Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 52


__ADS_3

Malam hari di rumah Fandi.


Fandi duduk di kursi teras rumah dengan muka yang masih marah. Dia baru pulang dari peninjuan lokasi sekaligus peletakan batu pertama sekaligus pondasi untuk membangun rumah kos-kosan di samping pasar tradisional.


”Sialan sekali si Fajrin! Argh!” gumam Fandi kesal. Dia sangat marah sekali dengan Fajrin yang terus menahannya untuk tetap bekerja seharian penuh.


Fajrin tidak memberikan ia waktu untuk mencari keberadaan Hasan sebelum benar-benar pergi meninggalkan kota.


”Pa, ada apa? Pulang-pulang dari kerja bukannya masuk ke dalam rumah malah duduk dengan kesal dan marah-marah di sini. Papa marah dan kesal kan tentang Fajrin?” tanya Fatma, ia duduk di kursi di samping suaminya.


Fandi menghela nafas berkali-kali meredam emosinya. ”Anak-anak di mana, Ma? Kok, rumah terlihat sunyi?” Ia mengubah topik pembicaraan.


”Anak-anakmu belum pulang dari jalan-jalan. Ardi mengajak Hana untuk jalan-jalan sejak pulang dari rumah Hasan. Mama baru saja selesai menelfon mereka, mereka sekarang dalam perjalanan pulang. Nah, Papa sendiri kenapa baru pulang di jam sekarang? Biasanya, pulang kerjanya sore kalau ada lembur di kantor.”


”Ada pekerjaan mendesak yang harus selesai di kerjakan hari ini, Ma. Jadinya Papa baru pulang. ” jelas Fandi.


”Lalu, Papa kesal apa dengan Fajrin? Apa dia menyusahkan Papa lagi di kantor?” tanya Fatma penasaran.


Fandi kembali menghela nafas, ”Ma, kita tidak bisa memenjarakan Hasan. Fajrin sudah mutasi Hasan dan keluarganya ke luar negeri. Dan mereka tidak dapat perizinan lagi untuk masuk ke dalam negeri, kecuali Fajrin menarik mereka untuk kembali baru mereka bisa kembali ke kota ini. Untuk itulah Papa sangat kesal dan marah sama Fajrin,” ungkapnya.


”Apa? Fajrin melindungi Hasan? Apa Fajrin tahu perbuatan Hasan pada Hana?” Fatma terkejut mengetahui Fajrin yang melindungi Hasan.


”Iya, Ma. Fajrin tahu dan dia tetap mengirim Hasan ke luar negri. Bukan hanya itu, Fajrin sangat licik, dengan menggunakan kesalahan yang di lakukan Zulfa dan Hasan, dia meminta saham milik keluarga Hasan untuk menjadi miliknya. Dia sangat tamak!” ucap Fandi tangannya memukul tangan kursi yang ia duduki dengan keras. Emosinya kembali memuncak.


”Astaghfirullah! Mama tidak mau punya anak menantu seperti dia....”


”Syukurnya Hana tidak mencintai pria tamak itu. Aku juga tidak sudi mempunyai anak mantu yang tidak berperasaan seperti dia!”


Fandi dan Fatma melihat Ardi dan Fitri yang baru saja datang dari jalan-jalan. Fitri dan Ardi berjalan menghampiri mereka berdua.


”Assalamu 'alaikum! Ma, Pa.” sapa Ardi dan Fitri menyalami punggung tangan kedua orang tuanya.


”Wa 'alaikum salam!” sahut Fandi dan Fatma.


Ardi dan Fitri duduk di kursi, mereka berdua sama-sama melirik pakaian yang masih di kenakan sama papanya.


”Papa baru pulang dari kerja?” Tanya Ardi dan Fitri.


”Iya, Papa baru saja pulang dari kerja.” jawab Fandi, ”Kalian berdua dari mana? Jalan-jalan kok pulang gak bawa apa-apa untuk Mama dan Papa,” ucapnya lagi.


”Hana dan Ardi keliling mencari keberadaan Hasan, di tempat-tempat yang biasa di kunjungi oleh Hasan. Tapi...kami tidak menemukan Hasan di manapun.” ucap Ardi.


Fandi dan Fatma saling pandang lalu mereka melihat Ardi dan Hana. ”Tidak perlu susah-susah mencarinya. Hasan sudah pergi dari kota ini,” Fandi menghela nafas di akhir ucapannya.


Ardi dan Fitri nampak cemberut dan murung. Mereka berdua sudah tahu hal ini. Tetapi, mereka masih berusaha untuk mencegah Hasan pergi dari kota.


Mereka berdua buru-buru pergi ke bandara mencari Hasan, tapi, sampai di bandara mereka tidak menemukan Hasan. Mereka juga meminta tolong pada penjaga ruang informasi untuk mengecek nama Hasan dalam penerbangan hari ini, tetapi, dalam pengecekan nama tersebut, nama Hasan tidak termasuk dalam daftar penumpang ataupun calon penumpang berikut dengan nama Zulfa dan orang tua mereka, tidak terdaftar.

__ADS_1


Mereka juga mencari ke pelabuhan, jangan sampai Hasan dan keluarganya mengambil jalur laut untuk pergi dari kota. Bahkan, Ardi dan Fitri sampai naik ke atas kapal untuk mencari Hasan. Fitri dan Ardi berpencar untuk mencarinya. Ardi mencari dari dek 4 sampai dek 1, Fitri mencari dari dek 5 sampai dek 7.


Mereka bertemu kembali di dek 5, di depan pintu tangga kapal. Mereka sama-sama menggeleng kepala tidak menemukan Hasan. Mereka turun dari kapal dengan wajah kesal.


Ardi dan Fitri tidak pantang menyerah, mereka berdua mencari informasi di mana saja tempat yang biasa di kunjungi Hasan dari teman Hasan, tetapi mereka juga tidak menemukan Hasan di sana. Akhirnya, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah karena hari sudah malam dan mamanya baru saja menelpon menyuruh mereka untuk pulang.


”Papa tahu dari mana kalau Hasan pergi dari kota?” Tanya Fitri.


”Fajrin!” Fandi melihat Fitri dengan serius, ”Hana, kamu Papa larang untuk memiliki hubungan dengan Fajrin! Dia tidak pantas untuk kamu,” ucapnya tegas.


”Mama juga melarang mu berhubungan dengan dia. Mama tidak menginginkan anak mantu tidak punya hati seperti dia.” sambung Fatma.


”Kakak juga tidak mau memiliki adik ipar pria bejat seperti dia.” sambung Ardi.


Fitri melihat mama, papa, dan kakaknya. ”Jika kalian sudah bicara seperti itu...apa hak Hana untuk memacari dia? Hana juga tidak mencintai pria kasar seperti dia....”


Lagi pula, dia sudah jadi milik seseorang. Dia dan Zulfa sudah saling mengikat hubungan dengan sangat jelas. Apa aku masih bisa punya harapan memiliki Fajrin?


Eh...! Kenapa aku kok sedih begini ya? Kayak gak rela Fajrin bersama wanita lain. Tapi...Ah! Kenapa harus memikirkan dia? benak Fitri.


”Baguslah!” sahut Fandi senang.


”Ya sudah, anggota keluarga sudah ngumpul bersama. Ayo masuk, kita makan malam lalu istirahat.” ajak Fatma.


”Iya, Ma.” sahut Fandi, Ardi, dan Fitri.


Fatma masuk ke dalam rumah, yang lainnya ikut nyusul masuk ke dalam rumah.


Mereka makan malam dengan hening. Selesai makan malam, mereka pergi ke kamarnya masing-masing untuk istirahat.


*


*


Di rumah Fajrin.


Fajrin duduk menyendiri di balkon lantai atas, di kamarnya. Sebotol anggur menemani kesendiriannya.


Ia bisa saja menghubungi temannya untuk menemani dirinya, tetapi, ia tidak ingin melakukannya.


Dia sangat pusing karena Fandi sudah membenci dirinya. Di dalam pikirannya pasti bukan hanya Fandi yang membencinya saat ini, tetapi Fitri, Ardi dan Fatma pasti ikut membenci dirinya.


”Padahal aku mengusir Hasan dari kota ini untuk keamanan Hana. Jika Hasan masih di sini, dia akan terus mengganggu Hana. Mereka pikir mereka bisa memenjarakan Hasan dengan mudah. Meskipun Hasan di penjara tidak akan lama dia mendekam di jeruji besi, dia akan bebas dan kembali mengganggu Hana.” Gumam Fajrin.


”Sudahlah, hubungi Hana dulu...” Ia meraih hapenya yang ada di atas meja dan menghubungi Fitri.


”Kenapa dia gak angkat? Sudah tidur kah?” Ia berdecak dan mematikan panggilannya. Ia menaruh lagi hape di atas meja. Ia meneguk habis anggur yang ada di gelasnya.

__ADS_1


Ia masuk ke dalam kamar dan menutup pintu balkon. Ia membaringkan dirinya di atas ranjang besarnya. Ia menghela nafas berkali-kali dan memejamkan mata.


*


*


Di kamar Fitri.


”Untung saja nada deringnya gak ku aktifkan hanya getaran saja. Kalau gak, panggilannya sangat mengganggu ku. Lebih baik sekarang aku blokir nomornya. Dari wa juga aku akan memblokirnya,” gumamnya, ia langsung menekan kata blokir dari layar hapenya. Ia tidak ingin di ganggu lagi sama pria itu.


Pandangan Fitri kembali berfokus di layar laptop. Ia melanjutkan mengisi daftar formulir magang di perusahan papanya yang berganti nama dengan Randi Corp sekarang.


Ia memasukkan namanya dengan nama lengkap, Fitri Raihana Fandi, ia mendaftar dengan foto dirinya yang memakai kacamata bening. Dan dia merupakan mahasiswi semester akhir. Setelah mengisi lampiran formulir ia mengirimkan lowongan magang di perusahaan tersebut.


Fitri menghela nafas, ”Lamaran pekerjaan telah di kirim, tinggal menunggu jawabannya besok, siang hari di email ku,” gumamnya.


”Besok hanya ada satu mata kuliah saja, sukur lah tidak bertemu dengan dia besok.” Gumam Fitri lagi. Ia beranjak dari duduknya dan pergi ke ranjangnya, ia berbaring. Ia memejamkan mata.


*


*


Di kota T.


”Mama, Zulfa gak bisa tidur di kamar ini. Pengap, panas, baru gak ada kipas. Ini namanya menyiksa diri, Ma!” Keluh Zulfa sambil melangkah keluar dari kamar.


”Mama, kenapa kita harus membeli rumah yang terbuat dari kayu ini! Kamarnya sangat kecil, panas, pengap lagi!” Keluh Hasan. Ia duduk di lantai, di samping mamanya.


”Jangan mengeluh! Ini kan yang kalian berdua cari? Kita sudah tidak punya apa-apa lagi, kita harus belajar hemat sekarang! Rekening Mama dan papa sudah di blokir sama kakek kalian dari luar negeri. Coba kalau kalian tidak berbuat macam-macam, kita tidak akan seperti ini!” ucap mama Hasan mengomeli kedua anaknya.


”Mama, aku sudah lapar.” rengek Zulfa.


”Sabar, sebentar lagi papa datang. Tahan-tahan dulu rasa lapar mu.” ucap mama Hasan.


Pertama kali ke kota ini tanpa mengenal siapapun. Mencari rumah kontrakan, rumah kontrakannya sangat mahal. Akhirnya, dengan kemampuan uang yang di miliki, hanya mampu membeli rumah kecil ini. Karena agak malam menemukan rumah ini, belum beli apa-apa untuk mengisinya. benak mama Hasan.


”Mama, Papa pulang.” suara papa Hasan terdengar dari luar pintu rumah.


Mama Hasan berdiri membukakan pintu untuk suaminya. Dia mengambil bungkusan plastik yang di berikan suaminya.


Mama Hasan kembali duduk di lantai, papa Hasan juga masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Ia ikut duduk di lantai.


Mama Hasan membagikan satu bungkus nasi untuk Hasan, Zulfa, dirinya dan suaminya. Ia juga membagikan satu botol Aqua untuk satu orang.


Zulfa dan Hasan membuka nasi bungkus tersebut, kening mereka berdua mengerut melihat makanan di hadapannya.


”Ma__”

__ADS_1


”Makan saja makanan yang ada! Jangan mengeluh! Hal ini yang kalian berdua cari, bukan?” pangkas papa Hasan.


Zulfa dan Hasan terdiam. Memang kesalahan terjadi karena diri mereka berdua. Dengan terpaksa mereka memakan makanan nasi bungkus yang sudah bercampur aduk antara nasi, sayur, ikan, dan sambalnya.


__ADS_2