Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 60.


__ADS_3

Di teras rumah taman bunga.


”Kakak, Mama, Papa.” sapa Fitri dengan sedikit gugup melihat mereka bertiga.


Fandi, Ardi, dan Fatma duduk di kursi. Wajah mereka bertiga masih menampakkan kekecewaan pada Fitri.


”Kenapa? Merasa bersalah? Tidak mau bertanggung jawab?” tanya Ardi.


Fitri menghela nafas. Memang tidak akan kelar kalau tidak di bicarakan. Harus di bicarakan biar tidak ada kesalahpahaman lagi. benaknya.


”Bagaimana bisa kamu akan bertunangan dengan Fajrin, Hana? Kamu membuat Papa kecewa!” ucap Fandi ketus.


”Kamu sudah berbicara dengan yakin pada Mama kalau kamu tidak akan menerima Fajrin. Gak tau nya kamu malah akan bertunangan dengan dia. Apa kamu sudah tidak punya ketegasan dalam berbicara, Hana? Mama juga kecewa pada kamu!” ucap Fatma.


”Mama, Papa, kakak. Bukan kah Fajrin sudah menjelaskan tentang Video itu? Dia tidak menyentuh Zulfa. Tidak ada salahnya Hana memberikan kesempatan pada Fajrin u__”


”Kamu percaya begitu saja padanya?” sela Fandi. ”Apa kamu tidak melihat tanda-tanda merah di leher dan di dada Fajrin pada video tersebut? Tanda itu sangat jelas, Hana! Apa kamu benar-benar mencintai pria itu?” tanya Fandi dengan marah pada Hana.


”Papa, Hana hanya menyetujui bertunangan saja. Hana tidak menyukai pria itu. Jika Hana tidak mengiyakan keinginannya, menurut Papa yang sangat tahu betul dengan watak Fajrin, apakah Fajrin akan membiarkan Hana pergi dari rumahnya tanpa menyetujuinya terlebih dahulu?” Fitri bertanya kembali pada sang papa.


”Dia mengancam mu akan menahan mu di rumahnya?” tanya Ardi tidak percaya.


Hana mengangguk. ”Dan juga Hana menyetujuinya karena dia membantu Hana untuk di terima magang di perusahaan Randi,” ungkapnya.


”Hana, kenapa kamu selalu ngotot ingin magang di perusahaan tersebut? Malah membiarkan dirimu bertransaksi dengan Fajrin hanya untuk magang di sana. Apakah magang di sana begitu penting?” tanya Fandi.


Itu adalah perusahan ku, perusahaan satu-satunya peninggalan orang tuaku untuk ku. benak Fitri.


”Hana, Mama tidak tahu mau bicara apa! Sekarang kau setuju bertunangan dengannya, bukan kah akan membuka gerbang untuk kalian akan menikah? Hana, jika Fajrin benar-benar melakukan hal itu pada Zulfa, kamu akan sakit hati jika tahu Zulfa hamil anaknya Fajrin dan Fajrin pasti akan menikahi Zulfa untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Kamu dan Zulfa akan sama-sama menjadi istri Fajrin dan tinggal satu atap. Apa kamu siap, Nak?” tanya Fatma.


Fitri terdiam. Kisah cinta segitiga nya yang lalu di antara dia, Randi, dan Cindy kembali teringat di kepalanya. Jangan kan tinggal satu atap, mereka tinggal terpisah saja... hati begitu sakit.


Fitri menggeleng. ”Mama, jika benar Zulfa akan hamil anaknya Fajrin, bukan kah peluang Hana untuk tidak menikah dengan Fajrin sangat besar? Hana punya alasan tepat untuk menolak pernikahan jika memang Fajrin meminta Hana untuk menikah. Mama jangan khawatir, Hana hanya membebaskan diri Hana dari dia makanya setuju bertunangan. Hana tidak akan menempatkan diri untuk di persulit oleh Fajrin lagi,” jelas Fitri.


”Baiklah, terpaksa Mama dan papa akan menyiapkan pertunangan palsu mu ini...” ucap Fatma.


Fitri mengangguk sambil tersenyum kikuk.


”Baiklah, bagaimana dengan jagung yang sudah Mama belikan ini? Jadi mau bakar jagungnya atau tidak?” tanya Fatma pada Fitri.


”Jadi lah, Ma.” Fitri berdiri. ”Kak Ardi, ayo, bantu Hana membakar bara,” pintanya pada Ardi. Ardi mengangguk.


Hana pergi mengambil jagung dan Ardi mengambil bara api. Hana mengupas kulit jagung dan Ardi menyalakan bara api. Mereka berada di tepi danau buatan.


”Mama, apa tindakan ini tepat? Papa takut... Hana tidak akan bisa lepas dari jeratan Fajrin. Fajrin sudah lama mengincar Hana untuk menjadi istrinya. Ada kesempatan begini, dia tidak akan menyia-nyiakan nya,” ucap Fandi.


”Tidak ada salahnya percaya dengan anak sendiri, Pa. Kalau mereka memang jodoh yang sudah ditakdirkan sama yang kuasa, kita bisa apa, Pa?” sahut Fatma pasrah.


Fandi menghela nafas. Ia tidak tahu harus berkata apa. Di lain sisi dia memang sangat mengagumi atasannya itu. Kadang kala, ia tidak menyukai pribadi Fajrin yang suka semaunya, pemaksaan, dan diktator.


”Pa, jangan marah sama Hana lagi. Dia anak kita satu-satunya yang perempuan. Cukup satu kali saja Mama merasakan hampir kehilangan seorang anak di saat Hana pingsan beberapa jam waktu itu. Mama tidak mau Hana kembali seperti itu karena terkejut dan di desak lagi,” ucap Fatma lagi. Fandi kembali menghela nafas sambil mengangguk melihat istrinya.

__ADS_1


Setiap manusia ada sisi baik dan sisi buruk. Kadang orang menyembunyikan sisi buruknya dan memperlihatkan sisi baiknya saja. Tapi Fajrin, dia tidak sungkan-sungkan memperlihatkan kedua sisinya sekaligus pada keluarga Fandi tanpa menutupinya.


”Pa, mungkin anak-anak sementara bakar jagung. Ayo kita gabung sama mereka,” ajak Fatma. Fandi kembali mengangguk.


Fandi dan Fatma berdiri dan melangkah ke danau buatan.


*


*


*


Di kediaman Fajrin, di dalam kamar Fajrin.


Fajrin menyalakan laptop, ia masuk ke email Fitri. Keningnya mengerut saat ia memperhatikan baik-baik alamat email dari Fitri.


”Fitri Raihana Fandi R**d* @gmail.com? Bintang tiga... bintang tiga itu... jika di gantikan dengan huruf, bukankah... bukankah akan terbaca kata Randi?” wajah cemburu Fajrin mulai terlihat. Tatapannya juga sudah tajam menatap nama alamat email di layar laptopnya.


”Hana, apa kamu ingin bermain-main dengan perasaan ku? Apa hubungan mu sebenarnya dengan Randi? Apakah aku sudah membantu mu untuk bertemu dengan pria yang kamu cintai? Bahkan nama email-mu pun ada nama Randi di belakangnya!” Tangan Fajrin terkepal kuat meninju meja.


Kucing liar ku, aku tidak bisa tenang membiarkan kamu sendiri ke kota C. Jangan harap kamu bisa selingkuh dari ku! benak Fajrin.


Drrttrrt! Drrttrrt! Bunyi suara handphone Fajrin di atas ranjangnya. Fajrin melihat ke ranjangnya.


Ia berdiri dan melangkah ke ranjangnya. Ia mengambil handphone, melihat di layar... tertulis papanya yang sedang menghubungi dirinya. Ia duduk di sisi ranjang dan mengangkat telfonnya.


”Halo! Pa,” sapa nya.


Fajrin memijit pangkal hidungnya sambil berkata, ”Iya, Pa. Itu benar.”


”Apa yang sudah membuat mereka memberikan sahamnya padamu? Kamu punya perjanjian apa dengan mereka? Apakah kamu menyetujui kembali pertunangan kamu dan Zulfa, makanya Roni memberikan sahamnya padamu?”


”Tidak, Pa. Mereka cuma takut pada Fajrin makanya memberikan sahamnya cuma-cuma untukku. Dan bukan hanya itu saja, mereka sudah Fajrin kirim ke luar negeri dan Fajrin juga memblokir jalan masuknya mereka ke dalam negeri,” ungkap Fajrin.


”Apa? Bercanda mu tidak lucu Fajrin!”


”Fajrin tidak sedang membuat Papa tertawa. Fajrin serius, Pa. Apa mereka sudah mengadu pada Papa atas tindakan ku pada mereka?” kini Fajrin yang bertanya pada papanya.


”Papa belum bertemu dengan mereka. Papa hanya bertemu dengan mertuanya Roni. Kamu tahu apa yang di katakan mertuanya Roni pada Papa?”


”Fajrin tidak akan tahu jika Papa tidak memberitahu Fajrin,” sahut Fajrin.


”Mertuanya Roni marah besar pada Roni saat mereka tahu Roni tidak bisa menjaga sahamnya yang ada di sana. Bahkan, mertuanya Roni sudah menghapus namanya Roni dari perusahaan di sini. Beberapa hari yang lalu, mereka meminta uang pada mertuanya Roni... tetapi tidak di berikan. Papa berpikir, mungkin saja...kakeknya Zulfa masih ingin kamu dan cucunya memiliki sebuah hubungan. Akhir bulan ini, dia akan pergi untuk menemui mu,” ungkap Papanya Fajrin.


Fajrin tersenyum masam, ”Heh, masih ingin aku berhubungan dengan cucunya! Cucu yang tidak tahu diri itu! Papa, bilang pada kakek di sana untuk menjaga ucapannya. Fajrin akan bertunangan besok lusa, harap Papa dan kakek datang ke sini untuk merestui pertunangan Fajrin dengan Hana.” ucap Fajrin berterus terang.


”Apa? Bertunangan dua hari lagi? Heh, kenapa kamu mewarisi sikap angkuh Papa? Papa kewalahan mengurusi kamu, tapi... kalau kamu tidak seperti itu, berarti kamu bukan gennya Papa. Baiklah, tunggu Papa dan kakek di sana. Pertunangan anakku satu-satunya harus aku datang dan acaranya harus meriah....”


”Sayang sekali, Papa. Fajrin meruntuhkan khayalan Papa yang indah ini. Pertunangan Fajrin hanya biasa saja, calon ku tidak suka dengan acara yang besar-besaran. Dia hanya ingin acaranya berjalan lancar saja, tidak ingin meriah. Jika Papa ingin acaranya meriah, tunggulah di acara pernikahan Fajrin dengan Hana.” ucap Fajrin.


”Yah, baiklah! Tapi, usahakan calon anak mantu Papa adalah yang sepadan dengan kita,” sahut Sang papa.

__ADS_1


”Papa, dia adalah Fitri Raihana anak dari Fandi dan Fatma. Papa sangat mengenal mereka, bukan?” ucap Fajrin.


”Hah, kamu menindas karyawan mu untuk ambisi cinta mu itu? Fandi tidak akan menjadikan anaknya untuk menjadi anak mantu ku. Jika tidak, Papa pernah mengharapkan anaknya bersama kamu sewaktu ibu mu masih hidup. Tetapi Fandi dan Fatma langsung menolak keinginan kami. Katakan, kamu menindas bagaimana mantan karyawan Papa itu hingga dia setuju kamu bertunangan dengannya?”


”Papa, nanti Papa sampai di sini dulu baru berbicara panjang lebar bersama Fajrin. Sekarang, Fajrin ingin istirahat. Fajrin tunggu kedatangan Papa dan kakek.” Tut tut tut! Fajrin langsung mematikan sambungannya.


Fajrin membaca pesan yang baru masuk di wa nya. Pesan dari papanya.


”Anak sialan! Papa masih ingin bicara, kamu langsung matikan sambungan telefon. Jangan harap Papa akan datang ke acara mu!”


”Terserah Papa! Papa mau datang ataupun tidak, tidak akan menghambat acar ku. Setidaknya, aku masih menghargai Papa dan memberitahu kab acara ku pada Papa. Fajrin sudah mengantuk sekali! Fajrin ingin istirahat, Papa ku tersayang...!” balas Fajrin.


*


*


*


Di tepi danau buatan, di taman bunga Fatma.


Fatma, Fandi, dan Ardi tercengang melihat Fitri yang memakan jagung tanpa henti.


”Jagungnya enak sekali, Ma. Kapan-kapan kita kesini lagi untuk bakar-bakar jagung,” ucap Fitri. Ia menghabiskan memakan jagung bakar yang ada di tangannya.


”Tidak ada lain kali! Mama, papa, dan kakak mu yang rugi, kami baru memakan dua buah jagung bakar. Kamu... cobalah kamu lihat tulang-tulang jagung di hadapan mu itu, ada berapa buah? Hanya kamu seorang yang menikmatinya,” sahut Fatma kesal.


Fitri melihat tulang-tulang jagung tersebut, yah lumayan dia memakan sembilan buah jagung bakar. Ia melihat Maman sambil tersenyum kikuk.


”Maaf, Ma. Hana gak sadar makan sebanyak ini, habisnya... enak sih!” ucap Fitri.


”Sudahlah! Baru ini kamu makan banyak, Mama tidak akan mempermasalahkannya dengan mu.” ucap Fatma.


”Sudah, ini sudah larut malam. Matikan bara apinya baru semua masuk istirahat,” ucap Fandi.


”Mama dan Papa masuk saja duluan. Hana dan kakak masih ingin di sini,” sahut Fitri.


”hum, jangan terlalu lama berada di luar. Angin malam, tidak terlalu bagus untuk kesehatan.” nasehat Fatma.


”Iya, Ma.” sahut Ardi..


Fatma dan Fandi pergi dari sana.


”Lalu, apa rencana mu?” tanya Ardi pada Fitri. Di saat mereka hanya berdua saja, mereka saling berbicara. Namun, setelah kedatangan mama dan papanya, mereka tidak berbicara lagi.


”Apa lagi! Sudah di terima di perusahaan Randi. Setelah pertunangan, Hana langsung berangkat ke kota C. Kakak nanti belikan Hana tiket penerbangan malam.” jawab Fitri.


”Fajrin tidak kamu beritahu?”


”Tidak perlu, setelah dia pulang dari bertunangan... baru kakak antar Hana ke bandara.”


”Ok!”

__ADS_1


Hana, meskipun kamu bilang kamu tidak mengenal Randi, tetapi aku tidak percaya. Tidak mungkin kamu tidak mengenal Randi, sementara kamu sangat ngotot ingin magang di perusahaannya. Untuk apa lagi? Kalau bukan untuk bertemu dengan Randi. Dan untuk Fajrin, kamu beritahu ataupun tidak... dia akan tetap tahu. benak Ardi.


__ADS_2