
Malam hari di kediaman Fandi, di dapur.
Malam ini Fitri ikut membantu Fatma dan bibi memasak di dapur. Mereka membuat makanan spesial untuk menyambut kedatangan Fandi dari luar kota.
Lebih tepatnya, sang bibi dan Fatma hanya duduk melihat Fitri memasak. Setelah Fatma dan bibi mengupas bahan, dan memotong sayuran, mereka tidak di perbolehkan lagi bekerja oleh Fitri. Selebihnya, Fitri sendirilah yang mengambil alih memasak.
”Nyonya, Nona muda sudah pintar memasak. Apakah Nona muda diam-diam belajar kursus memasak?” Bisiknya pada Fatma.
”Aku juga tidak tahu kalau Hana ada ikut les memasak. Tapi kalau Hana ikut kursus... pasti Ardi akan memberitahu ku. Sudahlah, Bi, aku bersyukur anakku bisa memasak. Setelah ini, Bibi hanya akan membantu membersihkan rumah saja. Untuk memasak... akan di ambil ahli oleh Hana.” Fatma balas berbisik di telinga sang bibi.
”Masa harus begitu, Nyonya? Nanti gaji Bibi akan berkurang kalau Bibi tidak memasak.” Sang bibi berwajah sedih melihat Fatma.
Fatma tersenyum. ”Gak usah sedih, Bi. Gaji Bibi tiap bulan tetap seperti biasa kok! Gak akan di potong, sedikitpun!”
”Tapi, Bibi merasa lebih tidak enak hati. Gaji tinggi, kerjanya hanya membersihkan rumah doang. Kan gak sesuai!” Bibi merasa tidak puas juga tidak enak hati pada tuan rumah, di mana ia bekerja. Ia tidak ingin memakan gaji buta.
”Tidak perlu berpikir yang gak-gak! Bukankah membersihkan rumah juga termasuk bekerja? Lagi pula, Hana adalah seorang perempuan yang akan berkeluarga suatu saat, sudah sewajarnya dia melakukan pekerjaan dapur. Jika tidak, bagaimana bisa dia menyenangkan suaminya nanti jika dia tidak bisa memasak. Bukankah Bibi tahu sudah lama aku ingin mengajari dia memasak tapi... dia selalu menolak dan aku tidak bisa memaksanya karena dia begitu lemah.”
”Iya. Saya tahu itu, Nyonya.”
Fitri telah selesai memasak, ia memegang piring ikan beserta sambalnya dan juga piring sayur di kedua tangannya. Ia menata makanan yang sudah masak itu di atas meja makan. Fitri bingung melihat wajah sang bibi yang sedih.
”Bibi kenapa, Ma? Kok, mukanya terlihat sedih!”
Sang bibi berdiri dan membantu Fitri menata makanan di atas meja.
”Bibi gak apa-apa, Hana. Bibi hanya sedikit terharu melihat Hana yang sudah pintar memasak,” jawab Fatma berbohong.
Fitri tersenyum. ”Oh begitu.” Ia melanjutkan menyiapkan makanan di atas meja.
”Sudah, Non. Biar Bibi saja yang menata makanan di atas meja. Nona duduk saja temani Nyonya berbincang.” Sang Bibi mencegah Fitri yang akan mengambil gelas, air minum dan yang lainnya.
”Tidak apa-apa, Bi. Sesekali Hana membantu Bibi,” Fitri tetap menyiapkan makanan di atas meja.
”Tapi...” Ucapan sang bibi terhenti saat melihat gelengan kepala Fatma. Ia pun membiarkan Fitri menyiapkan makanan dan keperluan lainnya di atas meja. Setelah semua selesai, makanan tersebut di tutup pakai tudung saji.
”Semua sudah siap! Tinggal menunggu papa pulang dan kita makan bersama,” ucap Fitri, bibirnya mengukirkan senyum manisnya.
”Ok! Kalau begitu, ayo kita ke depan. Kita tunggu papa di sana,” ajak Fatma.
”Ok!” Sahut Fitri dengan senang.
Mereka berdua pergi ke depan, di ruang keluarga. Fatma menyalakan tv dan mengambil remote tv lalu duduk di kursi.
Sementara Fitri, ia sedang mencari abangnya. Abangnya tidak terlihat di ruang depan. Ia mencari abangnya ke kamar. Namun, di kamar juga tidak ada.
”Mama, kakak di mana? Di kamarnya tidak ada.” tanya Fitri.
”Coba cari di teras rumah. Barangkali kakak mu di sana menunggu papa datang.” Fatma menjawab tetapi matanya tetap melihat layar televisi.
Fitri pergi ke teras, abangnya juga tidak terlihat.
Apa mungkin kakak ada di taman?
__ADS_1
Di taman.
Ia melangkah ke taman. Dari jauh, dia melihat seorang laki-laki duduk di ayunan gantung. Fitri tersenyum menghampiri pria itu.
”Kakak lagi mikir kan apa?” tanya Fitri, ia duduk di ayunan gantung lainnya. Ardi melihat Fitri.
”Eh...Hana. Sudah selesai memasak?”
”Iya. Tinggal nunggu papa datang baru kita makan. Kakak lagi memikirkan apa?” Sekali lagi Fitri bertanya pada Ardi.
”Kakak sedang memikirkan kesibukan apa yang akan menanti kakak besok... setelah dua hari ini kakak libur.”
”Oh, kirain kakak sedang memikirkan kekasihnya kakak yang ada di tempat kerjanya kakak.”
”Kekasih? Emang Hana pernah melihat kakak berjalan bersama dengan wanita?”
Fitri menggeleng. Selama aku terbangun dari pingsan sampai sekarang, belum pernah melihat kakak berjalan berdua dengan cewe. Kecuali, aku dan mama. benaknya.
”Apakah kakak pernah bercerita tentang seorang perempuan kepada Hana, mama, dan papa?” Sekali lagi Ardi bertanya pada Fitri. Fitri kembali menggeleng. Ardi berdiri dari duduknya. Ia berdiri di hadapan Fitri.
”Kakak sudah berjanji tidak akan mencari cewek sebelum kakak melihat adiknya kakak ini menikah,” ucapnya, tangannya membelai kepala Fitri dengan lembut. Fitri terdiam. Ia terharu. Kakaknya begitu menyayangi dirinya.
”Kalau Hana meminta kakak mencari pacar sekarang, apakah kakak akan menurut?”
Ardi menggeleng.
”Kalau Hana yang mencarikan kakak cewek, apakah kakak akan menolak?”
”Tergantung! Kalau ceweknya cantik, baik, hormat dan menyayangi Hana, mama, dan papa, kakak akan menerimanya.”
Fitri terdiam. Kalau menurut aku, Hana pasti akan menjodohkan kakaknya itu dengan temannya, Alin. Tapi, itu Hana. Aku belum mengenal wanita itu. Jadi, aku belum bisa mempercayakan kakak ku sama dia. benaknya.
”Hum...? Tidak ada kak. Kalau kakak mau, Hana akan mencarikan cewek-cewek yang ada di dalam kampus Hana untuk kakak. Kakak mau?” Tawar Hana.
”Kamu ingin menjual kakak?”
”Hah! Gak kak, mana ada begitu! Hana kan cuma menawarkan saja, biar kakak punya juga seorang kekasih.”
”Kakak tidak mau! Bukankah sudah ada adikku ini yang mencintai ku? Lalu, mengapa harus menunggu cewek lain untuk mencintai kakak?”
”Bedalah, kak! Kita ini hanya mencintai, menyayangi, karena hubungan kekeluargaan. Kalau cewek lain yang mencintai kakak, cewek itu akan menjadi pendamping hidup kakak.”
Ardi tersenyum. Syukurlah, adikku masih normal. Apa yang harus aku takutkan? benaknya. Ia mengacak-acak rambut Fitri.
”Kakak...rambut ku...” Keluh Fitri sambil merapikan rambutnya.
Brumm! Skiit! Terdengar suara deru mobil yang berhenti di depan rumah mereka. Ardi dan Fitri saling pandang sesaat.
”Papa datang!” Ucap mereka berdua dengan senang.
Fitri bergegas berlari ke teras rumah menyambut datangnya Fandi. Ardi menyusul Fitri dengan berjalan cepat ke teras.
Fitri melihat Fandi, ayahnya baru saja turun dari mobil. Ia menghampiri sang papa. ”Papa sudah pulang?” Ia mencium punggung telapak tangan papanya.
__ADS_1
”Iya, sayang.” jawab Fandi, ia tersenyum membelai kepala Fitri.
Fitri meraih tas kerja dari tangan papanya tersebut. ”Biar Hana yang bantu bawakan,” ucapnya.
Fandi kembali tersenyum, ia membiarkan Hana melakukan apa yang ingin dia lakukan.
”Papa.” sapa Ardi. Ardi juga menyalami tangan papanya. ”Ayo masuk Pa.” Ardi membuka pintu rumah.
”Hum.” sahut Fandi. Mereka semua masuk ke dalam rumah.
”Apa kamu menjaga istri Papa dan anak gadis Papa dengan baik, Ardi?” tanya Fandi pada Ardi.
”Alhamdulilah! Ardi melaksanakan tugas Papa dengan baik.” jawab Ardi dengan membanggakan diri, memukul dadanya.
”Iya, Papa. Kakak Ardi sangat bertanggung jawab.” sambung Fitri.
”Bagus! Ini baru anak Papa.” puji Fandi sambil merangkul pundak anak lelakinya itu.
Mereka telah sampai di ruang keluarga. Fandi melihat istrinya sedang serius menatap layar televisi.
”Mama, Papa sudah pulang.” Hana berteriak kecil saat mereka sampai di ruang keluarga.
Fatma berdiri, ia melihat suaminya. ”Papa, baru pulang?” Ia melakukan hal yang sama seperti kedua anaknya, menyalami punggung tangan Fandi.
”Iya, Ma.” jawab Fandi.
”Papa, duduklah! Papa pasti capek. Setelah hilang capeknya, baru kita makan.” ucap Fatma.
Fandi mengangguk, ia duduk di samping istrinya. Tangannya melonggarkan dasi di lehernya. Ardi duduk di samping Fandi dan Fitri duduk di samping Fatma.
”Bagaimana kabar Mama?” tanya Fandi.
”Seperti yang Papa lihat, Mama baik-baik saja.” jawab Fatma.
”Alhamdulillah!” sahut Fandi.
”Bagaimana pekerjaan Papa di sana? Apakah semuanya berjalan lancar?” tanya Fatma.
”Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar.” jawab Fandi. ”Kalian semua sudah makan?”
”Belum, kan nunggu Papa.” Fitri yang menjawab.
”Oh, kalau begitu...ayo pergi makan. Papa sudah sangat lapar.” ajak Fandi.
”Iya, Pa.”
Mereka semua pergi ke dapur, di meja makan. Mereka semua duduk di tempatnya masing-masing.
”Pa, ini semua masakan Hana loh, Pa!” ungkap Fatma.
”Hah, iya kah? Apakah itu betul itu Hana?” tanya Fandi pada Hana.
Hana hanya tersenyum, menanggapi.
__ADS_1
”Papa tidak menyangka, gadis Papa sudah pandai memasak.” puji Fandi. Fatma dan Ardi tersenyum melihat Fitri yang senang di puji papanya.
Mereka pun mengambil makanan sendiri-sendiri. Mereka makan dalam tenang.