Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 50


__ADS_3

Jam 5 pagi di kediaman Hasan dan Zulfa.


Wajah Hasan dan papanya begitu suram menuruni anak tangga. Dengan terpaksa mereka harus pergi dari rumah besarnya.


Mereka sekarang tidak memiliki saham di kota ini lagi, selain uang di kartu kredit mereka masing-masing.


Wajah Zulfa juga tidak kalah suramnya dari Hasan dan papanya.


Ini semua gara-gara wanita sialan itu! Kalau bukan karena dia, aku dan kakak ku gak akan melakukan hal bodoh ini. Kalau bukan karena dia, Zahidin tidak akan mengusir kami dari rumah bahkan dari kota ini. benak Zulfa


”Pa, apa kita harus benar-benar pergi dari kota ini? Kita tidak akan bisa kembali lagi nanti, Pa. Bagaimana dengan kuliah ku yang tinggal beberapa bulan lagi? Kalau kakak enak, kakak sudah lulus sabtu kemarin. Lalu Zulfa?” keluh Zulfa.


”Diam!! Ini semua karena ulah bodoh kalian berdua!! Mau gak mau, harus pindah!” bentak papa Hasan.


Zulfa terdiam. Aku tidak bisa bertemu dengan Zahidin lagi. Hana pemenangnya! benak Zulfa.


”Ayo, kita pindah di kota T. Untuk sementara, kita bersembunyi di sana.” ajak papa Hasan.


”Tapi, Pa. Kita akan usaha apa di sana? Lebih baik, kita kembali saja ke negara asal kita. Di sana, paling tidak masih ada perusahaan kita yang berdiri.” usul mama Hasan.


”Benar, Pa. Kalaupun kita ke kota T, bagaimana dengan tiket yang sudah kita beli?” sambung Hasan.


”Tapi kakak, ucapan Papa benar. Kita ke kota T saja. Di sana kita bangun usaha kecil-kecilan saja untuk bertahan hidup. Jika kita masih di kota ini, kita berdua masih punya kesempatan un__”


”Diam! Pikiran kalian hanya Hana dan Fajrin saja! Jangan banyak ngeluh! Kita pergi ke kota T.” pangkas papa Hasan.


Mereka pun pergi dari rumahnya. Mereka pergi hanya membawa satu koper pakaiannya masing-masing. Koper itu mereka bawa masuk dan susun di dalam mobil.


Mereka semua masuk ke dalam mobil. Papa Hasan mulai menjalankan mobilnya.


Fajrin! Tunggu saja, aku pasti akan mengambil kembali apa yang kamu ambil dari kami! benak Hasan.


.. ..


Keesokan harinya, di rumah sakit.


”Hana sudah tidak apa-apa. Dia sudah bisa pulang hari ini, sekarang juga bisa pulang.” ucap sang dokter.


”Baik-baik! Terima kasih Dokter. Kalau begitu, kami akan berkemas dan pulang sekarang.” ucap Fatma.


Sang dokter tersenyum, ”Iya. Kalau begitu, saya permisi dulu. Masih ada pasien yang harus saya periksa.” pamit sang dokter.


”Iya, dokter.”


Sang dokter pergi dari ruangan Fitri.


”Ma, kenapa papa belum datang jemput kita? Katanya papa dan kakak sebentar saja perginya. Kenapa sampai sekarang belum datang?” tanya Fitri.


”Sabar, kita berkemas saja dulu, sambil menunggu papa dan kakak mu datang.” bujuk Fatma.


”Iya, deh!” Fitri menurut. Dia membantu Fatma mengemas barang yang mereka bawa ke rumah sakit untuk Ardi menginap.


.. ..


Di kantor polisi.


”Bagaimana Pak polisi? Apakah bisa penangkapannya di lakukan hari ini? Sekarang bila perlu!” tanya Ardi pada pihak berwajib.


”Setelah surat penangkapan keluar, baru kita bergerak maju untuk menangkapnya.” jawab pak polisi.


”Baik, Pak.” sahut Ardi.


”Pa, sebaiknya Papa pergi jemput Hana dan mama saja. Di sini, biar Ardi sendiri yang urus. Mama dan Hana pasti sudah menunggu Papa jemput.” usul Ardi.


”Kamu tidak apa-apa sendirian?”


”Iya, Pa. Ardi tidak apa-apa.” jawab Ardi, yakin.


”Kalau begitu, Papa pergi jemput Hana dan mama dulu. Kalau ada apa-apa, telfon Papa.” ujar Fandi.


”Iya, Pa.” jawab Ardi.

__ADS_1


Fandi keluar dari kantor polisi. Dia berjalan masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya.


Jarak tempuh antara rumah sakit dan kantor polisi tidak terlalu jauh. Dalam waktu lima belas menit, Fandi telah sampai di rumah sakit.


Di rumah sakit.


Fandi menghentikan mobil di halaman parkir. Dia turun dari mobil, dan bergegas masuk ke dalam rumah sakit.


Dia pergi ke ruangan rawat inap Fitri. Dia telah sampai di ruangan anaknya. Dia langsung masuk ke dalam karena pintu ruangan yang terbuka.


”Mama, Hana, maaf, sudah membuat Mama dan Hana menunggu lama.” ucap Fandi.


”Tidak apa-apa, Pa. Papa sendirian? Dimana Ardi?” tanya Fatma.


”Ardi masih di kantor polisi. Surat penangkapan Hasan masih sementara di proses. Papa datang menjemput kalian berdua. Setelah Papa mengantar kalian di rumah, Papa akan kembali ke kantor polisi.” jawab Fandi, menjelaskan.


”Oh, semoga semuanya lancar. Kalau begitu, ayo, kita pulang sekarang.” ajak Fatma.


”Iya.” Fandi mengambil tas yang di pegang istrinya. ”Biar Papa saja yang pegang.” tawarnya.


Fatma mengangguk sambil tersenyum. Mereka bertiga keluar dari ruangan tersebut. Mereka terus berjalan sampai ke mobil.


Mereka semua masuk ke mobil. Fandi mulai menjalankan mobilnya keluar dari halaman parkir rumah sakit.


Drrttrrt! Suara handphone Fandi berdering.


Fandi melirik layar hapenya tertulis nama Ardi di depan layar yang menyala itu. Fandi menghubungkan panggilan. ”Ya, Nak? Bagaimana?” tanyanya.


”Pa, surat penangkapan Hasan sudah keluar. Sekarang Ardi dan para polisi sedang dalam perjalanan menuju rumah Hasan.” lapor Ardi.


”Ok, Papa lagi di jalan mengantar Mama dan Hana pulang ke rumah. Kita ketemu di rumah Hasan saja.” usul Fandi.


”Iya, Pa. Ardi matikan sambungan teleponnya.”


”Hum!” sambungan telfon terputus.


”Bagaimana kalau kita langsung saja ke rumah Hasan. Setelah melihat Hasan di tangkap, baru kita pulang ke rumah.” usul Fitri.


”Ok kalau begitu.” Fandi menurut. Itu juga menghemat waktunya.


Fandi melakukan kendaraannya ke kediaman Hasan.


.. ..


Di kantor Fajrin.


”Mengapa Fandi belum juga datang ke kantor? Apakah dia sengaja terlambat atau ada hal mendesak?” gumam Fajrin.


Tok tok tok! ”Tuan, boleh saya masuk?” terdengar suara seseorang dari balik pintu ruangan yang tertutup.


”Masuk!”


Pintu ruangan terbuka. Fajrin melihat anak buahnya melangkah masuk. Di tangannya sedang memegang beberapa lembar buah foto.


”Tuan, mereka sudah pergi dari kediamannya, di jam 5 pagi tadi. Kami membuntutinya hingga ke bandara dan memastikan mereka sudah masuk ke dalam pesawat.” lapor sang anak buah. Foto-foto di tangannya dia letakkan di atas meja Fajrin.


Fajrin melihat mengambil foto-foto tersebut dan melihatnya. Nampak di foto tersebut Zulfa, Hasan, papa dan mama Hasan sedang memegang koper masing-masing keluar dari rumah. Juga sedang memasukkan koper ke dalam mobil.


Di lembaran foto lain terlihat mereka sampai di bandara. Dan juga foto mereka naik ke pesawat. ”Bagus!!” Fajrin meletakkan kembali foto-foto itu di atas meja.


.. ..


Di kediaman Hasan.


Mobil polisi telah masuk ke halaman parkir rumah Hasan. Tidak lama dari mobil mereka terparkir, mobil Fandi juga memarkirkan mobilnya di samping mobil polisi.


Mereka semua turun dari mobil.


”Loh, Mama? Hana? Kok kalian ikut kemari?” tanya Ardi.


”Gak ada waktu lagi jika Papa antar mereka pulang ke rumah baru ke sini. Jadi, sekalian saja bawa mereka ke sini.” jawab Fandi.

__ADS_1


”Baiklah, ayo kita pergi menangkap Hasan.” ajak pak polisi.


”Baik,” seru semuanya yang ada di situ. Termasuk, Ardi, Fitri, dan kedua orang tua Ardi dan Fitri.


Mereka berjalan masuk ke teras rumah.


Tok tok tok! Polisi mengetuk pintu rumah Hasan. Sekali ketukan, tidak ada sahutan.


Tok tok tok! Ketukan kedua juga hening! Tidak ada sahutan.


Apakah Fajrin sudah membereskan mereka duluan? Mengusir mereka dari kota ini? benak Ardi dan Fitri.


Tok tok tok! Ketukan ketiga kali sama saja, tidak ada tanda-tanda sahutan dari dan pergerakan dari dalam rumah.


Tok tok tok! Hingga ketukan ke empat masih juga belum ada tanda-tanda di bukanya pintu.


”Mungkin mereka telah kabur duluan.” tebak salah satu anak buah polisi.


”Dobrak pintunya!” titah sang kepala penahanan.


”Baik,” jawab para anak buahnya. Mereka melaksanakan perintah. Mereka mulai mendobrak pintu rumah tersebut.


Tiga kali dobrakan barulah pintu tersebut berhasil terbuka.


”Masuk! Geledah semuanya! Jangan ada yang terlewat!” titah sang kepala polisi.


”Baik, Pak.” mereka semua masuk ke dalam rumah dan berpencar.


Sepertinya memang sudah pergi. Fajrin, kamu begitu tega mementingkan urusan bisnis mu dari pada perasanku. benak Fitri.


”Lapor, Pak! Di kamar Hasan, kosong! Bahkan pakaiannya juga tidak ada di lemari pakaian. Sepertinya, target di lindungi oleh keluarga. Mereka pasti sudah pergi.” lapor salah satu polisi yang menggeledah rumah Hasan tersebut.


Fitri, Ardi, Fandi dan Fatma nampak kecewa. Usaha mereka gagal untuk menjebloskan Hasan di penjara.


”Saudara Ardi, target sudah pergi. Tapi, kami akan mengadakan pencarian. Dan akan menyebar foto Hasan sebagai DPO.” ujar kepala pak polisi.


”Baik, lakukan saja sesuai peraturan polisi. Kami menunggu kabar baik dari Bapak.” Fandi yang menyahuti polisi tersebut.


”Baik! Kalau begitu, kita kembali.” titah pak polisi.


Semua anak buah polisi memasuki mobil masing-masing. Setelah mobil kepala penangkapan bergerak maju, mobil para bawahan juga ikut bergerak maju.


”Sial! Kita terlambat, Pa.” sesal Ardi. Dia sangat kecewa jug sedih.


”Polisi akan mencarinya. Dia pasti di temukan dan di tangkap untuk di adili.” sahut Fandi.


Apa beritahu papa saja jika kepergian mereka karena Fajrin? benak Fitri dan Ardi.


”Em, Pa__”


”Tunggu sebentar!” Fandi mencegah Ardi melanjutkan ucapannya ketika nada dering hapenya berbunyi.


”Ya, Pak?” sapa Fandi.


”Mengapa kamu tidak datang ke kantor dengan tepat waktu?”


” Em, maaf Pak! Saya lagi sibuk mengurus kepulangan anak saya dari rumah sakit.” jawab Fandi.


”Datang ke kantor, sekarang!” titah Fajrin yang tak terbantahkan. Telfon pun langsung terputus.


Fandi menghela nafas sambil memijit pangkal hidungnya.


”Kenapa, Pa?” tanya Ardi dan Fitri.


”Tidak apa-apa. Hanya urusan kerjaan. Ardi, kamu pulanglah bawa mama dan adikmu ke rumah. Papa akan pergi ke perusahaan dengan menggunakan taksi on-line.” ucap Fandi.


”Baiklah Pa.” jawab Ardi. ”Ma, Hana, ayo, masuk kedalam mobil!” ajak Ardi.


Fitri dan Fatma mengangguk. Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Ardi menyalakan mesin mobil dan menjalankannya pelan-pelan.


Fandi sendiri sedang menunggu taksi yang lewat untuk mengantarnya ke perusahaan Fajrin.

__ADS_1


__ADS_2