
Di kota P, di perusahaan Wisma Grup, di kantor Fajrin.
”Apakah kita harus memberikan kabar kepada perusahaan Randi dan harus mengadakan rapat terkait kerja sama dengan perusahaan tersebut?” tanya Fandi pada Fajrin.
”Tunda dulu! Dia adalah perusahaan yang baru ingin bergabung dan bekerja sama dengan perusahaan kita. Kita belum tahu bagaimana tentang perusahaan itu berkembang. Dan bagaimana kinerja dan kepribadian dari ceo perusahaan tersebut!” Fajrin menjeda ucapannya .
Ia melihat Fandi dengan serius. ”Apakah Anda akan keberatan jika saya menugaskan Anda untuk pergi ke kota C, menyelidiki perusahaan tersebut?”
”Atas nama pekerjaan, saya tidak menolak, Pak.” jawab Fandi dengan tegas.
”Hum! Aku sangat tahu kinerja mu. Fandi, untuk pergi ke kota C nanti saja dulu. Perusahaan itu kita gantungkan saja dulu. Sekarang, tugasmu adalah pada perusahaan ini.”
Fandi mengerutkan kening melihat Fajrin.
”Untuk sementara waktu, saya tidak akan aktif di perusahaan. Kamulah yang akan bertanggung jawab atas semua tugas ku.” Fajrin menjawab tatapan bingung Fandi.
”Tapi, Pak! Anda akan kemana? Bagaimana bisa saya akan menghandle semua tugas Bapak dan tugas saya sekaligus?”
”Apakah jawaban itu yang Anda berikan pada ayah ku saat ayah ku masih menjabat di perusahaan ini, dan memberikan mu tugas untuk menghandle pekerjaannya dan pekerjaan mu sekaligus?” Fajrin menatap Fandi dengan wajah tegas dan intimidasi.
Fandi terdiam. Memang benar, saat itu ia mengemban tanggung jawab atas pekerjaan sang direktur, saat sang direktur memberikan tugas untuknya untuk menggantikan beliau mengurus perusahaan, selama beliau keluar negeri selama satu bulan.
Waktu itu..alasan papamu sangat jelas memintaku demikian. Tapi kamu...bahkan alasan mu tidak kamu ungkapkan. Apakah kamu masih ingin menjebak saya? Dan ujung-ujungnya putri ku yang harus menanggung semuanya? benak Fandi.
”Saya tidak berusaha berbuat apapun kepada Anda. Apalagi yang menanggungnya adalah wanita yang ku cintai. Kita berdua sudah sepakat, apakah masih ada keraguan di hatimu untukku?” tanya Fajrin.
Fandi terkejut melihat Fajrin. Apakah Fajrin mengetahui apa yang ada dalam pikirannya? Dia menebak dengan sempurna.
”Jika ada hal yang penting, yang tidak bisa Anda selesaikan. Atau ada hal yang mendesak, baru Anda boleh menghubungi saya. Mulai besok, saya tidak akan aktif di perusahaan.” ucap Fajrin.
”Baik, Pak direktur!” Fandi terpaksa menyetujui tugas itu.
”Hum! Anda boleh keluar sekarang dan siapkan file untuk rapat sebentar, terkait kerja sama dengan perusahaan di kota B.” titah Fajrin.
”Baik, Pak direktur!” sahut Fandi. Ia berdiri dan keluar dari kantor ruangan Fajrin. Ia bernafas lega setelah keluar dari ruangan itu. Entah mengapa jika dia berdua saja dengan Fajrin dalam satu ruangan, selalu ketegangan yang ia rasakan. Fandi kembali ke ruangannya.
Fajrin memutar penanya sambil tersenyum.
Fitri Raihana...kita akan bertemu lagi di kampus. Dan aku...akan membuat mu mencintai ku dengan status dosen di kampus itu. benaknya.
.. ..
Di ruangan Fandi.
__ADS_1
Fandi mendengus kesal, bersandar di sandaran kursi kerjanya.
”Dia sangat tahu aku adalah ayah dari wanita yang dia cintai, tidak bisakah dia berlaku lembut padaku? Atau paling tidak, dia akan mencari perhatian padaku, mencari muka biar aku semakin bangga padanya dan semakin mendorong Hana untuk menerima dia sebagai calon suaminya?” gumamnya.
Yah, meskipun Fajrin sangat sadar jika Fandi adalah ayah dari Fitri Raihana, tidak membuat Fajrin lantas untuk mencari perhatian pada Fandi. Seperti pria pada umumnya.
Justru Fajrin selalu berbuat seadanya sebagai atasan dari Fandi. Memerintahkannya bahkan memarahi Fandi jika Fandi berbuat salah dalam pekerjaannya.
Jika saja itu adalah pria lain, pasti pria itu akan mencari perhatian dan meraih hati Fandi untuk menerimanya sebagai calon anak mantu.
”Tapi...dia sangat alami..aku memang bangga padanya. Walaupun belum lama aku bekerja mendampingi dia. Pria itu sangat cekatan. Dia pria idaman setiap wanita masa kini. Tidak ada kekurangan pada dirinya sedikit pun. Tetapi, kenapa anakku tidak tergoda oleh dia, yah?” gumam Fandi lagi.
Tok tok tok! ”Permisi, Pak!” ucap seseorang di balik pintu ruangan Fandi.
Fandi melihat pintu yang tertutup itu. Dari suaranya, Fandi sudah tahu dia adalah sekretarisnya. ”Masuk!”
Pintu terbuka, sang sekretaris berjalan menghampiri dirinya, dengan membawa map di tangannya.
Sang sekretaris tersebut menaruh map di atas meja, di hadapan Fandi, dengan pelan dan sopan.
”Pak, ini adalah tugas yang Bapak minta, terkait kerja sama dengan perusahaan Wira Corp. Tolong di lihat lagi, jika ada hal yang harus di perbaiki, saya akan merevisinya kembali.”
Fandi mengambil map itu dan memeriksanya. Ia membacanya dengan serius. Kepalanya manggut-manggut sambil terus membaca map yang ada di tangannya.
”Baik, Pak! Masih ada yang lainnya Pak?”
”Tidak ada! Keluarlah!” titah Fandi.
”Baik, Pak!” sang sekretaris keluar dari ruangan kantor Fandi. Ia menjalankan tugas yang baru saja di perintahkan oleh atasannya.
.. ..
Di kampus.
”Hah! Ujian kali ini sangat melelahkan!” keluh Fitri, punggungnya ia sandarkan di kursi. Matanya terpejam.
”Ulangan begitu saja sudah lelah! Payah sekali!” sindir seseorang wanita di belakang Fitri.
Fitri menoleh sebentar, melihat wanita itu. Wanita yang tahu namanya adalah Zulfa. Wanita yang tidak sengaja bertabrakan dengannya di gerbang kampus saat masuk ke dalam kampus.
”Kenapa?” tanya Zulfa dengan ketus pada Fitri.
Fitri membalikkan kembali wajahnya ke depan. Selama wanita itu hanya bicara omong kosong, Fitri tidak akan meladeninya.
__ADS_1
Ia justru tersenyum melihat Alvin, Nita, dan Alin yang berjalan masuk ke dalam kelas.
Nita meletakkan botol air minum di atas meja Fitri. ”Ini... minuman untukmu. Makanan yang kamu inginkan sudah habis. Nanti saat kita pulang baru singgah di warung biasa kita untuk makan. Karena aku juga belum makan.” ucapnya. Ia duduk di bangkunya. Alvin dan Alin juga duduk di tempatnya masing-masing.
Fitri membuka penutup botol air itu dan meneguk airnya. ”Terima kasih!” ucapnya.
”Berterima kasihlah pada pacarku. Dialah yang membayar minuman itu untukmu. Aku melupakan dompet ku di rumah.”
”Oh, terima kasih banyak Alvin.” ucap Fitri pada Alvin.
”Sama-sama! Tidak perlu sungkan begitu. Apa selama aku pergi, ada yang mencari hal dengan mu?” Alvin sengaja menyindir Zulfa.
Zulfa melirik malas pada Alvin, ia tahu, pria itu menyindir dirinya. Di dalam kampus ini, siapa lagi yang suka membully Fitri selain dirinya dan Hasan? Hanya mereka berdua saja yang selalu mengganggu Fitri.
Fitri tersenyum, ”Tenanglah! Siapa yang berani mengganggu ku? Meskipun kaki ku cedera seperti ini, masih bisa untuk menendang orang dua atau tiga kali lagi.” ia melirik Zulfa sebentar.
Zulfa semakin kesal. Ia merasakan hawa panas sudah hampir meledak di kepalanya. Tapi, ia menahan marahnya tersebut. Selain sudah berjanji dengan Hasan untuk tidak menindas Fitri, tangannya masih terasa sakit akibat Fitri.
Yah, sewaktu Zulfa tiba di depan gerbang kampus pagi tadi, ia melihat Fitri yang berjalan hendak melewati gerbang kampus.
Ia menyeringai melihat Fitri. Sudah lama ia tidak mencari gara-gara dengan wanita itu. Kebetulan sekali, Zahidin, yang selalu membelanya sudah tidak mengajar lagi.
Dia ingin mengganggu Fitri. Sesekali melanggar kesepakatannya dengan sang kakak, tidak masalahkan?
Zulfa menabrak dan mendorong tubuh Fitri agar tubuh Fitri terbentur di gerbang kampus dan akhirnya terjatuh.
Namun dengan kecerdasan Fitri, Fitri tidak sampai terjatuh. Kakinya ia kaitkan di besi-besi pagar dan menarik tangan Zulfa dan mereka berdua jatuh bersamaan. Tubuh Fitri berada di atas tubuh belakang Zulfa.
Fitri bangun. Ia melipat tangan Zulfa di belakang punggung Zulfa sendiri dan menekannya. Mereka berdua pun menjadi bahan tontonan gratis di kampus itu.
”Ah! Tangan ku! Sakit!” jerit Zulfa.
”Lain kali, kalau kamu sengaja mencelakai ku, aku tidak akan sungkan untuk mematahkan tangan ataupun kaki mu!” ancam Fitri. Ia semakin menekan tangan Zulfa. Kemudian, melepaskannya.
Fitri berdiri, ia membersihkan tangan, baju, dan celananya dari debu. Lalu, ia berlalu pergi begitu saja, meninggalkan Zulfa yang kesal dan marah padanya.
”Untung saja Zahidin dan aku tidak berada di sana pagi tadi. Jika tidak, aku sudah akan membantu mu mengatasi si pembawa masalah buat mu.” ucap Alvin. Sekali lagi ia menyindir Zulfa.
Zulfa semakin merasa kesal, tangannya terkepal erat. Kepalanya di longgarkan saat melihat dosen berjalan masuk ke dalam kelas.
Fitri, Alin, Alvin dan semua orang yang berada di kelas menjadi terdiam. Sang dosen kembali memberikan ulangan pada mereka.
.. .. ..
__ADS_1