
Keesokan harinya di ruangan VIP, hotel X15, kota B.
Hari ini adalah hari besar bagi kedua perusahaan besar yang ternama, yaitu Wira Corp dan Wisma Grub menjalin kerja sama.
Mereka akan menandatangani sebuah kerja sama yang sangat menguntungkan bagi kedua perusahaan itu.
Pak Wira dari perusahaan Wira Corp telah menandatangani kontrak kerja sama tersebut. Banyak foto yang di ambil saat tanda tangan tersebut berlangsung.
”Pak Fandi, manager dari perusahaan Wisma Grub. Silahkan tanda tangan.” Ucap mc yang membawakan acara besar tersebut mempersilahkan Fandi.
Fandi terkejut bukan main. Seharusnya yang menandatangani kerja sama tersebut adalah pak Fajrin, selaku direktur dari perusahaan Wisma Grub. Tapi, mengapa dirinya yang di panggil, bukan pak Fajrin?
”Maaf, Pak Wira, Pak Fajrin, saya akan pergi sebentar menegur mc nya. Ia telah mengatakan hal yang salah.” Fandi melangkah menghampiri mc, namun, langkahnya terhenti setelah dua kali melangkah. Fajrin menghentikannya.
”Tidak perlu Pak Fandi! Yang di ucapkan oleh mc adalah benar! Lihatlah, dalam surat kerja sama itu.” Mata Fajrin menunjuk surat kontrak di atas meja.
Tubuh Fandi gemetar, ia maju ke depan dan membaca surat kontrak tersebut. Matanya terbelalak ketika membaca tulisan Affandi sebagai penanggung jawab utama dalam proyek tersebut.
Ia melihat Fajrin. Fajrin tersenyum padanya. Ia melihat Wira, Wira pun tersenyum juga padanya. Ia kembali melihat kertas itu.
Bagaimana ini? Apakah ini merupakan trik baru dari Fajrin? Jika terjadi sesuatu dengan proyek ini, aku yang harus bertanggung jawab. Apakah akan menjadikan hal ini untuk mengancam anakku, Hana untuk menyetujui pertunangan dengan dirinya?Tidak! Aku tidak bisa tanda tangan kontrak ini. Tanggung jawabnya sangat besar. Aku juga tidak mau memberikan cela untuk Fajrin mengancam anakku. Aku tidak bisa! benaknya.
Ia menggeleng seketika sambil berkata, ”Maaf, Pak Fajrin, Pak Wira, ini sungguh tidak adil! Yang menjadi penanggung jawab dari perusahaan Wira Corp adalah Pak Wira. Yang bertanda tangan juga adalah Anda, Pak Wira. Masa iya, dari perusahaan Wisma Grub yang menjadi penanggung jawabnya adalah saya, bukan Pak Fajrin, sebagai direktur di perusahaan kami?” Fandi menegaskan penolakannya untuk tanda tangan kontrak itu.
”Bukankah ini tidak adil bagi perusahaan kami, Pak Wira? Dan itu terkesan jika Pak Wira tidak memberikan muka bagi atasan saya. Saya hanyalah seorang manager biasa. Jadi, mohon pengertian dari Bapak, saya tidak bisa menandatangani kontrak ini. Biarkanlah atasan ku yang menandatangani surat kontrak kerja sama ini,” lanjutnya berucap. Fajrin dan Wira terdiam.
Bapak mantu ku ini memang pintar sekali! benak Fajrin.
”Iya, ya, itu benar! Dari perusahaan Wira Corp, atasannya yang bertanda tangan. Masa dari perusahaan Wisma Grub harus manager yang menandatangani nya? Kan ini tidak adil!”
”Iya, benar! Ini tidak adil bagi pak Fajrin, selaku pimpinan perusahaan Wisma Grub.”
”Untung saja manager dari perusahaan Wisma Grub sangat bijaksana. Dan tahu diri akan posisinya. Jika saja itu orang lain, pasti sudah tanda tangan dari tadi.”
”Iya, benar! Perusahaan Wisma Grub beruntung memiliki manager seperti pak Fandi.”
”Seharusnya yang bertandatangan adalah pimpinan perusahaan Wisma Grub, bukan managernya.”
Fandi, Fajrin, Wira, dan yang lainnya mendengar komentar komentar dari orang-orang yang menghadiri acara resmi tersebut.
Anda hebat juga Fandi, menebak dengan benar tujuan ku! Baiklah, kali ini aku melepaskan mu. Anggaplah hari ini Anda beruntung! benak Fajrin.
__ADS_1
”Rencana mu gagal, sobat!” Bisik Wira pada Fajrin sambil tersenyum mengejek Fajrin.
”Itu semua karena kamu yang tidak becus! Bukankah aku sudah bilang padamu untuk menambahkan dia sebagi penanggung jawab umum di kontrak kerja samanya? Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu malah meniadakan aku di dalam kontrak kerja sama itu! Apa kamu sengaja? Rupanya kamu sudah tidak betah bekerja di perusahaan mu lagi. Sepertinya, aku harus membatalkan kerja sama ini.” Balas Fajrin berbisik pada Wira.
”Hah! Mengapa kamu kejam seperti ini? Aku ngaku, aku salah! Jangan menghukum ku seperti ini! Kerja sama ini, aku membutuhkannya!” Wira balas berbisik.
Fajrin terdiam sesaat. ”Ehm...maaf, ini ada kesalahpahaman sedikit. Saya sendiri juga bingung saat bukan nama saya yang di bacakan oleh mc. Maaf, atas ketidak nyamanan ini. Saya akan menandatangani surat kerja sama ini.”
Syukurlah! Terima kasih, Allah. Engkau melindungi ku. benak Fandi.
Fajrin pun menandatangani surat kerja sama tersebut. Foto pun menjadi bukti ia telah menandatangani kontraknya.
Penandatanganan surat kontrak kerja sama telah selesai di tandatangani. Kedua belah pihak saling bersalaman, tersenyum senang.
Kebahagian tersebut di abadikan dalam bentuk foto oleh semua fotografer, yang hadir dalam acara tersebut. Dan menjadi siaran yang teratas dalam beberapa media.
Acara penandatanganan telah usai. Acara selanjutnya pun berlanjut. Acara dansa dan perjamuan sedang berlangsung.
”Pak Fandi, ayo bersulang!” Terdengar suara perempuan dari belakang Fandi.
Fandi melihat kebelakang, ia melihat wanita itu sedang memegang dua gelas anggur di tangan kanannya. Pakaiannya begitu seksi dan wanita itu tersenyum manis melihat dirinya, seakan menggoda dirinya.
”Pak Fandi! Ayo bersulang!” Wanita itu kembali menawarkan minuman pada Fandi.
”Ya... sangat di sayangkan! Padahal niat ku baik loh, Pak Fandi.” Wanita itu masih berusaha merayu Fandi untuk meminum anggur bersamanya.
Apakah ini trik? benak Fandi.
Fandi tersenyum ramah pada wanita itu. ”Maaf, jangan kecewa begitu! Tapi, saya tidak terbiasa dan tidak pernah meminum anggur.” Ia menjelaskan alasannya menolak minuman tersebut.
”Baiklah! Aku tidak mengganggu mu lagi!” Wanita itu menyerah dan pergi begitu saja meninggalkan Fandi. Fandi melihat wanita itu pergi menemui Fajrin dan Wira. Fandi pergi ke toliet.
Fajrin menatap punggung Fandi yang berlalu pergi.
Anda tidak sehebat itu kan menebak setiap trik ku, Fandi? Ok, bermain trik sama Anda tidak berfungsi. Sepertinya, aku harus berbicara baik-baik dengan mu sekali lagi. Jangan berbangga dan berbesar kepala Fandi. Aku mengalah dan tidak ingin benar-benar memaksa kalian untuk menyetujui keinginan ku, karena aku menghargai kalian. benak Fajrin.
Ia bersulang dengan para kolega yang ada di sana sambil tersenyum, dan berbincang-bincang masalah pekerjaan.
*
*
__ADS_1
*
Siang hari di kantor Randi.
”Cindy...mengapa kamu datang ke sini? Mau berapa kali aku katakan padamu, tunggulah aku di rumah saja! Tinggal beberapa Minggu lagi seratus harinya Fitri selesai, bersabarlah! Setelah itu, aku akan mengumumkan pernikahan kita. Setelah kita resmi menikah, baru kamu boleh datang ke kantor sesuka hatimu.” Randi begitu pusing dengan Cindy yang tidak menurut padanya.
Sudah susa payah ia menutupi komentar miring tentang hubungan gelap dia dengan Cindy selama ini, tapi selalu saja Cindy sendiri yang mengundang komentar miring orang-orang tentang hubungannya dengan Cindy.
Cindy berdecak. ”Aku tidak ingin menunggu mu di rumah! Aku takut kamu kenapa-kenapa, aku menghubungi mu tapi tidak masuk-masuk. Makanya aku kesini untuk melihat mu, apakah kamu baik-baik saja atau tidak!” Ia pun merajuk. Randi menghela nafas sambil memijat pangkal hidungnya.
”Ok, ok! Aku tidak melihat handphone ku setelah aku mengaturnya dalam mode silent. Jangan merajuk, nanti anakku akan ikut merajuk seperti mu.” Randi mengalah. Cindy tersenyum.
”Apa yang ingin kamu bicarakan padaku? Bicaralah!” Lanjutnya.
Cindy berpindah duduk di pangkuan Randi. Randi terlihat kesal, namun, tetap membiarkan Cindy duduk di pahanya.
Cindy meraih tangan Randi dan menaruhnya di atas perutnya. Randi bisa merasakan ada sesuatu yang bergerak dari perut Cindy. Ia terkejut sekaligus senang.
”Ini...ini...” Ia tertegun, tidak bisa berkata-kata. Ia mengelus perut Cindy yang sudah mulai membuncit itu.
Jika saja Fitri masih ada, apakah anakku juga akan aktif seperti ini? benak Randi.
”Iya, ini adalah anak kita! Dia begitu aktif di dalam sana. Aku ingin memeriksanya. Aku ingin kamu yang mengantar ku,” pinta Cindy.
”Baiklah! Berdirilah, aku akan mengantar mu ke dokter untuk memeriksa anak kita.” Randi tersenyum, mengelus, dan mencium perut Cindy. Cindy merasa bahagia.
Kalau aku tidak cepat mengambil langkah, apakah aku bisa sebahagia ini bersama Randi? Fitri, kepergian mu sangat tepat! Hanya aku yang boleh menjadi nyonya Randi! benak Cindy.
Randi mengambil kunci mobil dari laci mejanya. Ia berdiri. Cindy menggandeng tangan Randi saat keluar dari ruangan Randi.
Ia ingin orang-orang yang bekerja di perusahaan Randi tahu bahwa dia adalah nyonya Randi.
Di halaman parkir kantor.
Budi dan Udin berwajah sedih melihat Randi dan Cindy yang masuk ke dalam mobil. Mereka semakin sedih melihat perut Cindy yang membuncit.
”Aku baru tahu jika Cindy telah hamil anaknya pak Randi. Apakah Fitri tahu kalau Cindy hamil dan jatuh sakit sampai tidak terselamatkan?” Tebak Budi.
”Entahlah! Kepergian Fitri Raihana, membuat peselingkuh itu semakin jadi saja. Aku kayak tidak percaya jika Fitri meninggal karena sakit. Tubuh Fitri sangat sehat dan bugar. Aku yakin...pasti ada sesuatu yang tidak beres!” Sambung Udin.
”Hus! Jangan ngawur kalau ngomong! Fitri sudah tenang di alam sana! Jangan bikin rumor yang membuatnya gelisah di sana.” Tegur Budi.
__ADS_1
”Aku tidak menyebar rumor, Budi! Ini hanya pembicaraan kita berdua saja! Ini juga hanya ada dalam pikiran ku saja, hanya menerka! Kalaupun tersebar ucapan ini, berarti kamu tuh yang sebarkan.”
”E... eh .. sembarangan!” Elak Budi.