatma.


*


*


Di depan rumah taman bunga.


”Kamu puas sudah mendebat dengan keluarga ku?” tanya Fitri ketus memandang Fajrin.


”Hei, sayang! Tatapan apa yang kamu tunjukkan padaku, hum? Mereka harusnya bersyukur karena aku tidak memukulnya. Kalau aku tidak memandang kamu, aku sudah memukul mereka hingga mereka tidak berani membuka suara untuk mendebat ku,” ucap Fajrin.


”Apa? Mengapa kamu sangat tidak tahu malu sekali, Fajrin?”


”Pria tidak tahu malu ini adalah pria mu, Hana!”


Fitri terdiam.


”Sayang, seharusnya kamu sekarang menghibur ku. Hatiku, perasaan ku masih tidak senang karena ucapan keluarga mu. Kamu malah ingin menambah luka pada perasaan ku yang terluka ini.”


”Apa? Terluka? Yang terluka itu ke__” ucapannya terpotong. Matanya membulat sempurna saat Fajrin mencium bibirnya. ********** dengan lembut. Fajrin menggigit pelan bibir bawah Fitri lalu melepaskan ciumannya.


Tangan Fajrin membelai wajah Fitri, ”Terima kasih, perasaan ku sudah senang sekarang. Aku pergi dulu.” Fajrin masuk ke dalam mobil dan berlalu dari taman bunga.


”Hah, sialan kamu Fajrin!” umpat Fitri marah memandang belakang mobil Fajrin.


”Terluka? Lelaki brengsek seperti kamu tidak akan tau sakitnya terluka,” gumam Fitri.


Fitri berbalik. Ia ragu untuk melangkah masuk di rumahnya sendiri. Keluarganya sedang marah dan kecewa padanya sekarang. Ia duduk di teras rumah dengan bingung.


Huft! Apa aku harus bersyukur dengan kehidupan baru ku ini?


Pertunangan ku dengan Fajrin adalah besok lusa. Harusnya Fajrin menuruti ku... acaranya harus tertutup. Aku sengaja bilang padanya kalau aku mencintai nya agar aku cepat keluar dari rumahnya Fajrin.


Aku juga setuju bertunangan dengan Fajrin agar ia membantuku masuk ke perusahaan Randi. Apakah ini yang harus aku jelaskan pada keluarga ku?


”It's not possible! Oh, God! What should I do?” gumam Fitri.


Kriet! Terdengar bunyi pintu rumah terbuka.


Fitri menoleh ia melihat kakak, mama, dan papanya keluar dan menghampirinya. Fitri menunduk.


”Bagus ya adikku ini! Habis membuat ulah tidak berani untuk mempertanggung jawabkan nya. Di tunggu di dalam rumah, malah duduk di sini,” ucap Ardi menyindir Fitri.


Lagi pula, apa yang harus aku jelaskan pada kalian? Sudahlah... bicara saja yang perlu... benak Fitri.

__ADS_1


__ADS_2