
Di kamar Fandi.
”Pa, apa Fajrin tidak mempersulit Papa selama di kota B?” Fatma berbaring menyamping, melihat Fandi, suaminya.
”Awalnya iya, tapi... dia masih cukup baik hati. Tapi sebenarnya itu hanyalah trik nya saja untuk kita menyetujui keinginannya untuk bertunangan dengan anak kita,” jelas Fandi.
Fatma bangun dan duduk bersila. Ia memandang Fandi. Fandi pun sama, ia bangun dan duduk bersandar di sandaran ranjang melihat istrinya.
”Dia mempersulit Papa seperti apa?” Fatma penasaran.
”Tidak perlu di bahas lagi. Mama, Papa sudah memberikan restu Papa untuk Fajrin,” ungkapnya.
Fatma melongo, ”Apa? Ma__Mama tidak salah dengar kan, Pa?” Ia tidak mudah percaya pada ucapan suaminya.
Fandi mengangguk. ”Mama tidak salah dengar. Papa sudah memberikan restu pada Fajrin. Dia berjanji akan menjaga, menyayangi dan melindungi anak kita dengan baik. Dia tidak akan mengkhianati anak kita,” jelasnya.
”Tapi... Pa! Anak kita tidak menyukainya! Bagaimana bisa Papa memberikan restu padanya?”
Fandi menghela nafas. Ia meraih tubuh istrinya ke dalam pelukannya. ”Dia tidak akan menyakiti ataupun memaksa anak kita untuk bertunangan. Dia akan mencoba untuk merebut hati anak kita agar mencintai nya. Pertunangan akan terjadi jika anak kita sudah membuka diri untuk Fajrin.”
”Lalu... apa yang harus kita lakukan?”
”Kita biarkan saja Fajrin dekat dengan anak kita.”
”Apa Papa akan memberitahu ini pada Hana?”
Fandi menggeleng. ”Untuk Fajrin, dia sudah menganggap anak kita tunangannya. Sementara anak kita tidak tahu apa-apa. Biarkan Fajrin mengikat hati putri kita dulu. Selanjutnya, terserah mereka.”
Fatma menghela nafas, ”Baiklah, kalau Papa sudah berkata seperti itu... ya Mama dukung saja.”
Fandi mengecup kening istrinya, ”Terima kasih, Ma. Ayok kita tidur! Papa sudah mengantuk.” Ia berbaring.
Namun, istrinya tidak membiarkan ia tidur begitu saja. Meskipun mereka bukan pengantin baru lagi, mereka masih membutuhkan sentuhan fisik. Apalagi Fandi baru saja pulang dari luar kota. Tentu saja Fatma akan melepaskan rindunya.
.. ..
Keesokan paginya.
”Hana, kamu mau di antar sama Papa atau sama kakak mu ke kampus?” tanya Fandi.
Mereka baru saja selesai memakan sarapannya. Sarapan yang di buat oleh Fitri dan bibi.
”Kalau kakak tidak keberatan... Hana mau di antar sama kakak pakai motor.” jawab Hana sambil melihat kakaknya.
”Tentu saja, kakak tidak keberatan. Ayo, kita berangkat! Jam kerja ku tidak lama lagi.” ajak Ardi. Ia berdiri dan mengambil tas kerjanya.
”Ok!” Fitri juga berdiri dan menyandang tasnya.
Ardi dan Fitri sama-sama menyalami punggung tangan kedua orang tuanya.
”Kami pergi, Ma, Pa, assalamu a'laikum!” pamit keduanya.
”Wa 'alaikum salam!” sahut Fatma dan Fandi.
Ardi dan Fitri beranjak dari dapur. Ardi dan Fitri pergi ke kampus menggunakan motor.
”Mama, Papa berangkat kerja dulu.” Fandi berdiri dan mengambil tas kerjanya.
Fatma ikut berdiri. ”Iya, Pa.” Ia menyalami punggung tangan suaminya dan Fandi mencium kening istrinya. Lalu, ia pergi dari dapur.
”Nyonya, biar Bibi saja yang beresin dapur. Nyonya istirahat saja di depan.” ucap sang bibi mencegah Fatma yang hendak mengumpulkan piring kotor di atas meja makan.
”Baiklah,” jawab Fatma. Ia pun pergi ke taman bunganya.
.. ..
__ADS_1
Perjalanan ke kampus.
”Jadi, kalau mau naik bus... harus tunggu di halte yang kita lewati itu ya, kak?” tanya Fitri.
”Iya. Dan jangan sembarang naik bus. Tidak semua bus mengarah ke kampus mu. Bus yang mengarah ke kampus mu hanya dua bus saja. Yang tadi itu, bus yang kamu lihat, yang berwarna kuning sama bus yang berwarna biru. Dua bus itu yang beroperasi di jalan sekitar kampus mu,” jelas Ardi.
”Kalau waktunya?”
”Kalau pagi... biasanya sudah jam nya segini sudah beroperasi. Kalau siang... sekitar jam-jam 2 dan malam hari... sekitar jam 9 malam batasnya beroperasinya.” jawab Ardi.
”Kalau ongkosnya?”
”Ongkosnya...kalau belum naik harganya 3.500,00. Tunggu! Kenapa kamu menanyakan tentang bus? Kamu berencana pergi ke kampus naik bus?” tanya Ardi penasaran.
”...Iya...” jawab Fitri setelah beberapa menit terdiam.
”Kenapa? Kamu tidak mau kakak antar jemput kamu ke kampus lagi?”
”Bukan! Bukan begitu, kak. Tapi...” Fitri tidak melanjutkan ucapannya melihat bangunan besar di hadapannya, saat Ardi memasuki wilayah bangunan tersebut.
Ardi menghentikan motornya di depan kampus, tempat kuliahnya Fitri. Fitri segera turun dan membuka helmnya.
”Kita sudah sampai... kak?” tanya Fitri. Ia terus memandangi bangunan megah di depannya itu.
”Iya. Jangan bilang kamu sudah lupa dengan kampus mu! E..e..tunggu! Kamu tahu jadwal kuliah mu hari ini, kan?” Ardi turun dari motor dan melepaskan helmnya. Ia membuka job motor dan memasukkan helmnya dan helm yang di gunakan Fitri ke dalam job.
”Iya, kak. Kan jadwalnya tertulis dan tertempel di atas meja belajar Hana.” jawab Hana.
”Oh! Ya, sudah. Kamu masuk sana. Kakak pergi kerja dulu.”
”Kakak kerja di mana? Di kampus ini?”
Kening Ardi mengerut melihat Fitri. ”Kamu tidak tahu tempat kerjanya kakak di mana?”
Fitri menggeleng. Kalau aku itu Hana, pasti aku tahu. Tapi, aku adalah Fitri bukan Hana. Jadi... aku tidak tahu, benaknya.
”Iya, kak!” Fitri pun masuk ke dalam kampus. Jujur saja dia tidak tahu di mana letak kelasnya. Ingin bertanya dengan orang yang berlalu lalang ia merasa malu.
Masa baru sepuluh hari tidak masuk kampus sudah lupa pada kelasnya? Kan gak enak jika ia mendengar bahasa itu dari teman-teman kampusnya. Akhirnya, ia berjalan dengan pelan memasuki kampus.
Fitri menoleh ke belakang untuk melihat kakaknya. Namun, ia sudah tidak melihat keberadaan kakaknya lagi.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku benar-benar tidak tahu di mana letak kelasnya Hana. Aku juga tidak tahu di mana letak ruang dosen. Aku kuga tidak tahu wajahnya Alin, Nita, dan Alvin seperti apa. Aduh... aku jadi linglung sendiri. benak Fitri.
”Hana...!”
Fitri berhenti saat mendengar namanya di panggil. Ia menoleh kebelakang melihat si pemanggil tersebut.
Ia melihat seorang cewe imut yang memakai kacamata sedang melambaikan tangannya ke atas dan berjalan ke arahnya.
Siapa dia? Apakah dia adalah temannya Hana? Apakah Alin? Atau Nita? Tapi jika Nita... pasti akan datang bersama Alvin, tunangannya. Berarti...dia adalah Alin. benak Fitri.
”Aaaa...Hana...aku kangen sama kamu!” wanita itu memeluk Fitri. Dia melepaskan pelukannya saat tidak mendapat pelukan balasan dari Fitri. Biasanya, kalau dia memeluk Hana, Hana akan membalasnya. ”Kenapa? Gak rindu aku?”
”Um...?” Fitri nampak berfikir.
Okelah, aku memang bukan Hana teman kalian. Tapi, sekarang aku sedang berperan sebagai Fitri Raihana anak dari Fandi dan Fatma. Nama panggilan ku di sini adalah Hana. Dan teman Hana adalah temanku. benak Fitri.
Fitri tersenyum. ”Aku rindu kok! Masa sama teman gak rindu,” jawabnya.
”Hah, aku kira kamu gak rindu aku. Hana, kita bercerita sambil berjalan saja. Ayok.” ajak wanita itu. Ia menggandeng lengan Fitri dan berjalan.
Fitri merasa risih diperlakukan seperti itu. Tetapi, ia tidak berdaya untuk menolaknya. Dia takut jika wanita itu akan kecewa. Mungkin saja hal ini adalah kebiasaan wanita itu menggandeng lengan Hana. Fitri hanya bisa pasrah saja di gandeng.
”Sudah sepuluh hari kamu gak masuk kuliah. Mata pelajaran mu banyak yang tertinggal. Tapi... kamu tenang saja. Sebagai teman mu, aku mencatatkan pelajaran untuk mu. Nanti sampai di kelas baru aku berikan buku-bukunya padamu. Ok?” ucap wanita itu.
__ADS_1
Fitri tersenyum kikuk. ”Oh, ok! Terima kasih, aku sudah merepotkan kamu,” sahutnya.
Fitri mengikuti langkah wanita itu. Mereka telah melewati ruang dosen. Fitri diam-diam mengamati jalan yang menuju kelasnya agar besok-besok dia tidak salah jalan. Mereka berhenti pas di kelas paling ujung sebelah kanan.
Apakah ini kelas kami? Kok paling ujung sih? Agak seram juga nih... benak Fitri.
Mereka masuk ke dalam kelas.
”Aaa...Hana...akhirnya kamu kuliah lagi. Aku rindu sama kamu,” ucapnya sambil memeluk Fitri.
Fitri terkejut. Ia baru saja masuk ke dalam kelas seorang wanita berlari memeluk tubuhnya. Wanita ini tingginya sama dengan dirinya, wanita itu tidak memakai kacamata.
”Sudah...sudah! Ayo duduk! Sebentar lagi dosen akan masuk.” wanita pertama tadi melepas pelukan Fitri dengan wanita yang masih memeluk Fitri.
Wanita itu menarik tangan Fitri untuk duduk di bangkunya. Rupanya, Fitri dengan wanita itu duduknya sebangku.
Fitri merasa seperti orang bodoh dalam ruangan itu. Seharusnya dia adalah istri dari seorang CEO, bukan seorang mahasiswi lagi.
”Hana, sebenarnya kamu sakit apa sih? Maaf ya, kami gak bisa datang menjenguk mu di rumah. Minggu-minggu ini kegiatan kuliah begitu padat.” ucap wanita kedua.
”Em...gak serius amat, kok! Sekarang kan yang penting aku sudah sembuh?” jawab Hana. Bibirnya mengukirkan sebuah senyuman.
”Iya, Alhamdulillah! Akhirnya kamu masuk lagi. Kamu tahu gak? Setelah kamu tidak masuk kuliah selama tiga hari... pak dosen tampan kita gak mengajar lagi di kampus ini,” ungkap wanita kedua.
”Iya. Itu benar, Hana.” sambung wanita pertama membenarkan.
Fitri melihat wanita yang di samping nya itu, wanita tersebut sedang membuka tas dan mengeluarkan beberapa buah buku dari dalam tasnya.
”Dan sebelum pak dosen tampan kita keluar, cewek norak itu selalu mencari perhatian sama pak dosen tampan.” lanjut si wanita pertama berbisik pada Hana.
”Selamat pagi, semua!”
Fitri, dan semua orang yang ada di dalam kelas itu berdiam dan duduk di kursinya masing-masing. Ketika dosen masuk dalam kelas.
”Selamat pagi, Pak!” seru semuanya.
”Siapa yang tidak masuk kelas hari ini?” tanya sang dosen.
”Alvin, Pak!”
Fitri menoleh melihat wanita kedua yang memeluknya tadi. Ia juga baru tersadar, bangku di sampingnya kosong. Mungkinkah dia adalah Nita?
”Zulfa, Pak!”
”Rudi, Pak!”
”Ada yang tahu mengapa mereka tidak masuk kelas hari ini?” tanya sang dosen lagi.
”Pak, Alvin ada urusan keluarga yang mendadak sehingga dia tidak masuk.” ucap wanita kedua itu.
”Kok kamu tahu alsan Alvin tidak masuk kuliah! Sementara yang lainnya tidak tahu.” Pak dosen tersebut melihat wanita itu.
”Ya iyalah, Pak! Nita kan tunangannya Alvin... jelaslah tahu, Pak.” ucap beberapa orang termasuk wanita di samping Fitri menanggapi dosen tersebut.
Oh, jadi benar! Cewek yang pakai kacamata di samping ku ini adalah Alin. Cewek yang menyukai kakak ku. Sementara wanita itu adalah Nita. benak Fitri.
”Fitri Raihana, Anda sudah sehat?” tanya Pak dosen pada Hana.
Hana melihat dosen tersebut. ”Alhamdulillah, Pak. Saya sudah sehat,” jawabnya.
”Alhamdulillah! Kita mulai materi hari ini, ya!” ucap sang dosen.
Fitri masih terlihat bingung. Hari ini ada tiga mata kuliah di jam sekarang, jam 10, dan di jam 12 nanti. Dan dia tidak tahu dosen di depan kelasnya ini mengajar tentang materi apa.
”Ok, Pak!” seru semuanya.
__ADS_1
Materi pun mulai di terangkan oleh pak dosen. Fitri terlihat serius mendengarkan ketika pak dosen menerangkan materinya. Dari penjelasan pak dosen, Fitri tahu pak dosen tersebut mengajar tentang apa.