Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 14


__ADS_3

Di hotel X15, di kota B.


Di depan kamar Fandi.


Tok tok tok! ”Tuan Fandi! Apa Anda telah bangun? Tuan ku mencari Anda.” Anak buah Fajrin mengetuk pintu kamar Fandi. Namun, ketukannya itu tidak mendapat balasan.


Tok tok tok! ”Tuan Fandi! Apakah Anda mendengar ku?” Sekali lagi dia ulang mengetuk pintu.


”Ya! Sebentar!” Fandi menyahuti dari dalam. Ia bergegas mengeringkan rambutnya serta menyisirnya. Tidak lupa, ia menata kembali pakaian yang di kenakan nya. Sekarang ia telah rapi.


Ia mendengar ketukan pintu di kamarnya, tetapi ia berada di kamar mandi. Untuk itulah ia tidak segera menjawab panggilan anak buah Fajrin. Fandi membuka pintu.


”Ya, saya sudah bangun dan sudah siap! Bawa saya kepada tuan mu.” Ia keluar dan menutup pintu hotelnya.


”Baik, ikuti saya Tuan!”


”Hum!” Fandi mengangguk. Ia mengikuti langkah anak buah Fajrin untuk menemui direktur perusahaan, tempatnya bekerja.


Di kamar Fajrin.


Anak buah tersebut membuka pintu kamar hotel di depannya. ”Silahkan masuk, Tuan! Tuan ku ada di dalam.” Ia mempersilahkan Fandi untuk masuk.


”Hum!” Fandi melangkah masuk, ia melihat Fajrin sedang duduk dan matanya terpusat pada file yang ada di tangannya. Fandi berjalan menghampiri nya.


”Selamat pagi, Pak direktur!” Sapa nya sopan.


”Hum! Selamat pagi, Pak Fandi! Silahkan duduk!” Ucap Fajrin tanpa melihat Fandi. Fandi menarik kursi dan segera duduk di hadapan Fajrin.


”Pelajari file-file ini, rapat kita dengan kolega akan membahas hal ini.” Fajrin memberikan map berisi file-file penting itu pada Fandi.


Fandi meraih map tersebut dan membaca serta mempelajarinya. Suasana menjadi hening, wajah serius terpancar di kedua wajah pria itu.


”Jadi, perusahaan kita akan bekerja sama dengan perusahaan Wira corp untuk membangun hotel di kota B ini, Pak direktur?” Fandi memastikan kembali hal yang ia baca.


”Hum!” Singkat Fajrin menyahuti.


”Ini adalah hal baru bagi perusahaan kita.” Fandi berkomentar.


”Hum!”


”Kenapa tidak membangun sebuah Minimarket, sebuah mall, atau Indo Maret, Supermarket di lahan tersebut? Di lihat dari kondisi, situasi dan letak lokasi...lahan seluas ini yang berada di tengah perkampungan masyarakat, lahan ini lebih cocok di bangunkan seperti yang saya katakan tadi. Sebab, pasar-pasar di wilayah tersebut berada cukup jauh dari perkampungan masyarakat. Jika ada nya Minimarket, Supermarket, Indomaret, atau mall di sana, memudahkan masyarakat di sana untuk membelanjakan kebutuhan hidup. Jika ingin membangunkan hotel di lokasi ini... sepertinya kurang cocok. Tanahnya memang luas, sangat pas untuk membangun hotel, tapi, kondisi, situasi, dan lokasi tidak mendukung untuk pembangunan tersebut.” Papar Fandi.


Fajrin memperhatikan Fandi saat ia sedang menjelaskan.


Bapak mantu ku ini pintar, jenius, pandangannya jauh ke depan. benaknya.


Ia tersenyum, mengagumi calon bapak mertuanya tersebut.


”Bagaimana tanggapan Pak direktur tentang pendapat saya?” tanya Fandi. Ia mendongak, melihat Fajrin sekilas dan kembali melihat file di tangannya.


”Anda sudah menjelaskan secara detail. Pandangan Anda sangat jeli dalam hal pekerjaan. Perusahaan saya akan merugi bila orang seperti Bapak meninggalkan kantor saya. Saya setuju dengan gagasan Pak Fandi.” Fajrin mengambil file di tangan Fandi dan menutupnya.


Ia memberikan satu file lagi kepada Fandi, ”Baca dan pelajari file ini. Apa pendapat Pak Fandi? Saya menantikannya.”


Fandi mengambil file yang di sodorkan lagi oleh Fajrin. Ia membaca dan mempelajarinya.

__ADS_1


Fajrin kembali memperhatikan Fandi, papanya Fitri Raihana, calon istrinya. Yang sedang serius pada file di tangannya.


”Ini sangat baik! Saya tidak berkomentar banyak, saya setuju dengan pembangunan ini! Mengapa Bapak tidak menambahkan lagi dengan membangun sebuah puskesmas di lahan ini? Di sini... saya melihat untuk puskesmas baru satu saja yang berdiri, luasnya juga tidak seberapa. Jika Bapak menambahkan satu bangunan puskesmas lagi di sini... bukankah itu hal yang bagus?” Papar Fandi, setelah ia membaca dan mempelajari file tersebut.


”Masukan Anda, akan saya rangkum dalam wacana ini. Baik, sebelum kita berangkat untuk bertemu dengan kolega. Mari, kita sarapan pagi bersama, Pak Fandi.” Ajak Fajrin.


”Em...Baik, Pak direktur!” Fandi menyetujui.


”Siapkan sarapan!” Titah Fajrin pada anak buahnya.


”Siap, Tuan!” Sang anak buah tersebut pergi dan menyibukkan diri menyiapkan sarapan pagi.


”Selagi menunggu anak buah saya menyiapkan sarapan, mari kita bicara sedikit masalah pribadi.” ucap Fajrin.


Deg deg deg! Tubuh Fandi bergetar, detak jantungnya berdetak dengan cepat.


Apakah akan membahas pertunangan dengan anakku lagi? benaknya.


Fajrin menyadari kegugupan yang di tunjukkan oleh Fandi. Namun, ia tidak peduli.


”Bagaimana, Pak Fandi? Hanya tinggal beberapa hari lagi untuk hari pertunangan. Mengapa saya belum mendapatkan kepastian dari keluarga Bapak, sampai hari ini?” Fajrin menatap Fandi dengan serius.


Tepat! Sesuai dugaan ku. benak Fandi.


”Maaf, Pak! Saya sudah membicarakan hal ini dengan anak saya. Sikap Hana, masih sama, menolak perjodohan ini.” Fandi berucap sedikit ragu.


”Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku tidak menerima penolakan!” Fajrin mengingatkan.


”Sementara ini... istri dan anak laki-laki saya sedang membujuk Hana. Mudah-mudahan, dalam tiga hari kedepannya sudah ada kepastian dari keluarga kami. Jika....” Ucapannya terhenti melihat gerak tubuh Fajrin.


Fajrin memajukan kepalanya, sedikit dekat ke wajah Fandi. ”Saya tidak ingin ada kata ”Jika, seandainya, misalnya” dalam hubungan ini, Pak Fandi!” Tegasnya.


Selama beberapa bulan, Fajrin menjadi atasannya, Fandi tahu watak pria itu. Jika dia marah, sungguh sangat sulit untuk membujuknya.


Dan jika sudah bertekad, tekadnya sangat kuat. Dan Fandi juga belum tahu tentang asmara pria tersebut.


Tetapi, baginya, tidak mungkin seorang Fajrin yang tampan, menawan, dan berharta ini tidak memiliki kekasih.


Fandi sangat takut jika anaknya akan menjadi orang ketiga, atau semacam hanya di jadikan istri kontrak, atau istri pengganti yang sedang trendnya dalam kisah asmara seorang CEO.


Fandi awalnya tidak rela meninggalkan perusahaan nomor dua tersebut. Tetapi, ia juga tidak ingin menjadikan kebahagiaan anaknya untuk dikorbankan. Fajrin mengatur kembali posisi duduknya.


”Em... Pak Fajrin... jika anak saya, Fitri Raihana tetap pendiriannya untuk menolak pertunangan dengan Bapak...” Ia sengaja menggantung ucapannya. Ia harus merangkai kata dengan hati-hati sebelum di ucapkan.


”Maka saya tidak keberatan jika....jika di depak dari perusahaan Bapak.” Lanjutnya berucap sambil menunduk.


”Alasannya?” Wajah Fajrin tampak biasa.


”Saya tidak bisa mengorbankan kebahagiaan putri saya untuk pekerjaan saya.” Fandi langsung menjawabnya. Fajrin terdiam, melihat serius wajah Fandi.


Hubungan ayah dan anak yang harmonis! Baiklah, kita lihat siapa yang kalah dalam hal ini. Aku atau... kalian!! Fitri Raihana tetap menjadi milikku, istriku di masa depan. benak Fajrin.


”Tuan! Sarapan Tuan dan Pak Fandi, telah siap.” Lapor anak buah Fajrin.


Fajrin mengangkat tangan ke atas, anak buah tersebut mengerti. Ia pergi dari sana mengambil sarapan yang sudah disiapkan itu.

__ADS_1


Fajrin mengambil file-file yang ada di atas meja dan menaruhnya di sampingnya.


Anak buahnya tadi datang kembali bersama dua anak buah lainnya sambil membawa makanan dan minuman.


Satu nampan di taruh di hadapan Fajrin dan satu nampan di taruh di hadapan Fandi. Kemudian, anak buah tersebut pergi dari sana.


”Silahkan di makan sarapan Anda, Pak Fandi.” Fajrin mempersilahkan Fandi.


”Baik, Pak!” Jawab Fandi tanpa sungkan. Mereka berdua memakan sarapannya.


Apapun alasan mu, jenis penolakan apapun yang kalian berikan padaku, aku, Zahidin Mufajrin tidak akan menyerah! Fitri Raihana tercipta untukku! Dia milikku satu-satunya! benak Fajrin.


Apakah istri ku dan Ardi sudah membicarakan hal ini pada Hana? Apakah Hana akan menerimanya? Jika Hana tetap menolak, maka, aku pun tidak ada pilihan lain. Aku harus segera mengurus surat pengunduran diriku sebelum aku di depak dari perusahaan itu.


Sebaiknya, jika aku sendiri yang mengundurkan diri dengan alasan pribadi, aku masih berkesempatan untuk bekerja di perusahaan lain, atau di kantor swasta lainnya. benak Fandi. Ia menghela nafas.


”Apa yang mengganggu pikiran Anda, Pak Fandi? Sehingga Anda tidak berkonsentrasi saat makan.” Fajrin menyadari helaan nafas berat Fandi. Ia telah selesai makan.


”Tidak ada, Pak Fajrin!” Fandi pun menyelesaikan makannya. Meskipun, makanannya tidak ia habiskan.


”Apa Fitri Raihana mempunyai pria lain yang di sukai nya, sehingga menolak ku duluan, Pak Fandi?” Fajrin mencari informasi tentang pribadi Fitri lewat Fandi.


”Maaf, Pak Fajrin, saya tidak dapat menjawab pertanyaan Bapak. Namun, selama ini, tidak pernah Hana bercerita pada kami jika ia mengagumi seorang pria. Tapi, kami tidak tahu bagaimana dia di kampus.” Fandi menunduk, tidak berani menatap wajah atasannya itu.


Di kampus? Di kampus pria yang akrab dengan dia hanyalah Alvin. Tapi, Alvin pacarnya Nita. Sementara dia tidak membiarkan seorang pria pun untuk mendekat padanya. Bahkan padaku juga begitu. Ia berwaspada pada pria lain. Good! Tipe wanita yang ku suka. benak Fajrin.


”Tuan! Direktur dari perusahaan Wira Corp telah sampai di bawah.” Lapor salah satu anak buah Fajrin.


”Hum!” Ia melihat Fandi, ”Bawa berkasnya, mari pergi rapat!” Fajrin berdiri sambil merapikan pakaiannya.


”Baik, Pak!” Fandi mengambil kedua file yang telah ia pelajari. Mereka berdua berjalan berdampingan ke kafe hotel.


Di kafe hotel.


”Selamat pagi, Pak Fajrin! Selamat pagi, Pak Fandi!” Direktur Wira Corp menyambut datangnya Fajrin dan Fandi sebagai perwakilan dari Wisma grup.


”Selamat pagi, Pak Wira! Selamat Pagi Pak Ari!” Sahut Fajrin. Mereka berempat saling berjabat tangan.


”Ah, mari duduk!” Ajak Wira. Mereka berempat pun duduk di kursinya masing-masing.


”Pak Wira, kita langsung saja berbicara pada ke intinya.” Ucap Fajrin.


”Baik, Pak Fajrin! Kita akan mulai rapatnya.”


Mereka pun mulai membahas kerja sama di antara mereka berdua. Fandi dan Ari menjadi perwakilan berbicara dari kedua perusahaan itu sebagai manager sekretaris umum di perusahaannya.


Sahutan dan tanya jawab mereka ajukan. Hingga dalam kurun waktu satu jam lewat empat puluh menit, mereka telah mencapai kesepakatan.


”Baik, saya setuju dengan pendapat dari perusahaan Anda, Pak Fajrin.” Ucap Wira.


Fajrin tersenyum. ”Baik, kalau begitu! Kita sudah deal. Setelah kontrak kerja sama di tandatangani, kita sama-sama melihat lokasi pembangunannya.”


”Baik, besok, surat kontrak kerja sama sudah siap. Kalau tidak ada yang di bicarakan lagi, saya undur diri.” Wira berdiri. Ari, Fandi, dan Fajrin ikut berdiri.


”Silahkan, Pak Wira.” Sahut Fajrin. Mereka kembali saling berjabat tangan. Wira dan Ari meninggalkan hotel.

__ADS_1


”Kembali ke kamar! Sore nanti, kita pergi ke lokasi kedua.” Ucap Fajrin.


”Baik, Pak!” Sahut Fandi. Mereka kembali ke kamarnya masing-masing untuk istirahat.


__ADS_2