
Dua hari kemudian.
Di kediaman utama Fajrin.
”Papa? Kakek? Jam berapa datangnya? Kenapa gak hubungi Fajrin saja biar Fajrin jemput di bandara,” ucap Fajrin, ia duduk di kursi sofa tunggal. Ia terkejut saat ia sampai di rumahnya, ia melihat papa dan kakeknya sudah duduk manis di ruang tamu.
”Hemp! Kalau menghubungi kamu, yakin kamu gak akan memutuskan sambungan telpon secara tiba-tiba di saat Papa masih bicara?” sahut Papa Fajrin dengan ketus. Ia masih marah sama Fajrin saat Fajrin memutuskan sambungan telfon secara sepihak sementara ia masih ingin berbicara dengan anaknya itu.
”Papa pendendam sekali! Untung saja supir ku punya akses keluar masuk di kediaman ku. Jika tidak, Papa dan kakek harus menunggu di luar pagar sampai aku pulang dari kantor baru bisa masuk ke rumah,” ucap Fajrin datar.
”Anak muda, engkau sombong sekali! Kamu kira aku tidak bisa merobohkan pintu gerbang murahan mu ini!” sahut Papa Fajrin ketus memandang Fajrin.
”Yakin, kalau Tuan Arsyad Rahman akan menghancurkan gerbang rumah dari Zahidin Mufajrin?” Fajrin meremehkan papanya.
”Kau...!” Arsyad menatap tajam Fajrin. ”Kamu meremehkan aku? Ak__”
”Aku ada di sini bukan untuk mendengar kalian berdua berdebat! Ini sudah sore tidak lama lagi masuk malam hari. Apa kalian hanya akan duduk mendebatkan hal yang tidak penting ini? Apa kamu sudah mempersiapkan cincin tunangan mu, Fajrin?” pangkas Kakek melerai cucu dan anaknya yang berdebat itu. Fajrin dan Arsyad terdiam menatap kakek.
”Sudah Kek,” jawab Fajrin kemudian.
”Kapan kamu akan menikah? Tentukan waktunya, supaya kita bicarakan pada keluarga Fandi sebentar,” ucap Arsyad.
”Setelah Hana lulus kuliah. Awal tahun depan,” jawab Fajrin.
”Sudah yakin?” Arsyad memastikan.
Fajrin mengangguk pasti, ”Sangat yakin!”
”Hum, kalau begitu... bersiaplah!” titah Arsyad. Fajrin mengangguk. Mereka pergi bersiap.
*
*
*
Di kediaman Fandi.
Ruang tamu di rumah Fandi telah di sulap indah oleh sekelompok orang yang berprofesi sebagai dekorasi dalam acara-acara penting. Mereka menghias ruang tamu dengan tema taman bunga.
”Apa masih ada yang perlu di tambahkan lagi? ” tanya ketua dekorasi pada Fitri.
”Sudah! Begini saja cukup,” jawab Fitri.
”Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu. Masih ada tiga buah rumah lagi yang harus di dekorasi rumahnya.” pamit ketua dekorasi tersebut.
”Iya, terima kasih. Nanti setelah acara selesai... baru saya hubungi lagi, sekaligus melunasi biayanya,” sahut Fitri di iringi senyumnya.
”Iya. Kami pergi dulu.”
Fitri mengangguk. Kelompok dekorasi tersebut pergi dari rumah Fandi.
Fitri duduk di lantai dengan lesu. Lengan kirinya ia sandarkan di dinding. Pikirannya melayang melintasi masa lalunya saat Randi mengajaknya bertunangan.
”Kamu serius ingin bertunangan dengan aku?” tanya Fitri, wajahnya sangat ceria saat mendengar Randi akan bertunangan dengan dirinya.
”Iya, kenapa? Kamu tidak percaya?” tanya Randi. Fitri mengangguk.
Randi tersenyum sambil membelai kepala Fitri sambil berkata, ”Fitri, apa ucapan ku ini terdengar main-main? Aku ingin bertunangan dengan mu dan... aku ingin pertunangan kita memakai tema peri nanti.”
”Tema peri?” Kening Fitri mengerut melihat Randi.
”Iya, karena kamu sangat cantik! Cantik seperti peri,” puji Randi. Wajah Fitri memerah malu sambil tersenyum menunduk di puji Randi.
Fitri tersenyum kecut mengingat kata-kata Randi saat itu. Matanya berkaca-kaca.
”Cantik seperti peri! Tapi kamu tidak pernah mencintai ku. Aku, kamu hanya jadikan pajangan mu. Kamu terpaksa bertunangan dan menikah dengan ku, tetapi kenapa kamu masih memberikan senyum palsu mu padaku di saat itu...” gumam Fitri lirih. Air matanya menetes di pipi kirinya.
Pertunangan ku saat itu. Aku begitu bahagia, karena aku bisa memiliki pria yang ku cintai. Tapi nyatanya... orang yang ku kira mencintai ku, tersenyum manis padaku, berkata lembut padaku... tidak pernah mencintai ku sama sekali. Senyumnya, kata lembutnya, semuanya palsu... Setelah menjalani pernikahan selama sepuluh bulan baru ketahuan sifat aslinya. benak Fitri.
__ADS_1
Air mata Fitri semakin menetes di kedua pipinya. Ia sangat sedih mengenang kisah cintanya dengan orang yang paling ia cintai.
”Mengapa kamu memberiku luka yang begitu perih Randi...! ... hatiku sangat sakit...” gumam Fitri di sela tangisnya.
”Apa? Hatimu sakit? Sakit kenapa?” suara Ardi yang bertanya khawatir dari arah belakang Fitri.
Fitri terkejut. Ia menghapus air matanya dengan segera. Ardi bergegas duduk di hadapan Fitri, adiknya.
”Bagaimana bisa hatimu sakit? Apakah sakit sekali?” tanya Ardi. Ia sangat panik. ”Kamu habis menangis?” tanyanya lagi. Meskipun ia tidak melihat air mata Fitri, tetapi ia masih melihat matanya Fitri yang masih berair.
”Tidak kak. Aku baik-baik saja. Ini... mataku... mataku kemasukan debu saat membersihkan sudut-sudut dinding. Sangat perih di mata, jadi...mataku terlihat seperti habis menangis,” ucap Fitri beralibi. Tidak lupa ia menampilkan senyum manisnya untuk menutupi alibinya.
”Oh. Beneran gak apa-apa, kan?” sekali lagi Ardi bertanya untuk memastikan. Fitri mengangguk cepat.
”Baiklah. Kalau begitu, kamu bersiaplah. Atau... mau aku antar ke salon dan butik langganan mama untuk mempercantik dirimu? Kebetulan mama juga masih berada di sana,” tawar Ardi.
”Tidak perlu kakak. Hana bisa bersiap sendiri, yang sederhana saja. Tema nya juga taman bunga, jika berdandan berlebihan, akan kurang bagus.” tolak Fitri.
”Kakak, jangan beritahu Alin jika aku dan Zahidin telah bertunangan,” pinta Fitri.
”Iya, kakak mengerti. Kamu tenang saja. Ayo, bersiaplah,” ucap Ardi. Fitri mengangguk dan menghela nafas lega.
Fitri berdiri dan pergi ke kamarnya. Ardi masih duduk di tempatnya. Pandangannya menatap satu arah. Ucapan Fitri barusan kembali ia ingat.
”Randi? Kapan dia berhubungan dengan adikku? Apakah mereka pernah bertemu dan berpacaran dengan diam-diam? Dan akhirnya pria itu mengkhianati Hana dan menikah dengan wanita lain dan memiliki anak? Apakah Hana... untuk balas dendam dia... tidak, tidak mungkin!” gumam Ardi.
”Apanya yang tidak mungkin? Ada apa dengan Hana?” tanya Fandi dan Fatma, yang baru datang dari luar.
Ardi mendongak melihat orang tuanya yang sudah berdiri di hadapannya. Randi segera berdiri.
”Mama, Papa, sudah pulang...”
”Jangan alihkan pembicaraan! Ada apa dengan Hana? Apa maksudmu dengan kata tidak mungkin?” tanya Fandi lagi. Wajahnya sangat serius melihat Ardi begitu juga dengan Fatma, serius menatap anak lelakinya itu.
”Em... itu... tidak ada apa-apa, Ma, Pa. Hanya saja... Ardi berpikir... tidak mungkin Hana tidak akan mencintai Fajrin nanti...” jawab Ardi beralibi.
”Kamu ini! Hana tidak akan mencintai Fajrin. Sana, pergi bersiap! Tidak lama lagi Fajrin akan datang. Jangan bicara sembarang kalau ada pria itu!” ucap Fatma mengingatkan.
Fatma dan Fandi duduk di ruang tamu, ruang yang akan menjadi saksi pertunangan bohongan Fitri dan Fajrin.
Di kamar Fitri.
Fitri sudah selesai mengemas pakaian yang akan dia bawa ke kota C. Ia membaca kembali balasan email dari Randi bahwa ia di terima magang di perusahaan Randi.
”Dia pastinya sudah menyadari wajah ku yang mirip dengan Fitri Raihana mantan istrinya itu. Hemp! Aku tidak yakin kamu tidak akan terkejut setelah melihat aku yang asli, Randi. Aku yang asli jauh berbeda dari foto yang aku lampirkan pada lamaran magang, yang ku kirimkan padamu. Aku tidak sabar ingin melihat reaksi mu juga Cindy saat bertemu dengan ku.” gumam Fitri.
”Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan rumah ku di sana. Apakah sudah di jual? Ataukah masih di urus sama bibi? Barang-barang ku... aku merindukan rumah ku,” gumam Fitri lagi.
Fitri menghela nafas panjang. Ia segera bersiap diri waktu sudah menunjukkan pukul 19 : 35, tidak lama lagi pria sialan mesum si Fajrin akan datang.
Ia telah selesai bersiap. Ia menonaktifkan hapenya dan memasukkan ke dalam tas. Tiket pesawat miliknya juga tidak lupa ia simpan di dalam tas.
Ia keluar dari kamar dengan mendorong koper dan memegang tasnya di tangan. Ia terus melangkah hingga melewati ruang tamu dan terus melangkah keluar rumah.
Fatma dan Fandi hanya melihat Fitri tanpa menegurnya. Fitri memasukkan koper dan tasnya di dalam mobil Fandi. Setelah itu, ia kembali masuk ke dalam rumah. Ia menemui orang tuanya di ruang tamu.
Di ruang tamu.
”Lalu, sampai di sana kamu akan tinggal di mana? Kenapa tidak membiarkan kakak mu pergi mengantar mu saja? Paling tidak, jika kamu sudah menemukan tempat tinggal yang bagus dan aman, baru kakak mu kembali ke sini. Mama dan papa juga akan tenang membiarkan kamu di sana.” ucap Fatma.
”Tidak perlu. Hana bisa mencari penginapan yang dekat dengan perusahaan tempat Hana magang. Mama dan papa tidak perlu khawatir, Hana bisa menjaga diri dan akan baik-baik saja,” sahut Hana.
Brumm! Sciit! Suara deru mobil yang berhenti di depan rumah Fandi.
”Mereka sudah datang. Tapi, dari suara deru mobilnya sepertinya bukan hanya satu mobil yang datang,” ucap Ardi yang baru datang di ruang tamu.
”Kamu benar, sepertinya ada lima buah mobil yang berhenti bersamaan di depan rumah.” sahut Fandi. Ia melihat Fitri.
Fitri nampak bingung. Bukankah Fajrin sudah setuju tidak akan membawa orang-orang, hanya dia, papa, dan kakeknya saja yang datang?
__ADS_1
”Assalamu 'alaikum...!” suara Fajrin yang memberi salam dari bibir pintu rumah yang terbuka itu.
”Wa 'alaikum salam!” sahut Fandi.
Mata Fitri terbelalak melihat Fajrin yang berjalan masuk ke dalam rumah, di samping kiri dan kanan Fajrin terlihat papa dan kakek Fajrin. Belum lagi di belakang mereka ada beberapa orang yang berjalan masuk dengan membawa barang bawaan di tangan mereka.
Fitri semakin terkejut saat melihat ada Alin, Nita, Alvin yang ikut serta di belakang Fajrin.
Kurang ajar pria sialan mesum ini! Katanya tidak akan membawa orang. Ini... bahkan teman akrab ku di panggilnya juga. benak Fitri. Ia sangat kesal memandang Fajrin.
Fandi juga heran melihat rekan-rekan kerja di kantornya datang menghadiri pertunangan Fajrin dengan putrinya.
”Kenapa sayang? Terpukau dengan ketampanan ku, sehingga melihat ku seperti itu?” bisik Fajrin pada telinga Fitri. Fitri terdiam.
”Aduh, Pak Fandi tidak bilang jika anak perempuannya adalah kekasih dari pak direktur perusahaan...”
”Iya, benar! Apa pak Fandi ingin menyembunyikan kebenaran ini dari kita?”
”Kalau saja Pak direktur tidak mengundang kita, kita tidak akan tahu hal ini...”
Ucap rekan-rekan Fandi sahut menyahut. Fandi hanya tersenyum kikuk menanggapi.
”Selamat Pak Fandi. Tidak menyangka, kita akan menjadi kerabat dekat,” ucap Arsyad sambil berjabat tangan dengan Fandi.
”Aku juga sebenarnya tidak tahu kalau anakmu ternyata menyukai anakku,” sahut Fandi.
”Hahaha...kamu benar Fandi. Tidak menyangka kalau anak-anak kita saling menyukai,” ucap Arsyad sambil menepuk ringan bahu kanan Fandi.
”Hana, akhirnya kamu jadian juga dengan pak dosen tampan kita,” bisik Nita pada Fitri.
”Iya, Hana. Kamu beruntung pak dosen tampan kita tertarik padamu,” sambung Alin berbisik pada Fitri.
Fitri tidak menyahuti, ia melirik tajam pada Fajrin yang tersenyum melihat dirinya.
”Untuk mempersingkat waktu lebih baik kita mulai saja pertunangan anak-anak kita, bagaimana Fandi?” ucap Arsyad meminta pendapat Fandi.
”Iya,” jawab Fandi.
”Aku maunya acara pertunangan anakku satu-satunya harus meriah dan di ketahui seluruh dunia. Tetapi... anakku meminta pertunangan yang sederhana saja, hanya di antara dua keluarga. Untuk acara yang meriah nanti saat pernikahan saja.” ucap Arsyad sambil tersenyum melihat anaknya, Fajrin.
Fitri, Fandi, Ardi, dan Fatma terdiam.
”Baiklah, baiklah, sekarang saat memasang cincin pertunangan di jari manis kalian,” ucap Arsyad lagi pada Fajrin dan Fitri.
”Pak Zahidin ayo pasangkan cincinnya pada jari Hana...!”
”Pak direktur jangan malu-malu! Cepat pasangkan cincin di jari kekasih mu...!
”Ayo, cucu ku tunggu apa lagi? Pasangkan cincin mu pada gadis mu,” ucap Kakek.
”Baiklah, baiklah! Aku akan pasangkan cincinnya pada jari manis kekasih ku yang tercinta, Fitri Raihana Fandi,” ucap Fajrin. Ia mengeluarkan cincinnya dan mengambilnya.
Ia berjongkok di hadapan Fitri, membuat semua orang terkejut. Mereka tidak menyangka seorang direktur perusahaan berlutut pada seorang wanita di hari pertunangan.
Fitri juga tidak menyangka Fajrin akan seromantis ini.
”Sayang, mulai malam ini, engkau resmi menjadi kekasih ku, tunangan ku, calon istriku,” ucap Fajrin sembari memasukkan cincin di jari manis Fitri.
Fitri terkejut tiba-tiba cincin sudah bertengger di jarinya saat ia masih terbengong mendengar ucapan manis Fajrin.
”Hana, sekarang giliran mu memakaikan cincin di jari pak dosen tampan,” bisik Alin pada Fitri. Ia memberikan cincin pada tangan Fitri.
Fitri melihat cincin yang ada di tangannya, ia beralih melihat Fajrin yang menunggu Fitri mengikat dirinya sebagai kekasih sahnya.
Tanpa berkata apapun Fitri memasukkan cincin ke jari manis Fajrin.
Prok Prok! Prok Prok! Sorak tepuk tangan menggema di ruang tamu.
”Mengapa tidak ada kata-kata romantis yang keluar dari bibir mu sayang saat memakaikan cincinnya padaku?” bisik Fajrin pada Fitri.
__ADS_1
”Kamu pria mesum, sialan! Kamu sangat licik!” balas Fitri berbisik.
”Apakah itu kata romantis khusus untukku sayang? Aku terharu!” balas Fajrin berbisik. Fitri terdiam karena kesal.