Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 56


__ADS_3

Di dapur, di taman bunga Fatma.


Makan siang telah selesai. Fitri dan Fatma telah membersihkan meja makan dan dapur.


Fandi, Ardi, dan Fajrin belum beranjak dari tempat duduknya. Fatma dan Fitri kembali duduk di tempat semula.


Hening seketika yang menguasai suasana dalam dapur itu. Fajrin menggaruk kening kirinya dan berkata, ”Kalian tidak suka dengan kehadiran ku, kan? Kalian marah dengan langkah yang aku ambil pada Hasan dan keluarganya. Kalian kecewa padaku dan menganggap aku tidak memperhatikan perasaan kalian dan martabat putri kalian, kan?”


”Jika sudah tahu... kenapa mesti mendatangi kami lagi? Kamu ingin apa pada keluarga kami? Hah? Kami hanyalah kelurga yang serba kekurangan. Tidak ada harta kami yang bisa menguntungkan bisnis mu.” Ardi berucap dengan ketus, wajahnya masih terlihat marah melihat Fajrin yang bicara santai dan tenang pada mereka.


”Kamu memang tidak memiliki hati nurani. Tidak usah kamu menjelaskan tentang dirimu pada kami. Kami mengerti dengan urusan bisnis mu. Kamu sudah mengatakan apa yang ingin kamu katakan. Kami juga sudah mengatakan pendapat kami. Sekarang... kamu boleh pergi dari sini.” Kata Fandi, raut wajahnya menampakkan wajah yang tidak bersahabat.


Fitri sendiri enggan untuk berkomentar. Ia sangat kecewa, kesal, membenci pria di hadapannya itu.


”Fajrin, tolong... kamu jangan campur adukkan masalah pribadi dan masalah perusahaan. Jangan mempersulit suami ku di tempat kerjanya. Dan tolong... jauhi putri ku. Keluarga kami tidak sepadan dengan keluarga mu. Lagi pula, kamu sudah punya calon istri sendiri yang sudah di tentukan oleh keluarga mu. Tolong... jangan ganggu putri ku.” ucap Fatma.


Fajrin menatap Fitri tidak rela. Ia tidak akan menjauh dari Fitri. Ia sangat mencintai Fitri. Perkataan Fatma sungguh membuat hatinya terluka.


Fajrin menghela nafas kasar. Ia mengeluarkan map dari balik baju jasnya. Ia meletakkan di atas meja dan mendorongnya di hadapan Fandi. ”Bukalah dan bacalah,” titahnya.


Fandi mengambil map tersebut, ia membuka dan membacanya. Ia terkejut mendapati kebenaran tentang Hasan dan ia terkejut betapa banyaknya kasus yang sudah Hasan lakukan tetapi Hasan selalu bebas dari jeratan hukum. Justru sebaliknya... Hasan membuat hidup korbannya menderita.


”Itulah sebabnya aku mengirim Hasan dan keluarganya ke luar negeri dan melarang mereka kembali ke negri ini seumur hidup. Aku hanya memikirkan keluarga kalian dan Hana. Aku tidak ingin Hasan akan berbuat hal yang lebih nekat lagi dari sebelumnya pada Hana. Mungkin aku salah karena menekan mereka menggunakan kesalahan yang mereka lakukan untuk memaksa mereka ke luar negeri dan mengambil saham mereka. Tapi aku punya pandangan dan pertimbangan sendiri melakukan itu.” jelas Fajrin.


Fandi tidak bersuara. Ardi mengambil map yang baru saja di simpan oleh papanya di atas meja. Ardi membacanya. Ia juga terkejut mengetahui hal ini. Ia mengingat dulu dia pernah melaporkan Hasan pada polisi karena menggangu Fitri. Hanya dalam satu hari Ardi tidak melihat Hasan di kampus tetapi, pada keesokan harinya sampai seterusnya Ardi malah melihat Hasan beraktivitas seperti biasanya. Ardi meletakkan map tersebut di atas meja.


Fajrin kembali menghela nafas. ”Aku sudah mengatakan apa yang ingin ku katakan. Sekarang... bagaimana dengan tanggapan kalian? Aku tidak bisa melihat kalian mengabaikan aku dan marah padaku berlarut-larut apalagi sampai membenciku,” ucapnya jujur.


”Untuk perihal Hasan, kami bisa mengerti dan kami minta maaf karena sudah salah sangka pada kamu. Tetapi... aku tetap tidak mengizinkan kamu mengganggu putriku.” ucap Fandi dengan tegas.


Fajrin terdiam. Amarah dalam benaknya menyala. Ia tidak terima Fandi melarangnya untuk mendekati Fitri, wanita yang dia cintai.


”Aku juga minta maaf sudah salah paham padamu. Untuk Hana... maaf, jangan dekati adikku.” tegas Ardi.


Fitri sendiri masih enggan melihat Fajrin. Meskipun kesalahpahaman tentang Hasan sudah selesai, itu tidak membuat kebencian dalam dirinya hilang begitu saja untuk Fajrin.


Fajrin merasa geram karena Fitri mengabaikan dirinya.


Ting! Fitri melihat layar hapenya ketika suara nada pesan berbunyi. Satu pesan email dari perusahaan Randi Corp.


Wajahnya ceria mendapatkan notifikasi pesan tersebut, tiba-tiba wajah cerianya hilang saat membaca pesannya, ia menjadi sedih sekali.


”Ada apa, Nak?” tanya Fatma penasaran.


”Chat dari siapa, Han?” tanya Ardi penasaran.


”Mengapa cemberut dan sedih begitu saat membaca pesan? Apa isi pesannya?” tanya Fandi yang juga penasaran.


Fajrin menatap bingung pada Fitri. Ia juga penasaran dengan perubahan raut wajah Fitri.


”Ma, Pa, kak... Hana... lamaran magang Hana di tolak.” jawab Fitri sambil menunduk.


Fajrin menaikan alis kirinya melihat Fitri. Lamaran magang di tolak? Di perusahaan mana Fitri mengirimkan lamaran magangnya?


”Di tolak? Padahal... lamaran magang mu bagus semua saat kakak baca. Kok, bisa di tolak?” Ardi menjadi bingung.

__ADS_1


”Hana juga gak tau, kak!” Ia menghela nafas, ”Hana akan mencoba mengirim lamaran ulang. Hana akan mengubah sedikit kata-katanya. Barangkali ada satu kata yang tidak pas makanya di tolak.” Ia beranjak berdiri.


”Magang di perusahaan lain saja, Han. Banyak kok perusahaan terbaik di kota ini yang akan menerima lamaran magang mu. Kenapa bersikeras ingin magang di perusahaan Randi Corp?” ucap Ardi.


Kening Fajrin mengerut melihat Fitri. Randi? Nama ini... nama yang sudah beberapa kali Hana sebutkan. Bahkan, ekspresi wajah Hana menyebut nama pria itu sangat lembut. Siapa Randi ini? Apakah orang yang di cintai Hana? Randi Corp, aku akan ingat kamu, benaknya.


”Hana pengennya magang di sana kak.”


”Tapi kamu sudah di tolak. Magang di perusahaan kakak mu saja, Hana.” usul Fandi.


Fitri menggeleng. ”Hana pengen magang di perusahaan Randi Corp. Hana akan berusaha lagi. Hana akan ulang mengirimkan lamaran.” Ia melangkah pergi dari dapur.


Fandi dan Fajrin saling menatap saat di pikiran mereka berdua terparkir nama perusahaan Randi Corp. Dan mereka berdua berkata, ”Randi Corp, perusahaan di kota C. Bukankah perusahaan yang mengajukan kerja sama dengan perusahaan kita?”


”Kenapa Hana ingin magang di sana? Apa dia mengenal dengan pemilik perusahaan tersebut?” tanya Fajrin penasaran.


Ardi dan Fandi sama-sama menggeleng kepala menanggapi pertanyaan Fajrin. Mereka terdiam memikirkan hal tersebut.


Apalagi Fandi dan Ardi, mereka penasaran apa yang membuat Fitri bersikeras ingin magang di sana. Padahal kota itu jauh dari kotanya. Terus, darimana Fitri tahu perusahaan tersebut dan nama pemilik perusahaan itu? Sementara Fandi mengetahui perusahaan itu baru-baru ini saat perusahaan tersebut ingin bekerja sama dengan perusahaan Fajrin.


Fajrin berdiri dan berkata, ”Aku pergi dulu. Tapi aku pergi tidak sendirian. Aku membawa Hana bersama ku.”


”Apa?” Ardi dan Fandi refleks berdiri dengan cepat. ”Jangan macam-macam dengan adikku Fajrin!” lanjut Ardi berucap mengancam Fajrin.


”Kalau kamu masih memiliki hati nurani, jauhi putriku, Fajrin!” ucap Fandi.


Fajrin menatap kedua pria yang sangat melindungi Fitri itu tanpa berkata apapun. Ia memakai kaca mata hitamnya dan melangkah meninggalkan dapur. Fandi dan Ardi cepat menyusul juga Fatma.


Fajrin mempercepat langkahnya mencari Fitri di depan. Ia melihat Fitri sedang menatap dan mengetik sesuatu di laptopnya.


Fitri terpaksa berdiri karena tarikan Fajrin. Ia mengikuti langkah kaki Fajrin yang melangkah keluar dari rumah.


”Fajrin! Lepaskan tanganku!” berontak Fitri.


”Fajrin lepaskan adikku!” Ardi menarik tangan kiri Fitri. Langkah Fitri dan Fajrin terhenti. ”Aku sudah memperingatkan mu untuk tidak menggangu adikku lagi, Fajrin. Kamu sangat tidak menghargai perasaan kami.”


Ardi melayangkan tinjunya pada wajah Fajrin. Fajrin terkejut, tangan kirinya memegang pipi kirinya yang terkena tinju Ardi yang tiba-tiba.


Fitri, Fatma, dan Fandi ikut terkejut dengan keberanian Ardi. ”Ardi!” gumam mereka dengan pelan.


Fajrin menatap Ardi dengan marah. Fajrin melonggarkan pegangan tangannya pada Fitri. Fitri terkejut, kepalanya menggeleng, matanya membulat saat melihat kepalan tangan Fajrin yang kuat.


”Tidak!” Fitri menangkap tangan Fajrin yang melayangkan tinju pada Ardi. Fajrin menghentikan kepalan tangannya tepat di hidung Ardi. Fajrin menoleh melihat Fitri. Fitri menatapnya dengan iba dan berkata, ”Jangan pukul kakak ku...”


Fajrin menelan saliva nya. Tangannya di jauhkan dari wajah Ardi dan kepalan tangannya perlahan terbuka. Ia kembali memegang pergelangan tangan Fitri.


”Aku bawa Hana pergi.” Dia melanjutkan langkahnya ke mobil.


”Hei, berhenti! Lepaskan adikku!” Ardi kembali mengejar Fajrin dan Fitri.


Fajrin tetap melangkah mengabaikan Ardi. Fitri menoleh melihat Ardi. Ia menggeleng. Ardi menghentikan langkahnya.


Fitri dan Fajrin masuk ke dalam mobil. Fajrin menyalakan mesin mobil dan menjalankannya.


Fandi dan Fatma menghampiri Ardi yang mematung melihat kepergian mobil Fajrin. Ia memegang pundak Ardi dan berkata, ”Adik mu akan baik-baik saja bersama Fajrin. Tidak perlu khawatir.”

__ADS_1


”Fajrin sudah merusak rencana kebersamaan keluarga kita, Pa. Dia membawa adikku begitu saja. Ardi tidak terima, Pa. Dan Papa... Papa membiarkan Fajrin membawa Hana begitu saja!”


”Papa percaya sama Hana dan Fajrin. Fajrin tidak akan melakukan hal apapun pada Hana. Dan Hana tidak akan tertarik pada Fajrin. Mungkin ada hal yang ingin di bicarakan Fajrin berdua dengan Hana.” jelas Fandi.


”Tapi, Pa.”


”Kalau saja waktu itu Fajrin dalam keadaan sadar, dia tidak akan melakukan hal kotor pada Zulfa. Fajrin melakukannya karena pengaruh obat. Fajrin tidak akan mencelakai Hana. Hana akan baik-baik saja.” ucap Fandi.


”Mama juga percaya sama Fajrin, Fajrin tidak akan melakukan apapun pada Hana.” sambung Fatma. ”Ayo kita masuk ke rumah” ajak Fatma pada suami dan anaknya.


Fandi dan Ardi menurut. Mereka melangkah masuk ke dalam rumah.


Ardi berdecak kesal melihat handphone Fitri di atas meja.


Hana tidak bawa hapenya. Bagaimana mau menghubungi dia. Lewat Fajrin? Hais... percuma dong aku memblokir nomornya. benak Ardi..


*


*


Di perjalanan, di dalam mobil Fajrin.


”Kamu mau bawa aku kemana? Tindakan mu sangat keterlaluan sekali!” ucap Fitri dengan ketus tanpa melihat lawan bicaranya.


”Siapa Randi?”


”Randi? Siapa Randi? Jangan alihkan bicara! Kamu mau bawa aku kemana? Kembalikan aku di taman bunga. Kamu sudah mengacaukan liburanku dengan keluarga ku.”


”Aku tanya... siapa Randi?” sekali lagi Fajrin bertanya serius pada Fitri. Suaranya terdengar ketus.


”Pemilik perusahaan Randi Corp.”


”Kalian saling kenal?”


”Tidak!” elak Fitri.


”Jika tidak, darimana kamu tahu tentang Randi dan perusahaannya?”


Fitri terdiam. Fajrin membelokkan mobilnya memasuki halaman parkir rumahnya.


Fitri terkejut melihat rumah yang ada dihadapannya. ”Antar aku pulang ke taman bunga. Kenapa kamu membawa ku ke sini?”


”Cepat keluar dari mobil.”


”Gak mau! Antar aku pulang.”


”Mau keluar dari mobil sendiri... atau perlu aku yang membantumu keluar dari mobil? Pilih!” ancam Fajrin.


”Siapa juga yang butuh bantuan mu.” gumam Fitri dengan pelan. Ia membuka pintu mobil dengan kesal dan keluar dari mobil.


Ia membuang muka saat tatapannya bertemu dengan mata Fajrin. Fitri menutup pintu mobil Fajrin dengan membantingnya kuat.


”Jika pintu itu rusak, gaji papamu selama dua tahun belakangan ini... belum cukup untuk biaya perbaikannya.” ucap Fajrin. ”Ayo masuk ke dalam rumah.”


Fitri menatap sinis pada Fajrin. Ia menghela nafas dan mengikuti langkah Fajrin masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2