Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 53


__ADS_3

Keesokan paginya, di dapur, di kediaman Fandi.


”Hana, kamu tidak tidur semalam?” tanya Ardi. Dia cemas melihat kantung mata Fitri yang menghitam.


Fandi dan Fatma memperhatikan wajah Fitri baik-baik. Memang benar, kantung mata Fitri menghitam.


Apa yang dipikirkan Hana sampai tidak bisa tidur? Apakah memikirkan Hasan yang kabur atau... memikirkan Fajrin? Apakah...apakah Hana...sudah... benak Fandi, ia mengerutkan keningnya melihat Fitri.


”Iya, semalam Hana memikirkan untuk mengirimkan lamaran magang di perusahaan Randi Corp atau tidak! Lama-lama berpikir, Hana mengisi formulirnya, dan ternyata...pas Hana lihat jam sudah jam 4 pagi. Itupun Hana tidur main paksa,” jawabnya, ia memakan kembali sarapannya yang tinggal sedikit.


Oh, ternyata hanya memikirkan itu. Kirain memikirkan Fajrin. benak Fandi.


”Memangnya ada apa dengan formulir pendaftarannya? Kok sampai di pikirkan semalaman?” tanya Fandi penasaran.


”Ya bingung aja, Pa. Kan perusahaan tersebut ada di kota C. Takutnya Papa dan Mama tidak akan setuju tapi, setelah Hana pikir-pikir... meskipun Mama dan Papa tidak akan setuju, Hana tetap akan pergi,” jawabnya.


”Lalu, apa jawaban dari perusahaan itu?” tanya Ardi.


”Belum ada jawaban kak, nanti agak siangan baru ada pemberitahuan jawabannya. Apakah Hana di terima magang atau tidak,” jelasnya. Ia telah selesai makan.


”Lalu, hari ini Papa dan Ardi tidak pergi kerja kah? Dan kamu Hana tidak pergi kuliah kah? Ini sudah jam tujuh lewat tiga belas menit, loh!” ucap Fatma, lebih tepatnya ia mengingatkan kepada suami dan kedua anaknya untuk tidak melupakan aktivitas mereka.


”Mama, Hana masuk kuliah di jam sembilan. Habis sarapan Hana akan kembali tidur. Takutnya kalau gak tidur, nanti Hana tidak akan konsentrasi saat di kampus.” ucap Fitri.


”Ardi ambil izin dua hari dari perusahaan untuk menjaga Hana. Besok baru Ardi kembali bekerja,” jawabnya.


”Papa dapat istirahat satu hari untuk tidak kerja untuk menghilangkan rasa lelah kerja seharian kemarin,” jelasnya.


”Kalau begitu...bagaimana kalau siang ini kita pergi ke taman bunga?” usul Fatma, senyumnya mengambang di kedua sudut bibirnya, pandangannya sangat mengharapkan keluarganya untuk bersantai bersama.


”Kalau Papa tidak masalah, sudah lama juga kita tidak pergi bersantai bersama. Di saat kita tidak memiliki kegiatan apapun, alangkah baiknya jika sesekali kita meluangkan waktu untuk berlibur bersama.” ucap Fandi.


”Ardi setuju,” sahutnya.


”Baiklah, Hana juga setuju. Hana rindu dengan suasana taman bunga Mama.” ucap Fitri senang.


”Alhamdulillah! Kalau begitu Papa dan Mama akan pergi ke pasar untuk membeli keperluan makan siang dan makan malam di sana. Selesai makan malam, baru kita pulang ke rumah.” ucap Fatma.


”Mama, belikan Hana jagung muda. Hana ingin membakar jagung sampai di sana,” pintanya.


”Ah, anak Mama mau makan jagung bakar? Baiklah, Mama akan beli jagung seharga seratus ribu.” ucap Fatma. Ia sangat senang ini pertama kalinya Fitri meminta sesuatu padanya setelah Fitri sadar dari pingsannya waktu itu.


”Baiklah, kalau begitu Mama dan Papa langsung ke pasar saja. Takutnya nanti kehabisan barangnya kalau datang terlambat.” ucap Fandi.


”Iya, Mama dan Papa pergilah ke pasar. Urusan meja makan dan dapur, serahkan pada Hana saja. Mama dan Papa pergilah ke pasar.” sahut Fitri.

__ADS_1


”Baiklah, Mama akan bersiap dulu. Papa tunggu Mama di teras saja.” ucap Fatma. Ia beranjak dari dapur pergi ke kamarnya untuk bersiap.


Fandi beranjak dari duduknya, ia pergi ke teras rumah menanti sang istri. Ardi mengikuti ayahnya ke teras.


Fitri mengumpulkan piring kotor dan membersihkan meja makan. Setelah itu, ia mencuci piring kotor dan membersihkan meja dapur. Setelah pekerjaan itu selesai, ia pergi ke kamarnya.


*


*


Di kamar Fitri.


Fitri menyiapkan materi kuliahnya hari ini ke dalam tas. Setelah selesai menyiapkannya, ia beranjak ke ranjang. Ia naik ke atas ranjang dan berbaring.


Tok tok tok! ”Hana...kamu sudah tidur?” terdengar suara Ardi dari luar pintu.


Fitri tidak menyahut, ia memejamkan mata. Dia tidak ingin di ganggu. Kepalanya sangat pusing karena tidak tidur semalam. Ia memaksakan dirinya bangun pagi untuk membuat sarapan sekaligus sarapan pagi bersama keluarga karena perutnya sangat lapar.


Tok tok tok! ”Han...kakak masuk ya?” terdengar suara Ardi yang meminta izin.


Fitri membalikkan badannya menghadap kanan, membelakangi pintu kamar. Fitri mendengar suara pintu terbuka dengan pelan.


Ia juga mendengar suara langkah kaki Ardi yang melangkah masuk ke kamarnya. Ardi mendekati Fitri. Ia melihat Fitri memang sedang tidur.


”Hum...sudah tidur ternyata,” gumamnya pelan. Ia pergi ke meja hias Fitri, laptop Fitri masih terbuka dan menyala.


Kening Ardi mengerut saat lama-lama ia membaca nama Randi, nama yang pernah di sebutkan Fitri ketika dia sadar dari pingsan.


Randi? Siapa sebenarnya dia? Kapan dia ketemu dengan Hana? Selama ini...sebelum Hana pingsan, aku sangat tahu siapa-siapa saja yang di temui atau yang di kenal oleh Hana. Tetapi... sepenjang aku mengingat, nama Randi tidak pernah bertemu atau berkenalan dengan Hana. benak Ardi.


Ia penasaran dengan sosok Randi. Dari laptop Fitri, ia melakukan pencarian tentang Randi Corp. Ia menemukannya.


Terpampang lah wajah dari si pemilik nama tersebut, lelaki yang lumayan tampan, tinggi 168 cm, ceo dari perusahaan Randi Corp. Istri bernama Cindy. Memiliki satu putri bernama Elisa Elsa, yang berusia 1 bulan.


Apa Hana menyukai pria yang sudah menikah? Tidak mungkin, kan? Sebenarnya...ada apa ini? Situasi ini tidak aku mengerti. Hana dengan fasih menyebutkan nama Randi. Dan sekarang, ia ingin magang di perusahaan Randi Corp. Apakah Randi dan Randi Corp ini...orang yang sama? benak Ardi.


Ardi kembali mendekati Fitri di ranjang. Fitri yang tadinya hanya berpura-pura tidur, akhirnya tertidur beneran tanpa ia sadari. Ia membalikkan badan menghadap ke kiri.


Ardi menatap wajah Fitri, teringat kembali waktu di saat Fitri bangun dari sadar.


Saat itu Hana bilang kalau dia tidak memiliki kakak, dia adalah anak satu-satunya dalam keluarganya.


Hana juga bilang saat itu kami salah mengambil orang. Fitri Raihana yang kami cari tertukar di rumah sakit.


Bukan hanya itu...saat itu juga Hana menyuruh dokter untuk memeriksa kandungannya. benak Ardi.

__ADS_1


”Saat dia berbicara waktu itu semua bukan seperti rekayasa, dia serius terlihat dari cara bicaranya, tatapannya. Tidak seperti di buat-buat. Tetapi...jika kami yang salah mengambil orang? Sejak kapan kami membawa Hana ke rumah sakit?” gumam Ardi pelan.


”Ah, sudahlah... mungkin di saat itu Hana baru bangun dari pingsan dan masih mengalami hal dalam mimpi makanya dia seperti linglung. Kenapa aku mencurigai adikku sendiri?” Ardi tertawa kecil. ”Bukankah selama ini adikku selalu bersamaku? Mana mungkin itu orang lain! Dia adikku,” gumamnya lagi.


Ardi membelai wajah adiknya yang terlelap. Ia tersenyum dan mengecup kening Fitri lalu beranjak keluar dari kamar Fitri. Ia menutup pintu kamar Fitri dengan pelan.


”Eh... tunggu!” Ardi teringat sesuatu. Ia masuk kembali ke kamar Fitri. Dia mencari handphone Fitri di dalam laci meja. Tidak ada. Ardi melihat Fitri, matanya juga tertuju pada benda di bawah bantal Fitri.


Ia menghampiri Fitri. Dengan pelan, ia mengambil handphone Fitri. Ia mendapatkannya.


Ia duduk di kursi meja hias Fitri, ia kembali mencari biodata Randi Corp di layar laptop Fitri lalu, ia membuka galeri handphone Fitri.


Dia menggeser foto-foto yang ada di galeri tersebut, keningnya mengerut saat tidak menemukan foto pria yang pernah ia temukan di dalam album foto Fitri sebelumnya. Dia menghela nafas sambil memijit pangkal hidungnya.


”Kakak? Ngapain di sini?” Fitri sudah berada di belakang Ardi.


Ardi terkejut. Fitri juga terkejut saat melihat layar laptop terpampang biodata Randi. ”Kakak mencari informasi tentang Randi? Kenapa?” tanya Fitri.


”Em...kakak cuma penasaran saja tentang perusahaan tempat kamu magang. Tidak ingin terjadi sesuatu padamu...kakak mencari tahu tentang tabiat ceo perusahaan tersebut. Ternyata, dia orang yang baik dan penyayang kepada semua orang. Apalagi terhadap anak dan istrinya. Jadi...kakak tidak khawatir kalau adiknya kakak magang di sana.” ucap Ardi.


Sekejap Ardi menangkap wajah sedih Fitri. Namun, sedetik kemudian berubah menjadi cerah. ”Lagi pula, kalau ceo nya galak...emang apa yang bisa dia lakukan pada adikmu ini? Hum?” tanya Fitri membanggakan diri.


Ardi tertawa. ”Ya ya ya, siapa yang bisa lawan adikku yang hebat ini,” pujinya. ”Sekarang sudah jam sembilan lewat empat puluh menit, kamu siap-siaplah untuk kuliah. Kakak akan mengantar mu,” ucapnya lagi.


”Iya, kakak keluarlah supaya Hana berganti. Kakak juga jangan lupa berganti biar terlihat cakep dan tampan di mata Alin.” sahut Fitri.


”Apa?” Ardi memastikan jika dia tidak salah dengar nama.


Fitri mendorong tubuh Ardi keluar dari kamarnya, ”Kakak keluarlah! Kakak ingin pergi seperti ini? Masa iya saat bertemu dengan pacar penampilan sederhana begini? Pergilah berganti.” Fitri segera menutup pintu kamarnya dan menguncinya.


Tok tok tok! ”Hei... Hana! Buka pintunya! Apa maksudmu bertemu pacar?” terdengar suara Ardi di balik pintu kamar Fitri.


Fitri tersenyum. ” Kakak bisa sembunyikan kekasih kakak dari mama dan papa. Tapi...kakak jangan harap bisa sembunyikan dari Hana. Kakak tenang saja, Hana mendukung kakak. Pergilah bersiap kakak, jika aku selesai bersiap dan kakak belum juga selesai, Hana akan pergi ke kampus menggunakan bus,” ancamnya.


”Hah! Adik tengik, kamu mengancam kakak kah?” sahutan Ardi dari belakang pintu. Fitri hanya tersenyum saja mendengar sahutan Ardi.


Fitri mendengar suara langkah kaki yang menjauh dari pintu kamarnya. Ia pun bersiap-siap.


Hana telah selesai bersiap. Ia mengambil tas dan hapenya di atas meja dan keluar dari kamar.


Ia telah mendengar bunyi suara motor Ardi. Ia bergegas ke teras rumah. Ia tersenyum melihat kakaknya yang terlihat cakep dan cool.


”Wah, kakak ku sangat tampan hari ini. Bolehkah aku mencium pipi mu? Eh...gak jadi...nanti Alin akan marah padaku,” ledeknya.


Ardi mencubit hidung Fitri. ”Bawel!! Nih pakai helm. Ayo cepat, nanti kamu terlambat....”

__ADS_1


”Iya.” Fitri memakai helm dan segera naik di atas motor. Ia berpegangan pada bahu kakaknya. Ardi menjalankan motor mengantar Fitri ke kampus.


__ADS_2