
Di rumah sakit.
Fandi dan Fatma berlari menuju ruang rawat Fitri. Mereka bergegas pergi ke rumah sakit setelah mendapat kabar dari Ardi, jika Fitri sedang di rawat di rumah sakit, saat Fandi menelpon Ardi menanyakan keberadaan kedua anaknya itu.
”Itu Ardi, Pa.” tunjuk Fatma. Yang melihat Ardi duduk bersandar di dinding sambil memejamkan mata. Mereka menghampiri Ardi.
”Nak, bagaimana keadaan Hana?” tanya Fandi. Dia duduk di samping Ardi.
Fatma menerobos masuk ke dalam ruangan Fitri.
Ardi membuka mata dan melihat papanya. ”Pa, sekarang Hana baik-baik saja. Papa datang sendiri? Mama di mana?” tanya Ardi, saat tidak melihat sosok mamanya.
”Mama langsung masuk ke dalam ruangan, melihat Hana. Apa yang terjadi pada adikmu?”
”Ardi juga tidak tahu Pa. Ardi tidak menemukan Hana di dalam hotel, meski sudah mencarinya dari lantai bawah sampai lantai atas. Jadi, Ardi berinisiatif mencari Hana di toilet. Dengan bantuan seorang wanita penanggung jawab di acara tersebut. Dia menemukan Hana sudah dalam keadaan kurang baik di dalam toilet. Dia meracau kepalanya sakit, haus dan merasa panas. Ardi buru-buru membawa Hana ke rumah sakit. Dan saat dokter periksa, dokter bilang kalau Hana terkena obat bius.” ungkap Ardi.
Kening Fandi mengerut, ”Obat bius?” Fandi melihat Ardi dengan serius.
”Iya. Semacam obat perangsang untuk gairah melakukan hubungan badan, Pa.” jelas Ardi.
”Astaghfirullah! Untung kamu cepat menemukan adik mu, Ardi. Jika tidak, oh ya Allah...siapa yang tega melakukan hal ini pada putri ku? Apakah Fajrin?” tebak Fandi.
Ardi menggeleng, ”Abang Fajrin juga sedang mencari Hana. Terakhir Hana bersama Hasan. Apakah Hasan?” tebak Ardi.
”Papa tidak yakin jika itu Hasan. Papa sangat yakin jika itu Fajrin.” kekeh Fandi. Dia meraih hapenya. Menggesek layar dan menelpon seseorang.
”Halo! Fajrin, kamu...”
”Maaf, Pak. Tuan ku tidak bisa berbicara dengan Bapak. Tuan ku sedang di rawat oleh dokter.” pangkas si penerima telepon.
”Apa? Di rawat? Apa dia sakit?” Fandi bertanya khawatir.
”Tuan ku terkena bius. Ada seseorang yang sengaja menjebak tuan ku dengan obat perangsang.” jawab si penerima telepon.
Fandi terkejut, Kok bisa bersamaan, waktunya? Kalau begini...aku sudah salah mencurigai atasan ku sendiri. benaknya.
”Oh, baiklah kalau begitu.” Fandi memutuskan sambungan teleponnya. Dia nampak bingung dan berfikir.
”Ada apa Pa?” Ardi penasaran.
”Fajrin juga mengalami hal yang sama, seperti Hana. Terkena bius obat perangsang dan sekarang sedang di rawat.” ungkap Fandi.
Ardi teringat sesuatu. ”Hah! Apa orang itu sudah berhasil mencelakai Fajrin?”
”Apa maksud mu? Apa kamu tahu siapa yang mencelakai Fajrin?” Fandi penasaran.
Ardin menggeleng. ”Ardi tidak tahu. Tapi, sewaktu Ardi menghubungi Fajrin, memberitahu kalau Hana sudah ku temukan. Dia bertanya "Kamu siapa?" Ardi kira Fajrin bertanya padaku, jadi ku jawab "Aku Ardi" tapi dia bilang "Bukan kamu" lalu sambungan telfon terputus begitu saja. Berarti, pertanyaan itu Fajrin tanyakan pada orang yang sudah menjebaknya. Dan mereka sedang berdua.” papar nya.
”Fajrin terakhir kali bersama dengan Zulfa, sementara Hana bersama Hasan. Jebakan ini sudah di rencanakan dengan baik. Apakah mungkin benar mereka berdua yang telah menjebak Fajrin dan Hana?” Fandi semakin penasaran.
”Entahlah! Tapi, aku pastikan Fajrin akan mengusut hal ini. Karena dia juga korban. Papa tidak ingin masuk melihat Hana?”
”Iya, Fajrin tidak akan melepaskan orang yang sudah menjebaknya. Papa akan mengurus orang yang sudah menjebak Hana.” Fandi berdiri, ”Papa masuk dulu, melihat Hana.” dia melangkah masuk ke dalam ruangan Fitri.
Jika ini ulah Hasan, aku akan membuat perhitungan dengannya. benak Ardi.
.. ..
Di Fazhr hotel, di lantai 7.
”Bagaimana keadaan tuan, Dokter?”
”Tidak apa-apa. Aku sudah mengobatinya. Aku juga menyuntikan penenang untuk dia beristirahat satu jam lagi. Dia terlalu sibuk akhir-akhir ini. Tidurnya dan makannya jadi tidak teratur.” dia duduk di sisi ranjang melihat Fajrin.
”Siapa yang melakukan ini padanya?”
__ADS_1
”Maaf, saya tidak tahu. Saya hanya di tugaskan tuan untuk menjaga lantai 7 agar tidak ada orang yang datang kemari. Tuan, sudah beberapa bulan ini tidak di dampingi oleh para pengawal jika pergi keluar.”
”Bayangan pelindung? Apa gunanya?”
”Tuan melarang semua pengawal nya untuk mengawasi nya tanpa seizin dari tuan sendiri.”
Dokter menghela nafas. ”Jaga tuan mu. Aku turun ke bawah dulu.”
”Iya, Dokter.”
Sang dokter turun ke lantai bawah. Dia terus melangkah sampai ke samping hotel.
Di samping hotel.
Dia melihat para pemantau cctv hanya satu orang saja yang memantaunya. Dia duduk di kursi yang kosong.
”Kamu sudah datang? Mana kopi ku?” tanya pria itu tanpa menoleh. Dia akhirnya menoleh saat tidak mendapatkan sahutan.
”Eh, Pa...Pak Dokter! A...ada apa, Pa...Pak?” tanyanya, terbata-bata, dia terkejut. Sekaligus takut melihat sang dokter yang duduk di sampingnya.
”Aku ingin melihat rekaman ulang di setiap lantai satu sampai enam, rekaman enam puluh menit yang lalu.” titah sang dokter.
”Baik-baik.” pria itu membuka rekaman cctv dari lantai satu sampai lantai enam. Dia memundurkan waktunya ke enam puluh menit yang lalu. ”Yang ini, Pak Dokter?”
Sang dokter melihat enam layar yang terpasang di situ. ”Hum. Putarkan!” titahnya.
Pria tersebut menekan tombol dan video cctv nya menyala. Pak dokter memperhatikan baik-baik layar di depannya.
”Coba itu yang di area kafe. Zoom dia! Putar dalam mode lambat dari saat wanita itu memesan minuman.” titah sang dokter, saat melihat video Zulfa memberikan minuman pada Fajrin.
Pria itu melakukan titah sang dokter. Sang dokter dan pria itu terkejut saat melihat dalam rekaman tersebut. Zulfa memasukan sesuatu pada minuman yang dia berikan pada Fajrin.
”Cih!! Wanita bodoh yang menggunakan cara seperti itu untuk mendapatkan seorang pria. Padahal cantik, body bagus. Kenapa gak menggunakan daya tariknya untuk memikat para lelaki?” cibir sang dokter.
”Kirimkan aku video itu. Kirim ke email ku.” titah sang dokter. Dia beranjak berdiri.
”Baik, Dokter.”
Dia masuk kembali ke dalam hotel. Dia pergi ke lantai tujuh.
Di lantai tujuh.
Ting! Lift berhenti dan terbuka di lantai tujuh. Sang dokter keluar dari lift. Dia pergi ke kamar Fajrin.
”Kamu, pergilah ke bawah. Ambilkan aku dan tuan mu makanan.” titah sang dokter.
Dia turun ke bawah sangat lama untuk apa? Makanan saja perlu aku lagi yang ambil? Tidak masuk akal. benak anak buah Fajrin.
”Baik, Dokter.” dia berjalan keluar dari kamar Fajrin.
.. ..
Di rumah sakit, di dalam kamar rawat Fitri.
”Pa, Ardi ingin kembali ke hotel dulu. Ada yang ingin Ardi cek. Ini ada nasi bungkus untuk Hana. Setelah dia bangun, suruh dia makan dulu. Dia belum makan apa-apa.” ucap Ardi.
”Kalau kamu sudah makan?” tanya Fatma.
”Sudah, Ma. Di kantin rumah sakit. Mama jangan menangis lagi, Hana baik-baik saja. Ardi pergi dulu.” pamitnya.
”Iya. Setelah selesai, kembalilah.” sahut Fandi.
”Iya, Pa.”
Ardi pergi dari kamar inap Fitri.
__ADS_1
”Sudah, jangan menangis lagi. Yang penting anakmu baik-baik saja sekarang. Untuk pelakunya, besok baru Papa akan usut dan melaporkannya ke pihak kepolisian.” Fandi membujuk istrinya untuk tidak menangis lagi.
Fatma mengangguk.
”Um..ugh!” Fitri memegang kepalanya yang masih terasa pusing. Matanya masih terpejam.
”Sayang, kamu sudah sadar? Apakah kepala mu sakit?” Fatma terlihat sangat khawatir.
Fitri membuka mata. Dia melihat mama dan papanya. ”Mama, Papa, Hana di mana? Kok ada bau obat-obatan!”
”Coba lihat di sekitar mu, ada di mana kamu?” ucap Fandi.
Fitri melihat di sekitarnya. ”Kenapa Hana bisa ada di rumah sakit? Hana kan tadinya ada di dalam toilet.”
”Kenapa sampai kamu ada di dalam toilet?” tanya Fatma, selidik.
”Kepala Hana pusing. Hana juga menghindari Hasan yang selalu mengikuti ku.” jawab Hana.
Oh, syukurlah! Untung saja pemikirannya anakku terbuka. Sudah pasti ini perbuatan Hasan. benak Fandi.
Fandi dan Fatma saling pandang.
”Kamu makan apa saja waktu di hotel?” tanya Fandi.
”Hana tidak makan apa-apa. Hana hanya minum jus jeruk yang di berikan oleh Hasan.”
”Jus yang kamu minum itu ada kadar obatnya di dalam. Hasan sengaja mencelakai mu. Setelah kamu meminum jus, kepalamu sudah mulai merasakan pusing, kan?” tanya Fandi.
Fitri mengangguk, ”Iya. Setelah minum jus itu kepala Hana mulai pusing.” Fitri terdiam saat di ingatan nya tergambar jika Fajrin juga meminum anggur yang di berikan Zulfa. Apakah di dalam minuman Fajrin juga di berikan obat? Tapi, obat apa itu?
”Apa dokter tahu obat apa yang sudah di masukkan ke dalam minuman ku, Pa?” tanya Fitri.
”Obat perangsang. Agar kamu dan orang itu tanpa sadar melakukan hubungan terlarang antara suami dan isteri.” papar Fatma.
”Apa?” Fitri menutup mulutnya, tidak percaya. Obat perangsang? Apa Hasan ingin menghancurkan hidup nya? Atau berusaha untuk dapatkan dirinya? Bagaimana jika Fajrin juga di jebak? Apakah dia dan Zulfa sudah melakukan....
Ah! Ada apa aku ini? Kenapa malah memikirkan Fajrin? Kalaupun mereka sudah melakukannya, kan bagus! Jadi, aku bebas dari Fajrin. Sementara Zulfa dan Fajrin menerima kembali pertunangan mereka. benak Fitri.
”Sudah. Tidak usah bahas itu lagi. Masalah Hasan, akan menjadi urusan Papa. Sekarang, kamu makan dulu.” Fatma mengambil bungkusan nasi dan memberikannya pada Fitri.
”Iya, Ma.” Fitri mengambilnya dan membukanya. Dia makan, namun, pikirannya selalu terpikirkan Fajrin.
.. ..
Di hotel.
”Coba Bang, buka rekaman video yang ada di kafe.” titah Ardi.
”Hai...ada apa dengan orang-orang malam ini. Tadi sang dokter, sekarang kamu, Ardi. Apakah ini suatu kebetulan?” keluh pria itu. Namun, tangannya bergerak menuruti perintah Ardi.
”Sudah jangan ngeluh! Ini bagian dari pekerjaan mu.”
Video telah selesai di undurkan sampai nampak Hasan memesan minuman.
”Nah, coba zoom video itu dan putarkan dengan lambat.” titah Ardi.
”Ok!” dia mulai memutar video itu.
Ardi terkejut. Tangannya terkepal erat. ”Bajingan! Beraninya mencelakai adikku!” Ardi sangat geram dan marah. ”Kirimkan videonya ke email ku.” titahnya.
”Ok! Adik mu dan tuan Fajrin adalah korban yang sama. Tuan Fajrin juga kena obat bius dari wanita itu.” ungkap pria itu, sambil menunjukkan Zulfa pada layar kacanya.
Ting! Pesan masuk di hape Ardi.
”Sudah ku kirimkan videonya.”
__ADS_1
”Iya, sudah masuk. Terima kasih,” Ardi bergegas pergi dari sana, bahkan si pria tadi belum sempat bilang "sama-sama" Ardi sudah berlalu.