Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 35


__ADS_3

Di arena parkiran kampus.


Kening Zahidin mengerut melihat Ardi yang sedang duduk di atas motor.


Apakah Hana belum keluar dari kampus? Kemana perginya Hana setelah keluar dari ruangan ku? benak Zahidin.


Zahidin menghampiri Ardi. ”Ardi, menunggu Hana?” tanyanya.


”Eh...Bang Zahidin? Abang kembali mengajar di kampus ini lagi? Em...iya Bang. Ardi lagi menunggu Hana.” jawab Ardi.


”Iya. Abang baru mulai mengajar hari ini. Mungkin Hana lagi di kantin atau lagi di toilet. Kamu tunggu saja, Abang pulang duluan, ya!” pamit Zahidin.


”Iya, Bang. Hati-hati! Eh... tunggu, Bang!” cegah Ardi.


Zahidin kembali berbalik. ”Ada apa?”


Ardi tidak lekas menjawab. Ia mengeluarkan hapenya dan menggeser layar hape tersebut. Lalu, ia menunjukkan layar hape itu pada Zahidin. ”Apa Abang mengenal pria di foto ini?” tanyanya.


Zahidin mengambil handphone Ardi dan melihat baik-baik foto tersebut. ”Siapa dia? Abang tidak mengenalnya.” Dia memberikan kembali handphone Ardi, setelah menghafal wajah pria di foto itu.


”Ardi juga tidak tahu, Bang. Ardi mencuri foto ini dari galeri handphone Hana,” ungkap Ardi.


Galeri Hana? Apa karena pria ini Hana menolak aku? benak Zahidin


”Galeri foto Hana! Hana menyimpan foto ini di galerinya?” Zahidin kembali memastikan. Wajahnya terlihat kesal. Dia cemburu.


”Iya, Bang! Eh...Bang, Hana menuju ke sini. Jangan bahas ini. Hana tidak tahu kalau aku mencuri foto ini diam-diam. Ardi mau cari tahu siapa pria ini dan apa hubungannya dengan Hana.” ucap Ardi.


Zahidin tidak menjawab. Dia menatap Hana yang berjalan semakin dekat menghampiri mereka.


Kucing liar! Kamu tidak di izinkan untuk mencintai pria lain, selain aku. benak Zahidin.


Fitri mengabaikan tatapan tajam Zahidin. Dia mengambil helm yang tergantung di kaca spion motor dan memakainya. ”Kak, nyalakan motornya. Kita kita pulang,” titahnya pada Ardi.


Ardi menurut, ia menyalakan mesin motor.


Zahidin sangat kesal, Fitri mengabaikan dirinya. Zahidin melepas helm yang di pakai Fitri. Membuat Fitri tidak jadi naik ke atas motor.


”Hei, kembalikan helm ku!” Fitri sangat kesal memandang Zahidin. Belum lagi saat teringat ciuman yang di layangkan Zahidin padanya tadi. Dia semakin kesal.


Zahidin memberikan helm itu pada Ardi. Ardi mengambilnya dengan bingung. ”Kenapa Bang?” tanyanya. Ia mematikan motornya.


”Ardi, kamu kembalilah ke kantor mu. Pekerjaan mu banyak, kan? Hana, Abang yang antar pulang.” ucap Zahidin, suaranya terdengar ketus.


Hah! Tahu dari mana kalau aku banyak kerjaan di kantor ku? Bukan kah yang tahu hanyalah Fajrin, si sialan itu! benak Ardi.


”Siapa juga yang mau pulang sama kamu? Aku tidak mau!” tolak Fitri. Dia naik di atas motor. ”Nyalakan motor mu, kak. Ayo pulang!”


Ardi menyalakan lagi motornya. Dia juga tidak mau adiknya di antar sama Zahidin. Kali ini dia melihat sosok Zahidin yang lain. Dia tidak mau adiknya kenapa-kenapa karena cemburunya Zahidin.


”Bang, maaf. Aku duluan.” pamit Ardi.


Zahidin tidak menjawab. Dia hanya menatap Hana dengan kesal dan marah. Sementara Fitri hanya cuek saja. Ardi menjalankan motornya.


”Sial! Brengsek! Siapa pria itu?” gerutu Zahidin dengan ketus memukul angin. Ia berjalan ke mobilnya. Wajah kesal dan cemburu masih terpancar jelas di wajahnya.


”Zahidin, aku pulang sama kamu, ya?” ucap Zulfa sembari tersenyum menghadang langkah Zahidin.


”Mana sopan santun mu? Aku di sini adalah dosen mu. Perhatikan sikap dan bicara mu!” ketus Zahidin menatap Zulfa. Ia masuk ke dalam mobil dan langsung menjalankannya.


Zulfa mengepalkan tangannya dengan erat. Dia sangat kesal. Tadi dia mendengar sendiri Zahidin menawarkan diri untuk mengantar Fitri pulang.


Sekarang, giliran dia yang menawarkan diri untuk pulang sama-sama dengan Zahidin, malah Zahidin cuek dan pergi begitu saja dari hadapannya.


”Brengsek! Apa sih lebihnya perempuan ****** itu di bandingkan aku? Aku lebih segalanya, kenapa Zahidin tidak melirik ku?” geram Zulfa.


”Sabar! Sebentar lagi akan ada acara ulang tahun kampus. Aku akan mendapatkan Hana di sana. Kamu juga harus mendapatkan Zahidin di sana. Bagaimana? Mantap, kan?” ucap Hasan menenangkan adiknya, Zulfa.

__ADS_1


”Kakak, benar kah?” Zulfa memastikan. Matanya berbinar.


”Iya, ikuti saja cara main kakak.” Hasan tersenyum licik.


”Ok, kak! Aku tunggu hari itu.” Zulfa juga tersenyum licik.


”Hum! Ayo, kita pulang sekarang.” ajak Hasan. Mereka pulang menggunakan mobil Hasan. Yang kebetulan, mobil Zulfa sedang bermasalah dan masih di perbaiki di bengkel.


.. ..


Di rumah Fandi.


”Kakak mau kembali ke kantor?” tanya Fitri.


”Iya. Kerjaan kakak banyak sekali. Dan kakak harus mengerjakannya sampai selesai hari ini juga.”


”Hah! Kok bisa atasan kakak seperti itu? Kalau gitu... tunggu Hana sebentar ya kak. Jangan dulu pergi!” Fitri berlari masuk ke dalam rumah.


”Aku juga bingung pada awalnya... kenapa tiba-tiba atasan ku memberiku pekerjaan sebanyak itu? Ternyata... itu hukuman ku karena tidak menghapus foto mu dari medsos ku. Dan anehnya, kantor tempat ku bekerja adalah anak perusahaan dari Fajrin, si sialan itu.” gerutu Ardi dengan kesal.


Ia tetap berada di atas motor menunggu Fitri. Sepuluh menit kemudian, Fitri keluar dari rumah. Pakaiannya telah ia ganti, rapi, dan cantik.


”Kamu mau kemana?” tanya Ardi.


”Ikut kakak ke kantor. Aku malas sendirian di rumah. Mama sedang pergi ke kantor papa membawakan makan siang untuk papa di sana.”


”Tapi__”


”Tenang kak! Hana gak akan macam-macam di sana. Hana hanya akan duduk dengan manis di hadapan kakak.” pangkas Hana.


”Ya sudah kalau begitu, ayo naik!”


Fitri tersenyum, ia memakai helm dan naik ke atas motor. Ardi menjalankan motornya menuju kantor tempat ia bekerja.


.. ..


Ardi masuk ke dalam kantor dengan menggenggam tangan Fitri. Ini pertama kalinya dia membawa Fitri ke tempat kerjanya.


Teman-teman kantor Ardi membulatkan mata melihat Ardi menggandeng cewe cantik ke kantor. Apakah itu pacarnya?


”Cie...cie...si bujang pamer nih!”


”Cantik juga cewe mu, Ar. Kenalkan dong!”


”Wah, kirain jomblo, ternyata...sudah punya gandengan. Bakal nangis tuh, si Delia kalau tahu.”


Komentar-komentar teman Ardi yang satu ruangan dengannya. Ardi tersenyum menanggapi. Fitri juga bersikap biasa saja.


Ardi menarik satu kursi yang nganggur untuk Fitri. ”Han, duduk,” titahnya.


”Duh... perhatiannya!” goda salah satu rekan Ardi.


”Biasa aja, Bang. Namanya juga wanita... harus kita perhatikan.” jawab Ardi.


”Cewek, jangan mau-mau di gombal Ardi. Banyak ceweknya dia.” goda temannya lagi pada Fitri.


”Oh, yah?” sahut Fitri. Dia sendiri terkejut mendengar itu.


”Han...gak usah di ladeni. Kamu sudah bilang loh! Gak akan macam-macam, kan?” bisik Ardi pada Fitri.


”Berarti benar dong! Kakak sudah punya pacar di sini dan juga punya banyak gandengan yang lain.” balas Fitri berbisik.


”Kakak pulangkan kamu sekarang, ya?”


”Hah! Tidak, kak. Ok, Hana diam!” sahut Fitri.


Ardi membuka laptop dan menyalakannya. Fitri melihat kakaknya akan sudah mulai fokus dengan kerjanya. Fitri juga melihat tumpukan map di meja kerja kakaknya itu.

__ADS_1


Dia membaca sekilas di sampul map itu. ”Loh, itu kan map dua tahun yang lalu? Kenapa harus di kerjakan lagi? Bukan kah sudah selesai?” tanya Fitri dengan heran.


”Iya. Ini bukan pekerjaan tapi hukuman.”


”Hukuman?” Fitri bingung.


”Iya. Kakak gak nyangka tempat kerja kakak ini, ternyata anak perusahaan si pria brengsek itu. Dan dia marah sama kakak karena kakak tidak menghapus foto mu dari medsos kakak. Jadi, dia menghukum ku dengan memberikan pekerjaan yang tidak penting ini,” jelas Ardi.


”Ya sudah, jangan di kerjakan! Enak saja dia memerintah sembarangan! Lagi pula, itu kan haknya kakak ingin simpan foto Hana di manapun. Memangnya dia siapa?” ketus Fitri.


Dia melihat handphone Ardi di atas meja. Di ambilnya dan di bukanya pola hape Ardi.


”Kamu mau ngapain?” tanya Ardi.


Fitri tidak menjawab. Dia mengetik kata demi kata di layar hape Ardi tersebut.


”Hei! Pria brengsek! Mengapa kamu mempersulit pekerjaannya kakak ku? Apa salahnya kakak ku? Kamu menghukum dia dengan mengerjakan pekerjaan yang sudah selesai dua tahun yang lalu?”


Dia kirimkan chat itu pada Fajrin.


”Kamu kirim pesan sama siapa? Si brengsek? Jangan cari hal lagi untuk kakak, sayang!” ucap Ardi. Dia mengambil hapenya dari tangan Fitri. Di bacanya tulisan Fitri untuk Fajrin.


”Ya Allah... sayang! Kamu gak sayang sama kakak mu ini lagi? Hum?”


Ting! Bunyi notifikasi pesan di hape Ardi. Ardi membacanya. Fitri penasaran. Dia mengambil alih hape Ardi. Dia bacanya pesan tersebut.


”Aku? Aku tunangan mu! Foto tunangan ku tidak boleh di sebar di manapun! Hanya aku yang boleh menikmati wajah cantik mu.”


Ardi menahan senyum melihat perubahan pada wajah Fitri.


”Brengsek! Jangan mempersulit kakak ku! Aku juga bukan tunangan mu. Kamu salah orang, aku Hana bukan Zulfa.”


Fitri membalas chat Fajrin.


”Kakak, ayo kita pulang! Tidak perlu mengerjakan ini.” Fitri berdiri dari duduknya dan menarik tangan Ardi.


Ardi menahan tangannya, ia berbalik memegang tangannya Fitri. ”Sayang, jangan begini, sayang! Ayolah, ngertiin kakak, ya?” Ardi membujuk Fitri.


”Cie... pasangan yang lagi ngambek ngambek kan. Lucu bangat!” komentar teman Ardi.


Ardi maupun Fitri hanya melihat pria itu sekilas. Mereka mengabaikannya.


”Tidak bisa! Nyata-nyata nya dia hanya ingin mempersulit kakak. Ayo pulang!” tegas Fitri.


Ddrrtdtt! Bunyi dering hape Ardi berbunyi. Ardi dan Fitri sama-sama melihat di layar hape Ardi. Fajrin memanggil.


Ardi mengambil hapenya dari Fitri namun, gerakannya kurang cepat dari Fitri. Akhirnya, Ardi hanya menggenggam angin.


Fitri menjawab panggilan Fajrin.


”Jangan coba tinggalkan pekerjaan mu, Ardi! Hana, Itu adalah hukuman untuk Ardi. Ia harus menyelesaikannya. Jika kamu ingin pulang... kamu pulang sendiri. Ah, tunggu saja di sana, aku jemput kamu.” ucap Fajrin.


Fitri tidak lekas menjawab, matanya melihat ke atas, melirik ke kanan, ke depan, belakang, dan kiri nya. Dia mencari letak cctv di ruangan itu.


Fitri melihatnya. Ia menatap kamera cctv itu seperti sedang menatap Fajrin. ”Pria brengsek! Kalau kamu berani langsung datangi aku, jangan ancam kakak ku! Kakak ku punya hak atas ku, jadi terserah kakak ku mau unggah foto ku atau tidak. Kamu orang luar, gak berhak melarang dan mengatur kami.”


Fitri langsung mematikan sambungan telefon. Dia menarik tangan Ardi dan membawanya keluar dari kantor.


Ardi menurut saja di tarik oleh adiknya itu. Dia marah, tapi, dia tidak mungkin memarahi adiknya di depan teman-temannya.


Mereka telah sampai di halaman parkir kantor. Ardi terkejut melihat sebuah mobil berhenti di depan motornya.


Fajrin! benaknya.


Ardi melihat Fitri. Fitri sedang memperhatikan mobil yang terparkir dengan sengaja menghalangi motor Ardi.


.. ..

__ADS_1


__ADS_2