
Malam hari di kediaman Fandi.
Makan malam sedang berlangsung di keluarga Fandi. Ardi sekarang tidak terlalu memusingkan dengan perubahan yang dialami oleh Fitri, adiknya itu.
Sudah beberapa hari ini Fitri menghindari makanan yang ada campurannya dengan kol, wortel, dan kacang-kacangan. Fitri juga menolak untuk meminum susu selain susu vanilla.
”Tambah nasi, Han!” tawar Ardi.
”Hah! Gak kak, nanti badan Hana akan gemuk. Hana gak akan cantik lagi.” tolak Fitri. Ia meminum habis airnya.
”Siapa bilang gemuk itu jelek? Lagi pula, badan mu sekarang ini jelek, tidak ada dagingnya, hanya kulit membungkus tulang!” cibir Fatma.
”Papa, lihatlah istrimu! Istrimu mengatai ku kurus dan jelek.” aduh Hana pada Fandi.
”Mama, jangan ledekin Hana terus! Badannya Hana bukan kurus, Mama. Tapi, bodynya Hana termasuk body langsing.” ucap Fandi, membela Hana.
”Iya, Mah. Body nya Hana bagus, kok! Langsing, idaman para lelaki. Tapi, sayangnya... Hana gak doyan cowok!” cibir Ardi.
Fitri jadi kesal. ”Percuma kakak muji Hana...setelah itu kakak mencibir Hana. Siapa yang gak doyan cowok? Kakak sama saja dengan Mama, apakah di mata kakak dan Mama, Hana ini cewek lesbian?” tanya Fitri.
”Loh, kok Mama di bawa-bawa lagi? Mama kan tidak ngomong seperti itu sekarang!” ucap Fatma, membela diri.
”Sudah! Sudah! Pembahasan kalian sudah keluar jalur! Jangan di bahas lagi! Papa tidak mau meja makan ini jadi berantakan. Papa tegaskan sekali lagi di sini. Berhenti membicarakan Hana yang masih sendiri. Hana ini bukan tidak menyukai cowok, tetapi, Hana masih serius dengan kuliahnya. Kalaupun Hana masih belum memiliki pacar saat ini, jangan salahkan Hana. Salahkan para pria yang belum bisa menyentuh hati Hana. Ya kan, Hana?” tanya Fandi pada Hana.
”Betul, Pa!” jawab Hana.
”Iya, Pa. Iya!” ucap Fatma dan Ardi.
”Hum! Ardi, ikut Papa!” titah Fandi pada Ardi.
”Iya, Pa.” jawab Ardi.
Fandi berdiri, Ardi pun berdiri. Ardi mengikuti Fandi yang berjalan ke ruang baca. Sementara Fatma dan Fitri masih berada di meja makan.
”Mama, biar Hana saja yang bersihkan meja makan. Mama beristirahatlah!” ucap Fitri, ia mencegah Fatma yang mengumpulkan piring kotor.
”Baiklah! Anak Mama sudah mulai rajin, Mama sangat suka. Jika kamu sudah rajin dan pandai masak, Mama tidak akan ragu lagi untuk segera menikahkan kamu kalau ada pria yang tiba-tiba meminta mu untuk menikah.” ucap Fatma.
”Mama, dari nada bicaranya Mama ini, apakah Mama sudah ingin mengusir Hana dari rumah? Mama gak sabar lagi untuk melihat Hana pergi dari rumah papanya Hana?”
”Aduh! Kamu jangan salah paham dong, dengan ucapan Mama barusan! Mama gak ada maksud begitu...”
Fitri tersenyum, ”Iya, Mama. Hana tahu kok, Hana hanya bergurau saja. Oh iya, Mama maafkan ucapan Hana tadi.” pangkas Fitri, wajahnya terlihat tulus.
Fatma tersenyum, ia mengelus lengan anaknya itu. ”Tidak apa-apa! Kamu tidak salah bicara. Justru Mama yang minta maaf, tadi sore, sewaktu di taman, Mama sudah meragukan mu.”
”Tidak apa-apa, Mah. Hana mengerti mengapa Mama bertanya dan berpikiran Hana seperti itu. Hana juga mengerti mengapa kakak mengatai ku juga seperti itu. Itu semua alasannya karena sikap ku sendiri. Hanya saja, Hana tidak suka di cibir terus.” jelas Fitri.
Fatma mengelus kepala Fitri dengan lembut, ”Anak Mama semakin berpikiran dewasa. Kamu cepatlah bersihkan meja makan dan pergilah belajar. Bukankah besok kamu ada ujian pra semester akhir?” tanya Fatma.
Fitri mengangguk. ”Iya, Mah.” jawabnya.
Fatma berdiri, ”Mama pergi temui papa dan kakak mu.” pamitnya.
”Iya, Mah.” sahut Fitri.
Fatma pergi dari dapur. Ia pergi ke ruang baca. Di sanalah tempatnya jika Fandi ingin membicarakan hal penting.
Fitri membersihkan meja makan, sekalian membersihkan dapur. Setelah selesai mengerjakan tugasnya di dapur. Ia duduk istirahat sejenak di kursi meja makan.
__ADS_1
Ia sedang memikirkan Randi.
Mendapatkan belaian seperti tadi dari mama, mengingat kan ku pada Randi yang beberapa kali mengelus kepalaku dengan lembut. Terasa hangat.
Apa kabarnya dia sekarang? Apakah dia juga masih kuliah seperti ku? Aku merindukannya. Namun, aku juga membencinya. Perlakuan manisnya padaku hanyalah buaiannya saja. Yang dia inginkan hanyalah posisi ceo di perusahaan ku dan harta ku saja. Wanita yang ia cintai pun bukan aku, tapi Cindy.
Bagaimana dengan perusahaan papaku sekarang? Siapa yang menanganinya? Apakah masih papa? Sewaktu aku masih kuliah pada semester ini, papa ku masih hidup. Di saat aku memasuki semester tujuh, barulah papaku meninggal. benaknya.
Ia masih memikirkan kehidupannya di masa lalu.
.. ..
Di ruang baca.
Fatma membuka pintu ruang baca. Ia berpapasan dengan Ardi yang ingin membuka pintu dari dalam, hendak keluar.
”Loh, Ardi? Sudah selesai bicaranya dengan papa?” tanya Fatma.
”Iya, Mah. Mama mau bertemu papa?”
”Tidak juga, Mama hanya ingin melihat kalian berdua mengobrol saja.” jawab Fatma.
”Oh. Hana di mana Mah?” tanya Ardi lagi.
”Hana masih di dapur, lagi beresin meja makan.”
”Oh, Ardi temui Hana dulu Mah. Mama masuklah, temani papa di dalam.”
”Hum!” Fatma masuk ke dalam ruangan.
Ardi pergi ke dapur.
Di ruang baca.
Fandi mendongak, melihat istrinya. Fandi melepaskan kacamatanya dan menaruh file di atas meja. ”Mama, Mama belum istirahat? Papa kira Mama sudah pergi beristirahat di kamar.” ucap Fandi. Ia meraih tangan istrinya dan mengarahkan Fatma duduk di sampingnya.
”Belum, Pa. Mama belum mengantuk. Papa tadi bicarakan apa dengan Ardi?”
”Papa cuma bertanya padanya, siapa pria yang menemui Ardi waktu di taman tadi. Dan apa yang di lakukan pria itu pada Hana, sehingga membuat Hana sebel pada pria itu.” jawab Fandi.
”Oh, lalu siapa pria itu? Apa yang sudah di lakukan pria itu pada Hana?” tanya Fatma lagi.
”Dia adalah Zahidin. Guru dosen Hana, sewaktu beliau mengajar di kampusnya Hana. Pria itu terus melihat Hana. Membuat Hana gak betah. Dan apa yang di katakan Hana waktu di taman itu benar, Zahidin memang memiliki niat lain pada Hana. Dia menyukai Hana.” ungkap Fandi.
”Hah! Ada dua pria yang statusnya bagus menyukai anak kita. Tapi, kenapa anak kita tidak tergoda sedikitpun dengan pesona dua pria ini?”
”Kalau Fajrin, anak kita belum pernah bertemu dengannya. Makanya Hana belum tergoda padanya. Tapi, yang Papa pikirkan adalah Zahidin. Zahidin ini adalah dosen muda di kampus Hana, beliau sering membantu Hana di kampus kalau Hana sedang di bully sama temannya. Tapi, kok Hana gak tertarik dengan pria muda itu? Padahal wajahnya sangat ganteng, bodynya manteb, idaman para wanita masa kini.” Fandi pun menjadi bingung.
”Sudahlah, Pa! Bukan salah prianya yang ganteng, tapi, pria itu tidak tahu cara meluluhkan hati anak kita. Kita serahkan saja pada Hana untuk hubungan asmaranya.” ucap Fatma.
”Iya, Mah.”
”Em...Pa, kalau atasan Papa itu gimana? Masih menginginkan bertunangan dengan anak kita?” tanya Fatma, penasaran.
Fandi mengangguk. ”Dia bahkan sudah menganggap putri kita adalah tunangannya. Tapi, dia tidak akan memaksa Hana untuk bertunangan. Dia akan berusaha mendapatkan perhatian Hana dulu, baru dia akan mengajak Hana untuk tunangan.” jelas Fandi.
”Hum! Punya hati nurani juga atasan Papa itu. Kalau Papa, setujunya anak kita sama siapa? Dosen itu atau atasan nya Papa?”
”Papa sih, maunya yah, dosen saja. Kita tidak bisa berdampingan dengan Fajrin. Dia terlalu berada dan kuat buat keluarga kita.” jawab Fandi.
__ADS_1
”Mama berpikiran sama dengan Papa.” sahut Fatma.
.. ..
Di dapur.
Ardi bingung melihat Fitri yang terbengong sendirian di meja makan. Ia berjalan mendekati Fitri. Fitri tidak menyadari hadirnya Ardi.
”Hayu, lagi mikirin apa?” tanya Ardi.
”Hah! Eh, kakak. Gak lagi mikirin apa-apa, kok!” elak Fitri.
”Benar? Lagi gak mikirkan apa-apa?” Ardi tidak percaya.
Fitri mengangguk.
”Em... Hana, kakak boleh bertanya sesuatu?”
Hummm pasti kakak akan mempertanyakan tentang dosen itu. Ah... malas, mending aku pergi sekarang. benak Fitri.
”Em...kakak, maaf, Hana ke kamar dulu. Hana mau belajar, besok Hana akan ulangan pra semester akhir.” pamit Hana. Ia langsung berdiri dan pergi dari dapur, meninggalkan Ardi begitu saja.
”Kok kayak dia menghindar yah? Apa dia tahu hal yang ingin aku tanyakan, makanya dia pergi?” gumam Ardi.
.. ..
Di club malam, di ruangan VIP.
”Hei...Bung! Kirain kamu gak akan datang!” sapa seorang pria. Ia bersalaman gaul ala anak muda dengan Fajrin.
”Masa aku gak akan datang menemui undangan temanku?” ucap Fajrin. Ia duduk di kursi tunggal dalam ruangan VIP itu.
”Anggur? Ada anggur nomor satu yang ku bawa dari negeriku, mau coba?” tanya pria itu pada Fajrin.
”Boleh!” sahut Fajrin. Ia mengambil gelas kosong dan menadah gelasnya pada Vino. Vino menuangkan anggur pada gelas Fajrin. ”Hanya kita berdua? Kamu gak ngajak Ari?” tanya Fajrin.
”Hum...kamu kayak gak tau si Ari saja! Lagi sibuk di kamar sebelah.” jawab Vino santai.
Fajrin meminum anggurnya.
Vino memperhatikan Fajrin, ”Gimana anggurnya, enak kan?” tanyanya.
”Lumayan!” jawab Fajrin, ia kembali meneguk anggur tersebut.
”Hei...kata si Ari, kamu sudah punya tunangan? Apa benar? Kenapa gak kamu bawa kesini, kenalkan sama kami berdua.”
Fajrin tertawa. ”Belum saatnya kalian bertemu dengan dia.” Fajrin meneguk habis anggurnya. Ia berdiri, ”Vin, maaf, aku harus pulang.” ia melangkah.
”Hah! Kamu baru saja datang, baru minum segelas anggur, sudah mau pulang? Apakah dia menunggu mu di rumah?”
Fajrin menghentikan tangannya yang membuka pintu. Ia berbalik melihat Vino. ”Sembarangan! Dia itu singa betina...garang kalau mau di dekati.”
Vino tertawa. Fajrin terlihat bingung.
”Itu artinya...kamu belum mendapatkan gadis itu...wow! Aku penasaran dengan singa betina ini.” ucap Vino.
Fajrin mengambil vas bunga kecil yang ada di samping pintu dan melemparkannya ke Vino. Vino sigap, ia menangkap vas bunga tersebut, sambil menahan tawa.
”Jangan macam-macam dengan wanita milikku!” ancamnya. Ia membuka pintu ruangan dan berlalu pergi dari sana.
__ADS_1
Vino meletakkan vas bunga tersebut di atas meja. Ia tersenyum kecil, ”Singa betina! Aku ingin melihat mu... seperti apa tampang mu yang membuat perubahan pada Fajrin yang terkenal dengan playboy itu.” gumamnya.
.. ..