Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 51


__ADS_3

Di kantor Fajrin.


Fandi berjalan terburu-buru memasuki tangga lift pribadi Fajrin, yang langsung menuju lantai ruangan bos nya itu.


Tok tok tok! Fandi mengetuk ruangan Fajrin dengan gugup.


”Masuk!” Terdengar sahutan dari dalam.


Fandi menghela nafas berkali-kali sebelum akhirnya dia membuka pintu ruangan Fajrin.


”Maaf, Pak. Saya datang terlambat.” ucap Fandi.


”Hana sudah keluar dari rumah sakit?” tanya Fajrin, tanpa melihat Fandi. Tatapannya tertuju pada map dipegangnya.


”Iya, Pak.”


Fajrin meletakkan map di tangannya di atas meja dengan keadaan terbuka. Dia mendorong map itu sampai di sisi meja, di hadapan Fandi. ”Ambil dan bacalah,” titahnya.


Fandi mengambil dan membacanya. Dia terkejut membaca isi dari lembaran kertas itu.


”Apakah... apakah ini benar, Pak?” Tanya Fandi.


”Seperti yang kamu lihat.” Fajrin mengambil dua map dari dalam laci dan meletakkan di atas meja, ”Tugas mu adalah men-sahkannya dan ganti namanya atas nama property pribadi ku.”


Fajrin menyerahkan satu lembar kertas yang berisi nama lengkap keluarga Hasan dan Zulfa pada Fandi. ”Ke empat nama di dalam kertas itu, blokir mereka untuk kembali masuk ke dalam negri,” titahnya lagi.


”Apa!” Fandi terkejut, ”Kamu...kamu yang menyuruh mereka pergi ke luar negri?” Mata Fandi terbelalak melihat Fajrin.


”Iya, itu aku. Kenapa?” Tanya Fajrin.


Kedua rahang Fandi mengeras, tangannya terkepal erat. ”Kamu tahu siapa yang mencelakai putriku?” tanyanya pada Fajrin.


”Iya,” jawab Fajrin. Membuat Fandi marah.


Bugh! Satu tinju melayang di pipi Fajrin.


Fajrin menyeka darah dari ujung bibirnya. Tamparan yang di terima dari Fandi cukup kuat.


Kedua tangan Fandi terangkat ke atas, memegang kuat kedua kerah baju Fajrin. ”Kamu...kamu sengaja menyembunyikan Hasan dari kami....”


”Aku punya alasan sendiri....” Fajrin menepis kedua tangan Fandi.


”Alasan mu hanya kepada bisnis mu semata... kamu tidak memikirkan bagaimana dengan putri ku? Kamu tidak memikirkan bagaimana dengan perasaan ku? Kamu sangat egois, Fajrin!” Amarah Fandi tidak tertahankan lagi. Dia sungguh kecewa mengetahui kalau Fajrin lah yang menyuruh Hasan pergi.


Fajrin memegang bahu Fandi. ”Aku minta maaf, aku__”


Fandi menepis tangan Fajrin dengan kasar dari bahunya, ”Simpan saja alasan mu sendiri. Aku sangat kecewa dengan kamu.” Fandi beranjak pergi.


Tangannya terkepal kuat di gagang pintu. ”Jangan dekati putriku lagi! Kamu tidak pantas....” Fandi membuka pintu berjalan keluar dari ruangan Fajrin, dengan amarah yang masih memuncak di kepalanya.


Fandi pergi ke ruangannya. Dia mengambil map yang berisi pengunduran dirinya yang ia persiapkan dulu.


”Untuk apa lagi aku harus kerja di sini. Dia sama sekali tidak memperhatikan perasaan ku dan perasaan putriku,” gumamnya.


Fandi berjalan keluar dari ruangannya dengan membawa berkas pengunduran dirinya. Dia terus berjalan ke lantai lima, di mana pihak HRD berada.


Tok tok tok! Fandi mengetuk pintu ruangan.

__ADS_1


”Masuk!” Terdengar sahutan dari dalam.


Fandi membuka pintu, melangkah masuk, menghampiri meja pimpinan HRD. ”Ini surat pengunduran diriku. Mulai hari ini, aku tidak bekerja lagi di sini,” jelasnya. Dia menyerahkan surat pengunduran dirinya pada pimpinan tersebut.


”Maaf, Pak. Pengunduran diri Bapak di tolak. Bapak masih terikat dengan berbagai proyek kerja sama yang baru terjalin beberapa bulan ini. Jika Bapak bersikeras mengundurkan diri, boleh. Asal, Bapak bisa mengganti rugi pada kerugian yang akan di terima oleh perusahaan nanti.” jelas pimpinan HRD tersebut.


Kening Fandi mengerut, ”Berapa kerugian yang harus ku bayar?” tanyanya.


”Kerugian yang harus Bapak bayar dalam satu proyek sebesar 500.000.000 juta, Pak. Dan Bapak menangani empat buah proyek sekaligus, jadi, kerugian yang harus Bapak bayar adalah dua milyar.” jelas pimpinan HRD lagi. Dia menyodorkan perinciannya secara detail kepada Fandi.


Fandi melongo melihat perincian tersebut. Dia menelan saliva nya dengan susah. Berkas berisi perincian kerugian yang ada di tangannya, di simpan di atas meja.


Fandi kembali mengambil surat pengunduran dirinya dari atas meja pimpinan HRD dan berjalan keluar dari ruangan HRD dengan hati dongkol. Tangannya menggenggam erat surat di tangannya.


Kurang ngajar sekali Fajrin. Dia sudah memperhitungkan segalanya. benak Fandi.


Pimpinan HRD menghela nafas lega setelah Fandi keluar dari ruangannya. Dia bersandar dengan lemas.


”Gila, tangan ku belum berhenti dari gemetar. Fajrin menyuruh ku harus secepatnya membuat perincian kerugian pak Fandi, sebelum pak Fandi datang menemui ku,” gumamnya.


Drrttrrt! Suara telefon berdering.


Pimpinan HRD mengangkatnya, ”Iya, Pak?” tanyanya.


”Apa sudah kau buatkan perincian kerugiannya? Apa dia sudah datang menemui mu?” Tanya Fajrin.


”Iya, Pak. Pak Fandi baru saja keluar dari ruangan ku. Pak Fandi memang memberikan surat pengunduran dirinya pada saya. Saya menolaknya dengan perincian ganti rugi yang harus pak Fandi bayar jika bersikeras mengundurkan diri. Setelah pak Fandi melihat perincian tersebut, pak Fandi mengambil surat pengunduran dirinya kembali dan keluar dari ruangan ku tanpa berkata apapun,” ungkap pimpinan HRD.


”Kerja bagus! Bulan ini, kamu mendapatkan bonus tambahan....”


Pimpinan itu tersenyum, ”Terima kasih Pak.”


.. ..


Di ruangan Fandi.


Fandi masih geram dengan Fajrin. Mantan bos nya dulu, papanya Fajrin juga merupakan orang yang egois dalam hal bisnis. Tetapi, papanya Fajrin masih memikirkan juga dengan perasaannya.


”Hati Fajrin sudah buta... dia sangat tamak! Dia menggunakan kesalahan Hasan dan Zulfa untuk mengambil alih saham mereka dari perusahaan dan dari kampus. Bukan hanya itu, Fajrin tidak memiliki hati nurani, dia sengaja membuat Hasan lari dari tanggung jawabnya.” Gumam Fandi.


”Heh! Apa karena dia sudah melakukan hubungan intim dengan Zulfa, sehingga melindungi Hasan dari jeratan polisi? Karena Hasan kakak dari Zulfa, wanita yang akan dia nikahi. Sungguh ironis, ” gumamnya lagi.


Drrttrrt! Suara teleponnya berbunyi.


Fandi mengangkatnya. Dia tidak menyapa si penelepon, meskipun dia tahu yang menelponnya saat ini adalah bos-nya, CEO pemilik perusahaan tempat kerjanya.


Beberapa menit saling terdiam.


”Iya, Pak.” Fandi mengalah, dia menyapa bos-nya.


”Siapkan rapat yang terkait dengan proyek minggu lalu. Lima menit, aku tunggu semuanya di dalam ruangan rapat. Tidak boleh terlambat semenit pun.” ucap Fajrin.


”Iya, Pak.”


Telfon terputus. Fandi menyimpan kembali ganggang telponnya. ”Rapat terkait proyek Minggu lalu? Kenapa aku bisa lupa tentang proyek apa....”


Fandi membuka lagi catatan pada memo di hapenya.

__ADS_1


”Ternyata proyek pembangunan hotel baru di lokasi pasar tradisional,” ia memukul jidatnya. Hal kecil seperti ini saja dia bisa lupakan hanya karena masalah yang baru dia hadapi.


Fandi menelpon pihak-pihak yang terkait dalam pembangunan hotel tersebut. ”Kumpulkan staf-staf yang terkait dalam proyek pembangunan hotel di pasar tradisional, rapat akan di adakan lima menit lagi dari sekarang.” titah Fandi.


”Jangan sampai ada yang terlambat,” imbuhnya lagi.


”Baik, Pak.” jawab si penerima telepon.


Fandi memutuskan telfonnya. Dia mencari file proyek tersebut dari kumpulan file-file yang menumpuk di rak filenya.


Dia menemukan file nya. Dia berjalan keluar dari ruangannya, berjalan hingga ke ruangan rapat.


Fandi memasuki ruangan rapat, dia melihat Fajrin dengan enggan. Dia menarik kursi dan duduk. Di ruangan itu baru mereka berdua saja yang datang. Suasananya menjadi canggung. Aura marah masih terpancar di wajah Fandi.


”Aku tahu kamu masih marah sama aku. Aku berfikir kamu sudah mengerti dalam bisnis untuk mencapai sukses dengan berbagai cara. Aku mengambil cara ini karena ada alasan khusus. Dan alasanku juga tidak merugikan buat kalian.” ucap Fajrin.


Fandi terdiam. Sedikitpun tidak bersuara, bahkan, menoleh ataupun melirik atasannya itu enggan dia lakukan.


Fajrin menutup rapat kembali mulutnya yang hendak bicara saat melihat anggota rapat sudah berdatangan memenuhi kursinya.


”Semuanya sudah berkumpul?” Tanya Fajrin.


”Sudah, Pak,” seru semuanya.


”Kalau begitu rapat di mulai. Bagaimana perkembangan lahan untuk pembangunan hotel di sana?” Fajrin memimpin membuka topik pembahasan pembangunan hotel.


Semua anggota rapat mulai mengemukakan pendapat dan gagasannya, sesuai dengan survei yang mereka temukan.


Saling melontarkan pertanyaan dan melempar jawaban kerap kali terjadi.


”Pak Fandi, bagaimana pendapat mu?” Tanya Fajrin pada Fandi.


”Dari survei yang di kemukakan, untuk pembangunan hotel bagi saya kurang efisien. Bagaimana kalau kita bangun rumah kos saja di lokasi tersebut. Kebanyakan para pedagang yang datang berasal dari luar kota untuk berdagang. Mereka pasti akan mencari rumah kos yang hitungannya lebih murah dari pada hotel. Kalau hotel, takutnya tidak akan memadai dengan omset yang mereka dapatkan.” ucap Fandi menjelaskan.


”Iya, saya setuju....”


”Saya juga sependapat....”


Semua anggota rapat mengatakan setuju dengan ide yang di kemukakan oleh Fandi.


”Baiklah, kalau begitu untuk pembangunan hotel kita pending dan di lokasi tersebut kita bangunkan kos-kosan saja.” ucap Fajrin.


”Dan untuk pembangunan tersebut menjadi tanggung jawab Anda, Pak Fandi,” imbuhnya lagi, sambil melihat Fandi.


Fandi terdiam melihat Fajrin. Apa dia sengaja untuk menahan ku lagi? Orang ini terlalu banyak siasatnya, benaknya.


”Maaf Pak Fajrin, saya menolak. Saya masih ada penanggung jawaban dalam proyek lain. Kalau bisa untuk penanggung jawab dalam proyek ini berikan saja kepada yang lain,” ucapnya kemudian.


”Penolakan di tolak. Rapat selesai, semuanya bubar.” ucap Fajrin.


Fandi terdiam di tempatnya. Anggota rapat yang lain telah pergi meninggalkan ruangan rapat.


”Apa kamu sengaja membebankan aku di proyek ini?” Tanya Fandi.


Fajrin melihat Fandi, ”Iya. Jika pikiran mu seperti itu, berarti iya. Aku sengaja menahan mu di perusahaan ku. Kenapa, kamu keberatan?” tanyanya.


Fandi terdiam, tangannya terkepal kuat.

__ADS_1


”Satu hal lagi, aku tidak akan menjauhi Fitri Raihana, putri mu satu-satunya itu seperti perkataan mu. Karena aku mencintai dia.” ucap Fajrin lagi. Dia berdiri melangkah meninggalkan ruangan rapat.


Fandi menghela nafas sambil memejamkan mata. Apa maunya orang itu? Apa dia tidak puas dengan Zulfa? Dia masih ingin memiliki anak ku untuk masuk dalam hidupnya? Bukankah dia sudah benar-benar sangat berambisi..., benaknya.


__ADS_2