Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 23


__ADS_3

Di kantin kampus.


Fitri terdiam.


Celaka! Aku sudah mencari gara-gara dengan pemilik kampus ini. Waduh! Aku harus bagaimana ini? benaknya.


Ia memandang Alin dan Nita, wajahnya terlihat bingung.


”Kenapa wajahmu begitu? Kamu bingung kan apa?” tanya Alin, penasaran.


”Em, apa aku akan di keluarkan dari kampus ini, jika pihak kampus tahu aku yang telah mencelakai pria brengsek itu?” tanyanya pada Alin dan Nita.


”Em, kalau untuk itu...aku kurang tahu juga sih. Tapi, menurutku, jika pihak kampus mengeluarkan kamu dari sini, mereka pasti akan rugilah!” ucap Nita.


Alis sebelah kiri Fitri terangkat melihat Nita, seakan bertanya kenapa mereka bisa merugi?


”Kamu tahu gak? Kamu itu idola kampus loh! Dari semester satu sampai sekarang ini, yang memegang idola kampus tuh masih kamu. Terus, kalau ada kegiatan di kampus, kamu yang paling di andalkan dari kampus ini. Kamu itu pintar, rajin, teliti, cantik, dan baik hati. Jadi...rugilah kalau kamu di keluarkan dari kampus hanya gara-gara si pria brengsek itu.” jelas Alin.


Kalau orang yang pernah di keluarkan dari kampus ini oleh si brengsek itu karena si brengsek menjebak mereka berlaku kasar di hadapan dosen dan yang lainnya. Jadi, mereka yang naas, langsung dikeluarkan, apalagi mereka bukan orang berprestasi dan juga tidak kurang mampu. benak Alin.


”Oh, yah?” ucap Fitri, tidak percaya.


”Iya. Sudah...sudah...gak usah bahas hal gak penting itu, mending kita makan sekarang lalu kita pulang.” ucap Nita.


Fitri dan Alin mengangguk. Mereka pun mulai memakan makanannya.


Untung makanan biasa Hana di kantin adalah me ayam dan teh gula es. benak Fitri.


Lima belas menit berlalu, mereka telah selesai makan.


”Berapa harganya?” tanya Fitri.


Alin dan Nita saling pandang.


”Loh, bukannya kamu sudah tahu harganya, kan?” ucap Alin.


Fitri terdiam. Mereka tidak tahu kalau Hana teman mereka telah tiada. Yang di hadapan mereka sekarang ini adalah Fitri Raihana yang lain. Jadi, aku tidak tahu berapa harganya me ayam dan teh gula es ini. benaknya.


”Em...itu....aku ingin bayarkan dengan makanan kalian berdua, jadi, berapa semuanya?” alibinya berbohong, ia tersenyum kikuk melihat Alin dan Nita.


”Kalau begitu... semuanya empat puluh lima ribu.” jawab Nita, tanpa sungkan.


”Oh..” Fitri mengambil selembar uang senilai lima puluh ribu dari dalam tasnya. Uang tersebut ia berikan pada Alin, ”Ini, ambillah. Kembaliannya belikan permen saja, semuanya.”


Alin dan Nita kembali terkejut, mereka berdua saling pandang. Mereka berpikir jika Hana sudah berubah. Benar-benar berubah.


”Hah! Permen? Bukannya kamu tidak suka permen?” tanya Alin. Ia mengambil uang yang di berikan Fitri.


”Ah...em...itu...aku setelah terbangun dari pingsan... entah kenapa aku jadi suka makan permen...” jawab Fitri berbohong, ia tersenyum di akhir kalimatnya.


”Oh...begitu!” sahut Alin dan Nita.


Fitri mengangguk, masih dengan senyumnya yang kikuk.


”Ya udah, yuk. Kita cabut sekalian dari sini.” Alin berdiri, menyandang tasnya.


Nita pun sama, Fitri juga ikut berdiri dan menyandang tasnya. Mereka beranjak dari sana.


Alin singgah ke pemilik kantin membayar makanan mereka, sementara Nita dan Fitri telah keluar dari kantin dan menunggu Alin di luar kantin.


Tidak lama kemudian, Alin ikut bergabung dengan Nita dan Fitri. ”Han, ini permen mu.”


Fitri mengambil enam buah permen dari telapak tangan Alin. ”Kalian berdua berbagilah itu, aku cukup ini saja.” ucapnya. Ia membuka satu permen dan memasukkan ke mulutnya.


Alin dan Nita pun berbagi permen dan mengemut satu permen di mulutnya. Mereka pun beranjak dari depan kantin.


”Kamu pulang naik bus, Nit?” tanya Alin pada Nita.

__ADS_1


”Iya, kan gak ada Alvin.” jawab Nita.


”Baguslah! Jadi, aku ada teman untuk naik bus.” ucap Alin, sambil tersenyum senang.


Mereka mau naik bus? benak Fitri.


”Em...aku ikut kalian naik bus, ya?” ucap Fitri.


”Bagaimana dengan kakak mu?” tanya Nita.


”Aku akan memberitahunya.” jawab Fitri.


”Oh...ok! Ayo kita pergi!” ucap Alin senang, ia melingkarkan tangannya ke lengan Fitri. Namun, ia kembali melepaskannya saat Fitri tidak suka melihat tangannya. ”Maaf, lupa!” sesalnya.


Mereka tiba di parkiran kampus. Fitri melihat motor kakaknya. Motornya masih ada. Mereka terus berjalan kaki ke halte bus.


”Beneran kamu ingin naik bus, Fit? Ini pertama kalinya bagimu, loh?” sekali lagi Alin bertanya pada Fitri. Mereka sedang menunggu bus datang.


”Iya.” jawab Fitri dengan yakin.


Drrtrrrt! Bunyi nada dering hape milik Fitri.


Alin dan Nita melihat Fitri.


”Pasti itu dari kakak mu.” ucap Nita.


”Mungkin!” sahut Fitri, ia mengambil handphonenya dari dalam tas. Ia menggeser tombol hijau ke atas.


”Halo, kak.” sapa Fitri.


”Hum...kamu lagi di halte bus sekarang?” tanya Ardi.


”Iya, kak. Dari mana kakak tahu?” Fitri melihat Alin. ”Rencana ku, setelah berada di dalam bus, baru aku beritahu kakak.”


”Bukan kah kakak sudah bilang untuk tungguin kakak saja kalau pulang? Kamu sama siapa? Sendiri? Tunggu kakak di sana, kakak akan menjemput mu. Jangan kemana-mana. Ok?” Ardi tidak memberikan kesempatan untuk Fitri berbicara. Ia pun mematikan sambungan secara sepihak.


”Kenapa?” tanya Alin dan Nita.


”Apa kamu yang memberitahu kakak ku keberadaan ku sekarang?” tanyanya pada Alin.


Alin menggeleng, ”Tidak!” jawabnya


Fitri menelfon kakaknya.


”Eh...itu bus nya sudah datang.” ucap Nita. Tidak lama kemudian, bus berhenti tepat di depan halte.


Fitri masih mengulang menelfon kakaknya. Penumpang bus masuk satu persatu. Alin dan Nita menjadi bingung. Apakah mereka akan naik atau tidak?


Semua penumpang sudah naik. Tinggal mereka bertiga.


”Ade yang tiga, bagaimana? Jadi naik gak?” tanya sang kenek.


”Iya... jadi... jadi...” jawab Fitri. Ia masuk ke dalam bus, handphone masih terpatri di telinganya. Alin dan Nita ikut masuk. Mereka duduk di bangku paling belakang, bangku yang panjang sendirinya, yang bisa muat empat, lima orang.


”Belum di angkatnya juga?” tanya Alin. Fitri mengangguk.


”Ok! Jalan!” seru kenek bus. Bus pun mulai melaju pelan.


Fitri mengulang lagi menghubungi kakak nya. Kali ini, Ardi mengangkat telfonnya.


”Kakak, kakak gak usah datang. Aku sudah naik bus. Aku pulang bersama Alin dan Nita. Kakak jangan khawatir, ok?” tut tut tut! Fitri langsung memutuskan sambungan setelah ia selesai berucap.


Ia membalas kakaknya. Kakaknya tidak memberikan kesempatan ia berbicara dan memutuskan sambungan secara sepihak.


.. ..


Di parkiran kampus.

__ADS_1


Ardi mendengus kesal. Fitri memutuskan sambungan tanpa memberikan dirinya kesempatan untuk bicara.


”Hah! Adikku itu...baru pertama kali naik bus, apakah tidak apa-apa?” gumamnya. Ia terlihat cemas.


Ia pun kembali ke kantornya. Ia melanjutkan pekerjaannya yang ia tunda tadi.


Drrrtrrt!


Ardi melirik hapenya yang berbunyi, yang ada di atas meja kerjanya. Ia beralih melihat layar laptop.


Ia kembali melihat hapenya, ia mengangkatnya.


”Mengapa kamu tidak menjemput Hana dan membiarkan Hana naik bus, berdempetan dengan orang-orang.” suara penelpon tersebut terdengar ketus.


”Aku sudah ingin menjemputnya. Tetapi, ia menelepon ku, melarang ku untuk menjemputnya. Dia sudah terlanjur naik bus dan busnya juga sudah jalan.”


”Bukan kah ini pertama kalinya dia naik bus?”


”Iya. Tapi, dia naik bus tidak sendirian. Ada Alin dan Nita bersamanya.”


”Hum!” Fajrin menyahuti. Ia memutuskan sambungan secara sepihak.


Ardi kembali mendengus kesal, Fajrin pun memutuskan sambungan secara sepihak.


”Begini kah rasanya kalau mematikan handphone secara tiba-tiba? Aku salah... memutuskan sambungan secara sepihak terhadap adikku. Dan balasannya, adikku dan Fajrin membalas ku.” gumamnya.


Kepalanya menggeleng. Ia kembali melanjutkan kerjanya.


.. ..


Di perjalanan.


”Bagaimana, Tuan? Kembali ke kantor?” tanya sang supir.


”Ikuti bus itu!” titah Fajrin.


Ia tidak ingin mengambil resiko. Ia ingin memastikan jika tunangannya itu baik-baik saja dan aman sampai di rumahnya.


”Baik, Tuan.” sang supir pun mengikuti bus yang di naikin Fitri.


Fajrin tidak memutuskan pandangannya melihat wajah Fitri dari jendela kaca bus yang terbuka.


Bus berhenti di pemberhentian bus. Mobil Fajrin ikut berhenti, tepat, di belakang bus.


Beberapa penumpang turun di halte tersebut. Termasuk Alin. Bus kembali jalan. Mobil Fajrin kembali mengikuti bus.


Tuan ku ini...bersikap lain setelah bertemu dengan Fitri Raihana, di kampus. Apakah kali ini tuan akan serius menjalin asmara dengan cewek? Selama ini..tuan tidak pernah serius dalam menjalani suatu hubungan. benak sang supir Fajrin.


Bus berhenti kembali di pemberhentian bus. Beberapa penumpang pun turun di halte tersebut, termasuk Nita.


Setelah penumpang yang tujuan halte itu turun, bus kembali melaju. Tidak lama kemudian, bus berhenti di halte selanjutnya.


Fitri bersama penumpang bus tujuan halte tersebut pun turun. Setelah itu, bus kembali melaju.


Fitri berjalan kaki dari halte tersebut ke rumahnya.


Mobil Fajrin mengikuti jalan Fitri agak jauh sedikit dari belakang Fitri.


Dua puluh lima menit lamanya Fitri berjalan, ia pun tiba di rumahnya.


Fajrin pun lega setelah melihat Fitri masuk ke dalam rumahnya.


”Kembali ke kantor!” titah Fajrin.


”Baik, Tuan.”


Sang supir meneruskan jalannya, melewati rumah Fitri. Sampai di persimpangan tiga baru ia berbelok, kembali ke perusahaan tuan nya.

__ADS_1


__ADS_2