Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 43


__ADS_3

Di perjalanan pulang ke rumah Fitri.


Jalur yang di lewati oleh Zahidin adalah jalur ke rumah Fitri. Fitri merasa lega, ternyata Fajrin memang mengantarnya pulang ke rumahnya.


”Apa acara ulang tahun kampus akan mewah dan besar nantinya?” Fitri penasaran.


”Iya. Untuk ulang tahun kali ini akan tampak berbeda dari perayaan sebelumnya. Kamu harus tampil cantik saat pergi ke acara. Tapi, aku tidak mau kamu berpakaian pesta yang seksi dan ketat. Tubuh langsing mu, kulit mulus mu, cuma aku yang boleh lihat.”


Fitri menyipit melihat Fajrin. Apakah Fajrin baru saja mengatakan suatu kepemilikan?


”Yah, meskipun kita berteman saat ini, sebagai teman pria mu, aku tidak suka kamu memperlihatkan lekuk tubuhmu pada orang-orang. Dan untuk baju pesta nanti, aku akan kirimkan padamu malam ini.”


”Kam...”


”Kamu tidak boleh menolaknya. Kalau kamu tidak mengenakan pakaian yang aku berikan, kamu tidak perlu datang ke pesta. Jika aku melihat mu datang dengan pakaian yang berbeda, dan memperlihatkan lekuk tubuhmu, kulit mulus mu. Percaya atau tidak, kamu aku akan hukum di depan semua orang, meskipun salah satu orang itu adalah orang tuamu sendiri.” pangkas Fajrin.


Fitri terdiam. Ultimatum dari seorang Zahidin Mufajrin sudah keluar, maka harus dia patuhi. Jika tidak, watak pria ini tidak bisa di tebak. Kapan baik dan kapan jahatnya menyerang.


”Sabar, kamu bilang orang tuaku? Apa orang tuaku juga akan hadir di acara, di kampus?” Fitri serius melihat Zahidin.


”Iya, bukan hanya orang tuamu. Ardi juga akan hadir. Dan banyak orang di berbagai kota yang akan hadir di acara tersebut. Semua yang menjadi alumni dari tahun 88 sampai tahun ini dan para mahasiswa yang masih pelajar di kampus ini akan hadir. Dan acaranya bukan di adakan di kampus, melainkan di hotel.” ungkap Zahidin.


”Wow...! Pasti rame...! Apa ada pesta dansanya? Aku sangat suka berdansa.”


”Kamu suka dansa?”


Fitri tersenyum mengingat dirinya yang jago berdansa dan saat itu dia berdansa dengan Randi hampir enam buah lagu. Jika saja musiknya saat itu tidak di berhentikan. ”Iya. Aku sangat jago berdansa. Dan dari pesta dansa itu aku bertemu dengan Randi. Pria yang ku cintai.” ucapnya tanpa sadar.


Zahidin menghentikan mobilnya seketika.


Membuat Fitri terkejut. Kening Fitri mengerut melihat Zahidin. Wajah pria itu nampak marah. Apa ada sesuatu yang salah?


”Kamu tadi bilang apa? Siapa yang kamu cintai? Kalian bertemu di pesta dansa mana? Apa kamu diam-diam keluar dari rumah menemui dia?” Zahidin melontarkan pertanyaan-pertanyaan pada Fitri. Suaranya terdengar marah. Bahkan sekarang dia menyudutkan Fitri.


Fitri semakin kebingungan. Pria yang aku cintai? Pesta dansa? Dia tersadar. Dia telah salah berucap. Dan kata yang terucap keluar begitu saja dari mulutnya.


”Em...itu...itu...hanya...hanya... kenangan masa SMP. Yah... kenangan waktu SMP.” alibinya. Bibirnya terukir senyum, yang terpaksa untuk meyakinkan Zahidin bahwa alibinya benar.


”Kamu tidak bohong?”


”Tidak!” Fitri cepat menjawab.


”Apa sampai sekarang kamu masih mencintainya? Kamu masih berhubungan dengannya?”


”Tidak! Aku sudah tidak berhubungan dengan dia lagi.” jawab Fitri.


Zahidin menarik dirinya, memperbaiki duduknya.


Fitri menghela nafas lega. Huft... Syukurlah, dia tidak melakukan hal mesum padaku. Betapa kaget dan takutnya aku melihat mukanya yang marah. benaknya. Dia juga memperbaiki duduknya.


Zahidin kembali menyalakan mobil dan menjalankannya. Sekarang suasana dalam mobil menjadi hening.


Hingga Zahidin menghentikan mobilnya di depan rumah Fitri, di antara mereka berdua tidak terlibat pembicaraan.


”Ingat! Kamu harus memakai pakaian yang aku berikan untuk ke pesta. Dan untuk dansa, kamu hanya akan boleh berdansa denganku, Ardi, papa mu, Alvin juga boleh. Yang lainnya tidak terkecuali.” ucap Zahidin.


”Iya.” jawab Fitri. Tangannya membuka pintu mobil dan segera turun. ”Terima kasih.” dia kembali menutup pintu setelah mendengar jawaban Zahidin.


Zahidin melihat punggung Fitri yang berjalan ke teras rumah dan masuk ke dalam rumahnya. Dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumahnya.

__ADS_1


.. ...


Di rumah sakit, kota C.


”Argh! Sakit Randi! Perutku, pinggang ku! Semuanya sakit!” jerit Cindy.


Randi terdiam. Dia bingung untuk menanggapi Cindy dengan ucapan. Dia hanya memeluk sambil mengelus pinggang dan perut Cindy. Kadang-kadang dia mengecup kening Cindy.


Mereka sedang menantikan kelahiran bayi mereka. Cindy memilih untuk melahirkan normal. Dan sekarang baru masuk pembukaan delapan. Cindy kembali tenang.


Apa Fitri juga akan merasakan kesakitan seperti ini jika akan melahirkan? Kalau saja Fitri tidak meninggal anakku sudah dua. benak Randi.


Dia menghela nafas. Dia kembali melihat Cindy yang menjerit kesakitan. Dia hanya bisa menenangkan Cindy dengan pelukan dan belaian saja.


Beberapa jam berlalu. Kini Cindy sudah sampai di pembukaan terakhir. Sesuai dengan arahan dokter, Cindy mengejan dan mengatur nafasnya.


Tangisan suara bayi memenuhi ruangan persalinan. Akhirnya, setelah lama Cindy berjuang dalam proses kelahiran, anaknya lahir juga.


Randi tersenyum bahagia begitu juga dengan Cindy. Dengan adanya sang bayi, Randi tidak akan meninggalkan dirinya.


Sang dokter merawat Cindy dan suster sedang merawat si bayi. Setelah Cindy di rawat, dia di pindahkan di ruangan lain.


Bayi mereka telah selesai di urus oleh suster. Sang bayi di berikan kembali pada dokter. Sang dokter menggendong bayi itu dan membawanya ke ruangan Cindy.


”Selamat Pak Randi, Ibu Cindy. Bayi kalian sangat sehat dengan tinggi dan berat badan yang normal. Anak Bapak dan Ibu berjenis kelamin perempuan.” sang dokter memberikan bayi kepada Cindy.


Cindy menggendong bayinya dengan tersenyum bahagia.


”Bayinya sangat cantik seperti ibunya.” sanjung sang dokter.


”Terima kasih, Dokter.” Cindy menyahuti.


”Sama-sama. Saya pergi dulu.” pamit sang dokter. Dia keluar dari ruangan Cindy.


”Randi, kemari lah. Lihatlah anak kita. Dia begitu lucu dan imut.” Cindy menoel hidung sang bayi.


Randi mendekat ke anak dan istrinya. Dia tersenyum, senyum yang di paksakan. ”Iya, dia sangat cantik. Seperti kamu.” pujinya.


”Kamu bisa saja. Mau menggendongnya?”


”Tidak. Dia masih sangat kecil sekali. Aku takut akan menjatuhkannya, jika aku menggendongnya.” tolak Randi.


”Belajar lah untuk menggendongnya. Lama-lama kamu akan bisa kok menggendong anakmu. Ayo sini, duduk di sini.” Cindy menepuk kasur kosong di sampingnya.


Randi menurut. Dia duduk di kasur itu.


”Buka telapak tangan mu, Randi.” titah Cindy.


Randi menurut. Cindy memberikan bayinya pada Randy. Kepala bayinya berada di telapak tangan kanan Randi. Randi melihat bayi itu.


Sedikit pun tidak ada rasa bahagia yang dia rasakan saat melihat bayi itu. Padahal, sebelumnya dia tersenyum bahagia saat mendengar tangisan sang bayi saat lahir.


”Berikan nama untuknya.” titah Cindy.


”Hum? Apa?”


”Kamu melamun? Aku bilang berikan nama untuk anakmu ini.” Cindy jadi kesal.


”Em...bagaimana kalau aku kasih nama Keysha Maharani?” usul Randi.

__ADS_1


”Nama yang bagus! Lalu, kita panggil dia dengan sebutan apa?” tanya Cindy lagi.


”Baby Echa.” sebut Randi.


”Wow..! Baby Echa, nama panggilan yang bagus.” ucap Cindy.


”Em... Cindy. Baby Echa kamu gendong dulu. Aku akan mengurus biaya administrasinya.” Randi memberikan baby Echa pada Cindy.


Cindy mengambilnya. Randi bergegas keluar dari ruangan Cindy.


Dia pergi ke bagian informasi. Dia mengurus biaya administrasi persalinan sekaligus ruangan rawat inap Cindy.


Setelah selesai, dia pergi dari rumah sakit. Dia enggan ke ruangan Cindy.


Dengan kecepatan sedang, Randi menjalankan mobilnya ke rumah Fitri.


.. ..


Di rumah Fitri.


”Tuan Randi? Masuk Tuan.” sang bibi yang selalu mengurus rumah Fitri selalu menyambut kedatangan Randi, kapanpun pria itu datang berkunjung.


”Bi, aku ingin istirahat di kamar. Jangan ganggu ya, Bi.” pesannya pada sang bibi.


”Iya, Tuan.”


Randi berjalan ke kamar Fitri. Kamar yang dia gunakan saat memadu kasih dengan Fitri Raihana. Dan di kamar yang sama saat Randi memadu asmara dengan Cindy, hingga membuat rumah tangganya dengan Fitri hancur. Saat Fitri memergoki mereka berdua.


Ada apa dengan tuan? Apa tuan sedang kurang sehat? benak sang bibi.


Di kamar Fitri.


Randi mengganti pakaiannya. Dia menonaktifkan hapenya dan berbaring di ranjang.


Matanya melihat langit-langit kamar.


Cindy melahirkan anak perempuan. Jika Fitri melahirkan anaknya, anaknya pasti laki-laki. Kehamilan Fitri dan Cindy berbeda.


Apakah anak Fitri akan tampan seperti ku, jika anak itu lahir?


Seharusnya, aku bahagia dengan lahirnya anakku dan Cindy. Tapi, perasaan ku bertolak belakang. Aku malah seperti tidak menantikan kelahiran baby Echa. benak Randi.


”Keysha Maharani. Baby Echa.” gumamnya. Dia tersenyum kecut.


Dia teringat di malam kedua setelah dia bersetubuh dengan Fitri. Saat itu Fitri meracau jika dirinya hamil. Dan saat anaknya lahir. Dia sendiri yang akan memberikan nama anaknya.


”Mas, kalau anak kita ini laki-laki aku akan memberinya nama Rizaldi Reirandi. Dan di panggil Baby Rey.”


”Kalau anak itu perempuan?” tanya Randi.


”Kalau anak itu perempuan aku akan memberinya nama Keysha Maharani. Dan di panggil Baby Echa. Gimana, bagus kan nama yang aku persiapkan untuk calon anak kita?”


”Iya.” jawab Randi.


Berkhayal lah jika kamu akan punya benih ku. Aku tidak akan membiarkan mu mengandung anakku dan melahirkannya. Anakku hanya akan lahir dari rahim Cindy. benak Randi.


”Randi, aku sangat mencintaimu. Kamu jangan khianati aku ya. Aku sudah memberikan segalanya untuk mu.” pintu Fitri.


Randi tidak menjawab secara langsung. Dia hanya mengangguk.

__ADS_1


”Betapa bodohnya aku saat itu, Fit.” Randi menangis sendiri mengenang masa itu. Kini dia sangat menyesal akan semua kata-kata dan sikap kasarnya pada Fitri.


Dan nama yang di inginkan Fitri untuk di berikan pada anak mereka, terpaksa Randi memberikan nama itu untuk nama anaknya dan Cindy.


__ADS_2