
Di kota C, kediaman Cindy.
”Randi, lihatlah perutku semakin besar! Tiga bulan lagi waktu ku untuk melahirkan.” ucap Cindy, tangannya mengelus perut besarnya. Senyumnya menghiasi bibirnya.
Randi tersenyum, ”Iya, dan aku akan menjadi Papa.” ucapnya. Tangannya membelai perut Cindy.
Namun, pikirannya saat ini tidak pada Cindy, pikirannya justru berpikir tentang Fitri.
Kalau Fitri masih hidup, apakah perutnya juga akan membesar seperti ini? benaknya.
”Randi, kamu kenapa sih? Wajah mu kok sedih begitu mengelus perutku? Kenapa? Kamu sedang memikirkan apa?” tanya Cindy.
”Ah! Em..tidak ada.” jawab Randi. Ia menarik tangannya dari perut Cindy. ”Aku cuma memikirkan perusahaan yang sedang goyang sekarang. Aku membutuhkan uang 2milyar untuk menanam modal di perusahaan Wisma Grup.”
”Bukankah uang perusahaan ada banyak?”
”Iya, tapi, perusahaan juga memiliki kerja sama dengan perusahaan lainnya. Dan juga untuk menunjang kehidupan para pekerja di perusahaan itu. Uang perusahaan sekarang tinggal 2 milyar. Keuntungan yang di dapat di perusahaan kita dengan perusahaan lain hanya 20-30%. Jika 2 milyar aku gunakan untuk itu, bagaimana nasib perusahaan kita dengan perusahaan lain? Dan kita akan dapat uang dari mana untuk membayar gaji para pekerja di perusahaan?” tanya Randi.
”Bagaimana bisa uang perusahaan hanya tinggal 2 milyar? Bukankah satu tahun yang lalu ada sekitar 40-30 milyar?” tanya Cindy.
Apakah kamu lupa? Uang yang kamu pakai foya-foya itu adalah uang dari perusahaan. Kamu terlalu boros menggunakan uang. Uang di rekening ku tinggal 60 juta dari 500 juta. Uang tabungan Fitri pun kamu embat juga. Kalau kamu gak hemat seperti Fitri...Huh! Fitri kepergian mu benar-benar aku sesali. Kamu istri yang paling mulia dan baik untukku. Kenapa aku di buta kan oleh dendam? Dan mengabaikan mu dan berselingkuh darimu. Randi menghela nafas. Kalau saja waktu bisa di putar atau ada kehidupan baru dengan mu...aku ingin kamu hanya kamu yang mendampingi ku, seumur hidupku. benak Randi.
”Perusahaan banyak mengalami kerugian dari satu tahun yang lalu, tentu saja, kita harus membayar ganti rugi pada perusahaan lain, untuk tetap mempertahankan kerja sama dengan mereka.” jelas Randi.
”Bukankah ada kartu kredit milik Fitri yang dia tabung untuk perusahaan? Gunakan uang itu saja untuk menanam modal di perusahaan apa tadi? Oh, di perusahaan Wisma Grup.” usul Cindy.
”Apa kamu lupa, jika uangnya sudah kamu ambil separuh? Uang itu tidak akan cukup lagi. Kartu itupun sekarang sudah ada di tangan perusahaan. Perusahaan lah yang mengelolanya kartu kredit itu. Dan perusahaan sudah tidak akan menggunakan uang itu untuk membantu menanam modal di perusahaan tersebut....”
”Loh, memangnya kenapa? Itukan untuk perusahaan? Kenapa perusahaan tidak mau menggunakan uang itu?” pangkas Cindi. Wajahnya terlihat bingung.
”Karena untuk tiap bulan Fitri memberikan uang santunan di beberapa panti asuhan miliknya, panti asuhan tersebut di bawah naungan perusahaan. Waktu kamu mengambil uang itu, gaji ku lah yang di potong untuk membayarnya.” ungkap Randi.
”Lah, perusahaan itu kan milikmu sekarang? Bagaimana bisa kamu ganti rugi begitu?! Eh..apakah kamu menyalahkan aku karena pemotongan gaji mu?” Cindy cemberut.
”Perusahaan itu memang milikku sekarang. Tapi, bukan kah sudah ku bilang sebelumnya, kalau kartu kredit Fitri di kelola oleh perusahaan. Kartu itu hanya Fitri seorang yang bisa gunakan dengan leluasa.”
Dan untuk pemotongan gaji ku, aku memang menyalahkan mu. benak Randi.
”Dan untuk pemotongan gaji ku, aku tidak menyalahkan mu sepenuhnya. Kalau bisa, kamu mulailah untuk menghemat keuangan kita.” lanjut Randi berucap.
”Aku tidak bisa menahan diriku dari godaan berbelanja. Apalagi kalau ada model baru yang ku lihat di mall atau di salah satu butik langganan ku.” sahut Cindy.
Randi terdiam. Beberapa menit dari terdiam, ia berdiri dan mengambil kunci mobil dari laci.
”Kamu mau kemana, malam-malam begini?” tanya Cindy. Keningnya mengerut melihat Randi. Pandangannya juga tidak ramah.
__ADS_1
”Aku akan kembali ke perusahaan. Ada sesuatu yang aku urus bersama beberapa divisi lain.” jawab Randi.
”Oh, pergilah! Kalau cepat selesai pulanglah, tidur di rumah. Jangan tidur di perusahaan. Dalam satu terakhir ini kamu jarang sekali tidur di rumah. Selalu tidur di perusahaan.” keluh Cindy, manja.
Randi tersenyum, ia membelai kepala Cindy. ”Iya, kalau urusan ku cepat selesai, aku akan pulang ke rumah untuk istirahat. Kalau masih lama, aku akan tetap tidur di perusahaan.” jawabnya. ”Aku pergi!” pamitnya. Ia mencium kening Cindy sebelum pergi.
Cindy kembali duduk di kursi. Ia terlihat kesal. Bukan terlihat tetapi ia sangat kesal. ”Ini semua gara-gara papa! Papa selalu dan selalu saja main judi! Kalau kalah selalu aku jadi tempat pelariannya!” gerutunya.
.. ..
Di perjalanan.
Randi menjalankan mobil tidak begitu fokus. Penyesalannya kepada Fitri sangat mendalam. Semenjak meninggalkannya Fitri, ia sudah tenggelam dalam penyesalan.
Kediaman Fitri
Randi menghentikan mobil di halaman parkir rumah Fitri. Yah, Randi tidak pergi ke perusahaan. Ia pergi ke rumah Fitri.
Bahkan, jika dia lembur, dan pulang larut malam, ia pergi ke rumah Fitri untuk beristirahat.
Tidurnya akan nyenyak jika ia tidur di dalam bilik yang ia dan Fitri tempati. Dia merasa ada Fitri yang membelai rambutnya, membuatnya tenang.
Tok tok tok! ”Bi...!” Randi mengetuk pintu. Dalam sekali ketikan pintu terbuka.
Randi menyuruh bibi art untuk tinggal di rumah Fitri untuk membersihkan dan merawat rumah itu. Sang bibi adalah kesayangan Fitri. Untuk itulah Randi menyuruh bibi yang tinggal di sana, daripada mengikuti usulan Cindy untuk menjual rumah itu.
”Hum!” jawab Randi, singkat. Ia berjalan masuk ke dalam rumah. Ia seakan menghirup aroma Fitri di sana. Ia duduk di kursi, dan melonggarkan dasinya.
Bayangan Fitri yang datang menyambut kepulangannya pun terlihat kembali. Fitri selalu tersenyum menyambutnya pulang.
”Mas sudah pulang?” tanya Fitri. Ia membuka jas Randi dan membuka sepatu dan kaos kaki Randi dan menyimpannya di rak sepatu. ”Fitri sudah memasak makanan kesukaan Mas. Setelah Mas beristirahat sedikit, kita makan ya Mas.” ucapnya dengan tersenyum.
Randi menghela nafas. Ia membuka sepatunya sendiri. Selama ini dia tidak menghargai Fitri, apapun yang dilakukan wanita itu.
”Maafkan aku, Fit.” gumamnya lirih, melihat foto pernikahan dia dan Fitri yang masih bergantung menghias dinding di ruang keluarga itu.
”Bi! Ada apa Bibi memasak?” tanya Randi.
”Ada, Tuan! Tuan ingin makan?” tanya sang bibi.
”Iya. Saya lapar, Bi. Tolong siapkan makanan yan, Bi.” titah Randi.
”Iya, Tuan!” jawab sang bibi. Sang bibi pergi ke dapur dan menyiapkan makanan untuk Randi.
Randi menyimpan sepatunya di rak sepatu. Ia pergi ke kamar, menyimpan jas dan mengganti pakaiannya.
__ADS_1
Setelah itu, ia pergi ke dapur. Ia menarik kursi dan duduk makan.
Sang bibi prihatin melihat Randi. Apakah dia tidak di beri makan sama istrinya, makanya dia datang kesini terus untuk makan? Jika saja tuan Randi masih berstatus suami dari nyonya Fitria, tuan Randi tidak akan kelaparan. Nyonya selalu memperhatikan makanannya tuan. benaknya.
”Bibi, pakaian kotor ku nanti tolong Bibi cuci dan simpan kembali di dalam lemari ya, Bi.” titah Randi pada sang bibi.
”Iya, Tuan!”
”Pakaiannya Fitri jangan di biarkan kusam dalam lemari ya, Bi. Tiap bulan Bibi cuci kan pakaiannya Fitri?” tanya Randi lagi.
”Sesuai perintah Tuan. Bibi selalu mencuci, menjemur, dan merapikan kembali pakaian nyonya.” ungkap sang bibi.
”Terima kasih, Bi. Kalau keperluan rumah ini dan keperluan dapur, Bibi jangan sungkan meminta padaku.”
”Iya, Tuan. Tapi, selama ini Bibi masih menggunakan kartu kredit milik nyonya, Tuan.” ungkap sang bibi.
Randi terdiam sambil mengunyah makanannya.
Oh, pantas bibi tidak pernah meminta uang padaku. benaknya.
”Kartu kredit milik Fitri? Kok saya gak tahu yah, Bi?” tanya Randi.
”Iya, Tuan. Kartu kredit ini sudah lama nyonya berikan pada Bibi. Katanya untuk membeli keperluan rumah dan dapur. Jika Bibi memerlukan uang, nyonya menyuruh Bibi untuk mengambil dari uang itu juga, Tuan.” ungkap sang bibi lagi.
Fitri..jika kamu yang memegang kendali keuangan, semua akan baik-baik saja dalam aturan mu. Begitu juga dengan perusahaan, sewaktu masih ada kamu, meskipun aku yang bekerja di perusahaan, kamu selalu membantu ku bagaimana mengatasi masalah yang ada di dalam perusahaan. Kamu sangat pintar dan genius. benak Randi.
”Apa Bibi tahu berapa saldo dari rekening itu?” tanya Randi.
”Maaf, Tuan. Bibi tidak tahu berapa saldonya. Hanya saja, kata nyonya dulu, kalau kartu kredit ini gak akan habis isinya, Tuan. Katanya, dari perusahaan akan memasukkan dua juta tiap bulannya ke rekening itu, Tuan.” ungkap bibi.
Randi terdiam. Selama ini, ia selalu mengabaikan Fitri dan apapun yang dilakukan wanita itu.
Randi telah selesai makan. Tanpa berkata, ia pergi dari dapur. Ia pergi ke kamar.
Dia duduk di meja yang sering ia dapati Fitri duduk di sana. Matanya mengarah pada bingkai foto yang ada di atas meja. Dan foto-foto Fitri saat remaja, yang di lengket kan di dinding.
Foto-foto yang ada di atas meja adalah foto di saat ia dan Fitri bertunangan dan foto dia dan Fitri saat menikah. Senyuman Fitri sangat terlihat manis sekali dalam kedua foto itu.
”Fitri, sekarang perusahaan sedang tidak stabil. Harapan ku hanyalah dapat bekerja sama dengan perusahaan Wisma Grup, dari kota P. Tapi, perusahaan kita kekurangan dana untuk menanam modal di perusahaan besar itu.” ucap Randi pada foto Fitri.
”Kalau ada kamu di sini, aku tidak akan khawatir, karena ada kamu yang selalu punya solusi.” ucapnya lagi.
Ia menyimpan foto itu kembali ke atas meja. Ia menghela nafas dan beranjak berdiri. Ia pergi ke ranjang, membaringkan dirinya.
.... ..
__ADS_1