Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 33


__ADS_3

Kediaman Fandi.


Fitri mengejar Ardi. Ia tahu kakaknya sedang marah.


”Kakak. Jangan marah, ya? Maaf, Hana bukan tidak mendengarkan ucapan kakak. Tapi, Hana gak suka dia mengancam keluarga Hana... papa dan kakak di ancamnya. Memangnya dia siapa suka mengancam orang?”


Ardi menghentikan langkahnya. ”Hana. Karena kamu belum tahu dia, belum tahu kemarahan orang seperti apa, jadi... jangan memancing amarahnya orang!” nasehat Ardi, suaranya masih ketus. Ia lanjut melangkah.


Fitri mengikuti langkah Ardi. ”Hana tidak memancing amarahnya orang, kok! Hana cuma mau mengatakan pada dia... memangnya dia itu siapa mengancam orang dan mengklaim orang sesuka hatinya?”


Fitri mempercepat langkah kakinya, ia berdiri di depan kakaknya. Ardi terpaksa menghentikan langkahnya lagi.


”Kakak. Maafkan Hana,” wajahnya di buat mengiba.


Ardi menghela nafas. ”Iya, kakak maafin. Jangan di ulang!”


”Tergantung! Kalau dia masih suka mengancam kakak dan papa ku, aku akan balik mengancam dia.” tegas Fitri.


Ardi kembali menghela nafas sambil menggeleng. Adiknya sekarang susah untuk di nasehati, apalagi kalau dia berkata yang benar. Berbeda dengan dulu. Meskipun Fitri benar, tetapi ia tetap nurut jika sudah di larang.


”Kakak ke kamar dulu. Kakak mau istirahat. Kamu juga pergilah istirahat.” titah Ardi. Ia lanjut melangkah meninggalkan Fitri.


Fitri cemberut. ”Aku tahu... kakak masih marah. Tapi aku tetap akan melawan si brengsek itu. Enak saja mengganggu keluarga ku,” gumamnya. Ia pun melangkah ke kamarnya.


.. ..


Di kamar Ardi.


Ardi menaruh hapenya di atas meja dan membuka kemeja kerjanya dan berganti menggunakan baju kaos biasa.


”Alhamdulillah. Perutku menjadi sangat kenyang. Masakan Hana memang lezat. Em... seperti nya karena kesal, aku belum berterima kasih padanya,” gumamnya.


Ia mengganti celana panjang ke celana pendek yang biasa ia gunakan jika duduk di rumah.


Drrrttrr!


Ardi mengambil handphone nya. Ia melihat ke layar hape siapa yang menelepon dirinya. ”Fajrin? Pasti mau bahas tentang foto itu!”


”Halo, Bang!” sapa nya.


”Bukan kah sudah ku bilang jangan memajang foto Hana di medsos? Kamu mengabaikan ucapan ku! Kamu ingin mengetes keberanian ku?” suara Fajrin terdengar biasa namun, penuh penekanan dan nada mengancam.


Ardi menghela nafas. ”Bang, di saat Abang mengirim pesan di wa... Hana, Bang yang membaca dan membalas pesannya Abang. Bukan saya... saya lagi makan,” ungkapnya.


”Termasuk foto itu?” tanya Fajrin.


”Iya, Bang! Hana tidak suka Abang yang suka mengancam orang. Apalagi mengancam kakak dan papanya Hana.” ungkap Ardi lagi.


”Hum! Ternyata si kucing liar kecil itu berani juga, yah!” ucap Fajrin.


”Abang, Hana bukan seekor kucing apalagi kucing liar. Dia adikku, Bang!” Ardi bernada kesal.


”Dia adalah adikmu, bagimu. Bagiku... dia adalah kucing liar yang menggemaskan. Hapus kedua foto Hana dari medsos mu.” ketus Fajrin, memerintah.


”Ba__” tut tut tut! Ardi melihat layar hapenya. Fajrin telah memutus telfonnya. ”Selalu saja memutuskan tiba-tiba! Saya rasa ada benarnya juga Hana. Kenapa harus takut sama dia? Dia bukan siapa-siapa,” gumamnya dengan kesal.

__ADS_1


Tok tok tok! ”Kakak... kakak sudah tidur?”


Ardi melihat ke pintu kamarnya yang tertutup. Itu suara adiknya, Fitri. ”Hana, apa dia masih berpikir aku marah padanya?” gumamnya.


Ardi melangkah ke pintu. Membukakan pintu kamar untuk adiknya itu. ”Kenapa?” Ia berdiri di pintu, memalang Fitri masuk ke kamarnya.


”Hana gak bisa tidur kak. Hana ingin istirahat di kamarnya kakak.” Fitri melepas tangan Ardi yang menempel di daun pintu baru Fitri melangkah masuk ke dalam. ”Kakak jangan kemana-mana,” titahnya.


Ia terus berjalan ke kasur Ardi dan membaringkan dirinya di sana.


Ardi menghela nafas. Ia membiarkan adiknya melakukan yang dia mau.


”Memangnya kenapa kamu tidak bisa tidur? Memikirkan pria brengsek itu?” tanya Ardi. Ia menarik kursi dan duduk menghadap Fitri.


”Siapa yang memikirkan dia? Hana lagi mikir kan kakak. Apa kakak masih marah sama Hana?”


”Tidak! Kamu tidurlah! Kakak tidak marah lagi sama kamu. Kakak pikir... ucapan kamu ada benarnya.”


”Tuh kan, aku benar! Iya, Hana tidur dulu.” Fitri melepas hapenya dari tangannya dan memejamkan mata.


Meskipun ada perubahan, dia tetap tidak berubah. Dia masih peduli tentang emosi ku. Adikku ini...benak Ardi.


Ia geleng-geleng kepala melihat adiknya yang sudah memejamkan mata itu. Ia melihat layar hapenya.


Dia telah menandai dua buah statusnya untuk di hapus. Foto yang dia unggah dan foto yang di unggah Fitri di medsos nya.


Namun, di saat tangannya akan menghapus foto itu. Ia berasa lain. Selama ini, dia tidak pernah menyimpan foto Fitri karena Fitri yang tidak suka di sebar fotonya dan tidak suka melihat orang lain menyimpan foto-fotonya, termasuk dirinya sendiri.


Dia mulai berani mengambil foto Fitri diam-diam saat mereka berada di taman bunga. Dan tadi adalah foto kedua yang di ambilnya diam-diam dan langsung ia unggah di medsos, miliknya.


Dan saat Fitri tahu, Fitri tidak marah. Justru Fitri mengambil lagi foto Fitri bersama dirinya dan mengunggahnya di medsos Ardi.


Ia menyimpan hapenya dan menghampiri sang adik yang sudah tertidur. Ia mengecup kening adiknya dan menyelimuti sang adik.


Dia melihat handphone Fitri dan mengambilnya. Ia kembali duduk di kursi. Ia menggeser layar hape Fitri. Layar terbuka. Fitri tidak memakai kata sandi.


Di lihatnya nomor kontak yang ada di deretan kontak hape Fitri, hanya ada beberapa nomor saja yang ada. Nomor dirinya, sang papa, mama, dan ketiga teman Fitri. Bahkan nomor dosen-dosennya pun tidak ada.


Ia membuka Whats app Fitri. Tidak ada chat yang menarik, yang membahas tentang cowok dari chatting Fitri bersama temannya. Mereka hanyalah membahas pelajaran dan pelajaran semata.


Berbeda dengan ketiga temannya yang selalu bercerita tentang pria yang mereka dambakan dan yang mereka cintai pada Fitri.


Ia juga membaca chat Fajrin yang singkat bersama Fitri. Ia juga melihat blokiran pada nomor Fajrin. Ia geleng-geleng kepala.


”Dia tidak pernah membahas tentang cowok pada temannya. Yang di bahas hanyalah pelajaran dan pelajaran saja. Apakah dia tidak jatuh cinta pada seorang pria? Padahal dia sangat cantik.” gumam Ardi.


Ia membuka galeri foto di hape Fitri. Ada beberapa foto yang Fitri abadikan di galerinya, foto waktu mereka ada di taman bunga.


Tunggu! Ardi menemukan satu foto pria yang asing untuk di lihat. Dia tidak tahu siapa pria itu. Ardi tidak pernah melihat pria itu sebelumnya. ”Siapa foto pria ini?” gumamnya, penasaran.


Ardi mengirim foto tersebut ke nomornya lewat wa. Dia juga mengirim nomor kontak Alin ke nomornya. Setelah itu, ia menghapus pesan tersebut dari wa Fitri.


Ardi tidak kepikiran untuk membuka akun media sosial Fitri yang lain. Dia langsung mengembalikan ponsel Fitri di atas kasur, di samping Fitri.


Ardi keluar dari kamar dengan membawa ponselnya.

__ADS_1


”Ardi, apa kamu tahu Hana ada di mana? Mama mencarinya di kamarnya, tapi tidak ada. Mama juga mencarinya di taman... juga tidak ada.” ucap Fatma.


”Oh, Hana lagi tidur di kamarnya Ardi, Ma. Hana kesulitan tidur di kamarnya jadi... dia datang di kamar Ardi untuk numpang tidur.” jawab Ardi.


”Oh, dia lagi tidur di kamar mu...”


”Iya, memangnya kenapa, Ma? Apa Ardi bangunkan Hana saja, Ma?” tanya Ardi.


”Ah, biarkan adik mu istirahat. Rencana Mama mau panggil dia untuk menemani Mama pergi berbelanja. Tapi, karena dia tidur... ya biarlah. Mama akan pergi sama papa mu saja. Kamu temani adik mu di rumah.” ucap Fatma.


”Iya, Ma. Mama dan papa hati-hati di jalan.” ucap Ardi.


”Iya.” Fatma kembali berjalan ke kamarnya.


Ardi melangkah keluar rumah. Ia pergi ke taman. Dia duduk di sana. Di bukanya hapenya dan di lihatnya baik-baik foto pria yang di ambilnya dari galeri foto di hape Fitri.


”Siapa ya pria ini? Dia bukan teman satu kelas Hana. Apa Hana mencintai pria ini? Ataukah mereka memang sudah berpacaran dan saling mengikat janji?” Ardi sangat penasaran tentang pria itu dan hubungannya dengan sang adik.


”Oh...Zahidin kan pernah mengajar di kampus itu. Apa aku tanyakan dia saja ya tentang pria ini? Tapi... aku tidak tahu di mana bisa menemuinya,” gumamnya lagi.


”Ah...sabar! Aku kan ada akses di kampus itu. Mengapa aku gak masuk saja lewat link dan mencari tahu.”


Ia berdiri dan melangkah ke rumahnya. Dia masuk ke kamar. Fitri masih tidur.


Ia mengambil laptop dari dalam laci dan menyimpannya di atas meja. Di bukanya laptop tersebut dan dia nyalakan.


Ardi mengirim foto pria itu ke email laptopnya. Baru, ia masuk ke dalam akses pencarian di kampusnya.


Dia mulai membuka galeri kampus dan memasukkan foto pria itu dalam pelacakan foto.


Ardi menunggu beberapa menit... pelacakan sementara dalam proses pencarian. dua puluh lima menit kemudian, pencarian berhenti.


Kening Ardi mengerut membaca tulisan di layar laptopnya. ”Pencarian tidak terjangkau. Laman tidak di temukan.”


Ardi mengulang lagi pencarian dengan cara lain. Namun, hasilnya tetap sama. ”Berarti, pria itu bukan mahasiswa di kampus itu.” gumamnya.


”Pria siapa kak?”


Ardi terkejut mendengar suara Fitri di belakangnya. Ia keluar dari laman pencarian kampus. Dan segera mematikan laptop dan menutupnya.


”Sudah bangun? Tidur mu nyenyak?” tanya Ardi.


”Iya. kakak sedang mencari siapa?”


”Oh, em...aku di suruh teman ku melacak seorang pria. Katanya dia mahasiswa di kampus mu.” jawab Ardi berbohong.


”Oh. siapa namanya? Mungkin Hana bisa bantu cari.” tawar Fitri.


”Itu... namanya Dewo.” jawab Ardi asal.


”Dewo? Baiklah, nanti aku bantu cari besok di kampus.”


”Iya. Oh iya, Han. Terimakasih sudah masakin kakak sayur tadi. Dan terimakasih sudah mau bantu kakak mencari info pria itu.” ucap Ardi.


”Iya, kak. Sama-sama. Terimakasih juga Hana ucapkan karena kakak sudah izinkan Hana tidur di kamar kakak dan kakak menjaga Hana tidur sampai Hana bangun. Hana pergi mandi dulu. ”

__ADS_1


”Ok.” singkat Ardi menjawab.


Fitri melangkah keluar dari kamar Ardi. Ardi menyandarkan punggungnya di kursi. ”Hah! Syukurlah, sudah selesai pencarian baru Hana bangun,” gumamnya.


__ADS_2