
Kediaman Cindy.
”Fitri sudah meninggal! Harta kekayaannya sudah jatuh di tangan Randi. Tunggu apa lagi sekarang? Mengapa Randi belum juga menikahi mu dengan sah?” Dian, papanya Cindy memarahi Cindy yang tidak berguna.
Cindy memutar kedua bola matanya dengan malas. Di marahi papanya sudah merupakan hal yang biasa baginya.
”Pa! Kepergian Fitri baru tujuh hari, apa kata orang-orang nanti kalau Randi menikahi ku dengan cepat! Mengertilah dengan kondisi Randi, Pa!” Cindy membela Randi.
”Bagaimana dengan utang Papa? Tinggal satu Minggu lagi waktunya akan berakhir!” Dian berbicara pelan, namun, terdengar ketus.
Utang-utang! Papa yang berutang kenapa aku yang harus menanggungnya? benak Cindy.
”Papa! Cindy akan usahakan meminta uang lima ratus juta pada Randi! Aku yakin, Randi akan memberikan uang itu padaku! Tapi Papa harus menunggu!!” Cindy seakan sudah tidak sabar dengan kelakuan papanya yang terus memperalat dirinya sebagai tameng utang.
”Baiklah! Papa tunggu kabar baik mu! Usahakan dua hari kedepannya, uangnya sudah ada!” Dian berdiri dan pergi begitu saja dari rumah Cindy.
”Argh!” Cindy frustasi! Papanya terus mendesaknya untuk mengambil uang lima ratus juta pada Randi. ”Mengapa Randi tidak memberikan aku kartu hitamnya Fitri? Semua harta Fitri sudah di pegang olehnya!”
”Papa juga! Masih punya utang, masih lagi meneruskan main judinya!! Papa tidak berguna!! Sama sekali tidak berguna!! Hanya menyusahkan saja!!”
*
*
*
Malam hari di kota P, kediaman Fandi.
”Hana, besok dan lusa, kakak gak kerja. Kakak di beri libur selama dua hari dari kantor kakak bekerja. Kakak akan punya waktu seharian untuk temani kamu di rumah. Apa kamu senang akan ada yang temani kamu di rumah? Hum?” Ardi menaikkan alisnya melihat Fitri, senyumnya mekar di bibir.
Fitri terdiam sesaat, melihat Ardi. Senyuman Ardi sangat menawan. Pantas saja Alin jatuh cinta padanya! Hum... sayangnya di sini dia adalah kakak ku. Jika tidak, aku ingin dia sebagai pengganti Randi. benaknya.
”Hei, Hana! Mengapa lihatin kakak mu begitu!” Fatma menegur Fitri yang memandangi Ardi tanpa kedip.
Fitri tersadar. ”Eh...em...kakak tadi bilang apa? Hana tidak mendengarnya.” Fitri merasa malu seketika.
”Hana... semenjak kamu terbangun dari pingsan, kamu berubah! Bagaimana kalau besok, kamu dan Ardi pergi ke tempat praktek dokter Hairul untuk pemeriksaan menyeluruh. Papa takut di otak mu masih bermasalah.” Ucap Fandi cemas.
Fitri menghela nafas. ”Papa, Hana tidak perlu di periksa. Hana baik-baik saja, kok! Sikap Hana yang berubah, mohon Papa maklumi, saat Hana pingsan, Hana bertemu dengan malaikat yang menyadarkan sikap Hana yang tidak baik!” Fitri menjelaskan dengan tenang.
”Hum? Ketemu malaikat baik? Bukan ketemu malaikat yang jahat kah? Kakak rasa kamu bertemu dengan malaikat jahat! Dia sudah menyiksamu...mengajarimu...hingga kamu berubah 50% setelah bangun dari pingsan!” Ardi mencibir Fitri.
”Hah! Kakak kok buruk sekali sih bicaranya! Semoga kakak tuh yang bertemu dengan malaikat jahat!” Fitri berwajah sebal.
”Hahahaha!” Ardi, Fatma, dan Fandi tertawa melihat wajah kesal Fitri juga cara ngambek Fitri yang imut.
”Aduh! Imutnya wajahnya anak Papa bila merajuk!” Fandi mencubit dagu Fitri dengan lembut.
”Papa! Siapa yang merajuk! Fit... Hana gak mungkin merajuk, kok!” Fitri membela diri.
”Iya, iya! Anaknya Mama sudah besar, mana mungkin merajuk! Iya kan, sayang?” Ucap Fatma sambil menahan tawa. Dia tahu sebenarnya, anak keduanya itu sedang merajuk, terlihat dari wajahnya.
”Mama betul!” Fitri membenarkan ucapan mamanya yang membela dirinya.
__ADS_1
”Ya, iya! Papa salah!” Fandi mengalah. ”Oh, iya, Ma, ikut Papa sebentar, ada yang ingin Papa omongin sama Mama.” Ia berdiri dan melangkah keluar dari meja makan.
”Ardi, Hana, kalian istirahatlah! Mama nyusul papa dulu.” Fatma menyusul Fandi, suaminya ke ruang baca.
Di meja makan.
”Kak, apa kakak tahu, apa yang ingin di bicarakan papa ke mama?” Fitri penasaran.
”Sayangnya kakak tidak tahu!” Ardi berdiri, berjalan mendekati Fitri. Ia memegang tangan Fitri. ”Ayo, kita pergi ke taman!” Ajaknya.
”Tunggu, kakak!” Cegah Fitri, ”Fit... eh Hana bereskan meja makan dulu. Lihatlah, meja makan masih berantakan, piring kotor, gelas kotor masih di atas meja.”
”Sudah, ayo! Ikut kakak ke taman! Ini pekerjaannya bibi. Setelah bibi selesai makan, bibi yang akan membereskan.” Ardi menarik tangan Fitri, melangkah keluar dari meja makan. Fitri mengalah, ia mengikuti langkah Ardi.
Di ruang baca.
”Ada apa, Pa? Serius sekali mukanya.” Fatma duduk di samping suaminya.
”Mama, selama empat hari nanti, Papa ada dinas di luar kota. Papa pergi dengan pak direktur. Selama Papa pergi, bisakah Mama membujuk Hana untuk menerima bertunangan dengan pak Fajrin?”
Fatma terdiam sesaat. Ia mengira masalah pertunangan itu telah berakhir.
”Bukankah Hana sudah mengatakan menolak untuk bertunangan dengan Fajrin? Bukankah Papa sudah berbicara dengan Fajrin tentang ini?”
Fandi menutup file yang ia baca dan menyimpannya di atas meja. ”Ma, Papa sudah berbicara dengan Fajrin. Keputusan Fajrin tetap ingin Hana menjadi tunangannya. Papa masih membujuk Fajrin untuk membatalkan pertunangan itu. Tapi...Fajrin bersikeras dengan keinginannya untuk memiliki Hana kita. Pertunangan akan berlangsung 10 hari kedepannya.”
”Tapi, Papa tahu sendiri kan Hana menolak perjodohan ini, bagaimana Mama akan membujuknya?” Fatma pun bingung sendiri.
”Apa tanggapan beliau?” Fatma penasaran. Wajah Fandi berubah sedih.
”Tapi, papanya Fajrin mendukung kemauan anaknya itu. Beliau pernah berjanji pada Fajrin untuk selalu menuruti kemauan Fajrin bila Fajrin mau menggantikan beliau sebagai direktur di perusahaan. Jadi, beliau tidak mau ikut campur dengan urusan pribadi anaknya. Beliau justru setuju jika Hana menjadi anak mantunya.”
Fandi menggenggam jemari Fatma. ”Mama, Papa bingung untuk menyampaikan ini pada Hana. Papa mengandalkan Mama, Mama pasti bisa! Selama empat hari, Papa kerja dinas di luar, Mama bujuk Hana baik-baik ya!” Ia menaruh harapan pada Fatma untuk membujuk Fitri menerima Fajrin.
”Papa, sebenarnya apa yang di sukai Fajrin pada anak kita? Kita juga bukan keluarga yang kaya, mengapa dia tertarik dengan anak kita ini? Dan sebenarnya, Mama penasaran, mengapa Papa tidak menolak pertunangan itu? Bukan kah Papa sebelumnya berkata, apapun yang terjadi, Papa tetap akan menolak pertunangan itu demi kebahagiaan Hana?” Fatma penasaran akan alasan Fandi yang tidak bisa menolak keinginan Fajrin.
Fatma melihat wajah Fandi berubah, tidak berdaya.
Fandi menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sambil memijit pangkal hidungnya. ”Mama, alasannya adalah pekerjaan Papa yang menjadi taruhannya!”
Fatma terkejut. ”Apa... Fajrin akan memecat Papa dari pekerjaan Papa jika Papa bersikeras menolak pertunangan itu?” Fatma mencoba menebaknya. Fandi mengangguk lemah.
”Bukankah, masih banyak perusahaan di kota ini? Kalau pun tidak ada perusahaan lain yang terima Papa, kita bisa pindah dari kota ini dan mencari penghidupan di kota lain saja, gimana?” Fatma memberi usul.
Fandi kembali menghela nafas tidak berdayanya. Ia menggenggam jemari Fatma. ”Tidak semudah itu, Mama! Perusahaan tempat Papa bekerja ini adalah perusahaan nomor dua di dunia, yang di segani orang-orang, juga para pebisnis lain. Jika Papa di depak dari perusahaan itu, nama Papa, bukan hanya nama Papa, tapi nama Ardi, Hana pun masuk ke dalam daftar hitam di perusahaan. Dan jika sudah begitu, perusahaan manapun yang ada di kota ini, maupun di kota lain, tidak ada yang berani menerima Papa ataupun anak-anak Papa untuk bekerja di perusahaan.” Ungkapnya. Fatma kembali terkejut. Ia tidak menyangka ternyata ancaman Fajrin sangat berat.
”Astaghfirullah! Teganya Fajrin mengancam Papa dengan pekerjaan! Papa, Mama gak rela Hana terluka nantinya bila di sandingkan dengan Fajrin!!” Wajahnya begitu sedih, membayangkan Hana, putrinya akan di tindas oleh Fajrin jika Hana dan Fajrin menikah nanti.
”Lalu, apa yang harus kita lakukan, Ma?” tanya Fandi.
Fatma terdiam, ia pun tidak tahu apa yang harus mereka lakukan! Hana selalu menolak pertunangan itu, sementara Fajrin tidak menerima penolakan! Jika mereka bersikeras menolak pertunangan ini, pekerjaan Fandi, suaminya yang menjadi taruhan!
Di taman.
__ADS_1
”Kamu mau temani kakak pergi besok?” tanya Ardi.
”Memangnya kakak mau pergi kemana?”
”Kakak ingin jalan-jalan saja! Menghabiskan waktu bersama adikku, seperti biasanya! Mumpung kakak mendapatkan hari libur. Kamu mau gak?”
”Emang biasanya seperti itu ya, kak? Kakak selalu menghabiskan waktu libur kakak bersama ku?” Fitri penasaran. Apakah Hana sering melakukan itu?
”Iya, bukan hanya itu, uang gaji ku yang satu bulan, kamu yang habiskan dengan berbelanja! Bahkan, kamu memanggil dengan teman mu, siapa itu...em...Alin dan Nita untuk menghabiskan uangnya kakak.” Ungkap Ardi. Fitri terdiam. Seakan ia tidak percaya, Hana adalah seorang pemboros dan manja.
”Em... kak, mama kan punya kebun bunga, bagaimana kalau kakak ajak Hana ke kebun bunga mama? Hana belum melihat bunga-bunga yang mama tanam.”
”Boleh! Tapi, sejak kapan kamu suka bunga? Mama sering loh ngajak kamu untuk pergi ke kebun bunga mama, tapi, kamu selalu menolak!”
”Setelah Hana tersadar dari pingsan, Hana sudah mulai menyukai bunga. Bunga-bunga itu sangat indah, harum, dan wanginya menenangkan.” Fitri memejamkan matanya seperti sedang menghirup aroma bunga. Bibirnya tersenyum indah. Ardi mencubit hidung adiknya yang sedang berkhayal itu.
”Aduh, kakak! Sakit!” Tangannya Fitri membelai hidungnya, wajahnya di tekuk kesal.
”Siapa suruh kamu begitu imut saat tersenyum begitu!” Ardi tertawa kecil sambil mengacak rambut Fitri.
”Ah, kakak! Rambut Hana, berantakan nih!” Tangannya menghalau tangan Ardi yang masih ingin mengacak rambutnya.
”Sudah hampir larut malam! Ayo kita masuk!” Ardi melangkahkan kakinya.
”Tunggu, kak!” Cegah Fitri. Ardi berhenti dan berbalik, melihat Hana.
”Hum? Kenapa?”
”Boleh Hana memeluk kakak sebentar?”
”Mau peluk kakak?”
Fitri mengangguk.
Ardi tersenyum, ia membentangkan tangannya, ”Sini, peluk kakak!”
Fitri menghambur ke badan Ardi. Ardi membalas memeluk adiknya itu.
Terima kasih, ya Allah, engkau menghidupkan aku kembali dengan memberiku keluarga yang lengkap. Mereka tidak tahu kalau Hana telah meninggal, dan yang menggantikan Hana adalah aku. Di kehidupan sebelumnya, aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya di sayang seorang kakak. Di kehidupan ini, aku merasakannya. Aku punya kakak yang menyayangi ku, menjaga ku dan memanjakan ku. benak Fitri.
Hana benar-benar berubah! Sebelumnya, ia selalu menempel padaku, menggandeng tangan ku di saat jalan bersamanya. Jika dia ingin memeluk ku, langsung saja peluk. Sekarang, dia seperti menghargai ku sebagai seorang kakak. Ingin memeluk ku saja, meminta pendapat ku dulu. benak Ardi.
”Sudah puas meluknya belum?” tanya Ardi.
Fitri melepas pelukannya. ”Sudah! Terima kasih, kak! Kakak adalah kakak ku yang terbaik!” Fitri tersenyum manis memuji Ardi.
”Dan kamu adalah adikku yang tercantik! Ayo kita masuk sekarang. Besok, kita berangkatnya pagi-pagi ke kebun mama.”
”Ok!”
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Fitri langsung pergi ke kamarnya. Sedangkan Ardi, ia pergi ke ruang baca, melihat apakah mama dan papa nya masih berada di sana.
Ia membuka pintu ruangan itu, lampu nya telah padam. Ia pun pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
__ADS_1