Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 19


__ADS_3

Di dalam pesawat, kamar Fajrin.


Fajrin terbangun saat mendengar suara bising air di wastafel. Ia melihat Fandi baru saja mencuci mukanya di sana.


Ia pun duduk sebentar di atas ranjang sambil melihat Fandi yang berjalan ke arah sofa. Ia turun dari ranjang.


”Pak Fajrin, Anda sudah bangun? Kalau begitu saya...” Ucapannya terpangkas langsung oleh Fajrin.


”Jangan keluar dari kamar ku! Tetap di tempat mu!” Titahnya yang tidak bisa di bantah.


Fandi terdiam melihat Fajrin yang melangkah masuk ke kamar mandi.


”Apa sih maunya dia? Selalu saja membuatku sibuk! Apa dia masih tidak bisa berhenti bermimpi untuk menjadi anak mantuku?” Fandi bergumam kesal.


Beberapa menit terlewati. Fajrin keluar dari kamar mandi dengan memakai jubah mandi. Rupanya ia baru saja selesai mandi.


Dia sudah mandi dan biarkan aku seperti ini! Apa dia benar-benar tidak tahu cara mengambil hati dari seorang ayah mantu? Jika dia anak mantu ku pasti aku dan dia tidak akan cocok... aku akan menghajarnya jika membuat ku marah. benak Fandi.


”Apa yang Anda gumam kan di dalam hatimu, Pak Fandi?” Fajrin duduk di sofa tunggal, berhadapan dengan Fandi.


”Tidak ada, Pak! Pak... bolehkah saya ke...” Lagi-lagi ucapannya terpangkas oleh Fajrin.


”Apa saya sudah menyuruh Anda keluar, Pak Fandi?”


Fandi terdiam dengan perasaan dongkol.


Fajrin meraih hapenya dan menelfon seseorang.


”Siapkan makanan! Antar kan Kemari!” Titahnya, pada orang si penerima telfon.


Setelah berbicara itu, ia matikan panggilannya dan menaruh hape di atas meja.


”Pak Fandi...”


Fandi melihat Fajrin tanpa menyahuti.


”Apakah Anda tahu, mengapa saya mempertahankan Anda tetap sebagai manager di perusahaan ku sementara yang lainnya aku pecat?”


Aku juga ingin tahu alasan apa sehingga kamu mempertahankan saya. benak Fandi.


”Saya tidak tahu, Pak.”


”Benar, Anda tidak tahu?” Fajrin tidak percaya orang sepandai Fandi tidak tahu menahu tentang alasan yang sepele itu.


”Iya, Pak, saya tidak tahu!” Fandi menjawab dengan yakin.


”Yang pertama, karena ayah saya sangat mempercayai Anda. Yang kedua, karena Anda adalah ayah dari Fitri Raihana. Yang ketiga, karena Anda pintar, cerdas, jenius, teliti, dan jujur. Perusahaan membutuhkan orang seperti Anda untuk membantu saya di perusahaan ini,” jelas Fajrin.


”Maaf, Pak. Anda terlalu memuji saya. Dalam perusahaan Bapak, ada banyak orang yang seperti saya. Pintar, jujur, cerdas, jenius. Jika mereka tidak seperti saya, perusahaan Bapak tidak akan berkembang seperti ini. Ayah Anda memang mengenal saya dengan baik. Beliau juga adalah teman dari almarhum ayah saya.” Fandi menyahuti dengan merendahkan diri.


”Saya tahu arah pembicaraan Anda yang sebenarnya adalah mengenai anak perempuan saya. Saya minta maaf, kami tetap menolak pertunangan ini.” Tegas Fandi. Fajrin tertawa kecil.


Tok tok tok! ”Tuan, makanannya sudah siap!”


”Masuk!” Titah Fajrin pada anak buahnya.


Pintu terbuka, tiga orang masuk dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman.

__ADS_1


Mereka menaruh satu nampan makanan di hadapan Fajrin, satunya di hadapan Fandi dan nampan yang berisi gelas dan minuman di simpan di tengahnya.


Setelah menata makanan, mereka kembali keluar dengan membungkukkan sedikit tubuhnya, berpamitan kepada Fajrin.


”Di makan Pak Fandi.” Fajrin sendiri mulai memakan makanannya. Pembicaraan dia dan Fandi tertunda untuk sementara.


*


*


*


Di kota P, kediaman Fandi.


Ardi baru saja menghentikan mobilnya di halaman parkiran rumah.


”Hah, akhirnya... sampai juga di rumah!” Keluh Fitri. Ardi tersenyum melihat Fitri dari kaca spion.


”Mengapa? Capek?” tanyanya.


”Iya, kak.”


”Turun dan istirahatlah!”


”Iya, kakak.” Fitri turun dari mobil.


Ia merenggangkan kedua otot tangannya. Ia pun menguap. Ia memang merasa ngantuk sekali.


”Hana, hari ini Mama perhatikan kamu... kok, kamu menguap terus? Kamu gak enak badan?” Fatma menjadi khawatir dengan kondisi Fitri yang terus menguap.


”Hmm? Tidak, Ma! Hana merasa baik-baik saja. Hanya, Hana merasa ngantuk sekali. Entahlah, baru ini juga Hana merasa ngantuk sekali Ma.” Jawab Fitri.


Hah! Apakah Hana anak rumahan? Jalannya cuma...rumah...kampus...dan mall, yang benar saja! benak Fitri.


”Masa sih, kak? Apa Hana anak rumahan? Atau... apa penyakit aneh Hana yang membuat Hana seperti itu?” Fitri sangat penasaran.


”Iya, em... kamu bukan juga anak rumahan sih! Cuman, kamu malas jalan aja. Kalau pun ke mall, yah... cuma sesekali... belanjanya pun hanya sedikit,” ungkap Ardi.


Ardi memegang koper pakaian di tangan kirinya. Ia berjalan, menghampiri Fitri. Tangan kanannya di taruh di bahu Fitri dan mengajak Fitri berjalan masuk ke dalam rumah.


”Kamu banyak meluangkan waktu di rumah. Dan saat kamu jalan-jalan, kakak mu selalu menemani mu. Menurut Mama, mungkin hanya orang-orang yang tinggal di lingkungan ini yang tahu kalau Mama punya seorang putri, selain putra. Orang lain mana tahu kalau kamu anaknya Mama dan papa.” Sambung Fatma mengungkapkan.


Kalau memang begitu...bagaimana Fajrin tahu Hana? Kan gak pernah ketemu. Kalaupun bertemu di jalan, melihat mesranya kelakuan kakak ku ini, dia pasti mengira kami adalah pasangan kekasih, bukan? benak Fitri.


”Apa selama kita jalan-jalan... kita pernah berjumpa dengan Fajrin, kak?” Fitri penasaran.


”Seingat kakak...tidak pernah! Kakak juga bingung dari mana dia tahu kamu. Bahkan tergila-gila sama kamu.”


”Kalau kakak, tahu tentang dia, gak?” Selidik Fitri.


”Nggak! Kakak hanya tahunya kalau dia itu adalah atasan barunya papa. Hanya itu saja kakak tahunya.”


Fatma membuka pintu rumah. Selama mereka pergi ke taman bunga, rumah mereka kunci. Dan ibu art, sementara dia pulang ke rumahnya. Setelah mereka datang, baru art kembali lagi tinggal dan bekerja sama mereka.


”Sudah, ayo masuk! Jangan cerita terus! Apalagi sampai penasaran dengan Fajrin. Nanti malah kamu jatuh cinta sama dia.” Ucap Fatma. Ardi dan Fitri masuk ke dalam rumah.


”Siapa juga yang akan jatuh cinta sama dia! Kalau aku mau jatuh cinta... aku akan jatuh cinta pada papa Fandi dan kakak Ardi...” Sahut Fitri dengan santai.

__ADS_1


Tuk!! Fatma dan Ardi sama-sama memukul jidat Fitri.


”Kakak! Mama! Jidat Hana nih...sakit” Tangannya mengelus jidatnya yang sakit.


”Kalau kamu jatuh cinta sama papa Fandi, lalu bagaimana dengan Mama? Papa Fandi, milik Mama!” Tegas Fatma.


”Kalau kamu jatuh cinta sama kakak Ardi, lalu bagaimana kakak akan mencari pacar? Kakak milik kekasihnya kakak!” Tegas Ardi.


”Kamu carilah cowok lain untuk kamu cintai...em...lebih baik kamu terima saja Fajrin. Gimana?” Fatma dan Ardi berucap bersamaan.


Fitri masih membulatkan matanya, ia tidak percaya mama dan kakak nya akan bereaksi seperti itu. Tegas sekali kepemilikan mereka!


”Hah! Mama dan kakak reaksinya berlebihan! Mana mungkin lah Hana akan mencintai kakak dan papa selain hubungan keluarga. Mama dan kakak aneh deh, nunjukin kepemilikan sama Hana. Kalau begitu...Hana pergi saja dari rumah.” Fitri merajuk sambil berjalan cepat ke kamarnya.


”Hah! Dia merajuk?” Fatma dan Ardi saling menatap. Mereka tidak menduga Fitri akan merajuk. Apalagi ingin pergi dari rumah.


”Bagiamana kalau Hana beneran pergi dari rumah?” Fatma merasa cemas.


”Tidak akan deh, Ma! Percaya sama Ardi! Biarkan ajalah dia merajuk! Dia tahu kok, kalau Mama dan aku hanya bergurau saja. Jangan di ambil pusing! Mama pergilah istirahat!” Ardi menenangkan Fatma. Fatma menurut. Ia pergi ke kamarnya untuk istirahat.


Ardi membawa koper pakaian ke belakang. Ia membuka pakaian kotor dan memasukannya ke dalam mesin cuci. Dan kopernya ia simpan di ruangan barang-barang. Kemudian, dia pergi ke kamarnya untuk istirahat.


*


*


*


Di dalam pesawat, perjalanan pulang Fajrin dan Fandi.


Fajrin dan Fandi telah selesai makan. Dan meja mereka telah di bersihkan oleh pramusaji dalam pesawat itu.


Fandi masih berada di dalam kamar Fajrin. Fajrin belum mengizinkan Fandi untuk keluar dari kamarnya.


”Apa yang membuat Anda tidak puas dengan saya, Pak Fandi?” Rasa keingintahuan Fajrin sangat besar. Dia benar-benar ingin tahu, mengapa dia di tolak secara langsung oleh keluarga Fandi.


”Tidak ada celah dalam diri Bapak yang kurang. Saya akui Bapak tampan, mapan, tegas, dan masih banyak kelebihan yang Bapak miliki.” Fandi menggantung ucapannya. Ia melihat bagaimana reaksi wajah Fajrin saat ini. Namun, Fajrin tetap bersikap santai seperti biasa.


”Dunia kita berbeda. Saya hanya tidak ingin suatu saat anak saya mengalami hal-hal yang tidak di inginkan,” lanjut Fandi.


”Berarti Pak Fandi yang melarang Fitri Raihana untuk menerimaku?” Tebak Fajrin.


”Tidak! Itu tidak benar! Itu adalah pikiran saya. Sebelumnya anak saya memang tidak mencintai Bapak. Bukankah Bapak sudah mendengar sendiri ucapan dalam rekaman Hana? Saya dan istri saya tidak membatasi jodoh anak kami. Yang penting anak kami yakin dan mencintai orang tersebut. Kami sebagai orang tua hanya memberikan restu.”


”Kalau memang hanya perasaan Fitri Raihana, aku akan mencuri hatinya kelak. Yang terpenting adalah Pak Fandi menerima ku dulu.”


”Maaf, jangan memaksa putri ku,” Fandi memelas pada Fajrin.


”Aku tidak benar-benar memaksa putri Bapak dan Pak Fandi sendiri. Saya masih bersabar berbicara sebaik mungkin dengan Bapak untuk menerima saya. Saya masih menghargai Bapak dan keluarga. Jika saya memang ingin ”Memaksa” bukan dengan berbicara baik sama Bapak. Saya bisa mendapatkan Fitri Raihana dalam hitungan ”Satu detik!” Lalu, apa yang bisa Bapak lakukan? Hum?”


Fandi terdiam. Matanya masih bertatapan dengan mata Fajrin.


Ucapan Fajrin memang benar. Orang tinggi seperti mereka tidak perlu bernegosiasi untuk mendapatkan sesuatu yang di inginkan.


Dengan kekuasaan yang di milikinya, bahkan hanya sedetik saja, semua bisa ia dapatkan. Dan sekarang, Fajrin masih kategori berbicara baik dengannya, membujuknya untuk di terima.


”Baik! Saya memberikan restu saya pada Bapak. Hanya satu yang saya pesankan pada Bapak, tolong jangan pernah sakiti hati dan perasaan anak saya.” Fandi mengungkapkan harapannya.

__ADS_1


Fajrin tersenyum bahagia. Akhirnya Fandi merestuinya.


”Baik, saya janji! Saya tidak akan menyakiti hati dan perasaan putri Bapak. Saya sangat mencintai Fitri Raihana, saya tidak akan menyakitinya!” Ucapnya dengan serius, tegas, penuh dengan keyakinan.


__ADS_2