Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 32


__ADS_3

Di kamar Fitri.


Fitri uring-uringan di dalam kamarnya. Ia masih memikirkan kekesalannya pada Ardi, si kakaknya itu.


Fitri bergegas keluar kamar dan berlari mendatangi Ardi, setelah mendengar suara motor Ardi yang berhenti di halaman parkir di depan rumah.


”Hei! Tumben adiknya kakak yang cantik ini menyambut kedatangan kakaknya pulang. Kenapa? Kangen?” Ardi tersenyum sambil mengelus rambut Fitri.


Fitri menepis tangan Ardi dari kepalanya, wajahnya sangat kesal. Ia cemberut.


Ardi mengerutkan kening melihat perubahan raut wajah adiknya itu. Ia segera membuka helm yang masih berada di kepalanya.


”Ada apa dengan wajah mu? Siapa yang sudah membuat mu kesal begini?”


”Siapa lagi! Kakak lah!” jawab Fitri ketus.


”Kok kakak?” Ardi terkejut.


Fitri mengulurkan tangannya, ”Mana hapenya kakak? Berikan padaku!” titahnya.


Ardi meraih handphone dari sakunya dengan bingung. ”Untuk apa?” tanyanya sambil memberikan hapenya pada Fitri.


Fitri tidak langsung menjawab. Ia membuka hape Ardi, namun, hapenya terkunci. ”Buka polanya!” ia menyerahkan kembali hape Ardi.


Ardi mengambil hapenya dan membuka polanya. Ia kembali memberikan hapenya pada Fitri. Fitri mengambilnya.


”Apa yang kamu cari?” tanyanya penasaran.


Fitri tidak menjawab. Ardi penasaran, ia berdiri di belakang tubuh Fitri. Melihat apa yang di lakukan adiknya itu pada hapenya.


Fitri membuka what's app kakaknya. Ia menekan wa pemilik nama Fajrin. Fitri membaca pesan-pesan di antara kakaknya dan Fajrin.


”Kamu penasaran dengan dia? Kebetulan tuh kamu pegang hapenya kakak. Tinggal kamu bagikan saja kontak nya Fajrin ke nomor mu.” tutur Ardi.


”Tidak penting!” sahut Fitri ketus.


”Tidak penting, tapi penasaran kan dengan orangnya?”


”Kata-katanya selalu irit. Suka mengancam, dasar pria brengsek!” gumam Fitri. Ia memberikan hapenya Ardi pada pemiliknya.


Ardi mengambil hapenya dengan bingung pada adiknya itu. ”Sudah selesai membaca pesannya si brengsek itu? Kenapa kamu tidak membagi kontaknya padamu, kalau masih penasaran sama si brengsek ini?”


”Tidak penting dengan nomornya maupun orangnya!”


”Kenapa tiba-tiba periksa chat kakak dengan si brengsek, kalau tidak penting? Apa sih yang ingin kamu cari tahu dari si brengsek itu?” tanya Ardi penasaran.


”Kakak tidak memberikan nomor ku pada si brengsek. Lalu, si brengsek itu tahu dari mana nomorku?” Fitri balik bertanya.


”Memangnya pria brengsek itu mengirimi pesan padamu?” Ardi juga terkejut.


”Iya, tapi sudah ku blokir!”


”Kejam amat!”


”Gak penting!” Fitri berjalan masuk ke dalam rumah.


Ardi ikut masuk ke dalam rumah. Dia menaruh helm di tempatnya dan menggantung kunci motor di gantungan kunci, berderet dengan kunci mobil Fandi. Baru dia duduk di kursi menemani Fitri, yang masih terlihat kesal.

__ADS_1


”Wajahnya kesal melulu! Kakak lapar nih, siapin kakak makanan dong!” titahnya pada sang adik, Fitri.


”Memangnya kakak belum makan siang di kantor?” suara Fitri melunak. Raut wajahnya pun berubah.


”Iya.”


”Ayo, ke dapur. Aku siapin makanan untuk kakak.” ajak Fitri. Ia berdiri dan melangkah ke dapur. Ardi menyusul.


Di dapur.


Fitri membuka tudung nasi. Yang ada hanyalah nasi dan ikan doang. Yang lainnya gak ada.


”Kak, kakak duduk saja dulu. Hana buatkan lauk untuk kakak. Lauknya sudah habis. Hanya ikan dan nasi to yang ada.” ucap Fitri.


”Ok!” sahut Ardi. Ia menarik kursi dan duduk.


Fitri membuka kulkas. Ia melihat ada cumi asin, bockoy dan jagung putren. Ia mengambil beberapa buah saja, yang bisa di masak untuk satu porsi.


Lalu, ia mengambil bawang merah, bawang putih, tomat, cabai hijau besar, jahe, kecap asin, kecap manis, kaldu ayam, dan ladaku/ merica bubuk, secukupnya.


Ia mencuci cumi asin dan merendam cumi nya dengan air panas. Lalu, ia mengupas bawang merah, bawang putih, lalu mengirisnya. Tomat, ia potong menjadi enam bagian. Cabai hijau, ia buka bijinya dan di potong serong. Jahe, ia kupas dan di memarkan.


Setelah selesai menyiapkan bumbunya. Ia mengambil cumi asin tersebut dan memotong cuminya menjadi kecil-kecil. Lalu, ia juga memotong jagung putren dan bockoy.


Ia pun mulai menumis bumbunya, setelah harum, ia memasukkan cumi asin dan mengaduknya rata.


”Hum... harumnya Han.” komentar Ardi.


Fitri menoleh melihat Ardi, wanita itu hanya tersenyum manis padanya. Dan di saat adiknya tersenyum begitu, ia memotretnya tanpa di ketahui Fitri.


Fitri kembali melihat masakannya. Ia menambahkan kecap asin, kecap manis, ladaku, dan kaldu ayam secukupnya. Baru, ia masukkan jagung putren dan bockoy nya. Ia aduk sebentar dan biarkan airnya mendidih. Ia mengecap rasanya dan menambahkan bumbu yang kurang. Ia aduk sebentar dan mematikan kompor.


”Kak, simpan hape mu dulu. Ayo, makan. Hana sudah memasakkan kakak sayur bockoy cumi asin.” ucap Fitri.


”Ok! Terima kasih, sayang!” sahut Ardi. Ia menyantap sedikit lauk yang di masak Fitri. ”Hum... enak, Han. Adiknya kakak emang jago masak! Siapapun suami mu kelak, beruntung bisa menikah dengan mu.” ia mengambil piring dan menyendok nasi. Juga mengambil lauk.


”Makan saja, kak! Gak usah memuji begitu! Hana gak akan gr hanya dengan rayuan. Dan satu lagi..Hana gak mau menikah.”


Ardi terdiam sejenak. Kenapa Fitri selalu enek masalah cowok? Apalagi ini dia menegaskan untuk tidak mau menikah. Ada apa sebenarnya yang terjadi dengan adik perempuannya itu? Namun, ia tidak ingin menanyakannya pada adiknya tersebut.


”Ini juga kakak lagi makan. Gak ada salahnya kan, kakak memuji adiknya? Hum.. atau.. jangan-jangan adik maunya di puji sama adik ipar, yah?” goda Ardi.


”Apaan sih, kakak ini? Ah, malas, temani kakak di sini. Mending, Hana pergi.” Fitri berdiri.


Ardi menahan Fitri dengan cepat. ”Duduk! Temani kakak. Kakak gak mau sendirian.”


”Kalau kakak masih bersuara saat makan, Hana akan pergi!” ancam Fitri.


”Iya. Kakak gak akan banyak bicara. Ayo, duduk, temani kakak.” sahut Ardi, mengalah. Ia memasukkan lagi sesendok nasi ke dalam mulutnya.


Ting! Notifikasi nada pesan dari hape Ardi berbunyi. Fitri sempat membacanya dari balon udara di layar hape Ardi. Pesan dari Fajrin dan dari pesannya ada nama dirinya.


Ardi juga melihat itu. Fitri menatap Ardi. Ardi pura-pura tidak tahu. Ia melihat makanannya, mengambil kembali lauk ke piring makanannya.


”Buka pola hape kakak.” titah Fitri pada Ardi.


”Hah! Nanti saja setelah kakak selesai makan. Entar layar hapenya kakak kotor. Kamu lihat kan kakak makan pakai tangan.” alibi Ardi.

__ADS_1


”Apa polanya? Biar Hana yang bantu buka.” tukas Fitri.


”Memangnya untuk apa lagi kamu periksa chat kakak? Masih penasaran dengan Fajrin?”


”Kakak tidak usah pura-pura tidak tahu, maksud Hana. Cepat! Apa pola nya?” desak Fitri.


”Huruf A besar.”


Fitri menggambar pola nya di layar hape Ardi. Layar hape terbuka. Ia langsung membuka chat Fajrin.


Fitri terkejut melihat foto dirinya yang tersenyum dan melihat baju yang di kenakan di foto itu adalah baju yang dia pakai sekarang. Foto itu barusan di ambil saat dia memasak sayur.


Di bawah foto itu ada kata-kata Fajrin. Yang mengatakan ”Cantik...Manis...MaCan ku!” dengan emot love.


Mata Fitri tajam memandang Ardi. Ardi melirik Fitri, adiknya itu sedang menatapnya. Ia melanjutkan makannya dengan santai.


”Mengapa kakak mengambil foto ku dan memberikannya pada si brengsek?” tanyanya ketus.


”Kakak tidak memberikannya pada si brengsek. Kakak lagi senang di perhatikan sama adik tercinta. Jadi kakak mengabadikan momen ini ke media sosial. Matanya saja yang jeli menemukan foto mu di akun media sosial ku.” jelas Ardi.


Fitri kembali melihat layar hape saat bunyi pesan terdengar kembali. Ia membaca pesan itu agar terdengar oleh Ardi.


”Jangan pajang foto istriku ke media sosial! Cukup kirimkan ke aku fotonya istriku! Kalau aku menemukan kamu memajang foto istriku di media sosial lagi, aku tidak bisa pastikan kamu masih bekerja dengan aman di tempat kerjamu!”


”Cih, siapa yang istrimu! Sukanya mengancam! Dasar pria brengsek!” omel Fitri.


”Tuh, kakak dengarkan! Jangan pajang foto ku di media sosial! Boleh saja sih, asal foto kita berdua.” omel Fitri lagi. Namun, di ucapan terakhirnya di barengi dengan senyum jail.


Ardi bingung melihat senyum adiknya itu. ”Kamu punya rencana apa? Jangan macam-macam yah!” ancam Ardi. Ia meminum airnya. Dia telah selesai makan.


Fitri menyiapkan kamera di hape Ardi. Ia berdiri dari duduknya dan berdiri di belakang kursi Ardi, kepalanya ia sandarkan di bahu Ardi.


”Apa yang kamu lakukan?” tanya Ardi.


Fitri memposisikan kamera ke wajahnya dan Ardi. ”Kakak, perbaiki raut wajah mu. Senyum lah!”


Fitri meletakkan tangan kanannya di bahu kanan Ardi. Fitri tersenyum manis sambil mengedipkan sebelah matanya.


Cekrek! Fitri memfotonya. Ia kembali duduk di kursi. Ia tersenyum melihat hasil jepretannya, sangat bagus. Apalagi Ardi yang menoleh melihat ke arah Fitri, hingga bibir Ardi menyentuh pipi Fitri.


Dia memperlihatkan foto tersebut pada kakaknya, ”Lihat, kak. Wow, so sweet, Abang ku tersayang. Abang sangat ganteng!” puji Fitri.


Ardi terbelalak melihat foto tersebut. Jika foto tersebut di bagikan ke media sosial, bisa mampus dia kena amukan Fajrin.


”Jangan di bagikan di media sosial! Cukup jadikan wallpaper di hape nya kakak saja.” titah Ardi.


”Sayang lah, kak! Foto so sweet begini, harus di perlihatkan ke semua orang!” ucap Fitri sembari tersenyum.


”Jangan dik! Kakak masih betah dengan pekerjaan kakak.” larang Ardi.


Fitri kembali memperlihatkan statusnya di akun media sosial kakaknya itu. Fitri telah memposting nya ke medsos.


Ardi melihat nya dengan mata terbuka lebar. Apalagi saat membaca caption di atas foto itu. ”Siapa kamu? Kamu gak berhak mengatur ku!” dengan di beri emot mengejek.


”Hah! Hana, kamu gak sayang sama kakak mu lagi? Kamu gak takut tunangan mu menghajar kakak? Kalau kakak gak kerja lagi, kamu gak bakal kakak belikan apa-apa lagi. Sini hape ku!” Ardi sedikit kesal. Fitri tidak mendengarkannya.


Meskipun dia belum bertemu dengan Fajrin, tapi, ia dapat merasakan aura dingin saat berbalas chat dengannya.

__ADS_1


”Gak usah takut sama dia, kak! Kalau dia ada marah-marah, serahkan saja sama Hana! Hana akan menghajar balik dia.” ucap Fitri.


”Sudah! Kakak mau istirahat!” Ardi berdiri dari duduknya dan menyambar hapenya dari tangan Fitri dan berlalu dari dapur.


__ADS_2