
Kediaman Fandi.
Acara pertunangan Fajrin dan Fitri telah selesai. Para tamu yang di undang oleh Fajrin telah pulang setelah mereka selesai memakan hidangan yang di sajikan tuan rumah. Berikut dengan temannya Fitri, telah pulang juga.
Fajrin, papanya, dan kakeknya Fajrin masih berada di sana. mereka sedang berbicara basa basi di ruang tamu setelah mereka selesai makan malam. Mereka membicarakan saat pertama kali Fandi bekerja pada perusahaan Wisma Grub.
Fitri merasa gelisah, ia terus melihat waktu dari layar hapenya. Satu setengah jam lagi adalah jam keberangkatannya ke kota C. Sementara dia masih terperangkap di dalam rumah bersama tunangan dan keluarga dari tunangannya itu, yang seharusnya, ia sekarang harus sudah pergi ke bandara.
”Kamu gelisahkan apa?” bisik Fajrin pada Fitri.
”Bukan urusan mu,” ketus Fitri berbisik pada Fajrin.
”Sayang, kamu lupa? Mulai malam ini, urusan mu adalah urusan ku, urusan ku adalah urusan mu. Masalah mu adalah masalah ku, masalah ku adalah masalah mu,” Fajrin kembali berbisik pada Fitri.
”Aku ingin istirahat. Tapi kalian masih memenjarakan aku di ruang tengah ini.”
”Kamu ingin tidur di jam sembilan ini, sayang? Kamu nampak lelah sekali, butuh aku untuk membuat mu tidur?”
”Kamu! Dasar mesum sialan!” ketus Fitri balas berbisik pada Fajrin. Bahkan, kakinya yang di bawah sana menginjak kaki Fajrin dengan keras.
”Aduh!” keluh Fajrin menahan sakit pada kakinya. Ia hanya menggunakan sendal biasa yang menyerupai sepatu kantor, yang bahannya tipis, sementara Fitri, ia mengenakan sendal hak tinggi dan dia juga menginjak kaki Fajrin tanpa perasaan. Jeritan Fajrin membuat semua orang melihat ke arahnya.
”Kamu kenapa?” tanya Arshad pada Fajrin.
”Oh, tidak apa-apa. Aku hanya ke-ingat saja jika aku masih ada urusan kerjaan. Jadi, cepatlah kalau masih ada yang mau di bicarakan. Setelah itu... kita pulang,” jawab Fajrin, wajahnya datar. Arshad mengerti maksud Fajrin.
Dasar pembohong! Jelas-jelas kesakitan karena ku injak. Pembohong mesum sialan ini, tapi... benar juga. Lebih baik cepat pulang sana! Jangan menyita waktuku! benak Fitri.
”Oh. Baiklah! Fandi, anak-anak kita telah bertunangan...” Arshad sengaja menjeda ucapannya.
Fitri mulai merasa panik dengan arah pembicaraan papanya Fajrin. Keningnya mengerut melihat wajah papanya Fajrin dengan serius. Fandi, Fatma, dan Ardi juga demikian, melihat papanya Fajrin dengan serius.
”Fandi, anakku Fajrin sudah jelas mata pencahariannya. Hana, anak kalian sudah akan lulus. Awal tahun depan adalah awal yang bagus untuk menetap kan pernikahan me__”
”Tidak! Aku tidak setuju! Siapa yang ingin menikah dengan mu!” pangkas Fitri sambil berdiri. Wajahnya jelas sekali memancarkan penolakan. Fajrin mengerut melihat reaksi Fitri. Ia menatap Fitri dengan tajam, ia tidak suka penolakan. Fitri menatap balik Fajrin tanpa takut.
Ada apa dengan kucing liar ku ini? Bukankah semuanya baik-baik saja? Kenapa bicaranya seakan-akan...aku memaksa dia...tunggu! Apa jangan-jangan ucapan kata cintanya di rumah ku saat itu... hanyalah akalannya saja supaya bebas dari ku? benak Fajrin.
”Nak, tenang! Duduklah!” Fandi menenangkan Fitri, Fitri duduk kembali di bangkunya. Fatma dan Ardi juga ingin memprotes namun, di tahan oleh Fandi dari tangannya yang di majukan ke depan.
Ho... gak nyangka, kucing liar ku juga sangat licik. Tapi... baiklah! Mari kita taruhan siapa yang akan menang, kamu...atau aku? Aku akan terus membuat mu berada di sisiku, dan kamu... berusahalah untuk kabur dariku. Siapakah yang akan menang nantinya. Aku sangat penasaran! benak Fajrin.
”Awal tahun depan terlalu cepat menurut kami, Pak Arshad.” protes Fandi dengan lembut.
”Menurut ku melewati tiga bulan lebih bukanlah waktu yang cepat, Fandi. Jangan menunda hari baik. Anak-anak kita sudah dewasa, sudah mempunyai karir sendiri, anak-anak kita juga saling mencintai makanya mereka bertunangan sekarang. Bukankah menikah hanya menunggu waktu baik saja? Tahun depan adalah waktu yang pas, dan itu juga bertepatan dengan ulang tahunnya anakku yang ke 28 tahun. Bagaimana menurut mu, Hana?” Arshad meminta pendapat Fitri.
”Menurut ku itu terlalu cepat, Pak Arshad. Jika Fajrin mau menunggu ku, tunggulah aku setahun lagi,” jawab Fitri tanpa melihat Fajrin.
Selama itu, aku pasti punya cara untuk terlepas dari pria sialan gila ini! benak Fitri.
”Aku tidak bisa menunggu mu setahun. Tiga bulan lebih...waktu untuk aku menunggu mu, jika kamu masih protes waktunya... baiklah, Minggu depan kita akan menikah.” ucap Fajrin dengan serius.
__ADS_1
”Apa?” Serentak, Fandi, Fatma, Ardi, dan Fitri terkejut. Bisa-bisanya Fajrin menetapkan tanggal pernikahan seenaknya saja!
”Pilihan di tangan mu. Jika kamu ingin istirahat sekarang... sebaiknya kamu bisa meringkas waktu kami berada di sini, kan sayang?” ucap Fajrin lagi sambil tersenyum menggoda, menatap Fitri.
Fitri menatap tajam Fajrin. Lelaki brengsek! Mesum! Sialan! Dia mempermainkan aku. Aku...aku sangat marah! Ingin ku cakar saja wajahnya itu! benak Fitri geram.
”Malam ini tidak ada keputusan dariku untuk waktu pernikahan. Sementara, jalani pertunangan saja dulu. Jika memang sudah keburu untuk menikah... carilah wanita lain yang bersedia menikahi mu dengan segera Tuan Zahidin Mufajrin yang terhormat. Aku siap melepaskan dirimu untuk wanita tersebut,” kata Fitri dengan tegas.
”Baiklah! Papa, Kakek, kalian batal untuk kembali besok. Pernikahan ku dengan Hana adalah minggu depan. Jadi, Papa dan Kakek, tolong persiapkan acara pernikahan ku dengan Hana semeriah mungkin. Sekarang saatnya kita pulang.” ucap Fajrin serius, tak kalah seriusnya dari Fitri.
”Kamu tidak bisa seenaknya begitu saja Fajrin!” protes Ardi, Fatma, dan Fandi.
”Aku tidak terima protes dalam bentuk apapun itu!” sahut Fajrin.
”Terserah kamu! Pernikahan mu Minggu depan, awal tahun depan, yang jelas aku... Fitri Raihana tidak akan menikah secepat itu dengan mu...” ucap Fitri sambil berdiri dan melihat Fajrin dengan tajam. Fajrin juga menatap Fitri, mereka saling menatap. Beberapa detik berlalu, Fitri beranjak pergi dari sana. Fajrin berdiri mengejar Fitri.
”Bang, jangan ikuti adikku!” Ardi mencegah Fajrin dengan menghadang langkah Fajrin.
”Jangan menghentikan aku!” ucap Fajrin dengan penuh penekanan di setiap ucapannya. Ardi menciut takut seketika saat melihat aura membunuh di mata Fajrin. Fajrin menggeser tubuh Ardi dan melangkah dengan cepat ke kamar Fitri.
Ini...apakah Hana tidak menyukai anakku atau... dia begini hanya karena belum siap menikah saja? Apa anakku... pertunangan ini... dia memaksa Hana untuk bertunangan? Jika iya berarti Hana sama sekali tidak mencintai anakku. Tapi... aku tidak bisa putuskan yang menjadi kehendaknya anakku. Apalagi ini pertama kalinya Fajrin mencintai seorang gadis. benak Arshad.
”Em... ini... ini adalah permasalahan anak-anak. Biarkan Fajrin dan Hana untuk berbicara berdua. Fajrin tidak akan menyakiti Hana. Aku jamin!” ucap Arshad. Ia merasa bersalah dengan Fandi saat melihat perubahan di wajah mantan karyawannya itu.
”Maafkan sikap arogan cucu ku. Jujur, baru kali ini dia mencintai seorang gadis. Aku kira dia tidak tertarik dengan gadis, jadi aku berencana menjodohkan dia dengan cucu teman ku. Tapi, sedikitpun cucuku tidak tertarik dengan perempuan itu, meskipun aku memaksanya. Aku melihat cucuku benar-benar mencintai anak kalian di saat pesta kampus. Aku mengenal cucu ku, meskipun dia arogan, dia adalah anak baik,” sambung Sang kakek membujuk Fandi yang terlihat marah.
Fandi tidak bisa berkata apa-apa sekarang di hadapan mantan atasannya itu. Ia melihat istri dan anak lelakinya. Wajah mereka terlihat panik. Jujur dia juga terlihat panik dan khawatir, apa yang akan di lakukan Fajrin pada Fitri?
*
*
”Buka pintunya atau aku dobrak pintu kamar mu ini...!” ancam Fajrin.
Fitri tidak perduli. Iya bukan hanya mengunci pintu kamarnya dengan kunci pada daur pintu saja, ia juga menguncinya dengan engsel.
”Hana! Aku hitung sampai tiga... kamu tidak buka dengan baik-baik, aku buka dengan paksa! Dan kamu sangat tahu apa yang akan ku lakukan padamu jika aku sudah berhasil membuka pintu kamar mu yang jelek ini!” Fajrin masih mengancam Fitri.
Fitri masih tidak perduli. Ia memakai jaketnya dan menyandang tas nya. Ia membuka jendela kamar dengan pelan.
”Satu...!” Fajrin mulai menghitung.
Fitri telah berhasil membuka jendela kamarnya. Ia segera keluar dan menutup kembali jendela kamarnya agar tidak terlihat jika jendelanya terbuka. Ia berjalan dengan cepat ke mobil papanya. Ia mengambil tasnya dari dalam mobil dan pergi mencari taksi yang lewat untuk pergi ke bandara.
”Dua...! Hana, aku tidak main-main!” ancam Fajrin lagi.
”Tiga...!” Fajrin masih menunggu beberapa detik, memberikan Fitri waktu untuk membuka pintunya. Tapi penantiannya sia-sia. Ia mulai mendobrak pintunya. ”Sial! Dia mengunci dobel pintunya!” gumamnya.
Ia kembali mendobrak pintu kamar Fitri. Suara dobrakannnya terdengar sampai ke ruang tamu. Membuat mereka yang berada di ruang tamu mengernyitkan kening sambil saling melihat. Menit berikutnya mereka tersadar dan segera berdiri menyusul ke kamar Fitri.
”Kamu ingin merusak pintu kamarnya anakku?” tanya Fandi dengan marah.
__ADS_1
”Dari tadi aku mengetuknya tapi Hana tidak membukakan aku pintu kamarnya. Dia mengira aku tidak berani mendobrak pintu kamarnya, jadi aku mendobraknya untuk membuktikan jika aku berani!” jawab Fajrin. Fajrin kembali mendobrak pintunya.
”Fajrin, jangan gila begini! Hentikan, kamu akan merusak pintu kamar pacar mu,” bujuk Arshad. Fajrin tidak mengindahkan.
”Hentikan!” bentak Fatma. Fajrin berhenti.
”Mama, aku hanya ingin bicara dengan Hana. Mengapa dia berubah secepat ini, beberapa hari yang lalu berkata mencintai ku, akan bertunangan dengan ku, akan tetap berada di sisiku, tetapi... melihat sikap dan ucapannya tadi, aku... aku butuh penjelasan darinya, Mama...” ucap Fajrin.
Fatma menghela nafas. Jika begini terus, keributan ini tidak akan berakhir.
”Hana...buka pintunya sayang, ini Mama.” Fatma membujuk Fitri untuk membuka pintu kamarnya. Tidak ada sahutan.
”Sayang...ini Mama sayang! Mama ingin bicara dengan mu...” Fatma kembali mengetuk pintu kamar Fitri. Masih tidak ada sahutan. Ardi dan Fandi mulai cemas.
”Hana, ini kakak, sayang! Buka pintunya sayang!” bujuk Ardi sambil mengetuk pintu kamar Fitri. Tidak ada sahutan.
”Sayang, ini Papa, Nak! Tolong bukain pintunya...” Fandi mengambil alih. Masih tidak ada sahutan.
”Papa, Ardi, Mama takut... Hana... Hana kembali pingsan karena terkejut tadi. Hana... Hana tidak menjawab kita dari tadi. Dobrak pintunya Pa, Ardi...” Fatma mulai panik dan cemas dengan keadaan Fitri di dalam sana.
Ardi dan Fandi mulai mendobrak pintunya. Tapi... pintunya belum bergerak sama sekali.
”Awas! Biar aku bantu dobrak pintunya!” ucap Fajrin. Fandi segera menyingkir. Kini kekuatan Ardi dan Fajrin menyatu. Mereka mendobrak pintu kamarnya Fitri dengan tenaga yang kuat. Tiga kali dobrakan pintunya terbuka.
Semuanya masuk ke dalam kamar dengan khawatir. Mereka tidak melihat Fitri di atas ranjang maupun di lantai.
”Hana? Kamu di mana sayang?” tanya Fatma. Tidak ada sahutan.
”Hana? Kamu di mana?” Fandi dan Fajrin yang bertanya. Tidak ada sahutan.
”Hana...!” Ardi membuka pintu kamar mandi, pintunya tidak terkunci dan Fitri tidak berada di dalam sana.
”Hana!” Fajrin membuka pintu toilet, pintunya juga tidak terkunci dan Fitri juga tidak berada di dalam toilet.
”Kemana Hana?” mereka semua bertanya-tanya. Fajrin, Ardi, Fandi, Arshad melihat ke arah jendela. Jendela kamar tertutup semuanya.
”Pa, Hana, Pa. Hana... kemana dia?” ucap Fatma dengan sedih pada Fandi. Fandi terdiam. Ia hanya membelai punggung istrinya untuk menenangkannya.
Aku tidak yakin jika jendelanya benar-benar tertutup semuanya. benak Ardi dan Fajrin.
Mereka berdua berjalan ke arah jendela. Mereka memeriksa satu persatu jendela kamar. Satu jendela kamar yang terbuka kuncinya.
”Hana kabur!” ucap keduanya.
”Apa?” Arshad, kakek Fajrin, Fandi, Fatma terkejut sambil melihat jendela yang di buka oleh Fajrin dan Ardi.
”Ini semua karena mu, Fajrin!” ucap Fatma dan Fandi dengan marah melihat Fajrin.
Fajrin acuh saja. Ia lompat dari jendela. Ardi juga bergegas melompat keluar. Fatma jatuh terkulai di lantai, Fandi menangkap tubuh Fatma.
”Anakku, Pa... dia pergi kemana...” lirih Fatma berucap.
__ADS_1
Arshad dan papanya saling memandang dengan datar. Sikap anaknya memang adalah salinan dari mereka.