
Di kamar, kediaman Fajrin.
”Pembicaraan kita sudah selesai. Sekarang, bolehkah antar aku pulang?” tanya Fitri.
”Pembicaraan kita sama sekali belum selesai. Masih ada yang masih kita perlu bicarakan. Kenapa? Kamu takut aku akan mengurung mu di sini?”
”Ah, tidak! Bukan begitu... kamu membawaku ke sini sejak sore tadi. Dan ini... sudah jam 7 malam. Orang tua dan kakak ku pasti akan khawatir padaku,” jelas Fitri.
”Kenapa kamu mengajukan lamaran magang di perusahaan Randi Corp? Kamu sangat ngotot ingin magang di sana? Apakah Randi orang yang begitu spesial bagimu?” tanya Fajrin.
Kenapa dia mau bahas ini lagi? Beberapa menit yang lalu baru saja mengatakan tentang perasaan, sekarang bertanya seakan-akan aku selingkuh. Apakah cemburu? benak Fitri.
Fitri menatap Fajrin. Fajrin juga ternyata sedang melihat Fitri. Tatapan mata mereka saling bertemu.
Apa yang harus aku jawab? Orang ini temperamen nya sangat buruk! benak Fitri.
Ia memutuskan pandangannya. ”Aku hanya tertarik untuk magang saja, tidak ada hal lain selain itu,” jawabnya.
”Dia sudah menolak lamaran magang mu. Kamu masih ingin berusaha memasukkan lagi berkas lamaran mu, benarkah tidak ada maksud apa-apa?”
Fitri mengangguk.
”Kamu tahu dia sudah punya istri dan anak?”
Fitri kembali mengangguk dengan sedih. Ia sedih kehidupan rumah tangga Randi dan Cindy sangat bahagia bersama anaknya. Sementara Fitri, ia menderita dan bahkan kehilangan anak juga kehilangan segalanya.
Mata Fitri berkaca-kaca. Randi sama sekali tidak mencintai ku. Aku di anggap apa baginya? Hanya pemuas nafsu? Dia dan selingkuhnya bekerja sama membunuh ku dan anakku. Aku tidak terima itu! benak Fitri.
Kedua tangannya terkepal erat memegang sprei, pandangannya menatap lantai dengan tajam, namun wajahnya terlihat begitu sedih. Fajrin memperhatikannya.
”Aku sangat cemburu Randi begitu menguasai jalan pikiran mu. Kamu sungguh hebat. Baru saja menjadi kekasih beberapa menit yang lalu, kamu sudah membuat ku marah dan cemburu,” keluh Fajrin.
”Ah! Tidak, maaf. Aku tidak bermaksud begitu. Kamu... jangan salah paham padaku.”
”Jadi, kamu masih ingin magang di sana?” tanya Fajrin. Fitri mengangguk.
”Itu komputer ku. Kamu bisa gunakan komputer ku untuk mengirimkan kembali lamaran kerjamu.”
”Kamu serius? Aku... aku harus keluarkan email mu dulu baru aku masuk ke email ku. Apakah kamu tidak apa-apa?” tanya Fitri.
”Kamu sangat meremehkan aku. Email ku bukan hanya satu tapi ada lima dan ke-lima limanya, aku sangat hafal alamat email dan kata sandinya.”
”Baiklah kalau begitu,” sahut Fitri. Ia pergi ke meja kerja Fajrin. Ia membuka laptop Fajrin dan menyalakannya. Ia keluar dari email Fajrin dan masuk dalam email-nya sendiri.
Fitri mulai mengisi kembali formulir magangnya. Ia sedang serius, ia lupa jika ia sedang berada di kamarnya Fajrin. Lamaran magang telah selesai ia tulis.
”Tekan enter! Terkirim! Huft, semoga ini di terima. Kalau tidak di terima, aku sendiri yang akan pergi ke kota C untuk mendaftarkan diri. Randi sialan!” umpat Fitri.
”Apa?!” Kening Fajrin mengerut. Wajahnya terpancar aura marah. Ia memutar kursi yang di duduki Fitri menghadap dirinya, menyudutkan Fitri di kursi tersebut. Fitri terkejut.
Gawat! benak Fitri ketakutan.
Fitri menciut melihat muka marah dan tatapan tajam Fajrin untuknya. Badannya terasa sakit dalam posisi seperti itu. Fajrin mencondongkan tubuhnya lebih dekat dengan Fitri. Wajah mereka sangat dekat. Rasa takut juga hati berdebar menjadi satu yang di rasakan Fitri.
”Kamu... ucapan mu sungguh tidak bisa di percaya, Hana! Sebenarnya siapa Randi itu? Aku sangat cemburu dan marah Hana.” Ia menatap Fitri semakin tajam.
”Dia... dia bu__bukan siapa-siapa! Ka__kalau kamu tidak percaya padaku... lebih baik, ja__jangan ada hubungan apapun di antara kita...”
”Kamu!” Fajrin mencium bibir Fitri dengan kasar. Bahkan ia menggigitnya dengan kuat hingga bibir Fitri terluka.
”Ah! Fajrin! Kamu apa-apaan ini!” keluh Fitri saat Fajrin melepaskan ciumannya. Fitri memegang bibirnya yang terluka. Ia melihat darah di jari telunjuknya saat menyeka bibirnya. ”Aku malas bicara sama kamu! Awas, aku mau pulang!”
Fitri mendorong tubuh Fajrin dengan kuat. Namun, tidak dapat menggeser badan Fajrin sedikitpun.
Tenaga pria ini sungguh sangat kuat. Apa aku tendang saja barang berharganya ini? Badanku mulai terasa sakit-sakit dalam posisi ini. benak Fitri.
__ADS_1
”Aku sungguh tidak mengenal Randi. Aku hanya tertarik ingin magang di sana. Aku tahu perusahaan itu dari internet. Bukankah kamu tahu sendiri kalau dia sudah berkeluarga? Apa lagi yang membuat mu tidak senang padaku? Tidak mungkin hanya karena surat lamaran tersebut, kan?” ucap Fitri.
”Aku sangat cemburu dengan tekad mu yang kuat hanya untuk sebuah pekerjaan di sana. Bukankah dia sangat istimewa sehingga begitu menyita perhatian mu?”
”Tidak! Bukan begitu, Tuan pencemburu! Sudahlah aku capek menjelaskan sesuatu pada orang yang sedang cemburu buta. Minggir! Badanku sangat sakit aku dalam posisi seperti ini,” keluh Fitri. Fajrin tetap pada posisinya.
”Aku dapat membantumu untuk di terima magang di perusahaan tersebut. Tetapi... tentu saja ada bayarannya. Kamu tertarik?” tawar Fajrin.
”Aku kekasih mu atau bukan?” tanya Fitri ketus.
”Dalam bisnis tidak memandang kekasih. Dalam dunia bisnis hanya dua kata "Untung atau rugi" Dan aku sebagai pebisnis handal, tidak ingin di rugikan,” jelas Fajrin.
”Baik, jika aku di terima di perusahaan Randi...aku akan traktir kamu makan dan jalan-jalan seharian penuh bersamamu. Bagaimana?” Dia menatap Fajrin.
”Itu bukan keuntungan yang bisa aku dapatkan. Jalan-jalan dan makan bersama itu adalah hal lumrah yang akan di lakukan oleh dua orang yang berpacaran. Aku tidak setuju dengan itu.”
”Lalu kamu maunya apa?” tanya Fitri serius.
Wanita ini... antusias sekali ingin magang di perusahaan Randi. Apa sebenarnya hubungan mereka berdua? benak Fajrin.
Fajrin semakin mendekatkan wajahnya ke Fitri. Hingga Fitri dapat merasakan hembusan nafas Fajrin di wajahnya. Jantung Fitri semakin deg degan. Ia merasa sulit bernafas. Ia menelan saliva nya dengan kasar.
”Aku ingin kamu menemani ku malam ini, di sini. Tidur dengan ku,” ucap Fajrin tengah berbisik pada Fitri.
Fitri menatap kedua netra Fajrin yang hanya berjarak beberapa centimeter itu. Mereka saling menatap.
Fitri membuang muka. ”Itu tidak mungkin! Tidak perlu membantu ku. Aku akan usaha sendiri,” ucapnya.
”Kamu kira kamu akan di terima oleh Randi? Kamu sudah di tolak dari awal. Dan kamu mengirimkan lagi lamaran. Setelah mereka menolak mu kedua kalinya, kamu kira email mu tidak akan di blokir...Nyonya Fitri Raihana Mufajrin?”
Apa yang di bilang Fajrin benar. Apa aku harus tidur dengannya malam ini? Tidak! benak Fitri. Ia menggelengkan kepalanya.
”Apa ada tawaran lain? Untuk tidur dengan mu hanya untuk di terimanya aku magang, aku rugi banyak.”
”Lusa... mari kita bertunangan,” pinta Fajrin.
”Tunangan? Baiklah, aku terima.” ucap Fitri sambil tersenyum.
Fajrin mencium bibir Fitri, kali ini sangat lembut. ”Aku mengambil sedikit keuntungan nya dulu di awal,” ucapnya sambil mengedipkan mata kanannya.
Keuntungan apaan? Dasar si brengsek mesum. benak Fitri.
”Fajrin, aku sebagai kekasih mu. Bisakah kamu menghargai ku? Jangan mencium ku sesuka hatimu. Aku bukan istri halal mu. Tolong hargai aku. Dan... tolong minggir... badanku sudah sakit dalam posisi ini terus,” ucap Fitri dengan pelan.
Fajrin menarik badannya. Fitri memperbaiki duduknya.
”Ayo keluar! Aku antar kamu pulang. Tunggu aku di bawah. Aku ke kamar mandi dulu.”
Fitri mengangguk, ia bergegas berdiri. Tanpa mengulur waktu, ia keluar dari kamar Fajrin.
Fajrin melirik laptopnya. Ia duduk di kursi. Ia menyimpan email Fitri tanpa keluar dari email tersebut.
Ia mengambil laptop kerjanya. Fajrin mengetik keyboard di laptopnya. ”Kirim.” Ia menekan enter. Pesan terkirim.
Ia mengambil kunci mobil dari laci meja kerjanya dan keluar dari kamar. Ia turun ke bawah.
”Ayo pergi!” ajak Fajrin. Ia berjalan keluar dari rumahnya. Fitri mengikuti dari belakang. Mereka masuk ke dalam mobil. Fajrin menyalakan mobil dan menjalankannya.
Fitri melihat pagar itu dengan enteng terbuka saat mobil Fajrin ingin keluar. Setelah mobil mereka keluar dari pagar, pagar itu tertutup lagi dengan sendirinya.
”Rumah ini aman dari kata kehilangan. Fitur keamanannya sangat kuat dan bagus. Kalaupun ada kehilangan, gampang mengetahuinya. Hanya orang dalam rumah yang berani mencuri.” gumam Fitri pelan. Namun, masih terdengar jelas di telinga Fajrin.
”Fajrin, kenapa kamu gak buatkan aku akses untuk gampang keluar masuk ke dalam rumah mu?” tanya Fitri.
”Kenapa? Kamu ingin datang mencuri sesuatu di rumah ku saat aku tidak berada di rumah?” Fajrin bertanya balik.
__ADS_1
”Untuk apa mencuri darimu, aku malah ingin membunuh mu.” gumam Fitri dengan se_pelan mungkin. Fajrin tersenyum tipis mendengar gumaman Fitri.
”Belum saatnya aku berikan kamu akses itu. Kamu masih berpikiran buruk padaku. Masih ingin lari dariku. Apakah aman bagiku memberikan mu akses tersebut?” Ia meminta pendapat Fitri.
Fitri menghela nafas. Memang itu niatnya jika Fajrin memberikan akses keluar masuk di rumahnya. Ia gampang untuk kabur.
”Terserah!” ucap Fitri dengan malas.
*
*
*
Di kota C, di rumah Fitri.
”Tuan... Tuan Randi. Anda ketiduran lagi di meja kerja. Sebaiknya Tuan istirahat saja di kamar.” tegur Bibi art rumah Fitri.
”Ah, jam berapa ini, Bi?”
”Sudah jam delapan malam, Tuan.”
Randi menguap. Ia melihat layar laptopnya. Ada dua pesan email yang masuk. Ia melebarkan matanya saat membaca email dari perusahaan Wisma Grub.
Ia membuka dan membaca email tersebut.
”Apa? Syaratnya aku harus menerima magang dari pelamar yang bernama Fitri Raihana Fandi? Bukankah... ini pelamar yang aku tolak? Apa hubungannya dengan wanita ini?” gumam Randi.
”Tapi demi kerja sama ini... baiklah, aku terima saja magang wanita itu.” gumam Randi lagi.
Ia mengetik sesuatu untuk membalas email dari perusahaan Wisma Grup. Setelah selesai membalas email tersebut, ia beralih melihat email Fitri Raihana.
”Wanita ini... baiklah. Jangan salahkan aku jika aku akan bertindak sesuatu padamu nanti. Aku sudah memberimu kesempatan untuk tidak bekerja di sini. Kamu ngotot ingin datang padaku.. aku akan menerima mu.” Ia membalas email Fitri.
Pikiran nakal Randi sudah melayang kemana-mana. Mengkhayalkan Fitri Raihana. Semenjak Fitri mengirimkan lamaran kerja di perusahaannya, sudah membuka ruang rindu di hati Randi pada sosok Fitri mantan istrinya.
*
*
*
Di taman bunga.
Ardi, Fatma, dan Fandi berwajah datar menyambut datangnya Fitri dan Fajrin. Ardi langsung menarik tangan adiknya membawanya ke samping kirinya.
”Terima kasih sudah mengantar Hana. Kamu boleh pulang sekarang.” ucap Ardi dengan ketus.
Fajrin tersenyum, ”Sambutan kakak ipar sangat romantis. Aku jadi terkesan.” Fajrin menarik kursi tempat duduk Ardi sebelumnya, ia duduk.
Ardi menatap Fajrin dengan tajam, ”Aku bukan kakak ipar mu!”
Fajrin tersenyum melihat Ardi yang marah, ”Kamu suka ataupun tidak ya... tidak akan memungkiri dirimu sebagai kakak ipar ku. Seharusnya kamu senang dengan panggilan hormat ku padamu, kakak ipar.”
Fandi dan Fatma melihat Fitri. Fitri menunduk dengan wajah takut.
”Fajrin, sepertinya kita harus pertegas lagi hubungan kamu dengan keluarga kami.” ucap Fandi.
”Itu benar sekali... Ayah mertua. Kita memang harus pertegas lagi hubungan keluarga kita. Kita sekarang adalah satu keluarga. Benar kan Hana?” Ia melihat Fitri dengan tersenyum manis. Fitri mengangguk dengan enggan.
Fandi terkejut. Bukan hanya Fandi, Ardi dan Fatma juga terkejut.
”Mama mertua, apakah ada makanan? Aku sangat lapar.” tanya Fajrin pada Fatma.
Fatma melihat suaminya lalu mengangguk melihat Fajrin. ”Masuklah kita makan malam,” ajaknya.
__ADS_1
Semua masuk ke dalam rumah.