Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 57


__ADS_3

Di dalam rumah Fajrin.


”Bi, buat minum untuk Hana.” titah Fajrin pada art rumah tangganya. Ia duduk di kursi sambil membuka dua kancing bajunya dari atas. Ia merasa gerah sekarang.


”Baik, Tuan.” jawab art tersebut. Ia pergi ke dapur.


”Katakan padaku, mengapa kamu membawa ku kesini?” tanya Fitri dengan ketus melihat Fajrin.


”Pembahasan di antara kita belum selesai.” ucap Fajrin.


”Seingat ku, tidak ada hal yang perlu kita bahas kan, Fajrin.”


”Nona Hana, ini minumannya.” art tersebut menaruh minuman Fitri di atas meja, di hadapan Fitri.


”Terima kasih, Bi.” ucap Fitri dengan tersenyum lembut pada art tersebut.


Orang ini, sama pelayan ku begitu sopan dan ramah juga memberinya senyuman indah. Sama aku? Si pemilik rumah ini malah ketus, judes, tidak ada ramah-ramahnya sedikit padaku. Bicara padaku selalu saja berantem. benak Fajrin.


”Sama-sama, Nona. Saya permisi dulu.” art tersebut undur diri dari sana.


”Tunggu!” Fajrin mencegah langkah art yang hampir meninggalkan ruang tamu.


”Ya, Tuan?” tanya art sopan.


”Tidak perlu memasak untuk kami. Kami akan makan di luar. Bibi masak untuk makan malam Bibi dan yang lainnya saja.” ucap Fajrin.


”Baik, Tuan.” sahut art. Dia pergi dari ruang tamu.


”Kamu habiskan minuman mu. Aku pergi mandi dulu.” Fajrin beranjak berdiri.


”Pergi mandi saja. Jangan lama-lama! Aku ingin pulang.”


”Selesai kita bicara baru aku antar kamu pulang.”


Fitri terdiam. Ia tidak berkata apapun lagi. Ia mengambil gelas minumannya dan meminumnya.


Fajrin melangkah pergi saat melihat wajah ketus Fitri.


Lelaki itu mau bicara apa lagi padaku! Apa dia tidak puas dengan Zulfa? benak Fitri.


Fitri menghabiskan minumannya. Ia membawa gelas kosong itu ke dapur.


”Bi, aku keluar sebentar ya, aku ingin membeli pembalut juga ingin membeli sampo.”


Fitri mendengar para pelayan Fajrin yang sedang berbincang. Fitri melihat dan mendengarkan mereka dari dinding dapur.


”Iya. Sekalian beli bumbu penyedap rasa.” ucap bibi art pada rekannya sambil memberikan selembar uang 100.000 pada rekannya itu.


”Iya,” Ia mengambil uang dari tangan bibi art.


Ini kesempatan ku untuk keluar dari rumah ini. benak Fitri.


Fitri melangkah masuk ke dapur sambil berkata, ”Bi, ini gelasnya. Terima kasih Bibi sudah membuatkan minuman untuk Hana.”


”Sama-sama, Nona.” sahut art sambil mengambil gelas kosong itu.


Fitri mempercepat langkah pergi dari dapur. Ia telah sampai di ruang tamu. Ia melihat ke tangga. Fajrin belum terlihat. Ia berjalan keluar dari rumah.


Ia melihat perempuan yang ingin keluar berjalan ke pagar rumah.


”Hei, tunggu!” Fitri mencegah perempuan itu yang hendak membuka pagar.


Perempuan itu menarik tangannya dari sebuah alat pendeteksi yang ada di sisi kanan dinding pagar. Fitri berlari ke arah ke perempuan itu.


”Ada apa Nona?” tanya perempuan itu. Ia terkejut melihat Fajrin yang berdiri di balkon lantai dua.

__ADS_1


”Kamu ingin pergi kemana?”


”Oh, ingin pergi ke mini market yang di dekat komplek ini, Nona. Mengapa? Ada yang ingin Nona beli? Titipkan saja sama saya, Nona.”


”Tidak, aku ingin ikut sama kamu ke mini market nya. Boleh, kan?”


”Em... bagaimana ya, Nona. Masalahnya Nona adalah tamu dari tuan saya. Saya tidak berani mengajak tamu dari tuan saya untuk pergi berbelanja.” Ia menunduk seketika saat melihat Fajrin berdiri di belakang Fitri.


”Tidak apa-apa. Fajrin juga tidak akan marah padamu kalau kamu membawa ku bersama pergi ke mini market. Kebetulan aku ingin membeli pembalut. Aku lagi dapat tapi... tidak memiliki pembalut.” ucap Fitri.


”Kalau begitu, titip sama saya saja, Nona. Saya akan membelikannya untuk Nona. Nona memakai pembalut jenis apa?”


”Kamu tidak akan tahu meski aku memberitahu mu. Sudah, jangan buang-buang waktu lagi. Cepatlah buka pagarnya.” titah Fitri.


Perempuan itu mengangguk dan membuka pintu pagar dengan memverifikasi telapak tangan dan wajahnya, setelah mendapat persetujuan dari Fajrin.


”Huh! Ada yang lebih canggih lagi dari ini? Membuka pagar saja sangat ribet. Harus sesuai dengan telapak tangan dan wajah.” gumam Fitri.


Fajrin berkacak pinggang.


pintu pagar terdengar berbunyi terbuka.


Fitri tersenyum senang. ”Terima kasih.” Ia mengucapkan terima kasih pada perempuan itu karena sudah membantunya keluar dari rumah Fajrin. Ia melangkah cepat keluar dari pagar.


Namun, langkah cepatnya masih kalah dengan langkah cepat Fajrin. Fitri terkejut tangannya di genggam erat oleh seseorang. Yang ia sangat tahu siapa orang itu.


Ah... sialan! Aku ketahuan! Cepat sekali mandinya si brengsek mesum ini. benak Fitri.


”Sungguh kamu sangat berusaha keras untuk keluar dari rumah ku ya?” ucap Fajrin.


”Maaf, Tuan. Ini salah saya.” ucap pelayan Fajrin dengan ketakutan.


”Hum. Kamu... tentu saja kamu harus terima hukuman mu.” sahut Fajrin.


Fitri berbalik. ”Tidak! Kamu tidak boleh menghukum dia. Dia tidak bersalah. Akulah yang memaksa dia untuk membukakan pagar untukku,” ucapnya membela pelayan itu.


Fitri menoleh melihat pagar itu masih terbuka. Ia menarik tangan Fajrin dan menggigitnya kuat.


Fajrin menghentikan langkahnya. Ia mengeratkan pegangan tangannya pada tangan Fitri. Ia menoleh melihat Fitri.


Semakin kuat aku menggigit tangan Fajrin, genggaman tangannya padaku semakin erat. Bukannya melepaskan ku, apakah dia tidak merasakan sakit pada tangannya? benak Fitri.


Fitri berhenti menggigit tangan Fajrin.


”Sudah puas menggigitnya? Gigit lagi, atau... kamu ingin gigit di bagian lain? Aku izinkan kamu menggigit ku sesukamu. Tapi bukan di sini tempatnya.” ucap Fajrin. Ia menarik tangan Fitri masuk ke dalam rumah.


Fitri terpaksa menyeret kakinya mengikuti langkah lebar Fajrin. Matanya membulat saat mereka menaiki anak tangga.


”Fa__Fajrin. Bukankah kamu ingin berbicara padaku? Ayo kita duduk di ruang tamu untuk berbicara.” bujuk Fitri.


Fajrin tidak menjawab. Ia semakin melebarkan langkahnya hingga masuk ke dalam kamar. Fajrin mengunci pintu kamarnya.


Fitri ketakutan. Tubuhnya gemetar saat Fajrin menghempaskan tubuhnya di atas ranjang besar milik Fajrin. Ia lebih terkejut dan semakin gemetar saat melihat Fajrin membuka kancing bajunya.


”Fa__Fajrin. Kita... kita bicara dengan baik-baik. Ya?” bujuk Fitri.


”Kenapa? Kamu takut sekarang?” tanya Fajrin, ia melepaskan bajunya dan membuangnya asal.


Dia naik ke atas ranjang setelah membuka ikat pinggangnya. Fitri bergerak mundur. Fajrin menarik kaki Fitri. Sehingga membuat tubuh Fitri di bawah kungkungan tubuh Fajrin.


”Fa__Fajrin. Kita... bicara baik-baik. Ya? Aku... aku sulit bernafas, kamu... kamu __”


”Bukankah kamu ingin menggigit ku? Aku memberikan pilihan untuk mu. Pilihlah yang mana bagian tubuh ku yang ingin kamu gigit.”


”Ti__tidak ada.” jawab Fitri.

__ADS_1


Orang ini... aku ketakutan ataupun tidak, ia tidak akan melepaskan aku begitu mudah. benak Fitri.


”Fajrin! Apa kamu gak merasa malu pada dirimu sendiri?” ucap Fitri, tatapannya tajam melihat Fajrin.


”Apa maksudmu?”


”Heh, kamu sangat tahu apa maksudku, Tuan Zahidin Mufajrin!”


Fajrin menarik dirinya dari atas tubuh Fitri. Fitri bernafas lega. Ia bangun dan beranjak turun dari ranjang.


”Perjelas, apa maksud mu?” tanya Fajrin suaranya terdengar mulai berat.


”Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi. Fajrin, kamu sudah memiliki Zulfa di sisi mu. Jangan kamu ganggu aku lagi.”


”Aku tidak menyukai Zulfa. Aku menyukai mu, Fitri.”


”Di antara kita tidak mungkin. Aku mencintai pria lain. Dan kamu sendiri... kamu harus menikahi Zulfa. Kamu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan pada Zulfa.”


”Memangnya apa yang sudah aku lakukan pada Zulfa? Kenapa aku harus bertanggung jawab padanya?”


”Kamu masih ingin mengelak lagi Fajrin? Kami semua sudah melihat Video kamu dan Zulfa yang masuk di dalam kamar hotel, setengah jam kemudian baru kamu keluar dari hotel dengan pakaian yang berantakan. Bajumu, ikat pinggang mu, semua berantakan bahkan aku, Ardi, papa dan mama ku melihat dengan jelas tanda-tanda merah di leher mu. Kamu masih ingin mengelak nya...?”


”Apa? Kalian menonton video itu? Kalian....”


Pantas saja tiba-tiba orang tuanya Hana dan Ardi tidak mengizinkan ku untuk mendekati Hana. Ternyata mereka semua melihat video itu. Mereka salah paham padaku tentang hal ini. benak Fajrin.


”Kalau aku bilang itu tidak benar, apa kamu akan percaya padaku?” Fajrin bertanya dengan serius pada Fitri.


”Tentu saja aku tidak percaya! Bukti video itu sudah jelas. Jad... berhentilah untuk mengganggu ku. Pembahasan kita sudah selesai. Aku ingin pulang.” ucap Fitri.


Fajrin memegang tangan Fitri. ”Percayalah padaku, aku tidak melakukan hal apapun pada Zulfa...”


Fitri menatap Fajrin. Ia sungguh tidak menduga Fajrin bersikeras mengatakan dirinya tidak bersalah.


”Video itu memang benar. Aku dan Zulfa masuk ke dalam kamar hotel. Tapi... aku tidak menyentuhnya sedikitpun. Bercak merah yang kalian lihat itu juga benar, dia yang memberikan tanda itu padaku. Bajuku, ikat pinggang ku, dia yang membukanya saat aku tidak sadar. Di saat dia ingin membelaiku dan memasukkan tangannya ke dalam senjata ku. Aku langsung tersadar saat dia bergumam aku akan menjadi miliknya setelah ini. Aku menahan tangannya dan menjauhkan dia dariku, aku menyadari suaranya bukan suaramu. Awalnya, aku mengira dia adalah kamu. Makanya aku membiarkan diriku ikut usulannya masuk ke dalam kamar. Aku di bius saat itu, seperti kamu yang kena bius oleh Hasan.” ungkap Fajrin.


Fitri masih melihat netra Fajrin. Dari matanya jelas terlihat Fajrin mengatakan yang sebenarnya. Fitri membuang muka memutuskan pandangan matanya dengan Fajrin.


”Tetap saja tidak akan merubah apapun. Aku mencintai pria lain. Aku tidak menyukai mu....”


Fajrin menarik tangan Fitri hingga badan Fitri menimpa tubuh Fajrin. ”Lihat aku... tatap aku... coba kamu katakan kalau kamu tidak mencintai ku,” ucapnya pelan namun sangat tegas.


Fitri menundukkan pandangannya. Fajrin mencubit dagu Fitri dan mendongakkan wajah Fitri agar melihatnya. ”Jangan menghindar. Katakan perasaan mu yang jujur padaku. Ku mohon...!”


”Fajrin... aku...__”


Aku akui aku memang sudah tertarik dengan mu. tapi... Fajrin... aku..bukan Hana yang kamu cintai... aku adalah Fitri Raihana yang berbeda... benak Fitri.


”Aku mencintai mu, Fitri Raihana. Aku sangat mencintai mu. Cintaku padamu yang menyadarkan aku hingga aku tidak masuk dalam perangkap Zulfa. Aku mencintai mu, Hana...”


Fitri dan Fajrin masih saling menatap. Fajrin memeluk tubuh Fitri saat ia merasakan cinta Fitri padanya dari sinar mata Fitri. Ia melepaskan pelukannya dan kembali melihat Fitri.


”Aku tahu kamu mencintai ku, kan?” ucap Fajrin. Fitri tidak menjawab, ia hanya memandang wajah di depan matanya itu. Fajrin memejamkan mata mencium bibir Fitri.


Fajrin ******* lembut bibir bawah Fitri. Fajrin membuka matanya saat merasakan Fitri membalas ciumannya. Ia melihat Fitri memejamkan mata saat membalas ciumannya. Bahkan tangan Fitri sekarang berada di belakang lehernya.


Fajrin semakin merapatkan tubuh Fitri pada tubuhnya, sebelah tangannya menahan kepala Fitri. Ia semakin memperdalam ciumannya.


”Bibirku selama ini baru menyentuh bibir mu saja. Dan selamanya hanya bibirmu yang ingin di cium oleh bibir ku. Jadilah kekasihku...” ucap Fajrin pelan setelah ia melepaskan ciumannya dengan Fitri.


”Tapi... aku sudah berjanji sama mama, papa, dan Ardi untuk tidak menerima mu...”


”Kau mencintai ku?”


”Iya...”

__ADS_1


Fajrin tersenyum, ”Itu sudah cukup. Untuk Ardi dan orang tua mu, aku akan menjelaskan kesalahpahaman mereka padaku. Kamu cukup mencintai ku saja. Semuanya serahkan padaku saja. Ya?”


Fitri mengangguk. Fajrin kembali membawa Fitri kedalam pelukannya. Fitri membalas pelukan Fajrin.


__ADS_2