Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 9


__ADS_3

Keesokan paginya, di kamar Fitri, kediaman Fandi.


Fitri bangun agak telat. Ia duduk bersandar di sandaran ranjang. Pukul 09 : 15, saat ia melihat jam dinding yang bergantung di kamarnya. Ia masih malas untuk meninggalkan ranjang yang empuk itu.


”Apa yang harus aku lakukan di rumah ini? Aku tidak tahu apa saja aktivitas yang di lakukan Hana setiap harinya.”


Ia menghela nafas. ”Huh! Aku ingin menjadi diriku sendiri, apakah bisa?” Ia turun dari ranjang, berjalan mendekati jendela. Fitri menyingkap sedikit kain gorden dan melihat di luar sana.


”Jika aku hidup kembali seperti ini, apakah Cindy dan Randi juga kembali seperti awal? Ataukah kehidupan terus berlanjut?”


”Ngomong-ngomong... aku belum tahu aku sekarang berada di kota apa. Apakah masih satu kota dengan Randi? Sekarang apa yang sedang dia lakukan?” Wajahnya berubah sedih.


Fitri tersenyum pahit. ”Mengapa aku harus memikirkan dia sedang apa? Dia selalu menyakiti hati ku dan membohongi ku, bahkan bekerja sama dengan istri sirinya untuk membunuh ku dan bayiku.”


Ia kembali menghela nafas dan beranjak dari jendela. Fitri mengambil handuk dan pakaian ganti lalu pergi ke kamar mandi. Ia sedang mandi.


Beberapa menit berlalu, pintu kamar mandi terbuka. Fitri pun telah berganti. Ia pergi ke meja hias.


Ia melihat semua produk yang di pakai Hana, semuanya berbeda dari produk yang biasa ia pakai. Hana memakai produk dari luar. Sedangkan Fitri memakai produk dalam negeri. Jadi ia tidak menggunakan produk kosmetik milik Hana.


Ia menyisir rambut dan keluar dari kamar. Ia tidak melihat siapapun di ruang keluarga maupun di ruang tengah. Ia berjalan ke dapur.


Di dapur.


”Non? Nona sudah bangun? Nona ingin makan apa? Biar Bibi masak untuk Nona.” Ia terkejut saat melihat Fitri berada di dapur.


”Tidak usah repot-repot, Bi. Bibi lanjutkan saja pekerjaan Bibi.” Fitri berjalan mendekati kulkas dan membuka penutupnya. Ia melihat-lihat isi di dalam kulkas itu.


Ada me instan, ada sayur sawi, ada telur, ada bakso. Aku ingin masak me sajalah.


”Sudah tugasnya Bibi, Non, untuk memasak.” Ia menghampiri Fitri yang mengeluarkan beberapa bahan dari kulkas, termasuk kecap, saos, dan satu buah jeruk nipis. ”Nona ingin makan me? Biar Bibi masak ya, Non.” Tawarnya.


Fitri tersenyum melihat bibi dan berkata, ”Tidak usah, Bi. Fitri bisa masak sendiri. Bibi lanjut aja kerjakan yang lain.” Ia mencuci sayur sawi dan tomat juga bumbu lain hingga bersih.


”Tapi... Non!...” Ucapannya tersanggah langsung oleh Fitri.


”Nggak ada tapi-tapian, Bibi! Biarkan Fitri memasak sendiri! Ok?” Tegas Fitri. Bibi mengalah.


Fitri menyalakan kompor dan memasak dua buah telur. Lalu, ia mengambil piring, pisau dan telanan. Ia mengupas dua buah bawang merah. Bibi memperhatikan cara kerja Fitri.


”Nona yakin bisa memasaknya? Nona selama ini tidak pernah memasak dan masuk ke dapur.” Ungkap bibi.

__ADS_1


Hmm? Tidak pernah ke dapur? Tidak pernah memasak? Apakah dia gadis manja di keluarga kaya? benak Fitri.


Fitri menghentikan kerjanya, ia menatap sang bibi dan bertanya, ”Apakah selama ini aku tidak pernah memasak di dapur, Bi? Bagaimana dengan mama?”


”Em...itu...Nona, yang memasak dan membersihkan rumah sudah merupakan pekerjaan Bibi, Nona.” Bibi menyadari jati dirinya.


”Ada apa ini?” Terdengar suara dari belakang Fitri dan bibi.


Fitri dan sang bibi sama-sama menengok melihat Ardi yang berjalan menghampiri mereka berdua.


Sang bibi menunduk dan melanjutkan pekerjaannya. Fitri juga lanjut mengiris bawang merah tersebut.


”Apa yang kamu lakukan?” tanya Ardi. Ia melihat me instan dan beberapa lembar daun sawi dan bakso. ”Kamu ingin memasak me sendiri?”


Fitri mengangguk dan menjawab, ”Iya.” Tangannya terus bekerja. Setelah selesai mengiris bawang merah, ia mengambil tomat dan memotong nya.


Ardi melihat Fitri tidak percaya. Fitri begitu lincah saat mengiris bawang merah dan memotong tomat, seperti pekerjaan itu telah ia kerjakan setiap hari.


”Kamu yakin bisa? Kalau begitu, masakan dengan kakak, kakak ingin memakan masakan mu yang pertama ini.” Ardi menarik kursi dan duduk. Ia terus memperhatikan cara kerja Fitri. Ini pertama kalinya adiknya itu masuk dapur dan memasak.


”Kakak yakin ingin memakan masakannya Fitri? Em...maksudku... kakak ingin memakan masakannya Hana?” Fitri mengambil bakso dan memotongnya, setelah itu, ia memotong sawi.


”Baiklah! Jangan menyesal ya kak! Masakannya Fitri gak enak, loh! Eh... maksudku masakannya Hana belum tentu enak.” Fitri mematikan kompor dan mengangkat telur yang sudah masak di dalam wadah kecil yang berisi air dingin.


Ardi melihat Fitri dengan bingung. Dulu dia memanggil adiknya itu dengan nama Fitri, tapi Hana selalu menolak nama itu. Dia ingin di panggil Hana, bukan Fitri.


Tetapi kali ini, ia menangkap Fitri menyebut dirinya dengan nama Fitri beberapa kali. Setelah ia tersadar, baru ia meralat kembali namanya menjadi Hana.


Ardi terus memperhatikan Fitri yang kerja itu. Fitri mengupas bawang merah dan mengirisnya, lalu di simpan di dalam piring, ia juga memotong bakso, sayur sawi, dan tomat.


Fitri menyalakan kompor, mengambil wajan dan menaruhnya di atas kompor tersebut. Fitri mengambil minyak goreng dan menuangnya sedikit ke dalam wajan, setelah minyaknya panas, ia memasukkan bawang dan menggorengnya hingga harum.


Setelah itu, ia memasukkan sayur sawi, bakso dan tomat, setelah sayurnya agak layu, dia menambahkan 250 ml air.


Ardi memperhatikan adiknya itu dengan heran. Selama ini adiknya tidak pernah menyentuh dapur, bahkan tidak tahu yang mana garam, miwon, dan tidak tahu letaknya di mana. Sementara Hana sekarang melakukannya dengan benar.


Setelah air itu mendidih, Fitri memasukkan bumbu sedap dari me nya dan menuang me ke dalam wajan. Hanya dua menit, Fitri mematikan kompor dan menuang me tersebut ke dalam mangkok. Ia mengupas telur yang di masaknya tadi dan menyimpannya di atas me. Ia menaruh me itu di hadapan Ardi.


”Ni kak, me nya telah siap! Kakak tinggal nambahin saja kecap dan saos sesuai selera kakak dan kalau kakak suka jeruk nipis, kakak tinggal ambil jeruk ini dan peras ke dalam me.” Jelasnya.


Fitri kembali menghidupkan kompor dan memasak me untuknya. Tidak lama, me untuk dirinya sudah siap. Ia menuangnya ke dalam mangkok. Dan mengupas telur yang satunya dan menaruhnya di atas me. Ia menghampiri kakaknya dan duduk berhadapan dengan Ardi. Fitri melihat sedikit pun kakaknya belum menyantap makanannya.

__ADS_1


”Loh, kenapa kakak belum memakan me nya? Gak suka? Gak enak?” Fitri menambahkan saos tomat dan kecap serta perasan jeruk di me dan mengaduknya biar rata.


”Kakak nunggu kamu baru makan.” Jawab Ardi sambil menukar me nya dengan me Fitri yang baru selesai Fitri aduk.


”Kak, itu punya ku! Kakak curang deh!” Keluh Fitri, namun, ia tidak merebut kembali me nya dari kakaknya. Fitri malah menambahkan saos tomat, kecap, dan perasan jeruk nipis ke mangkok me di depannya dan mengadukannya dengan wajah kesal.


”Kakak gak curang. Cuman, kakak memang nunggu kamu yang meracik saos tomat, kecap, dan jeruk pada me nya. Karena kamu ahlinya.” Ardi mulai memakan me di hadapannya sambil melihat Fitri.


Me ini terasa lezat dan enak. Tapi... ada yang berubah dengan Hana. benak Ardi.


Ia sedikit bingung, Hana, yang biasanya manja dan mengambil kembali apa yang di rebut darinya, berbeda dengan Hana yang ada di hadapannya ini.


”Kenapa lihatin Fitri eh Hana seperti itu kak? Kalau kakak gak suka me nya jangan di paksakan untuk di makan.” Fitri salah tingkah di lihatin sama Ardi seperti itu.


”Hmm? Em, kakak suka, kok! Rasanya enak! Besok-besok, kalau masak seperti ini lagi, jangan lupa masakan juga dengan kakak. Ok?”


Fitri mengangguk.


”Dari mana kamu belajar memasak ini?” Ardi penasaran.


”Hmm? Fitri sering memasak ini, kok! Fitri belajar dari almarhum ibuku.” Jawab Fitri jujur.


Ardi melihat Fitri dengan bingung.


Fitri tersadar. ”Em... sebenarnya... Hana em...sebelum memasaknya, Hana membaca tulisan di belakang bungkusan me. Ada cara masaknya di sana. Hanya saja, Hana ingin menambahkan bakso, sayur sawi, tomat dan telur di dalam me ini. Jadi, Hana... Hana hanya mencoba memasaknya saja.” Ia melanjutkan makan tanpa melihat Ardi.


Ardi memakan me nya masih dengan melihat Fitri.


Kemarin saat dia sadar, dia sangat memperjelas dirinya bahwa dia bukan Hana, dia adalah Fitri. Mungkinkah ini efek dari lama nya dia pingsan? Tapi, sikapnya berbeda. benaknya.


”Kakak sudah izinkan kamu pada dosen, dosen mu mengizinkan. Jadi selama dua hari ini, apakah kamu hanya akan duduk di rumah saja?” Ardi merubah topik pembicaraan, mencair kan kembali suasana yang mulai merasa canggung pada Fitri.


”Apakah kakak mengizinkan aku karena aku ingin traveling? Healing?” Fitri bertanya balik.


Ardi tertawa. ”Kakak mengizinkan kamu karena kamu sakit.” Ia menghabiskan me nya. ”Me ini sangat lezat. Kakak sangat suka! Jika kakak ingin makan me ini lagi, siap-siap kamu masakin untuk kakak. Ok?” Ia berdiri dan membelai kepala Fitri sambil berkata, ”Kakak pergi kerja dulu, kalau ada apa-apa, atau perlu sesuatu, hubungi kakak saja.”


Fitri tersenyum dan mengangguk.


Ardi meninggalkan dapur. Fitri melanjutkan makannya.


Ternyata punya seorang kakak itu sangat bagus ya! Perasaan di lindungi, di perhatikan, di sayangi, sangat indah. benak Fitri.

__ADS_1


__ADS_2