Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 36


__ADS_3

Di halaman parkir tempat kerja Ardi.


Ardi terkejut. Fajrin benar-benar datang ke kantornya karena provokator dari Fitri. Meskipun Ardi belum pernah bertemu dengan Fajrin. Tapi, ia tahu nomor plat mobil Fajrin.


Mobil Fajrin pernah masuk ke bengkel dan ayahnya menyuruh Ardi yang mengambil mobil Fajrin dari bengkel. Dan mobil yang sengaja menghalangi jalannya ini adalah mobil Fajrin dengan nomor plat yang sama.


Fajrin? Pria ini...tidak bisa di provokasi. benak Ardi.


”Hana, kamu masuk ke kantor kakak.” titah Ardi. Wajahnya ketakutan, namun, dia tetap tenang. Dia ingin melindungi adiknya.


Namun, Fitri tidak mendengar. Fitri masih memandang marah pada mobil yang sengaja menghalangi jalan mereka. Fitri mendekati mobil itu.


”Hana...jangan...” ucapan Ardi terhenti. Dia sudah terlambat mencegah Fitri untuk semakin memprovokasi Fajrin.


Tok tok tok! Fitri mengetuk kaca jendela mobil itu dengan keras. Pintu mobil terbuka. Fitri mundur beberapa langkah kebelakang. Tangannya berkacak pinggang. Wajahnya marah.


Fajrin turun dari mobil, dia membuka kaca mata hitamnya, melihat Fitri.


Fitri dan Ardi sama-sama terkejut melihat sosok pria itu.


Wajah ini....Zahidin! Kenapa auranya sangat berbeda sekali, saat pria ini memakai jas dan memakai kemeja biasa saat menjadi dosen? Aura yang sekarang ini... menakutkan! Mata elangnya sangat tajam. benak Ardi.


”Pak Zahidin?” gumam Fitri.


”Kamu ini, kucing liar! Sangat berani menentang ku!” ucap Fajrin.


Kucing liar? Ini...ini julukan Fajrin untuk Hana. Jadi, Zahidin memang Fajrin. Pantas saja, Zahidin tahu aku banyak pekerjaan di kantor. Rupanya, Fajrin dan Zahidin adalah orang yang sama. benak Ardi.


”Siapa yang kucing liar? Siapa yang menentang mu? Minggir kan mobil mu! Mobil mu menghalangi jalan motor kakakku!” suara Fitri terdengar ketus, menantang Fajrin, dengan berani.


”Em... Abang...eh...Pak Fajrin. Maaf, maaf kan adikku. Dia...”


”Kakak panggil dia apa? Fajrin?” Fitri memastikan jika telinganya itu tidak salah mendengar.


”Dia ini bukan Fajrin, si brengsek itu! Dia ini dosen di kampusku, Zahidin. Si dosen mesum! Apa kakak gak perhatikan wajahnya?” jelas Fitri, sambil melihat jengkel pada Fajrin.


Fajrin mengernyit melihat Fitri, ”Si brengsek? Mesum?”


”Em... Pak Fajrin. Adikku suka bicara sembarangan. Maafkan dia.” lagi-lagi Ardi bersuara, membela Fitri.


Fitri membulat kan mulutnya. Dia mengerti sekarang, siapa Fajrin dan siapa Zahidin.


”Jadi...jadi kamu...kamu Fajrin si pria brengsek itu!” ucap Fitri.


Raut wajah Fajrin sudah berubah tajam melihat Fitri. Pria brengsek? Mesum? Berani sekali Fitri memanggilnya begitu!


Ardi sangat khawatir. ”Pak ma...”


”Ardi, masuklah! Selesaikan hukuman mu!” titah Fajrin pada Ardi.


”Ta..tapi, Pak. Adikku...”


”Dia urusan ku!” pangkas Fajrin.


Ardi mengalah. Dia masuk ke dalam kantornya. Hatinya tidak tenang memikirkan adiknya.


”Kakak! Kembali! Tidak usah mengerjakan tugas yang tidak penting itu! Kenapa harus takut sama pria brengsek, mesum ini! Kak!” teriaknya.


Ardi tetap masuk ke dalam kantor. Ia meninggalkan adiknya bersama Fajrin. Meskipun dia yakin, Fajrin tidak akan menyakiti Fitri. Tapi, dia tetap khawatir.


Fajrin melihat Fitri. ”Masuk ke dalam mobil!” titahnya.


Fitri memandang malas pada Fajrin. ”Kamu bukan papa dan kakak ku, kenapa harus nurut!” dia berbalik dan berjalan masuk ke dalam kantor, menyusul Ardi, kakaknya.


Fajrin menangkapnya. Fitri membulatkan mata melihat tangan Fajrin yang melingkar di perutnya.


Fitri melepas tangan Fajrin dengan kasar dan mengangkat tangan ingin menampar pria yang kurang ajar itu.


Namun, tamparan Fitri tidak mengenai wajah Fajrin yang tingginya lebih dua belas centi dari tinggi badannya.


Fajrin menangkap tangan Fitri dan menggenggamnya erat. Dia menarik tangan Fitri, membawanya ke mobil.


”Lepaskan tangan ku!” Fitri berontak sambil mengikuti langkah pria di depannya itu.


”Hei...lepaskan tangan ku! Aku bilang lepas!” Fitri menarik-narik tangannya. Namun, pegangan Fajrin sangat erat.


Fajrin membuka pintu mobil dan mendorong Fitri masuk ke dalam mobil. Fajrin menutup pintu dan pintu itu terkunci secara otomatis.

__ADS_1


”Lepaskan aku! Lepaskan! Pria brengsek! Mesum! Lepaskan aku!” Fitri memukul-mukul kaca mobil Fajrin.


Fajrin masuk ke dalam mobil. ”Diam!” bentaknya.


Fitri menatap tajam pada Fajrin. ”Buka pintunya! Lepaskan aku!” titahnya dengan ketus. Dia berusaha membuka pintu mobil. Namun, dia tetap tidak bisa membukanya.


”Aku bilang diam! Duduk yang benar!” titah Fajrin.


”Aku tidak akan diam! Sampai kamu membiarkan aku keluar dari mobil mu ini! Lepaskan aku! Lep....”


Fajrin membungkam mulut Fitri dengan merapatkan bibirnya pada bibir Fitri.


Kedua mata Fitri terbuka lebar. Tubuhnya diam, gemetar ketakutan.


Melihat Fitri yang terdiam, Fajrin menarik wajahnya. Dia duduk dengan benar di tempatnya.


Ia tersenyum melihat Fitri yang masih terdiam gemetar. ”Kalau nurut begini kan bagus!” sindirnya.


Dasar pria brengsek! Pria mesum! Ini sudah kedua kalinya dia mencium ku. benak Fitri.


Fajrin menyalakan mobil dan menjalankannya. Dia melirik Fitri. Fitri masih terdiam. Mobil semakin melaju di jalan besar. Fajrin membelokkan mobilnya ke sebelah kanan.


Mata Fitri mengecil, keningnya berkerut. Dia melihat Fajrin. ”Kamu mau membawaku ke mana? Ini bukan jalan rumah ku! Ini penculikan! Aku akan melaporkan mu pada polisi!” ancam Fitri.


Fajrin menyeringai, ”Kucing liar mengancam ku? Melapor ke polisi?” dia memberikan handphone nya pada Fitri. ”Ambil! Telfon lah polisi! Atau aku akan membantu mu menghubungi polisi?”


Jika orang ini sudah berkata demikian, apakah ada artinya aku menghubungi polisi? benak Fitri.


”Apa mau mu? Kamu akan membawaku ke mana?” tanyanya, suaranya masih terdengar ketus.


Fajrin tidak menjawab. Dia membelokkan mobilnya masuk ke dalam gerbang yang terbuka.


Fitri kagum melihat rumah mewah yang berdiri kokoh di depannya itu, yang berlantai dua. Rumah yang sangat indah dan halamannya sangat luas.


Fajrin menghentikan mobil. Dia membuka kedua pintu mobilnya. Fitri terkejut dan takjub. Bagaimana pintu ini terbuka sendiri nya?


”Turun!” titah Fajrin.


Tanpa berkata, Fitri turun dari mobil.


Fitri tersadar. Dia menarik tangannya, ”Aku tidak mau masuk! Antar aku pulang!” tolaknya.


”Ingin masuk dengan baik, atau dengan cara lain?” tanya Fajrin.


Gila, cara lain? Yang benar saja! benak Fitri.


Fitri melangkah ke teras rumah Fajrin tanpa berkata-kata.


Fajrin tersenyum. Dia melangkah ke teras rumah. Dia membuka pintu rumah.


”Selamat datang, Tuan! Nona!” sambut para pelayan.


”Hum!” singkat Fajrin menyahuti.


Fitri melihat isi dalam rumah itu. Rumah itu benar-benar mewah luar dalamnya. Fitri melihat kursi sofa yang besar dan terlihat empuk. Dia menghampiri sofa itu dan duduk.


Fajrin tersenyum melihat Fitri. Dia memanggil pelayanannya, ”Bawakan minuman untuknya.” titahnya.


”Baik, Tuan!” sahut pelayan tersebut. Pelayan itu melangkah ke dapur.


Fajrin menaiki tangga. Dia pergi ke kamarnya. Dia membuka baju dan pergi mandi.


Di lantai bawah.


”Nona, silahkan di minum.” ucap sang pelayan, dengan sopan memberikan minuman pada Fitri.


”Terima kasih. Em...duduklah dulu. Jangan pergi!” cegah Fitri.


Pelayan itu menurut. Dia duduk di lantai.


”Eh...jangan duduk di situ. Duduk di kursi saja.” ucap Fitri.


”Maaf, Nona. Biarkan saya duduk di sini.”


Fitri mengerti, dia tidak memaksa pelayan itu. ”Apakah rumah sebesar ini, pria itu tinggal sendirian?” tanya Fitri, penasaran.


”Benar, Nona. Tuan memang tinggal sendirian. Orang tuanya punya rumah sendiri.” jawab sang pelayan.

__ADS_1


Oh, jadi, dia benar-benar tinggal sendiri di rumah mewah ini? benak Fitri.


”Apa masih ada hal lain yang mau di tanyakan, Nona?”


”Tidak ada.” jawab Fitri. Dia meminum minumannya.


”Kalau begitu, saya permisi, Nona.” pelayan itu undur diri setelah melihat anggukan kepala Fitri.


Ngapain si brengsek di atas? Lama bangat. Air minum ku saja sudah habis. Dia belum juga turun. benak Fitri.


Sofa ini benar-benar lembut. Sepertinya nyaman di pakai tidur. benak Fitri.


Dia merebahkan dirinya di sofa besar itu.


Ini benar-benar nyaman.


Fitri memejamkan matanya merasakan kelembutan sofa itu. Tanpa ia sadari, dia malah tertidur lelap di kursi sofa itu.


.. ..


Di lantai dua.


Fajrin telah selesai mandi. Dia masih menggunakan jubah mandinya. Dia keluar kamar. Menuruni tangga, ke lantai satu.


”Tuan, Nona sudah tidur di kursi sofa.” lapor sang pelayan, saat kaki Fajrin menuruni anak tangga terakhir.


”Hum? Tidur? Ambilkan selimut ku.” titah Fajrin.


”Baik, Tuan!” sang pelayan tersebut menaiki tangga, pergi ke kamar Fajrin.


Fajrin menghampiri Fitri. Dia tersenyum lebar melihat raut wajah Fitri yang terlelap.


”Wanita ini tidak waspada sama sekali! Beraninya dia tidur di rumah seorang pria. Tidurnya juga sangat nyenyak.” gumam Fajrin.


”Tuan, ini selimutnya.” sang pelayan memberikan selimut pada Fajrin.


Fajrin menerimanya. ”Terima kasih, kalian masaklah makanan yang banyak untuk malam ini.” perintah Fajrin.


”Baik, Tuan!” jawab sang pelayan. Pelayan itu pergi ke dapur.


Fajrin menyelimuti Fitri. Dia duduk di kepala Fitri dan menjadikan pahanya sebagai bantal kepala Fitri.


Fajrin mengambil laptopnya yang ada di bawah meja. Dia menyalakan laptopnya. Dia mengecek email yang masuk.


.. ..


Di kantor Ardi.


Ardi mengerjakan tugasnya dengan perasaan yang tidak tenang. Dia masih memikirkan adiknya, Fitri yang di bawa oleh Fajrin.


Apa Fajrin membawa Hana pulang ke rumah? Mau hubungi Hana, tapi, Hana tidak membawa hapenya. benak Ardi.


”Apa aku telfon dia saja?” gumamnya.


Dia meraih handphone.


”Abang... Pak Fajrin, di mana adikku?”


Akhirnya Ardi hanya mengirimkan chat buat Fajrin.


Ting! Ardi membaca cepat balasan Fajrin.


”Selesaikan tugas mu dengan baik! Kucing liar lagi istirahat di rumah ku.”


Ardi terkejut. Dia membalas chat Fajrin tersebut.


”Abang apain adikku? Jangan macam-macam dengan adikku, Bang.”


”Kamu selesaikan saja hukuman mu. Tidak perlu khawatir dengan kucing liar ku. Dia akan baik-baik saja dengan ku.” balas Fajrin.


Ardi mengetik di layar. Namun tidak jadi mengirimkannya saat membaca chat Fajrin yang masuk. Yang mengatakan ”Jangan ganggu aku! Atau hukuman mu akan bertambah!”


Ardi menaruh hapenya. Dia kembali mengerjakan tugasnya.


Ah....tidak, tidak! Fajrin tidak akan berbuat apa-apa pada Hana. Tapi...kenapa Hana tidur di rumahnya Fajrin? Apa dia tidak waspada pada dirinya sendiri? benak Ardi.


.. ..

__ADS_1


__ADS_2