Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 38


__ADS_3

Di kediaman Fajrin.


Fitri telah sampai di depan pagar rumah Fajrin. Namun, dia bingung untuk membuka pagar itu. Tidak terlihat di mana letak kunci pada pagar itu.


Sementara dia melihat pagar itu terbuka dengan mudah terbelah dua dari tengah saat mobil Fajrin memasuki rumah tersebut.


Dia mencoba mendorong pagar itu ke depan, tapi... tidak terbuka. Dia mencoba lagi dengan menariknya ke belakang, juga tidak terbuka. Jangan kan terbuka... bergerak sedikitpun tidak.


”Pagar sialan! Bagaimana cara membukanya!” Fitri menendang pagar itu dengan kesal.


Dia berbalik melihat rumah megah di hadapannya itu. ”Pintu gerbang ini sudah sama dengan si pemilik rumah ini. Bikin orang kesal, jengkel, dan marah.” gerutunya.


Dia berjalan kembali ke rumah itu. Dia membuka pintu rumah Fajrin dengan keras. Dia berjalan menghampiri Fajrin yang masih tidur di kursi.


Oh, kucing liar ku sudah kembali. Aku ingin lihat, apa yang akan dia lakukan. benak Fajrin. Dia masih berpura-pura tidur.


”Nona. Mohon, jangan ganggu tidurnya tuan. Tuan akan sangat marah jika tidurnya di ganggu.” tegur salah satu pelayan Fajrin pada Fitri dengan suara pelan, seperti tengah berbisik. Saat melihat Fitri mengangkat tangan ingin menyentuh lengan Fajrin.


Fitri berkacak pinggang dengan kesal melihat pelayan itu. Pelayan tersebut menunduk. Fitri kembali melihat Fajrin. Dia tidak peduli dengan apa yang di bilang sama pelayan Fajrin tersebut.


Dia kembali mengangkat tangannya menyentuh Fajrin. Namun, sebelum tangan Fitri menyentuh lengan Fajrin, tangan Fitri di genggam oleh seseorang. Bukan hanya di genggam, wanita itu malah menarik tangan Fitri dengan kuat. Hingga kaki Fitri terbentur pada kaki meja mengikuti langkah wanita yang menarik tangan nya itu.


Kakinya siapa itu yang terbentur di meja? Apakah Hana? benak Fajrin lagi. Saat mendengar benturan di kaki meja. Namun, dia masih bersandiwara dengan tidurnya.


”Lepaskan tangan ku! Beraninya kamu menyentuh ku!” Fitri menegur wanita itu dengan nada tinggi. Dia menarik tangannya dari genggaman wanita tersebut.


”Pelan kan suaramu, jangan berteriak di sini! Kamu tidak lihat... tuan ku sedang tidur! Kami saja tidak berani mengganggunya saat tuan tertidur, kamu siapa yang berani mengganggu tidurnya tuan ku?” ucap pelayan itu dengan ketus pada Fitri.


”Murni. Dia wanita yang di bawa oleh tuan kesini. Jaga sikap mu padanya jika kamu tidak ingin di marahin sama tuan.” salah satu pelayan Fajrin yang lain menasehati Murni akan sikap kasar Murni pada Fitri.


”Diam kamu! Ini bukan pertama kalinya bagi ku memberi pelajaran pada wanita tidak tahu diri yang masuk ke rumah ini...” Murni membentak pelayan tersebut. Pelayan itu terdiam.


”Tuan tidak akan memarahi ku, apalagi... hanya untuk membela wanita seperti dia! Wanita yang hanya menggoda tuan dengan tubuhnya untuk mendapatkan posisi nyonya di sisi tuan.” lanjut Murni berucap sambil menunjuk wajah Fitri.


Wanita tidak tahu diri! Kurang ajar si Murni itu, beraninya dia menyamakan wanitaku dengan wanita penggoda! benak Fajrin.


Fajrin marah namun, dia masih setia dengan pura-pura tidurnya. Dia ingin melihat bagaimana Fitri akan membalas sikap kurang ajar kepala pelayannya itu.


Plak! Fitri melayangkan tamparan keras di pipi Murni.


Murni memegang pipinya yang perih itu sambil melihat Fitri dengan tajam dan marah. ”Dasar wanita tidak tahu diri! Tukang penggoda! Beraninya kamu menamparku!” ucap Murni.


Plak! Sekali lagi Fitri melayangkan tamparan pada pipi Murni.


”Jaga ucapan mu! Siapa kamu yang berani memanggilku wanita penggoda! Apa aku sudah mengganggu ayah mu? Kakak laki-laki mu? Adik laki-laki mu? Apa aku pernah mengganggu pacar mu? Ingat baik-baik tamparan itu jika kamu bertemu lagi dengan ku tanpa sengaja. Pikirkan dulu ucapan mu sebelum kamu melontarkannya padaku!” ancam Fitri.


”Kamu menggoda dan merayu tuan ku, apakah itu bukan salah satu ciri wanita murahan! Tidak tahu diri! Dasar penggoda!”


Plak! Sekali lagi Fitri melayangkan tamparan pada Murni.


Fajrin sudah tidak tahan lagi dengan kata kasar kepala pelayan rumahnya kepada Fitri. Dia bangun dan menghampiri Fitri dan Murni.


Murni semakin marah dengan Fitri, ”Kamu..!” tangannya terangkat menampar pipi Fitri.


Fitri menahan tangan Murni yang hampir mengenai wajahnya. Ia menatap Murni dengan tatapan tajam dan marah.

__ADS_1


”Ada apa ini?” tanya Fajrin.


Murni menarik tangannya dari genggaman Fitri yang terasa longgar saat Fitri dan dia sama-sama menoleh melihat Fajrin.


Fitri menurunkan tangannya. Dia membuang muka seketika saat pandangannya bertemu dengan pandangan Fajrin.


”Tuan. Wanita ini ingin mengganggu tidurnya Tuan. Siti telah menasehatinya untuk tidak mengganggu tidurnya Tuan tapi... wanita ini tidak mendengarkan. Dia malah tetap ingin mengganggu tidurnya Tuan. Untuk itulah saya mengajarinya tapi, wanita ini malah tidak terima dan menampar ku.” jelas Murni.


”Siti, apa yang di katakan Murni itu benar?” tanya Fajrin pada Siti.


”Maaf, Tuan. Wanita ini memang ingin mengganggu tidurnya Tuan. Saya sudah menasehatinya tapi, wanita ini tidak peduli. Dan untuk tamparan di pipi Murni... itu karena Murni memanggil wanita ini dengan wanita penggoda. Wanita ini marah barulah dia menampar Murni.” jelas Siti.


Fajrin melihat Fitri. Fitri membuang muka.


”Murni, minta maaf pada Hana.” titah Fajrin pada Murni, suaranya pun lembut.


”Tapi... Tuan.” protes Murni.


”Minta maaf padanya, segera.” tegas Fajrin.


Murni melihat Fitri, Fitri membuang muka.


Cih...dasar, wanita tidak tahu diri. Minta maaf? Ogah. Fajrin juga gak akan marah padaku jika aku tidak akan meminta maaf pada wanita ini, sama seperti sebelum-sebelumnya. benak Murni.


”Aku tidak butuh kata maaf dari mulut wanita ini! Aku hanya ingin pulang dari sini. Bukakan aku pintu pagar rumah mu.” ucap Fitri dengan ketus memerintah Fajrin.


”Wanita tidak tahu di untung! Beraninya kamu memerintah pada tuan ku!” Murni membentak Fitri.


”Murni, jika kamu masih menurut padaku, dan masih ingin bekerja di sini... hentikan perkelahian ini. Dan minta maaf pada Hana.” ucap Fajrin.


”Tidak perlu! Aku tidak ingin mendengar kata maaf dari dia. Bukakan saja aku pintu pagar rumah mu, Fajrin. Aku ingin pulang!” ucap Fitri.


”Siapa juga yang ingin meminta maaf sama kamu! Aku tidak sudi meminta maaf sama kamu!” balas Murni.


Fitri mengernyit melihat Murni. Detik berikutnya, dia tersenyum mengejek menatap Fajrin dan berkata, ”Kenapa kamu gak jadikan dia sebagai nyonya di rumah ini saja, Fajrin? Dia sangat cocok untuk bersanding dengan kamu. Pasangan pemarah, sombong, angkuh, diktator dan... dan kalian tampak serasi bila berjalan bersama. Sepertinya, dia juga ter__”


Mata Fitri membulat sempurna saat mulutnya di bungkam oleh Fajrin dengan mencium bibirnya.


Tangan Murni terkepal kuat melihat adegan tersebut. Dia marah dan cemburu. Fajrin memperlakukan wanita itu dengan berbeda.


Wanita penggoda! Wanita tidak tahu malu! benak Murni.


Fitri berontak, dia mengangkat tangannya. Fajrin menangkap tangan Fitri. Fajrin mengecup, *******, menggigit bibir Fitri dengan kasar. Dia tidak terima dengan ucapan Fitri yang mengomentarinya serasi dengan pelayannya sendiri.


Fitri merasa sesak untuk bernafas, bibirnya juga terasa sakit. Dia berontak juga tidak bisa. Tangan kiri Fajrin menggenggam kedua tangannya dengan kuat. Tubuhnya juga di rapatkan pada tubuh Fajrin. Tangan kanan Fajrin menahan kepala Fitri.


Fajrin melepas ciuman brutalnya saat dia merasa sulit untuk bernafas. Dia melihat Fitri sedang mengatur nafasnya, dia sendiri juga sedang mengatur nafasnya. Fajrin menempelkan jidatnya pada jidat Fitri.


”Perhatikan ucapan mu. Jangan membuat ku tidak senang. Kamu akan terima hukuman dariku jika aku marah.” ucap Fajrin pada Fitri.


Fitri terdiam. Ia masih mengatur nafasnya.


Fajrin menatap Murni. ”Kamu! Sekarang juga kamu angkat kaki dari rumah ku,” titahnya pada Murni.


Murni terkejut, dia tidak menyangka Fajrin akan memecatnya hanya karena wanita murahan itu. Seketika dia sujud, menunduk di hadapan Fajrin dan berkata, ”Maaf, maafkan saya, Tuan. Saya tidak akan mengulanginya lagi. Saya akan meminta maaf pada Hana.”

__ADS_1


Kening Fajrin mengerut melihat Murni, beraninya dia menyebutkan nama Hana dengan lantang, memangnya siapa dia?


”Keluar dari rumah ku!” Fajrin mengusir Murni.


Murni mendongak melihat Fajrin, air matanya menetes di pipinya. Pandangannya mengiba. ”Tuan! Bukan kah Tuan tidak pernah memarahiku selama ini, meskipun saya melakukan hal yang sama pada wanita-wanita yang datang mengganggu Tuan di rumah ini? Tuan juga sudah berjanji pada nyonya untuk tidak memecat saya. Tapi... kenapa hanya karena wanita ini Tuan mencampakkan saya?”


Fitri mengerutkan kening melihat Murni dan Fajrin bergantian. Drama apa yang di mainkan sama tuan dan sang pelayannya ini?


”Fajrin, tolong bukakan pintu pagar rumah mu. Aku ingin pulang. Kedua orang tuaku pasti sudah khawatirkan aku yang belum juga pulang ke rumah. Drama cinta mu dengan Murni nanti saja kamu lanjutkan setelah membukakan aku pintu pagar.” ucap Fitri.


Fajrin menatap Fitri dengan tajam. Dia memegang tangan Fitri dan menariknya.


Fitri terkejut, dia menyeret kakinya mengikuti langkah kaki Fajrin yang besar. ”Ah, kaki ku...tangan ku...sakit! Fajrin, lepaskan tangan ku!” jerit Fitri, ia juga memberontak agar Fajrin melepaskan dia.


Fajrin tidak perduli. Dia tetap menarik tangan Fitri, menaiki anak tangga hingga ke kamar Fajrin. Dia menghempaskan tangan Fitri dengan kasar ke ranjang besar milik Fajrin.


Fitri ketakutan melihat Fajrin yang ikut naik ke atas ranjang. Wajah Fajrin masih terlihat marah.


”Fa__Fajrin. Ja__jangan mendekat! Aku... aku minta maaf! Aku... aku tidak akan mengucapkan kata yang akan menyinggung mu lagi. Maaf..!” ucap Fitri memohon.


"Sekarang baru kamu takut? Mana keberanian mu tadi? Hum? Kamu tahu di mana salah mu?” Fajrin menindih tubuh Fitri dengan erat.


”A__aku tahu...ngomongnya baik-baik saja. Jangan terlalu dekat begini, aku...aku tidak bisa bernafas.” Fitri mendorong tubuh Fajrin.


Fajrin bangkit dari tubuh Fitri. ”Jika kamu mengulanginya... kamu tidak akan aku lepaskan,” ancamnya.


Fitri mengangguk. Dia memperbaiki posisinya. Dia duduk di tepi ranjang melihat Fajrin.


Fajrin melepas jubah mandinya.


Fitri menutup matanya. ”Hei...! Apa kamu tidak memandang ku? Aku seorang wanita, mengapa kamu tidak mengambil baju dan berganti di kamar mandi? Paling tidak, biarkan aku keluar dulu baru kamu berganti,” ucapnya dengan ketus.


Fajrin tersenyum melihat Fitri yang menutup kedua matanya. Dia masih telanjang dada mendekati Fitri. Dia memegang kedua tangan Fitri dan membukanya. Fitri memejamkan kedua matanya dengan erat.


”Buka matamu! Kamu bakal jadi istri ku. Kamar yang luas ini, rumah yang besar ini, bahkan tubuh ku ini... adalah milik mu. Jadi... jangan sungkan untuk melihat tubuh ku. Aku sukarela memperlihatkan padamu karena tubuh ini milik mu.” Fajrin meletakkan tangan Fitri di dadanya.


Hati Fitri meleleh mendengar tutur kata lembut Fajrin. Tapi sekarang bukan saatnya untuk ter-rayu dengan kata-katanya.


Fitri menarik tangannya. ”Aku tidak mau buka mataku! Pakai baju mu dulu. Setelah itu, tolong antar aku pulang. Keluargaku pasti sudah sangat khawatirkan aku.”


Fajrin mengalah. Dia pergi mengambil baju ganti dan memakainya. ”Sudah... buka matamu. Atau...kamu masih ingin tetap di sini menemaniku hingga pagi,” godanya.


”Hah!” Fitri membuka matanya. Dia bersyukur pria itu telah memakai bajunya. Tapi, dia terlihat sangat ganteng memakai baju kaos hitam beserta celana pendek selutut dengan warna senada, membuat kulit putihnya bersinar.


”Kenapa? Terpikat dengan penampilanku? Ingin menyentuh ku sekarang?” goda Fajrin lagi saat melihat Fitri yang menatapnya tanpa kedip.


Fitri tersadar, ia membuang muka, ”Siapa yang terpana dengan pesona mu? Narsis sekali Anda, dasar mesum. Antar aku pulang.”


”Ok.” Fajrin mengambil kunci mobil dari laci meja hiasnya. ”Ayo pergi!” ajak Fajrin. Fitri mengangguk.


Mereka berdua turun ke bawah bersama-sama. Fajrin menghela nafas melihat Murni yang masih menunduk menangis di lantai.


”Kamu harus sudah tidak ada di rumah ku setelah aku pulang!” ucap Fajrin dengan tegas.


”Tu__” ucapan Murni terhenti saat melihat tatapan tajam Fajrin padanya.

__ADS_1


Fajrin menggandeng tangan Fitri dan berjalan keluar dari rumah.


__ADS_2