
Di kota P.
”Ugh! Ah! Kepalaku pusing!” Fitri membuka matanya. Keningnya mengerut melihat langit-langit kamar.
Ini...ini bukan kamar ku. Di mana aku? Apakah aku sudah mati dan ada di surga? Tidak! Sepertinya aku masih hidup! Oh, Randi... apakah Randi yang membawaku ke rumah sakit? Artinya dia juga ada di sini.
Fitri mengedarkan pandangannya ke seisi kamar.
Ini bukan rumah sakit? Lalu aku ada dimana?
Ia bingung melihat wajah-wajah orang baru yang belum pernah ia lihat sebelumnya berada di dalam kamarnya. Wajah-wajah mereka nampak senang namun juga khawatir.
Mereka ini siapa?
”Ah...Hana? Kamu sudah bangun, sayang?” Suara wanita yang berada di sampingnya itu terdengar sedikit serak, seperti menahan tangis.
Fitri melihat wajah wanita yang memanggilnya ”Hana” itu.
Hana? Siapa Hana? Mengapa wanita ini memanggil ku ”Hana”?
Fitri menggerakkan badannya, ia ingin bangun dan duduk bersandar di ranjang.
”Mari, Mama bantu kamu, sayang!” Wanita itu membantu Fitri bangun dan menyandarkan punggung Fitri dengan pelan di sandaran ranjang. ”Bagaimana perasaan mu, sayang? Apakah ada yang sakit?”
Fitri hanya memandang wanita itu dengan bingung.
Mama? Dia menyebut dirinya sebagai ”Mama” Padaku?.
”Mengapa kamu tidak menjawab pertanyaan Mama mu, sayang? Apakah dada mu masih sakit? Bagaimana dengan kepala mu, apa masih sakit juga?” Terdengar suara pria yang khawatir.
Fitri melihat pria yang baru saja berbicara itu.
”Ada apa sayang? Apa kamu tidak mengenali Papa mu ini? Hum?” Pria itu mendekati Fitri dan duduk di sisi ranjang, samping istrinya.
Fitri menatap heran pria di depannya itu.
Papa? Dia ini menyebut dirinya sebagai ”Papa” Dan wanita ini menyebut dirinya sebagai ”Mama”. Tetapi, siapa mereka berdua ini? Mereka bukan orang tuaku.
”Dokter! Apa yang terjadi dengan adikku? Kenapa dia tidak berbicara sepatah katapun?” Terdengar suara pria lagi yang khawatir padanya.
Fitri menatap pria muda yang bertanya pada dokter itu. Ia juga melihat dokter itu.
Dia siapa lagi? Kenapa dia memanggilku dengan sebutan ”Adik?”
”Dia tidak apa-apa! Itu hal biasa terjadi pada orang yang baru sadar dari pingsan. Apalagi Hana sudah pingsan selama lima jam. Daya tahan tubuh Hana masih lemah, jadi, ia butuh waktu untuk menenangkan dirinya dulu.” Jawab Sang dokter.
Aku pingsan selama itu? benak Fitri.
Ia memperhatikan percakapan pria yang mengaku papa, kakak, dan dokter tanpa berkata ataupun menanggapinya.
__ADS_1
”Oh, begitu! Tapi, anakku tidak apa-apa kan, Dokter?”
”Iya, anak Anda sudah tidak apa-apa! Kondisinya sudah baik! Sebaiknya, biarkan dia istirahat dulu.” Jawab sang dokter lagi.
”Baiklah! Baiklah! Kita biarkan Hana untuk beristirahat.” Wanita itu membelai wajah Fitri, ”Hana, kamu istirahat lah! Mama, papa dan kakak mu keluar dulu. Kalau ada apa-apa panggil Mama, ya!”
Meskipun bingung dengan situasi yang di alaminya, Fitri mengangguk saja.
Satu keluarga itu pun keluar dari kamar. Begitu juga dengan sang dokter, ia ikut keluar dari kamar.
”Ah, situasi macam apa ini? Mengapa aku ada di kamar ini? Dan lagi... mereka memanggil ku ”Hana!” Panggilan ku kan Fitri. Dan lagi... bagaimana bisa aku memiliki ayah, ibu, dan seorang kakak?”
Fitri turun dari ranjang. Ia mengitari seluruh kamar itu. Ia melihat beberapa bingkai foto di atas meja hias. Ia melihat foto-foto itu.
”Wajah wanita ini sama persis dengan wajah ku. Ah, namanya juga sama dengan ku ”Fitri Raihana” Mungkin ”Hana” Yang mereka maksud adalah nama panggilannya.” Fitri memegang foto tersebut, foto seorang gadis, yang di baju gadis itu tertera nama Fitri Raihana.
”Apa mereka salah mengira orang? Wajah Hana sama persis dengan wajah ku, bentuk tubuh, warna rambut, panjang rambut, semuanya sama. Yang membedakan hanyalah... Hana memiliki foni sedangkan aku tidak memilikinya.” Ia meletakkan kembali foto itu di atas meja.
”Aku yakin mereka salah mengira orang! Mungkin, Hana sekarang masih berada di rumah sakit. Mereka salah membawa pulang orang.”
Fitri masih melihat-lihat foto-foto yang ada di sana. Ia melihat pantulan dirinya di cermin.
”Apa? Sejak kapan aku memiliki foni? Apa yang sedang terjadi?!” Ia terkejut melihat wajahnya sendiri di cermin itu.
Ia melihat wanita yang ada di foto, menyamakan dirinya sendiri dengan yang di foto.
”Tidak! Ini...ini pasti ada yang salah!! Aku...aku...” Ia menghentikan ucapannya dan melihat ke arah pintu, saat pintu kamarnya terbuka. Ia melihat wanita yang mengaku ”Mama” Itu berjalan dengan panik ke arahnya.
Ia merangkul tubuh Fitri dan membawanya ke ranjang sambil berkata, ”Mengapa kamu bangun, sayang! Kamu masih lemah, kamu harus banyak istirahat!”
”Tante! Tante salah orang! Aku bukan Hana, Tante! Namaku Fitri!” Fitri menjelaskan tentang identitasnya.
Wanita itu terkejut mendengar anaknya memanggilnya dengan ”Tante”. Ia memandang Fitri dengan heran.
”Hana! Bagaimana bisa kamu memanggil Mama dengan Tante? Dia itu Mama mu, Mama ku, Mama kita, yang mengandung kita dan melahirkan kita ke dunia ini.” Pria muda yang selaku ”Kakak” berjalan menghampiri Fitri dan ibunya.
”Kamu... kamu juga bukan kakak ku! Aku tidak punya saudara, aku adalah anak tunggal satu-satunya dari orang tua ku!” Terang Fitri menjelaskan dirinya.
Pria muda itu sama terkejutnya seperti ibunya. Apakah Hana baik-baik saja?
”Aku... aku bukan bagian dari keluarga kalian! Kalian pasti salah mengenali orang, mungkin saja Hana kalian masih ada di rumah sakit.” Ucap Fitri lagi.
”Ardi! Tolong panggil papa dan dokter kesini!” Ucap wanita itu pada Ardi. Ia sudah tidak kuat mendengar ucapan Fitri yang tidak mengenalinya.
”Iya, Mama!” Ardi bergegas keluar dari kamar Fitri. Ia memanggil papanya juga sang dokter.
Hana, ada apa dengan mu, nak? Kamu tiba-tiba tidak mengenali kami, keluargamu sendiri. Hati wanita itu merasa sedih.
Beberapa menit kemudian, Ardi, papa Ardi dan dokter datang ke kamar Fitri.
__ADS_1
”Ada apa, Mah?” Tanya Fandi pada Fatma.
Fatma melihat suaminya dengan sedih. ”Gak tau Pa, Hana berbicara ngawur!” Ia melihat dokter, ”Dokter! Tolong periksa kembali keadaan anakku!” Titahnya pada dokter. Sang dokter berjalan menghampiri Fitri.
”Ah, Dokter! Aku baik-baik saja! Jika ingin periksa... tolong periksa kandungan ku, apakah bayiku baik-baik saja seperti aku?” Ucap Fitri. Semua orang terkejut melihat Fitri.
”Apa? Bayi?” Sang dokter, Ardi, mama Ardi, dan papa Ardi saling pandang.
”Sayang! Bagaimana bisa kamu hamil? Kamu menikah saja belum! Lagi pula, mana ada lelaki yang berani berbuat macam-macam sama kamu, kamu selalu di jaga ketat sama kakak mu, Ardi.” Terang Fatma.
”Apa yang Mama bilang itu benar! Aku selalu menjaga mu, kemana pun kamu pergi, aku selalu ada di sisi mu. Jadi, bagaimana bisa kamu hamil? Jangan mengada-ada!” Ardi membenarkan perkataan mamanya.
”Itulah! Tante, Om, Ardi, kalian salah orang! Yang kalian cari itu Hana! Sedangkan aku, aku adalah Fitri Raihana, nama panggilan ku Fitri bukan Hana! Dan aku sudah menikah dan sedang mengandung!” Ungkap Fitri dengan serius.
Semua orang kembali saling memandang. Apa yang terjadi dengan Hana selama pingsan? Kenapa setelah bangun berbicara ngawur?
Fatma menangis. ”Oh, Ya Allah, apa yang terjadi dengan anakku? Dokter! Tolong periksa anakku!”
Sementara Ardi dan papanya terbengong. Bagaimana bisa Hana berkata seperti itu? Tertukar di rumah sakit? Bagaimana bisa? Sementara Hana tidak pernah di bawah ke rumah sakit untuk di periksa.
Dokter pribadi selalu datang ke rumah untuk memeriksa kesehatan mereka sekeluarga, kapanpun di saat mereka membutuhkan sang dokter.
”Tenanglah, Fatma! Berhentilah menangis! Kita ikuti saja kemauan Hana.” Sang dokter menenangkan Fatma.
”Bagaimana aku gak menangis, Hairul! Anakku tidak mengakui ku, dia bilang kami salah mengira orang dan ini dia bilang... dia telah menikah dan sedang mengandung. Hati Ibu mana yang tidak sedih, Hairul!” Sahut Fatma.
”Mama, sebaiknya... kita bawa Hana ke rumah sakit saja untuk periksa secara menyeluruh. Mungkin ada yang bermasalah dengan memorinya. Atau mungkin saja ada sesuatu di kepalanya, sehingga membuat dia berhalusinasi.” Usul Fandi, papanya Ardi dan Hana.
Fitri menggeleng dan cepat menjawab, ”Aku tidak berhalusinasi! Apa yang aku ucapkan itu adalah benar! Kalau tidak percaya, silahkan cek kandungan ku dan coba kalian bertanya pada Randi.”
Kening Fatma, Hairul, Fandi, dan Ardi sama-sama mengerut bingung melihat Fitri.
”Randi? Siapa Randi?” tanya Ardi.
Fitri terdiam, ia tersadar jika dia telah di racuni oleh Cindy, istri siri dari Randi. Randi tidak mencintai nya, bahkan tidak menginginkan dirinya dan anak yang di kandungnya. Randi telah membunuh dirinya.
Fitri menangis saat teringat ucapan Cindy yang berbisik di telinganya. Ia terus menangis tanpa henti. Membuat semua orang semakin bingung juga semakin khawatir pada Fitri.
Fitri Raihana sudah meninggal! Meninggal di racuni oleh Randi dan Cindy. Dan aku... mungkinkah aku dan Hana sama-sama hidup dalam satu tubuh? Tapi, aku tidak mengingat orang-orang yang ada di hadapan ku ini. Kalau Hana juga hidup dalam tubuh ini, otomatis aku bisa mengenali mereka ini. Apakah ”Fitri Raihana” telah meninggal? Dan roh ku mengambil ahli tubuh Hana ini? Jika begitu, aku harus jaga sikap pada orang tua pemilik tubuh ini. benak Fitri.
”Hana? Ada apa? Mengapa menangis?” Fatma memeluk Fitri, menenangkan anak perempuannya itu.
Fitri menggeleng pelan dan berkata, ”Aku...aku tidak apa-apa! Aku... maaf, Mama, aku tidak mengenali Mama sebelumnya.”
Fatma tersenyum senang akhirnya Fitri memanggilnya ”Mama” Ia semakin erat memeluk Fitri.
”Tidak apa-apa, Nak! Yang penting sekarang, kamu sudah mengingat kembali Mama mu ini.” Fatma mencium pipi Fitri dengan sayang.
”Iya, Mama.” Fitri balas memeluk Fatma.
__ADS_1
Randi, Cindy... aku akan datang mencari kalian. benak Fitri.
Ardi, Fandi, dan Hairul ikut tersenyum senang melihat Fatma dan Fitri saling peluk sayang.