Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 8


__ADS_3

Malam hari di keluarga Fandi.


”Sayang, kenapa kamu hanya makan sedikit? Bukankah ini makanan kesukaan mu? Makanlah dengan banyak, supaya tenaga mu cepat pulih.” Fatma menambah kan lauk kesukaan Fitri ke piring Fitri.


”Iya, adik! Besok, kamu harus pergi ke kampus. Sudah dua hari kamu tidak pergi kuliah. Apakah masih ingin kakak izinkan kamu pada dosen mu lagi, kamu masih ingin libur?” Sambung Ardi.


Fitri melihat makanan di piringnya. Mau makan bagaimana! Ini bukan makanan kesukaan ku, aku tidak suka sayur acar atau sayur apapun itu yang ada campurannya dengan kol, wortel, dan kacang-kacangan. Ini semua makanan kesukaan ”Hana” bukan aku. benaknya.


”Mama, Hana masih gak berselera makan. Maafkan Hana, Hana hanya makan sedikit.” Ia beralih melihat Ardi dan berkata, ”Kakak, kalau bisa izinkan, tolong izinkan lagi. Maaf, sudah merepotkan kakak. Tapi, Hana belum siap pergi ke kampus besok.” Ia mengambil air minum dan meminumnya.


”Baiklah! Kakak akan izinkan kamu untuk dua hari lagi, besok dengan lusa kamu tidak perlu kuliah. Hari Rabu tidak ada alasan lagi, kamu harus pergi kuliah. Kamu sekarang sudah semester enam. Tinggal setahun lagi kamu kuliah, kamu harus rajin-rajin pergi ke kampus.” Ardi menasehati Fitri. Fitri mengangguk mengerti.


”Hana, Mama tidak akan memaksamu untuk makan banyak. Tapi, kamu harus habiskan susu strawberry mu.” Fatma mengambil gelas yang berisi susu strawberry dan memberikannya pada Fitri.


Fitri mengambilnya dengan bingung. Ia bingung mau meminum susunya atau tidak? Dia tidak menyukai susu strawberry, yang dia sukai adalah susu vanila.


Ia melihat Fatma, wanita itu tersenyum padanya. Ia melihat Ardi, Ardi baru saja selesai meminum susunya, susu vanila, kesukaannya.


Ia melihat Fandi, ayahnya Hana. Pria itu melihatnya juga sambil tersenyum. Fitri tidak punya pilihan. Ia pun meminum susunya itu dalam sekali minum dengan menahan nafas.


”Ukhuk! Ukhuk!” Ia terbatuk-batuk, tersedak minumannya sendiri. Membuat Ardi, Fatma, dan Fandi panik.


”Sayang! Kamu tidak apa-apa!” Fatma menepuk pelan punggung Fitri.


”Sayang! Minumnya pelan-pelan saja! Tidak ada yang berebutan dengan mu. Di rumah ini, yang suka strawberry hanya kamu saja, sayang!” Terang Fandi.


”Fit eh Hana... Hana baik-baik saja. Ma, Papa, kakak, maaf, Hana tidak berhati-hati!”


”Tidak apa-apa! Kamu ingin istirahat sekarang? Mama akan membawa mu ke kamar.”


”Ah, tidak usah, Ma. Hana belum ingin tidur, bolehkah Hana pergi ke taman bunga?”


”Tapi... ini sudah malam, adik. Gak baik kamu kena angin malam, apalagi tubuh mu masih lemah.” Ardi yang menyahuti Fitri.


”Tidak apa-apa! Kamu temani adik mu di luar. Papa izinkan kamu ke taman, tapi, gak bisa lewati dari satu jam. Mengerti?” Ucap Fandi.


Fitri tersenyum dan mengangguk. ”Terima kasih, Pa,” jawabnya.


Fitri berdiri dan langsung pergi meninggalkan dapur.


”Ardi, susul adik mu!” Titah Fatma ada Ardi.


”Iya, Mah. Setelah Ardi mengambil jaket untuk Hana.”


”Iya. Pergilah!” Ucap Fatma. Ardi mengangguk sambil berdiri dan pergi ke kamar Hana mengambil jaketnya Hana.


”Papa, apakah masih ingin melanjutkan perjodohan Hana dengan Fajrin?” Tanya Fatma pada suaminya.

__ADS_1


”Papa tidak tahu, Ma! Tunggu Hana tenang dulu, setelah itu, baru Papa bicara ini lagi dengannya. Jika Hana tidak mau, maka, Papa akan menolak perjodohan ini.”


”Iya, Pa. Mama setuju!”


Di taman bunga.


Fitri duduk di ayunan besi gantung. Wajahnya menengadah melihat bulan bersinar di langit.


Papa, mama, apakah kalian sedang melihat ku sekarang? Ma, pa, sekarang aku hidup di tubuh orang lain yang punya keluarga lengkap. Mereka sepertinya orang baik, mereka menyayangi ku.


Papa, apa papa merasa tenang di sana? Maaf, pa, Fitri tidak menjaga perusahaan papa dengan baik! Tapi, Fitri janji pa, Fitri akan mengambil lagi apa yang... yang menjadi milik Fitri. Fitri janji, pa! benaknya.


Air matanya menetes, mengingat kembali perselingkuhan Randi dan Cindy. Juga pembunuhan pada dirinya. Tangannya mengelus perutnya yang datar.


Mereka bukan hanya membunuh ku, bayi dalam kandungan ku pun lenyap. Randi, sebegitu tidak inginnya kamu padaku dan anak kita, hingga kamu menyuruh Cindy meracuniku. benaknya.


”Melamun kan apa?” Ardi memakaikan jaket pada belakang Hana, ”Angin malam terlalu dingin. Tidak bagus untuk kondisi mu saat ini.”


Fitri menghapus air matanya, ia berbalik, tersenyum melihat Ardi dan berkata, ”Terima kasih, kakak.”


”Sama-sama, sayang.” Ardi duduk di ayunan besi, di depan Fitri.


”Kamu sedang memikirkan apa? Memandang bulan, mengapa bisa membuat mu menangis?” Ardi penasaran.


”Hmm? Em...kakak, boleh aku tahu, aku kuliah di jurusan apa?” Fitri sengaja mengalihkan topik.


Fitri terdiam. Bukan lupa! Tapi sungguh aku tidak tahu jurusan apa adik mu itu kuliah. benaknya.


”Jurusan ekonomi akuntansi, itu jurusan mu. Kenapa? Tidak ingin melanjutkan kuliah?”


”Ah, tidak! Bukan begitu! Aku akan kuliah dengan baik sampai selesai.” Fitri menambahkan senyumnya yang menawan pada Ardi. ”Kak, apa yang membuat ku pingsan?” Wajahnya berubah serius.


Karena aku sudah hidup di tubuh Hana, aku harus memahami Hana ini orang yang seperti apa. benak Fitri.


”Kamu memiliki satu penyakit aneh! Penyakit mu benar-benar aneh! Sebenarnya kamu tidak ada penyakit, mama, papa, aku, sudah membawa mu ke rumah sakit di luar negri untuk periksa penyakit mu ini, tapi, kamu sehat, tubuh mu juga sehat.” Ardi menjeda ucapannya. Ia melihat Fitri yang serius melihatnya.


”Tapi, ketika kamu dikagetkan tiba-tiba dan mendengar hal yang tiba-tiba, kepalamu akan sakit, dada mu sakit, dan kamu pasti berakhir dengan pingsan.”


”Lalu, Hana pingsan karena apa sekarang?” Fitri mencari tahu.


”Kamu pingsan karena mendengar kamu akan di jodohkan.” Jawab Ardi.


”Apa? Di jodohkan?” Fitri terkejut. Bukan hanya di kehidupan lalunya ia di jodohkan, bahkan kehidupannya sekarang juga ia di jodohkan.


”Ini bukan jamannya Siti Nurbaya, kenapa harus di jodoh-jodohkan sih!” Gerutu Fitri se pelan mungkin.


”Iya, tapi papa dan mama tidak punya pilihan selain menyetujui perjodohan itu.” Ardi masih mendengar jelas gerutu Fitri. Fitri terkejut ternyata Ardi mampu mendengar perkataannya yang pelan itu. Namun bukan itu poinnya.

__ADS_1


”Memangnya kenapa? Papa di desak? Di ancam, begitu?”


”Entahlah! Atasannya papa sedang mencari calon istri. Dan dia tertarik dengan kamu. Jadi, dia meminta papa untuk berbicara hal itu padamu. Dan pagi tadi setelah sarapan selesai papa membicarakan itu padamu. Dan kamu terkejut, tiba-tiba saja kepala mu sakit, dada mu juga sakit dan kamu seketika pingsan.” Ungkap Ardi.


”Apakah dia seorang laki-laki yang seumuran papa? Atau lebih tua lagi dari papa? Kok papa gak bisa menolak sih! Ancamnya untuk papa apa?” Fitri penasaran.


”Kakak juga belum pernah melihat atasannya papa itu. Kalau atasan lama... kakak tahu, tapi, ini atasannya papa yang baru di ganti empat bulan yang lalu. Jadi kakak tidak tahu rupanya.” Ungkap Ardi lagi.


”Bagaimana dia tahu Hana? Apa Hana pernah bertemu dengan nya?”


”Entahlah! Kakak juga tidak tahu. Sekarang, kita masuk, yuk! Jangan kelamaan di sini, fisik mu masih lemah.” Ardi menjulurkan tangan di depan Fitri.


Fitri mengangguk dan menyambut uluran tangan kakaknya itu dan berdiri. Mereka berdua kembali masuk ke dalam rumah.


Fitri langsung pergi ke kamarnya. Ardi juga pergi ke kamarnya untuk istirahat.


Di kamar Fitri.


Fitri mengunci pintu kamar dan pergi ke ranjang. Ia memandang foto-foto yang ada di atas meja hias.


Ia berjalan ke sana dan duduk di kursi. Ia memperhatikan kembali foto Hana.


Berarti Hana meninggal karena terkejut. Mungkin dia tidak suka di jodohkan sama orang itu.


Ia membuka laci meja hias. Ia melihat sebuah buku diary di sana. Ia mengambil dan membuka-buka dan membaca tulisan di kertas dalam buku diary tersebut.


Hari ini pertama kali aku masuk kampus. Aku bertemu dengan beberapa orang dari SMA yang sama dengan ku. Kami akrab dan sekelas di kampus ini. Nita, Alin, dan Alvin, sahabat yang paling dekat dengan ku.


Fitri membuka lembaran lain.


Hari ini...hari bahagia Nita dan Alvin. Mereka berdua bertunangan. Aku dan Alin ikut berbahagia. Di hari itu juga, aku bertemu dengan seseorang. Orang itu begitu istimewa untukku. Tapi sayangnya, aku tidak tahu siapa pria itu.


Fitri kembali membuka lembaran berikutnya.


Hari ini...Alin mengatakan sebuah pengakuan padaku. Aku tidak terkejut dengan pengakuannya. Aku sudah tahu jika dia menyukai kakak ku, Ardi. Yah, dia mengaku kalau dia menyukai kakak ku.


Di saat dia melihat kakak ku, dia selalu gemetar, hatinya berdebar-debar. Untuk itulah, dia selalu menghindar jika aku bersama dengan kakak ku. Dan dia juga jarang datang ke rumah ku, alasannya yah itu, tidak kuat dengan pesona kakak ku yang ganteng.


Em...bukan hanya itu..Alin juga mengaku cemburu padaku...tapi, menurut ku itu bukan cemburu sih! Menurut ku, Alin cuma ingin kakak ku, Ardi, juga memberikan perhatian padanya seperti Ardi memperhatikan aku. Dan Alin juga ingin dekat dengan kakak ku. Mau bilang dia iri padaku juga tidak yah! Aku dan Alin menjalin persahabatan seperti biasa.


Fitri terus membuka lembaran lain.


Hari ini aku terkejut dan tidak menyangka saat melihat pria yang aku dambakan, tiba-tiba muncul di dalam kelas ku. Dia menjadi dosen di tempat kuliah ku.


Tapi sialnya...aku malah pingsan dan tidak mendengar saat dia memperkenalkan dirinya. Aku tahu namanya dari Alin dan Nita, jika namanya adalah zahidin.


Fitri menutup buku diary itu, meski belum membaca sampai selesai. ”Ternyata dia sudah menyukai seseorang. Namanya Zahidin, dosen di kampusnya. Jadi dia syok ketika dia tahu jika dia sudah di jodohkan dengan orang lain.”

__ADS_1


Fitri menghela nafas. Ia kembali ke tempat tidur dan beristirahat.


__ADS_2