
Perjalanan ke taman bunga milik keluarga Fandi.
Fitri menikmati setiap pemandangan yang mereka lalui. Bahkan senyum selalu menghiasi bibirnya.
Dulu, ibu ku juga pernah mengajak ku jalan ke ke taman bunga milik adiknya ibuku. Sekarang, aku pergi ke taman bunga milik mamaku, opst! Milik mama Hana.
”Apa masih jauh taman bunga nya, Ma?” tanyanya pada Fatma.
”Tidak jauh lagi, sayang! Kenapa? Gak sabar mau lihat seberapa besar taman bunganya Mama?”
”Bukan, Ma! Fit...eh...em...Hana gak sabar untuk melihat bunga apa saja yang sudah Mama tanam di sana. Bukan penasaran pada luasnya atau sebesar apa taman bunganya Mama itu.”
”Puft! Hahaha!” Ardi tertawa. Ia tidak mengira Fitri berani beradu argumen dengan mamanya. Fatma membelalakkan mata melihat Ardi yang menertawakannya.
”Ardi berhentilah tertawa! Hana! Bisakah kamu memberikan muka pada Mama mu ini?” Wajahnya di buat cemberut. Fitri tersenyum, memamerkan gigi-giginya yang rata pada Fatma.
”Maaf Ma, jika perkataan Hana melukai perasaan Mama. Tapi itu benar! Hana penasaran dengan macam-macam tanaman bunga Mama, bukan luasnya taman bunga yang Mama miliki.”
Fatma mendengus kesal, ia mengira Fitri akan memujinya seperti sebelum-sebelumnya. Tetapi harapan untuk di puji sirna, Fitri malah tidak memberikannya muka.
”Sudah! Sudah! Diam! Jangan bahas lagi! Kejujuran mu... menyakiti ku! Nanti sampai di sana baru kamu lihat sendiri bunga-bunga apa saja yang sudah Mama tanam.” Bicaranya terdengar ketus. Namun, sebenarnya ia tidak sedang marah. Hanya sedikit merajuk pada Fitri.
Ardi tersenyum melihat Fitri dari kaca spion mobil.
Hana benar-benar berubah. Tapi, aku suka dengan perubahan Hana sekarang ini. Dia mandiri, ceria, dan menjadi dirinya sendiri. Semoga dia tetap seperti ini. benaknya.
”Oh, iya, kenapa Mama mesti menanam bunga jauh dari rumah? Di samping rumah kan masih ada tanah kosong, meskipun ukurannya hanya 4 x 5 meter, sudah tergolong besar untuk menanam bunga. Mengapa mesti jauh-jauh tanamnya?” tanya Fitri lagi. Ardi menghentikan mobil dengan tiba-tiba sambil melihat Fitri.
Apa dia benar-benar lupa? Bukankah tanah kosong itu dia sendiri yang minta untuk memperluas kamarnya? Jika dia tidak memintanya, mama memang akan menanam bunga di sana. benak Ardi.
Fatma juga demikian, ia melihat Fitri dengan bingung. Karena Hana lah yang meminta dirinya untuk menanam bunga di tanah kosong yang luas itu. Tanah milik dari almarhum ibunya, neneknya Hana.
”Kenapa? Apa pertanyaan Hana salah?” Fitri melihat Ardi dan mama nya bergantian dengan bingung.
Fatma masih melihat Fitri. Sementara Ardi, kembali menyalakan mobilnya.
Wajah Fatma berubah sedih. ”Fitri! Setiap kali kamu terbangun dari pingsan. Mengapa kamu selalu membuat perubahan? Kamu membuat Mama khawatir saja!”
Fitri terdiam, menatap Fatma dengan sedih. Maaf, aku bukan Hana, anak mu. Aku adalah Fitri Raihana, anak orang lain. Yang memiliki wajah, tubuh, dan nama yang sama dengan anak mu, Hana. benaknya.
”Mama takut jika kamu keseringan jatuh pingsan dengan tiba-tiba, kamu bahkan akan melupakan Mama, kakak mu, dan papa mu.” Mata Fatma berkaca-kaca. Fitri menggenggam jemari tangan Fatma. Ia tersenyum tipis.
”Mama, Maaf, Hana selalu membuat Mama khawatir! Hana sekarang sudah tidak apa-apa. Bukankah Mama dengar sendiri dari dokter kalau fisik dan mental Hana baik-baik saja, kan?” Fitri tidak ingin membuat Fatma cemas padanya. Fatma mengangguk.
”Itu artinya, Mama tidak perlu khawatir lagi dengan kondisi tubuh Hana. Hana akan baik-baik saja sekarang.” Jelasnya.
Karena Hana kalian sudah meninggal dan membawa penyakit anehnya itu bersamanya. Sedangkan aku, yang ada di hadapan kalian ini memiliki fisik dan mental yang kuat. benak Fitri.
__ADS_1
”Baiklah! Mama gak akan cemas berlebihan! Yang penting kamu jaga diri baik-baik. Dan usahakan, kamu jangan terlalu kaget dengan hal-hal baru yang kamu dengar, agar kamu tidak pingsan dengan tiba-tiba. Ok?”
”Ok! Fit...eh...em...Hana janji! Hana gak akan pingsan lagi secara tiba-tiba. Hana gak akan membuat Mama khawatir lagi.”
Ardi membelokkan mobil memasuki taman bunga.
”Apakah kita sudah sampai?” Fitri mengagumi pemandangan yang nampak di netra matanya itu. Ia terkesima melihat bunga mawar yang beraneka ragam warna. Bunga mawar yang di rangkai indah membentuk gambaran hati. di tengahnya di tanamkan mawar putih dan di pinggirnya di tanami mawar merah.
”Wow! Sangat indah!” Pujinya tulus. Senyumnya menghiasi bibirnya. Ardi melihat kembali senyuman indah milik adiknya itu.
Sangat cantik! Senyuman ini adalah senyuman yang terukir dari bibir Hana dengan tulus. Aku ingin melihat adikku terus tersenyum seperti ini. benaknya.
Fatma ikut tersenyum melihat senyuman anak gadisnya itu.
”Iya, kita sudah sampai. Yang kamu lihat itu baru awalnya, tujuan kita masih di dalam sana. Di sana, kamu akan lebih terkesima dengan taman bunga ini. Dan, setelah itu, puji lah Mama mu ini yang menanamnya dan mengaturnya sedemikian indah.” Fatma membanggakan dirinya.
”Mama benar-benar ingin mendengar Hana memuji Mama?”
Wajah Fatma kembali di tekuk, Fitri benar-benar mempermainkan ucapannya. Ardi kembali tertawa.
”Hana, bukankah kamu selalu memuji Mama? Kenapa sekarang mendengar pujian mu susah sekali? Apakah kamu masih anakku?” Fatma berpura-pura sedih. Fitri cuek saja.
Ardi menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah kecil yang sederhana. Ia melihat kebelakang, melihat mama dan adiknya itu.
”Kita sudah sampai! Hentikan saja drama Mama, Hana gak akan terpengaruh. Ayo turun!” Ucap Ardi. Fatma membelalakkan mata melihat Ardi. Fitri menahan tawa.
”Baiklah! Kamu dan adik mu bekerja sama menyakiti hati Mama. Mama tidak akan memasak untuk kalian berdua meski kalian memohon!” Fatma turun dari mobil. Ia sedang merajuk.
Ardi mengangkat kedua bahunya. ”Mungkin!” Ia membuka pintu mobil dan turun. Fitri pun ikut turun dari mobil. Ia melihat Mamanya berjalan ke arah rumah.
Ardi menurunkan barang-barang dari mobil. Kedua tangannya penuh dengan barang bawaan.
”Aku bantu kakak memegang ini.” Fitri meraih bahan makanan dari tangan Ardi dan berjalan memasuki rumah yang sederhana itu.
Ardi membiarkannya, ia berjalan sambil tersenyum membawa koper pakaian.
Kalau dulu, dia sangat manja... tidak mau memegang apapun di tangannya, selain tas kecil miliknya. Sekarang, ia berinisiatif untuk membantu ku memegang barang.
Mereka telah masuk di dalam rumah yang sederhana itu, yang berada di tengah taman bunga.
”Wow! Apakah desain rumah sederhana ini... idenya Mama juga?” Fitri mengagumi bangunan sederhana itu. Fatma tidak menjawab, ia masih merajuk.
”Rumahnya terlihat sederhana dari luar... tapi di dalamnya luar biasa!” Fitri memuji Fatma. Ia menghampiri Fatma yang masih merajuk, ia memeluknya dari belakang, dagunya, ia simpan di bahu kanan Fatma.
”Ternyata Mama ku sangat jenius! Pintar, pandai, dan...” Ucapannya di pangkas langsung oleh Fatma.
”Dan apa? Ingin merayu Mama? Mama tidak akan terpengaruh!” Tegas Fatma sambil melepaskan tangan Fitri dari bahunya. Sebenarnya ia tersenyum senang, akhirnya anaknya itu memujinya.
__ADS_1
Fitri terbengong, tidak percaya, jika mamanya sedang merajuk terlihat seperti anak-anak.
Ardi tersenyum melihat drama romantis yang di tunjukan oleh adik dan mamanya itu.
*
*
*
Di kediaman Cindy.
Cindy keluar dari kamar dengan membawa koper di tangan kanannya. Wajahnya terlihat marah.
Ia meletakkan koper itu di atas meja dan membuka kopernya di hadapan Dian, memperlihatkan isi dari koper tersebut. Mata Dian berbinar sambil tersenyum senang.
”Papa! Ambillah uang ini, semuanya ada lima ratus juta! Cindy membantu Papa cukup kali ini saja! Papa berhentilah bermain judi! Carilah pekerjaan yang bagus untuk Papa kerjakan.” Omelnya pada Dian. Dian mengambil satu ikat uang dan menghirup baunya. Ucapan Cindy seakan tidak di dengarnya.
”Ok! Ok! Papa akan berhenti main judi! Tapi, mintalah Randi untuk memberikan pekerjaan untuk Papa, di kantornya.” Dian meletakkan kembali uang di tangannya ke dalam koper lalu menutup koper uang itu dan menaruhnya di sampingnya. Kening Cindy mengerut melihat Dian. Cindy duduk di sofa tunggal.
”Itu tidak mungkin, Papa! Perusahaan tidak sedang membuka lowongan pekerjaan. Papa carilah pekerjaan lain di kantor lain! Jangan merepotkan Randi! Sekarang, Papa pulanglah! Sebentar lagi Randi akan pulang.” Cindy mengusir halus papanya.
”Baik! Baik! Papa akan pulang sekarang!” Dian beranjak berdiri dan mengambil koper uang miliknya. Ia tidak ingin membuat Cindy semakin kesal dan marah padanya.
”Ingat! Cindy hanya membantu Papa kali ini saja! Jika Papa bermain judi lagi dan punya hutang, jangan coba-coba datangi Cindy lagi!” Tegas Cindy.
”Papa tidak akan main judi lagi! Papa pulang dulu.” Dian berjalan keluar dari rumah Cindy.
Cindy menghela nafas kasar. ”Uang lima ratus juta keluar begitu saja! Jika aku pakai untuk berbelanja, di lemari ku sekarang penuh dengan pakaian dan tas bermerek yang edisinya terbatas!”
*
*
*
Di kantor Randi.
Randi selalu menghela nafas. Handphone tergenggam erat di tangannya.
”Uang lima ratus juta! Dia pakai untuk apa uang sebanyak itu!” Ia marah, namun, kemarahannya itu percuma saja.
Ia pusing saat membaca notifikasi dari bank jika uang lima ratus juta keluar dari rekeningnya.
”Fitri saja yang memegang ATM ku yang isinya tidak sampai dua puluh juta, selama sepuluh bulan berumah tangga dengan ku, hanya terpakai lima juta saja.”
Tangannya menyapu wajahnya kasar.
__ADS_1
”Fitri! Mengapa pergi mu baru menyadarkan ku akan kebaikan hatimu? Bodohnya aku yang terobsesi dengan dendam dan mengabaikan mu.” Wajahnya terlihat sedih. Penyesalan terlihat jelas di matanya.
.. ..