Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 31


__ADS_3

Di kediaman Fandi.


Mobil Alvin berhenti di depan rumah Fitri.


Fitri turun dari mobil. Ia masih berdiri di depan pintu mobil depan Alvin, yang kacanya tidak tertutup. ”Terima kasih, Alvin. Sudah mengantar ku pulang.” ucapnya.


”Iya. Sama-sama. Aku pergi dulu.” pamit Alvin.


”Iya. Hati-hati! Jangan ngebut!”


”Iya.”


Fitri berbalik arah dan masuk ke halaman rumahnya. Alvin menaikkan kaca jendela mobil dan berlalu dari kediaman Fandi.


Di dalam rumah.


Pintu rumah Fandi tidak tertutup, Fitri melangkah bebas masuk ke dalam rumah.


”Hah! Kok bisa sih atasan Papa semena-mena begitu sama Papa!”


Fitri berhenti saat mendengar suara mamanya. Ia bersandar di dinding mendengarkan pembicaraan mamanya dan papanya.


Apa lagi yang di lakukan sama Fajrin? Pria itu terlalu arogan! benak Fitri.


Fandi menghela nafas, ”Gak tahu Mah. Papanya dia juga tegas dan arogan. Tapi, tidak seperti anaknya ini.” ungkapnya.


”Ih, dia mau melamar jadi anak mantu kita! Tapi, kok gak mencari muka di hadapan kita sih? Supaya kita sanjung sanjung dia begitu. Ini malah berbuat sesuatu yang bertentangan dengan kita, bahkan membuat kita marah dan jengkel padanya. Apakah dia seorang pria?” Fatma menjadi kesal.


”Sudahlah, Mah! Mau gimana lagi, sudah pekerjaannya Papa seperti itu. Menghandle pekerjaan atasannya kalau atasannya ada hal lain yang mendadak, yang harus di urus nya sampai tuntas.” Fandi memberi pengertian kepada Fatma supaya tidak kesal lagi dengan Fajrin.


”Tapi, dia kan gak jelas tujuannya apa, sampai-sampai menyerahkan tugasnya ke Papa! Untung saja Hana, anak kita itu tidak menyukai Fajrin. Lebih baik, jodohkan saja Hana dengan dosen di kampus nya itu, Pa. Siapa namanya, yah? Oh, iya, si Zahidin.” usul Fatma.


Fitri terkejut di tempatnya berdiri. Aku mau dijodohkan dengan dosenku, Zahidin? Ogah! benaknya.


”Biarlah itu menjadi urusan anak-anak saja, Mah. Papa tidak mau Hana pingsan lagi gara-gara perjodohan. Biarkan saja Fajrin dan Zahidin bersaing secara sehat merebut hati anak kita. Terserah anak kita mau pilih siapa, itu yang kita restui.” jawab Fandi.


Fitri menggeleng. Tidak! Aku tidak suka sama mereka berdua! Dulu, aku menikah dengan pria yang aku cintai. Tapi, tetap saja hidupku menderita. Bagaimana jika aku menikah dengan orang yang aku gak cintai? Gak mau! benaknya.


Fitri melanjutkan langkahnya berjalan ke ruang keluarga. ”Assalamu 'alaikum!” sapa nya.


”Wa 'alaikum salam! Anaknya Mama dan Papa sudah pulang.” Fatma tersenyum memberikan tangannya di salami sama Fitri.


Fitri juga menyalami tangan papanya, baru, ia duduk di samping Fatma.


”Bagaimana kuliahnya?” tanya Fandi.


”Alhamdulillah, lancar, Pa.”


”Alhamdulillah!”


”Kamu pergi makan dulu. Loh, tunggu!” Fatma tersadar kalau Fitri pulang sendirian. ”kamu pulang sendirian? Mana kakak mu? Mama memberi pesan padanya untuk mengantar mu pulang.”


”Oh, kakak? Dia tidak mengantar Hana. Kebetulan Hana di traktir makan sama Alvin. Jadi, sekalian Alvin antar Hana pulang. Hana izin sama kakak kok, sebelum pergi dengan Alvin tadi.” ungkap Fitri.


”Oh, begitu!”


Fitri mengangguk. ”Mama dengan Papa membahas apa tadi? Hana sempat menangkap kata ”Restu” yang di ucapkan Papa.” tanya Fitri.

__ADS_1


”Oh! Itu bukan apa-apa! Itu...”


”Papa dan Mama membicarakan dua pria yang mencari perhatian padamu. Jadi, Papa memberikan semua keputusan hidupmu di tangan mu. Siapa yang kamu pilih dalam hidup mu, Papa dan Mama akan merestui.” pangkas Fandi. Ia tahu, Fatma akan menyembunyikan hal ini dari Fitri.


”Oh, ternyata masalah dua pria itu lagi! Bukankah Hana sudah berkali-kali katakan, bahwa Hana...”


”Tidak akan memikirkan cowok. Untuk sementara, masih serius dan fokus dengan kuliah.” pangkas Fatma dan Fandi.


Mereka berdua sudah hafal betul dengan gaya bicara Fitri, jika sudah membahas tentang pria dan cinta.


”Nah, itu..Papa dan Mama tahu! Jadi, jangan bahas kan itu lagi, selama Hana masih status PE...LA...JAR!” tegas Fitri.


”Iya, sayang, iya! Kamu pergilah tidur siang. Gemuk kan dulu badan mu itu. Terlalu kurus!” ejek Fatma.


Mulut Fitri terbuka lebar, matanya membulat. Ia cemberut seketika, ”Mama! Bodynya Hana ini bagus loh! Langsing Mah.. langsing!” Fitri membela diri.


”Langsing? Kutilang kali! Kurus tinggal tulang.” ledek Fatma lagi.


Mulut Fitri kembali terbuka lebar, ” Papa! Lihatlah Mama! Mama mengejek badan Hana kutilang. Padahal, bodynya Hana sangat bagus.” aduh Fitri pada sang papa.


”Mah, anaknya jangan di ledekin terus, dong!” bela Fandi.


”Ah, iya Pa, iya.” Fatma menurut.


”Sudah, kamu istirahat sana.” ucap Fandi pada Fitri.


”Iya, Pa.” Fitri beranjak berdiri dan berjalan ke kamarnya.


”Pa, apa Hana masih anak kita? Mama perhatikan, Hana menunjukkan perubahan terus tiap harinya. Gaya manjanya, bicaranya, sikapnya, kebiasaannya, cara pakaiannya, sudah hampir 100% gak seperti biasanya. Mama pikir, dia menjadi orang lain.” ucap Fatma.


”Mama habis nonton drama apa tadi? Kok bicaranya ngawur begitu? Hana tetap anak kita. Orang Mama yang lahir kan Hana dan Hana tumbuh besar di hadapan kita. Di mananya Hana bukan anak kita? Itu bagus Mah, Hana sudah berpikiran dewasa.”


”Jangan menerka-nerka hal yang tidak masuk akal, Mama. Sebaiknya, Mama juga istirahat siang dulu. Papa akan pergi ke ruang baca.” Fandi beranjak berdiri.


”Mama buatkan kopi?” tawar Fatma.


”Iya, bawa langsung ke ruang baca.” sahut Fandi, sambil berjalan ke ruang baca.


”Iya, Pa.”


Fatma pergi ke dapur..


.. ..


Di kamar Fitri.


Fitri masih memikirkan siapa pria yang di maksud Alvin, waktu di restoran itu. Pria yang dengan sukarela membayarkan makanan dia dan temannya.


”Apa aku tanya kakak saja, yah?” gumamnya.


Ia mengambil handphone, mengetik sesuatu di depan layar hapenya.


”Kakak, apa kakak sedang sibuk?”


Ting! Notifikasi nada pesan berbunyi. Fitri cepat membuka dan membacanya.


”Sedikit sibuk! Kenapa? Mau bantu kakak mengerjakan tugas kakak? Kalau iya, dengan senang hati kakak akan mengirimkan pekerjaan kakak di email mu.”

__ADS_1


”Siapa juga yang mau membantu pekerjaan kakak?” oceh Fitri.


”Gak mau! Itu pekerjaan kakak, kakak dong yang tangani. Kakak, aku mau tanya, kakak tadi membayarkan pesanan kami di restoran?”


Fitri membalas chat kakaknya. Tidak lama ada pesan masuk lagi di ponselnya.


”Tidak! Untuk apa? Kamu bukan pacar ku!”


”Siapa tahu...kakak diam-diam membayarkan demi kakak ipar😇😇” balas Fitri.


”Ah, mungkin adik ipar yang diam-diam membayarkan pesanan mu dan teman mu. Soalnya, kakak tadi memberitahu pada adik ipar, kalau kamu singgah makan di restoran bersama temanmu.” balas Ardi.


”Adik ipar apaan? Dia bukan adik ipar kakak! Kalau benar dia, Hana akan gantikan uangnya. Hana gak mau punya hutang budi sama orang! Coba kakak tanya ke dia.” balas Fitri.


”Jadi, siapa adik ipar ku? Pak dosen tampan di kampus itu? Ok, kakak tanya dia dulu.” balas Ardi.


”Sialan kakak ini! Fajrin, Zahidin, tidak ada di antara kedua pria itu yang masuk ke pria idaman ku. Pria idamanku itu seperti Randi....”


Wajah Fitri tiba-tiba sedih menyebut nama Randi. Pengkhianatan yang di lakukan Randi bersama selingkuhannya terngiang lagi di kepalanya.


Fitri melihat perutnya yang datar dan mengelusnya. ”Kalau waktu itu kita tidak meninggal, mungkin kamu tidak lama lagi aku sudah melahirkan mu di dunia ini.” ucapnya sedih.


Ting! Notifikasi pesan kembali terdengar. Fitri melihat layar hapenya. Pesan dari Ardi.


”Iya, sayang! Dialah yang membayar pesanan kalian.”


”Kakak, tolong bilang padanya untuk mengirimkan nomor rekeningnya. Hana mau gantikan uangnya.” balas Fitri.


”Memangnya kamu punya uang?” balas Ardi.


”Kakak meremehkan Hana? Hana punya tabungan! Cepat! Hana akan transfer langsung ke rekeningnya. Hana masih ingat jumlah biaya makanan yang kami pesan. Semuanya dengan minumannya 200.000.” balas Fitri.


”Oh, rupanya adikku sudah rajin menabung! Adikku sangat dewasa sekarang, kakak suka. Ok, kakak akan mintakan dulu padanya. Atau kakak kirimkan saja nomornya padamu, dan kamu sendiri yang chat dan minta nomor rekening langsung padanya. Gimana?” balas Ardi.


”Gak! Aku tidak mau ada nomor si brengsek arogan itu di daftar kontak hapeku!” balas Fitri.


Ting! Fitri cepat melihat ke layar hape saat hapenya berbunyi. Namun, ia mengerutkan keningnya melihat ke layar hapenya. ”Nomor baru? Siapa yah?” gumamnya.


Fitri membaca pesan dari nomor baru tersebut.


”Kenapa sayang? Untuk apa nomor rekening ku? Mau gantikan apa padaku? Apa kamu membuat kesalahan dan memberikan kompensasi uang padaku?”


”Hah! Dia si arogan itu! Kok bisa dia tahu nomor ku. Hum! Pasti ini ulah kakak yang memberikan nomor ku padanya!” geram Fitri.


Ia mengetik pesan dengan cepat dan mengirimkannya pada Ardi, kakaknya.


”Kakak! Kenapa kakak memberikan nomor ponselku sama pria brengsek itu?”


Pesan terkirim, namun, Ardi belum membacanya. Fitri kembali membaca pesan si pria brengsek.


”Iya, cepat kirimkan nomor rekening mu. Aku akan menggantikan uang mu. Dan lain kali, jangan urusi urusan ku. Jangan sok kaya di hadapan ku. Aku tidak butuh uang mu!” ketus Fitri membalas pesan Fajrin.


”Aku juga tidak butuh uang mu. Uang ku sudah banyak! Tidak ada salahnya aku menyenangkan hati tunangan ku. Mengeluarkan uang sedikit hanya untuk makanan tidak masalah, mau kamu pergi berbelanja pun, aku akan membayar nya untuk mu, tunangan ku yang cantik!” balas Fajrin.


”Tunangan! Tunangan apaan? Mengaku-ngaku, apa dia gak punya rasa malu?” celoteh Fitri.


”Siapa yang kamu sebut tunangan? Aku bukan tunangan mu! Aku akan tetap menggantikan uang mu! Jangan urusi urusan ku lagi!” balas Fitri dengan kesal. Ia langsung memblokir nomor Fajrin dari wa nya.

__ADS_1


Ia melihat Ardi belum juga membaca pesannya. Fitri sangat kesal.


.. ..


__ADS_2