Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 39


__ADS_3

Di kediaman Fandi.


Fandi dan Ardi juga Fatma berada di teras rumah. Wajah marah dan khawatir tergambar jelas di mata mereka bertiga.


”Bukan kah tadi Papa memintamu menjemput adikmu ketika pulang?” Fandi melanjutkan marahnya pada Ardi.


Fandi marah pada Ardi sejak sore tadi, saat Ardi pulang ke rumah tanpa membawa Fitri. Dan sekarang sudah hampir jam sembilan malam, Fitri belum juga pulang ke rumah.


Bukan hanya itu, nomor Fajrin pun tidak aktif saat di hubungi.


”Maaf, Pa. Ardi tidak tahu mereka berbicara di kafe atau di restoran mana. Fajrin juga hapenya tidak aktif saat Ardi menghubunginya.” Ardi mengucapkan kembali alibinya yang tadi sore pada Fandi untuk menutupi kebohongannya.


”Pa, Ardi tidak sepenuhnya salah. Sudah sudahi Papa memarahi Ardi. Marah lah pada Hana dan Fajrin jika mereka datang.” Fatma membela Ardi, suaranya juga ketus.


Kali ini Aku tidak akan takut pada Fajrin. Aku akan membuat perhitungan dengan nya nanti. Hana juga... aku akan memarahinya! benak Ardi.


Fajrin sudah sangat keterlaluan! Beraninya dia membawa anakku dan tidak memulangkannya. Padahal ini sudah malam. Meskipun dia atasan ku tapi, Hana adalah anak perempuan ku. Seharusnya dia menghormati ku sebagai orang tuanya Hana. benak Fandi.


Hana...cepatlah pulang. benak Fatma.


*


*


*


Di perjalanan ke rumah Fandi.


”Kenapa diam saja?” tanya Fajrin.


”Memangnya aku harus bicara apa padamu,” ucap Fitri dengan ketus.


”Kamu tidak ingin bertanya tentang Murni? Tidak ingin berterima kasih padaku telah membelamu? Hum?”


”Tidak penting! Memangnya siapa dia, dia tidak butuh perhatian ku? Dan aku tidak perlu berterima kasih padamu. Itu memang tugas mu mendisiplinkan para pelayan mu. Bukan urusan ku. Lagi pula, tanpamu aku masih bisa menyelesaikan masalah ku sendiri.” tutur Fitri.


Gadis ini...kucing liar ku memang berbeda. benak Fajrin.


”Murni, awalnya aku tidak mengenal dia. Dia di bawah oleh ibuku di kediaman ku, bekerja sebagai kepala pelayan.” Fajrin sengaja menghentikan ceritanya. Dia melihat Fitri. Dia ingin tahu bagaimana tanggapan wanita itu pada awal ceritanya.


Mengapa dia mau menceritakan dengan sukarela padaku tentang hidupnya? benak Fitri.


”Aku tidak peduli tentangnya! Tentangmu juga... aku tidak perduli. Tidak perlu menceritakan hidup mu padaku.” ketus Fitri berucap tanpa menolah pada Fajrin.


”Kamu adalah wanita ku, kamu berhak mengetahui tentang hidup ku...”


Fitri menoleh melihat Fajrin. Pria itu berkata dengan serius. Tidak terlihat canda di wajah maupun di matanya.


”Aku bukan wanita mu. Kamu hanyalah bapak guru ku di kampus, aku murid mu. Hanya itu hubungan kita berdua.” ucap Fitri. Ia memperjelas status hubungan dia dan Fajrin.

__ADS_1


Mobil berhenti di pinggir jalan dengan tiba-tiba. Fitri terkejut. Dia melihat Fajrin. Wajah pria itu nampak marah.


”Kamu adalah wanita ku, kekasih ku, milikku, tunangan ku, calon istriku. Kamu suka ataupun tidak. Terima ataupun tidak. Kamu adalah wanita milikku!” tegas Fajrin. Tatapannya tajam melihat Fitri.


Fitri menciut. Dia takut jika dia bersikeras menentang ucapan Fajrin, Fajrin akan kembali melancarkan ciuman ganas padanya.


”Terserah padamu untuk menganggap ku apa. Jalankan mobilnya! Aku ingin cepat sampai ke rumah.” ucap Fitri dengan nada pelan. Tidak memprovokasi emosi Fajrin.


”Kucing manis! Kamu sangat penurut!” Fajrin membelai rambut Fitri. Fitri merasa lain saat di belai sama Fajrin.


Fajrin kembali menyalakan mobil dan menjalankannya.


”Aku memang tidak pernah menegurnya saat dia memperlakukan wanita yang datang ke rumah ku, sama seperti yang dia perlakukan padamu. Sikapnya termasuk membantuku mengusir wanita itu, karena aku tidak suka pada wanita-wanita itu. Tapi kamu berbeda, saat mendengar dia kasar bahkan mengatai mu... hati ku tidak senang. Hatiku yang sakit mendengarnya.” Dia melanjutkan ceritanya, meskipun Fitri tidak memintanya.


”Itu artinya... kamu tidak tidur saat Murni mulai menyerang ku, kan?” Fitri melihat Fajrin dengan serius.


Fajrin mengangguk. ”Aku sengaja berpura-pura tidur. Aku ingin melihat bagaimana kamu akan membela diri. Apakah akan merengek, menangis, mengadu padaku atau tidak? Apakah kamu sama seperti wanita-wanita lainnya cengeng... manja? Tapi, kamu jelas berbeda. Wanita ku memang beda,” jelasnya sambil tersenyum.


Fitri terdiam sejenak. ”Tidak gampang untuk menindas ku,” gumamnya pelan.


Tapi masih terdengar oleh telinga tajam Fajrin. ”Kamu memang tidak gampang ditindas begitu saja sama orang. Cukup aku saja yang boleh menindas mu,” sahutnya, sembari tersenyum lebar dan mengedipkan sebelah matanya melihat Fitri.


Fitri memutar kedua bola matanya dengan malas sambil bersandar di kursi.


”Tapi... kenapa kamu tidak melawan pada Zulfa dan kakaknya saat mereka mencari gara-gara dengan mu?” tanya Fajrin penasaran.


Dia memang penasaran. Mengapa Fitri Raihana tidak membalas perlakuan Hasan dan Zulfa saat menindas dirinya, seperti yang dia lakukan pada mahasiswa dan mahasiswi lain yang mencari hal dengan nya?


Fajrin terdiam sesaat, ”Lalu, dengan ku... kenapa kadang berani dan kadang tidak? Dan kenapa kamu sangat marah padaku? Apa aku pernah membuat kesalahan padamu?”


Fitri menghela nafas, ” Kita bukan orang yang sedekat itu untuk bisa berbicara dengan akrab.”


Fajrin mengalah. Dia tidak akan memaksa Fitri untuk menjawabnya. Dia memilih untuk melanjutkan ceritanya yang terpotong.


”Murni menolong ibuku di saat ibuku kecelakaan. Semua orang hanya melihat ibuku begitu saja. Sedangkan Murni, ia mengambil inisiatif untuk menolong ibuku. Ibuku berutang budi dan nyawa sekaligus pada Murni. Dan Murni memanfaatkan situasi dengan meminta pekerjaan di kediaman ku. Akhirnya, ibuku mengirimkan dia padaku sebagai ketua pelayan dan membuat ku mengucap janji untuk tidak akan memecatnya.”


”Tapi sekarang kamu telah memecatnya, apa kamu tidak takut akan di marahi sama ibu mu?”


”Aku tidak peduli lagi. Satu Minggu dia berada di rumah ku, aku menemukan informasi dirinya. Dia memang sengaja datang saat ibuku kecelakaan, dia di suruh sama seseorang untuk memata-matai ku. Lagi pula... ibuku sudah meninggal setahun yang lalu. Jadi, tidak masalah untuk melanggar janji itu sekarang.” jelas Fajrin.


”Ku lihat, dia mencintai mu.”


”Iya, siapa yang bisa menolak pesona ku? Harusnya kamu bersyukur karena aku, Zahidin Mufajrin mencintai kamu,” ucapnya sambil tersenyum melihat Fitri.


Fitri membuang muka. ”Narsis! Aku tidak mencintai mu,” gumamnya pelan.


Namun, masih tertangkap juga oleh telinga Fajrin yang tajam. ”Kamu akan jatuh cinta padaku, segera.” ucap Fajrin dengan yakin.


Berharap lah sesukamu. Aku tidak akan mencintai kamu. benak Fitri.

__ADS_1


Fajrin menghentikan mobil di depan rumah Fandi. Fitri dapat melihat dari dalam mobil jika wajah keluarganya terlihat marah.


”Fajrin....”


”Tidak perlu takut! Ada aku... ayo turun!” pangkas Fajrin. Dia sudah membuka pintu mobil dan turun.


Fitri juga turun dari mobil. Mereka berjalan masuk ke halaman rumah.


Fandi, Ardi, dan Fatma berdiri seketika. Raut wajah mereka semakin nampak marah, kelihatan saat Fajrin dan Fitri menginjakkan kaki di teras rumah.


Fatma murka melihat Fitri. Dia mengangkat tangannya menampar wajah Fitri.


Namun, tamparan itu tidak mengenai wajah Fitri. Fajrin menangkap tangan Fatma.


Fajrin melepas pelan tangan Fatma. ” Jangan salahkan Hana, akulah yang sengaja menahan Hana untuk pulang dengan cepat.” Ia membela Fitri.


Fatma membuang muka.


Bugh! Bugh! Fajrin mendapat dua pukulan di wajahnya dari Ardi. ”Sudah ku bilang padamu, jangan macam- macam pada adikku!”


”Aku tidak melakukan hal yang macam-macam pada adikmu. Aku hanya mengajaknya berbicara saja.” Fajrin membela dirinya sendiri.


Satu kali lagi Ardi melancarkan serangannya pada Fajrin. Fajrin menangkis tangan Ardi. ”Aku tidak ingin berkelahi dengan saudara dari wanita yang ku cintai,” ucapnya.


Plak! Kali ini, Fajrin mendapatkan tamparan keras dari Fandi.


”Jika kamu mencintai putri ku, harusnya kamu menjaga harga diri dari anakku. Juga menghormati ku sebagai orang tua Hana.” Fandi menekan setiap ucapannya. Dia benar-benar marah karena Fajrin memulangkan anaknya di jam sekarang, sedangkan mereka sudah khawatir sepanjang hari.


”Aku tidak peduli! Selepas ini... kamu akan memecat ku dari pekerjaan ku, aku tidak akan mengemis pekerjaan dengan mu.” lanjut Fandi berkata.


Fitri hanya diam menunduk. Dia juga memang bersalah dalam hal ini. Dia merasa sedikit senang karena Fajrin membelanya.


”Paman, jangan membahas masalah pekerjaan. Ini adalah urusan pribadi, tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan. Paman, Ardi, Bibi, aku minta maaf. Aku minta maaf, karena aku membawa anak Paman dan Bibi tanpa izin dan memulangkannya di saat malam begini. Hana sudah meminta pulang tapi, aku yang sengaja menahannya. Aku membutuhkan kepintaran dia untuk bisnis ku, jadi, aku membawanya pulang ke rumah ku, membantuku. Setelah selesai baru aku membawanya pulang. Sekali lagi, jangan memarahi Hana. Dia tidak salah.” tutur Fajrin.


Ah! Aku tidak menduga dia akan memisahkan urusan pekerjaan dan urusan pribadi. Jika saja itu terjadi pada atasan lain, sudah pasti sekarang ini, aku pasti sudah di pecat. Dan tidak perlu datang ke kantor, tapi, dari pihak kantor yang akan datang ke rumah ku, memberiku gaji terakhir dan surat pemecatan. benak Fandi.


Syukurlah! Papa aman dengan pekerjaan nya. benak Fatma.


Dia berkata bohong untuk alasan membawaku ke rumahnya. Tapi, jika dia bercerita sebenarnya yang menghambat dia mengantar ku pulang karena aku yang tertidur di rumahnya. Aku akan kena amuk dari orang tuaku. benak Fitri.


Aku tahu dia berbohong sedikit. Dia menutupi kelalaian Hana yang sembrono tidur di rumahnya. benak Ardi.


Semua orang terdiam mendengar penjelasan Fajrin. Fajrin melihat semua terbungkam. Dia merasa tidak enak hati membuat kecanggungan ini.


”Paman, Bibi, apakah ada makanan di dalam? Perutku sangat lapar. Aku dan Hana tidak sempat untuk makan malam di rumah ku. Setelah selesai menge__”


”Ma__masuklah ke dalam rumah. Kita makan malam bersama.” pangkas Fatma.


Fajrin tersenyum. Semua orang melangkah masuk ke dalam rumah. Mereka terus melangkah ke dapur. Mereka duduk di kursinya masing-masing.

__ADS_1


Fandi mulai mengambil makanan, kemudian Fajrin, baru Ardi. Setelah itu baru Fatma dan Fitri. Mereka makan bersama dengan diam.


__ADS_2