Fitri Raihana

Fitri Raihana
epos 24


__ADS_3

Di perusahaan Wisma grub.


”Pak Fandi, bagaimana dengan pemberian ku?” tanya Fajrin.


Fandi masih terdiam. Ia tidak tahu ingin berpendapat apa. Dia memang sudah memberi restu untuk Fajrin mendekati anaknya.


Tetapi, Fandi tidak mau menerima apapun pemberian Fajrin untuk anaknya. Karena itu tidak pantas. Apalagi pemberian Fajrin itu adalah sebuah mobil dan langsung dengan supir pribadinya untuk Fitri


”Aku hanya ingin yang terbaik untuk tunangan ku...” ucap Fajrin lagi.


Anakku masih belum jadi tunangan mu. Aku hanya memberikan restuku untuk kamu dekat dengan anakku. Kalian berdua masih belum punya hubungan apa-apa. benak Fandi.


”Tapi...menurut saya, itu tidak perlu Pak direktur. Ada Ardi, kakaknya, yang selalu antar dan jemput Hana ke kampus. Ini juga..baru pertama kalinya Hana pulang menggunakan bus. Mungkin saja dia tidak ingin mengganggu pekerjaan kakaknya, jadi, dia ikut bersama temannya pulang naik bus.” jelas Fandi, memangkas ucapan Fajrin.


”Aku tidak suka melihat tunangan ku bersusah payah datang ke halte dan menunggu bus datang. Keamanan di sana juga tidak terjamin, bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Jika Hana pulang kuliah secepat itu, aku yakin, bukan hanya sekali dia akan naik bus. Dia akan terus mengulanginya.” papar Fajrin.


”Tapi...bukankah, jika memberikan mobil dan supir pribadi untuk Hana..ini terlalu berlebihan? Saya tidak ingin Hana berpikir, jika kehidupannya di batasi. Dan apa nanti kata tetangga rumah kami dengan adanya mobil mewah terparkir di depan rumah kami? Lagi pula, bukan kah Bapak tahu sendiri, Hana tidak menyukai Bapak. Jadi, Hana pasti akan langsung menolak pemberian Bapak.” alibi Fandi agar Fajrin tidak kecewa dengan penolakan nya atas pemberian Fajrin.


Fajrin mengangguk, membenarkan alibi Fandi.


”Selama ini, memang Ardi yang selalu antar jemput Hana. Dia selalu menunggu kakaknya selesai kerja, baru Hana pulang bersama kakaknya. Tapi, setelah dia bangun dari pingsan, saya memang merasakan perubahan pada diri Hana. Mungkin, dia ingin suatu kebebasan dalam melakukan keinginannya sendiri, tanpa di batasi dan di atur. Jadi....”


”Jadi, menurut mu...biarkan saja Hana pulang naik bus?” pangkas Fajrin.


”Iya...yang penting dia bisa menjaga dirinya dengan baik. Dan saya lihat, dia bisa melindungi dirinya sendiri. Jadi, saya ingin memberinya kebebasan.” jawab Fandi.


Fajrin terdiam sesaat. ”Baiklah, aku akan setuju dengan penolakan mu ini. Tapi, biarkan aku mengutus pengawal pribadi ku, dua orang, untuk menjadi pengawal bayangan Hana. Keselamatannya adalah yang utama.” ujar Fajrin.


”Baik, aku setuju. Terima kasih, Anda begitu perhatian pada putri ku.” ucap Fandi.


Fajrin tersenyum, ”Dia adalah tunangan ku, calon istriku...sudah tugasku untuk memperhatikan dirinya.” jelasnya.


”Baiklah! Pak Fandi, sudah saatnya pulang kerja. Temani aku makan siang.” Fajrin berdiri, mengambil jas dan memakainya.


”...naik mobil ku saja. Mobil mu, biar anak buah ku yang membawakannya ke rumah mu.” lanjut Fajrin berucap.


”Baiklah!” Fandi menurut. Lagi pula, jika ia menolak, apakah Fajrin bisa menerima penolakannya itu?


Mereka berdua keluar dari ruangan Fajrin. Dengan menggunakan lift pribadi untuk direktur, mereka berdua turun ke lantai satu.


Fandi melihat dari dinding kaca besar, jika di depan kantor sana, mobil Fajrin sudah menunggu. Mereka berdua keluar dari kantor.


Ia melihat anak buah Fajrin membuka pintu belakang mobil, saat mereka berdua mendekati mobil.


Suatu kehormatan bila anakku menikah dengannya. Anakku akan di hargai, di hormati, di perlakukan dengan baik. Tetapi, apakah anakku juga akan bersikap angkuh jika sudah menjadi nyonya besar kelak? benak Fandi.


”Silahkan masuk, Tuan!” ucap pria itu.


Fajrin masuk ke dalam mobil. Fandi menyusul. Pria tersebut kembali menutup pintu mobil dengan pelan.


”Jalan! Ke restoran biasa.” titah Fajrin untuk supirnya.


”Baik, Tuan.” ia pun mulai menjalankan mobilnya.

__ADS_1


.. ..


Di kediaman Fandi.


Ardi menepikan motor di halaman rumah. Ia melihat mobil ayahnya sudah terparkir di sana.


”Assalamu 'alaikum!” ia langsung masuk ke dalam rumah.


”Wa alaikum salam!” sahut Fatma.


Ardi melihat mama nya sedang duduk di kursi, sedang menonton tv. Ardi duduk di sebelahnya.


”Ma, kok, Mama hanya duduk sendirian menonton tv? Hana dan papa di mana?” tanya Ardi.


”Hana ada di kamarnya, sedang istirahat. Papa mu belum pulang.” jawab Fatma, tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar televisi.


”Papa belum pulang?” Ardi mengulang ucapan mamanya.


Fatma melihat Ardi sekilas, ”Iya.” jawabnya.


”Tapi, di depan itu ada mobilnya papa.” wajahnya terlihat bingung.


”Iya. Tapi, supirnya Fajrin yang membawanya pulang ke rumah. Papa mu sedang menemani Fajrin makan siang.” jelas Fatma. Ardi mengangguk mengerti


”Kamu sudah makan siang?” tanyanya pada Ardi.


”Belum. Ardi ke kamar dulu, Ma.” ia berdiri.


”Iya, Mah.” Ardi pergi ke kamarnya. Menyimpan tas kerja dan segera berganti pakaian.


Setelah berganti, ia pergi ke dapur. Ia mengambil makanan dan pergi ke kamarnya Fitri.


Ardi membuka pintu kamar Fitri, namun, tidak bisa. Fitri mengunci pintu kamarnya.


Sudah beberapa kali saat aku ingin membuka pintu kamar Hana, selalu terkunci. Tidak biasanya Hana mengunci pintu kamarnya. Adikku ini benar-benar berubah setelah bangun dari pingsan. benak Ardi.


Tok tok tok! ”Hana...bukain pintunya, dong! Kakak ingin masuk! Han...!” Ardi kembali mengetuk pintu, ”Hana... han...!”


Pintu kamar terbuka. Ardi melihat rambut Fitri berantakan, mukanya kusut, dan sedang menguap.


”Baru bangun?” tanya Ardi. Ia berjalan masuk ke dalam kamar Fitri. Ia duduk di kursi meja hias dan memakan makanannya.


Hana kembali menutup pintu. Ia berjalan ke ranjang dan duduk bersandar di sana. ”Iya. Kakak baru pulang dari kerja?”


Ardi menelan makanan di mulutnya, ”Iya. Kenapa kamu tidak menunggu kakak saat pulang? Biasanya juga kamu selalu nungguin kakak, di kantornya kakak.”


”Kakak tahu dari mana kalau Hana sedang di halte bus?” Fitri balik bertanya pada Ardi.


”Dari Fajrin, atasannya papa, calon adik ipar ku.” jawab Ardi.


”Calon adik ipar apanya? Siapa yang mau sama dia? Kakak jangan bicara sembarangan, yah!” elak Fitri. ”Dia sendiri tau dari mana aku di sana?” tanyanya pada Ardi. Ia penasaran.


”Kamu belum jawab kakak. Jawab dulu pertanyaan kakak, baru kakak jawab pertanyaan mu itu.” Ardi memasukkan lagi makanan ke mulutnya.

__ADS_1


Fitri berdiri dari ranjang, ia berjalan mendekati Ardi, duduk di samping kursi Ardi. ”Bukankah kakak sudah tahu mengapa Hana bertanya tentang harga bus dan sebagainya pada kakak tadi pagi itu, untuk apa? Hana ingin sesekali pergi dan pulang ke kampus naik bus bersama teman.”


”Kenapa? Kamu sudah tidak mau kakak yang antar jemput?” wajahnya terlihat sedikit sedih.


”Bukan begitu kakak ku, sayang! Kalau Hana pingin naik bus, Hana akan naik bus. Kalau Hana pengen di antar kakak, baru Hana akan meminta kakak mengantar Hana...”


”Hum...kakak tahu nih!” pangkas Ardi. Ia meminum air. Fitri melihat Ardi dengan serius. Apa yang Ardi tahu?


”Pasti Hana sedang mengikuti seseorang secara diam-diam. Pasti Hana tertarik dengan seorang pria yang sering menggunakan bus ke kampus. Iya, kan?” tebak Ardi.


Fitri merubah raut wajahnya. Ia sedang memikirkan apa yang telah Ardi ketahui tentangnya. Rupanya, Ardi malah bicara yang omong kosong.


”Kakak ini... ada-ada saja! Siapa juga yang lagi menyukai seseorang! Bukan kah Fit eh Hana sudah bilang pada kakak dan mama, kalau Hana lagi serius dan fokus dengan kuliah Hana dari pada memikirkan tentang pacaran, kan?”


Ardi mengangguk, melihat Fitri. Mulutnya masih mengunyah makanan.


”Jadi...jangan bicara ngawur tentang seorang pria di hadapan Hana. Jadi, dia tahu dari mana kalau Hama ada di halte bus? Bukan kah kakak bilang kakak tidak mengenal Fajrin? Mengapa bisa kakak dan dia berkomunikasi? Berarti kakak bohong sama Hana waktu itu.”


Ardi telah menghabiskan makanan dan minumannya.


”Kakak tidak bohong, sayang! Kakak memang tidak mengenal Fajrin. Kakak juga bingung dari mana dia dapat nomor kakak dan menghubungi kakak, memberitahukan kakak keberadaan kamu di halte bus. Dia melihat mu saat mobilnya melewati jalan di mana kamu berdiri menunggu bus bersama penumpang lainnya.” jelas Ardi.


”Benarkah?” ia seakan tidak percaya dengan penjelasan Ardi.


Ardi mengangguk.


”Mungkin dia dapat nomor kakak dari papa, kan dia atasannya papa.” tebak Fitri.


”Mungkin! Bagiamana kuliah mu tadi? Lancar?” tanya Ardi.


”Alhamdulillah kak, semuanya berjalan lancar. Materi yang dosen jelaskan tadi, sebelumnya Hana sudah mempelajarinya. Kan Hana sudah lulus kuliah beberapa tahun yang lalu.” jawab Fitri.


”Hum? Sudah lulus kuliah sebelumnya? Kapan?” tanya Ardi, ia melihat Fitri dengan serius.


Fitri tersadar, ia telah keceplosan berbicara. ”Em.. maksud Hana... Hana... sudah mempelajari materi dari catatan dan buku kakak Ardi, setelah kakak lulus kuliah beberapa tahun yang lalu.” alibinya, ia tersenyum kaku melihat Ardi. Semoga kakaknya percaya dengan alibi yang di ucapkannya.


Ardi masih melihat Fitri yang sedang salah tingkah itu. Meskipun alibi Fitri di ragukan, ia menerima saja alibi Fitri itu.


”Bagus! Jika kamu terus mempelajari materinya kakak yang sudah lalu, kamu akan cepat lulus kuliah. Dan kamu bisa bekerja di sebuah perusahaan besar.” puji Ardi.


Ia berdiri sambil memegang piring kotornya. ”Kakak keluar dulu. Oh iya, jam lima sore nanti, kakak dan papa akan lari sore seperti biasanya. Apa kamu mau ikut lari bersama?” tanya Ardi.


”Iya, kak. Hana ikut nanti.” jawab Fitri.


Aku kira dia akan menolak, berpikir apa aku ini? Dia tetap Fitri Raihana adikku. Bagaimana bisa aku berpikir dia adalah orang lain? Hanya karena sikapnya ada yang berubah saat dia terbangun dari pingsan. benak Ardi.


Ia tersenyum, ”Ok! Jika kamu ingin istirahat, istirahatlah lagi. Nanti kakak akan membangun kan kamu, kalau kita akan lari sore.”


”Iya, kak.” jawab Fitri.


Ardi pun pergi dari kamar Fitri.


Fitri menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Kadang, ia bicara keceplosan tentang masa lalunya dulu pada Ardi. Untung saja dia punya banyak alasan untuk menjelaskannya, agar Ardi tidak banyak bertanya dan penasaran tentang ucapannya.

__ADS_1


__ADS_2