Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 44


__ADS_3

Di Fazhr Hotel.


Suasana sangat ramai di hotel Fazhr pada malam hari ini. Semenjak satu minggu sebelum hotel di gunakan untuk acara kampus, hotel tersebut telah di kosongkan.


Pihak penyelenggara acara membersihkan, mengatur, dan mendekorasi hotel semeriah mungkin untuk para tamu undangan.


Lantai bawah adalah ruang yang paling luas, semua para tamu akan berkumpul untuk mendengarkan sepatah kata dari beberapa orang penting pemegang saham tertinggi di kampus tersebut.


Lantai dua akan di isi oleh para alumni dari 88 sampai tahun 92. Di lantai 3 juga di isi oleh alumni tahun 93 sampai 97. Di lantai 3 dan lantai 4 juga begitu, di isi oleh alumni tahun sebelumnya. Dan untuk pesta dansanya di adakan di lantai satu, setelah semua serangkaian acara sudah selesai.


Di lantai 5 terisi dengan permainan, catur, kartu, dan bersantai. Sementara pintu kamar di buka di lantai 6, untuk yang ingin istirahat. Di lantai 7 dan 8 adalah milik pribadi sang pemilik hotel.


Untuk keamanan, mereka memasang cctv di setiap sudut ruangan dari halaman parkir sampai di lantai 6. Yang di pantau langsung empat orang di samping hotel.


Untuk makanan dan minuman, pihak penyelenggara menyewa chef terkenal di luar negeri untuk menyajikan makanan-makanan international.


Para tamu undangan mulai berdatangan memenuhi ruang hotel. Para alumni-alumni sebelumnya sudah 85% yang hadir.


Nampak Zahidin Mufajrin beserta ayah dan kakeknya telah datang memasuki ruang hotel.


Para mahasiswa dan mahasiswi yang masih status pelajar sekarang, juga sudah mulai berdatangan.


Para pemegang saham kampus yang lainnya juga telah berdatangan.


Dari tempat berdirinya, di lantai dua, Zahidin mengedarkan pandangan mencari sosok Fitri Raihana di antara kerumunan orang-orang. Namun, wanita itu belum terlihat.


Dia menghela nafas. Saat berbalik dia melihat Zulfa, Hasan, orang tua mereka serta kakek mereka yang jalan ke arahnya.


”Papa, Kakek, aku pergi dulu sebentar. Ingat, Papa dan Kakek jangan banyak berulah dan berkata apapun, jika masih inginkan Zahidin Mufajrin untuk menjadi pewaris. Sebelumnya, Fajrin sudah katakan kalau Fajrin tidak suka di jodohkan. Fajrin pergi.” dia bergegas pergi setelah berucap.


”Apa itu cucuku?” sang kakek terkejut melihat sikap Fajrin.


”Tentu saja cucu mu. Jangan heran sikapnya menurun dari siapa?” ucap papanya Fajrin.


Sang kakek terdiam. Sikap anak dan cucunya memang menurun dari dirinya.


”Kakek, Om. Apa kabar?” sapa Zulfa.


”Kabar, baik. Ini Zulfa dan Hasan? Wah, sudah besar rupanya. Cantik dan juga tampan.” puji sang kakek.


Kakeknya Zulfa dan kakeknya Zahidin juga saling menyapa. Begitu juga dengan orang tua Zulfa, saling menyapa dengan papanya Fajrin.


”Lama tidak bertemu. Bagaimana kabar mu selama di luar negeri?” kakek Zulfa bertanya pada kakek Zahidin.


”Alhamdulillah, aku baik-baik saja. Kamu sendiri bagaimana? Kenapa tidak meluangkan waktu untuk mengunjungi ku di luar negeri?” kakek Zahidin balik bertanya.


”Aku hanya ingin menikmati masa tuaku di dalam negeri. Oh, iya. Bagaimana dengan perjodohan cucu kita? Bukankah waktunya sangat bagus sekarang untuk umumkan pertunangan cucu-cucu kita, kan? Bagaimana menurut mu?”


Zulfa tersenyum malu-malu dan menunduk saat kakek Zahidin melihatnya. Dia dulu bersama kakeknya Zulfa bercanda gurau tentang perjodohan. Gak tahunya, kakeknya Zulfa menanggapi dengan serius.


Awalnya kakek Zahidin juga menyetujui dan sudah menetapkan tanggal pertunangannya, di saat ulang tahun kampus. Dan memang inilah waktunya.


Tetapi, beberapa bulan yang lalu, saat Fajrin menemuinya di luar negeri, Fajrin mengatakan penolakannya.


”Papa, Papa bicara apa? Bukankah, aku sudah bilang kalau papanya Fajrin sudah membatalkan perjodohan itu.” papanya Zulfa menegur papanya.


”Ah, iya. Aku minta maaf, perkataan ku itu hari mengenai cucu-cucu kita. Bukankah waktu itu aku juga bilang jika salah satu cucu kita tidak ada setuju, maka perjodohan itu batal. Cucu ku ternyata tidak setuju. Jadi, perjodohannya di batalkan.” sambung kakek Zahidin.


Tidak menyangka, ternyata kakeknya Zahidin menyetujui pembatalannya. benak Zulfa.


”Tapi...”


”Kakek, sudah begini. Jangan di paksakan. Kakek dan kakeknya Zahidin jangan bertengkar dan berdebat hanya karena pembatalan perjodohannya.” nasehat Zulfa pada kakeknya.


”Ucapan cucu mu betul. Cucu mu juga cantik, dia akan mendapatkan jodohnya yang baik lagi dari cucu ku.” sambung kakek Fajrin.


Kakek sialan. Padahal aku sudah menyinggung masalah persahabatan mereka untuk tetap melanjutkan perjodohan karena mengingat betapa kuatnya persahabatan mereka. Tidak di sangka, itu tidak berguna sama Sekali. benak Zulfa.

__ADS_1


Suara dari pembawa acara sudah terdengar menyapa para petinggi-petinggi kampus dan para alumni-alumni kampus juga menyapa para mahasiswa dan mahasiswi yang masih kuliah di kampus tersebut.


”Acara sudah di mulai. Ayo, sebaiknya kita ke sana. Karena kita akan menyampaikan sepatah dua kata para tamu yang hadir.” kakek Zahidin mengajak anaknya, orang tua Zulfa dan kakek Zulfa untuk mengisi tempat duduknya.


”Ah, baiklah. Ayo.” sahut kakeknya Zulfa.


Mereka akhirnya pergi.


”Kakak mana obat yang kakak bilang?” Zulfa meminta obat yang di janjikan Hasan untuknya.


Hasan mengeluarkan obatnya dan memberikan pada Zulfa. ”Usahakan kamu sendiri yang melarutkan ini di minumannya Zahidin dan tungguin dia. Kalau dia sudah mabuk, bawa dia ke lantai enam. Kamar hotel yang di buka hanya di lantai enam saja. Mengerti?”


”Mengerti!” Zulfa mengambil obat itu dari tangan Hasan dan menyimpannya baik-baik di dalam tasnya.


”Ok, aku pergi cari Hana dulu.” Hasan pergi dari sana.


Zulfa juga pergi mencari Zahidin.


.. ..


Di rumah Fandi.


”Ardi, cepat panggil adik mu. Kita sudah terlambat ini.” titah Fadil pada Ardi.


”Papa dan Mama duluan saja kalau begitu. Hana dan Ardi akan menyusul.” usul Ardi.


”Baiklah. Kamu bawa motornya pelan-pelan kalau berangkat nanti.” nasehat Fandi.


”Iya, Pa.”


Akhirnya Fadil dan Fatma pergi duluan.


Ardi kembali masuk ke dalam rumah. Dia pergi ke kamar Hana. Ardi membuka pintu Hana, pintu terkunci dari dalam.


Tok tok tok! ”Hana, sudah belum?”


”Kenapa?”


”Hana gak mau memakai baju warna merah.”


”Kalau gitu ganti saja dengan yang lain.” usul Ardi.


”Kalau gak kenakan baju ini, takutnya Fajrin akan memarahi ku dan melarang ku untuk masuk ke dalam hotel.”


”Kalau begitu pakai saja baju ini. Warnanya juga cantik, modelnya juga bagus. Apanya yang membuat kamu ilfil pada baju ini?” Ardi penasaran.


Fitri terdiam. Warna merah membuat ku jijik pada diriku... berkali-kali aku merayu Randi memakai gaun seksi berwarna merah untuk menggodanya waktu itu hanya demi untuk menyentuh ku. Sekarang aku berpikir, betapa bodohnya aku saat itu. benaknya.


”Lalu, kamu bagaimana? Mau pergi gak?” Ardi kembali bertanya saat melihat Fitri yang terdiam memandangi baju yang ada di tangannya.


Apa aku pakai saja? benak Fitri.


”Kakak, kakak tahu butik baju langganan mama berada? Tolong antar Hana ke sana.” pinta Fitri.


Kening Ardi mengerut. ”Pakai ini saja, Hana! Kalau gak mau pakai yang ini, pakai baju pesta mu yang ada di lemari mu.”


”Kakak, please antar aku ke sana.”


Ardi menghela nafas. ”Baiklah! Ayo pergi.” dia mengalah. Dia melangkah keluar dari kamar Fitri.


Fitri tersenyum senang. Dia pergi menyusul Ardi. Tidak lupa, dia membawa baju pemberian Fajrin.


Dia dan Ardi pergi ke butik langganan Fatma. Beberapa menit berlalu, mereka telah sampai di butik yang di maksud.


Di dalam butik.


”Mba, ada baju yang sama dengan baju ini gak?” Fitri menggerai baju yang ada di tangannya memperlihatkan pada pegawai butik.

__ADS_1


”Maaf, Mba. Kalau yang seperti ini gak ada. Ini baju asli dari perancangnya langsung, ada nama perancangnya di pinggir gaunnya. Dan baju ini sepertinya baru di rilis, keluaran terbaru. Biasanya harganya sangat tinggi.” ungkap sang pemilik butik yang baru saja datang.


Fitri Terkejut. Matanya membulat. Gila! Yang benar saja! Fajrin membelikan aku baju keluaran terbaru, yang baru di rilis. Baju ini juga langsung dari Paris. benaknya.


”Jadi, bagaimana Mba?” tanya si pemilik butik.


Sudah sampai di sini. Aku melihat gaun-gaun di sini pada seksi. Masih agak tertutup gaun yang ada di lemari pakaian ku. Jika kembali lagi...kakak pasti marah besar. Mau tidak mau...aku pakai ini saja. benak Fitri.


”Mba, tolong dandanin aku. Tapi, yang simpel saja, jangan tebal. Dandanan yang feminim saja.” pinta Fitri pada pemilik butik.


”Siap!”


Fitri duduk di kursi. Pemilik butik bersiap mendandani Fitri, sesuai keinginan Fitri.


.. ..


Di Fazhr Hotel.


Zulfa dan Hasan berkeliling mencari Fitri dan Zahidin, namun, mereka tidak menemukan dua insan itu.


Zahidin sendiri menunggu kedatangan Fitri di dalam mobilnya, di halaman parkir.


”Kemana dia? Dari tadi kok belum datang. Rangkaian acara sudah berjalan setengah, mereka belum hadir juga.” gumam Fajrin, kesal.


Dia melihat mobil Fandi memasuki halaman parkir. Fandi memarkir mobilnya tepat di samping mobil Fajrin.


Kening Fajrin mengerut saat hanya melihat Fandi dan istrinya saja yang turun dari mobil. ”Loh, dimana Hana dan Ardi? Apa mereka tidak akan datang?” dia turun dari mobil.


Dia mengejar langkah Fandi dan Fatma yang masuk ke dalam hotel. Dia melihat Fandi yang berjalan ke arah papa dan kakeknya.


Fandi terlihat berbincang ringan bersama papa dan kakeknya. Fajrin menghampiri mereka.


”Nah, ini dia. Kamu dari mana saja? Dari tadi kamu di cariin sama kolega-kolega Papa dan Kakek.” ucap papa Fajrin.


”Dari toilet, Pa.” jawab Fajrin berbohong.


”Em... Fandi, kamu datang berdua dengan istrimu saja? Mana anakmu?” tanya papa Fajrin pada Fandi.


”Iya, dimana Hana dan Ardi? Mereka tidak datang?” sambung Fajrin.


”Kamu kenal anaknya Fandi?” kini Fajrin dapat pertanyaan dari sang papa.


”Iya, Pa.” jawab Fajrin, singkat.


”Apa Hana dan Ardi tidak datang ke acara?” Fajrin mengulang pertanyaannya pada Fandi.


”Wow! Coba lihat wanita dengan pria itu. Mereka tampak cantik dan tampan. Sangat serasi!”


”Iya, siapa mereka ya? Masih terlihat muda, apakah pasangan yang baru lulus tahun kemarin?”


”Aku iri sama wanita itu! Coba lihat pakaiannya, sepertinya itu keluaran terbaru.”


Fajrin menoleh ke arah pintu masuk hotel saat mendengar komentar-komentar yang tertangkap di telinganya.


Dia terkejut, terpana saat melihat wanita yang di bicarakan itu. Dia menelan saliva nya dengan kasar. Sedikit pun matanya tidak terpejam memandang wanita itu. Degup jantungnya sangat kencang. ”Cantik!” gumamnya tanpa bersuara.


Suatu kesalahan bagiku. Kenapa bukan aku yang menjemput dia dari rumahnya. Hah! Gila, rasanya aku ingin membawa dia ke kamar hotel pribadi ku sekarang. benak Fajrin.


Fandi dan Fatma tersenyum, ” Itu kedua anakku. Mereka baru datang.” jawabnya.


Ardi dan Fitri berjalan menghampiri kedua orang tuanya. Pandangan mata Fitri bertemu dengan pandangan mata Fajrin. Mereka berdua saling memuji dalam hati.


”Hana, Ardi, kenalkan beliau adalah atasan Papa yang lama, papa dari Fajrin. Ayo di sapa.” titah Fandi.


Ardi dan Fitri pun menyapa papanya Fajrin.


Fajrin tidak pernah melepaskan pandangannya pada Fitri.

__ADS_1


__ADS_2