
Di halaman kampus.
”Langsung masuk ke mobil ku saja, yah. Kita ke restoran untuk makan. Sekalian, aku antar kalian pulang.” ucap Alvin.
”Oh, ok!” jawab Alin, Nita, dan Fitri.
Mereka semua mengikuti langkah Alvin menuju parkiran mobilnya. Alvin telah masuk ke dalam mobil bersama Nita, mereka duduk di depan.
”Eh, Hana, tunggu!” cegah Alin. Pandangannya melihat sosok pria ganteng yang duduk di motor. Lelaki itu sedang menunggu seseorang.
Fitri menghentikan tangannya yang membuka pintu mobil belakang. Ia melihat Alin. Dia juga mengikuti arah pandangan mata Alin.
Kakak? Bagaimana ini? benak Fitri.
”Itu kakak mu, Ardi. Sepertinya dia sudah menunggu mu dari tadi.” ucap Alin.
Fitri mengitari mobil menghampiri Alvin, yang sudah siap mengemudikan mobil. ”Alvin, sebentar yah, aku samperin kakak ku dulu.” izinnya.
Alvin melihat Ardi. ”Ok,” jawabnya.
Alin telah masuk ke dalam mobil. Fitri menghampiri kakaknya. Alvin menjalankan mobil dengan pelan, mengikuti Fitri di belakangnya.
”Kakak, sudah lama menunggu?” tanya Fitri.
”Iya.” jawab Ardi menyerahkan helm untuk Fitri. Fitri mengambilnya.
”Emang kakak sudah pulang dari kerja?”
”Belum sih! Cuman, kakak gak mau kamu naik bus lagi untuk pulang. Entar kakak di telfon dan di marahin lagi sama adik ipar.” ledek Ardi.
Fitri memberikan helm ke Ardi dengan kesal. Ardi memegang helmnya sambil tersenyum.
”Siapa yang adik ipar mu? Dia bukan suami ku!” elak Fitri. ”Kalau kakak belum pulang kerja, mending kakak lanjut kerja aja yah? Hari ini, teman Hana mentraktir Hana untuk makan di restoran, sekalian dia antar Hana pulang ke rumah.” jelas Fitri.
”Temanmu? Siapa? Adik ipar ku yah?” kembali Ardi meledek Fitri.
”Kakak, apaan sih! Hana kesal ah! Sudahlah, Hana mau pergi sekarang! Itu mobil temanku. Mereka sedang melihat ku sekarang, mereka menunggu ku.”
Ardi melihat mobil yang di maksud Fitri. ”Oh, Alvin, Nita, dan Alin! Ok, pergilah! Hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai di rumah, hubungi kakak.” ucap Ardi.
”Ok, kak! Oh iya, kak. Aku lupa memberitahu kakak sesuatu.”
Ardi penasaran melihat adiknya, ”Apa?”
Fitri semakin dekat ke Ardi dan berbisik di telinganya. ”Kakak dapat salam dari teman ku, Alin. Dia mencintai kakak. Dia cocok jadi kakak ipar ku.” ia tersenyum manis melihat Ardi yang bengong.
”Kamu menjodohkan kakak mu dengan teman mu sendiri?”
Fitri mengangguk. Senyumnya masih tersemat indah di bibir.
”Kakak tidak suka dengannya. Carikan kakak cewek lain saja. Jangan dia!” tolak Ardi.
”Kalau aku maunya dia?”
”Rupanya kamu meminta kakak untuk membawa mu pulang sekarang yah! Naik! Kakak antar kamu pulang.” wajahnya terlihat garang.
”Eh..eh...gak kak! Hana pergi sekarang.” Fitri berlari mendekati mobil Alvin. Ia pun segera masuk ke dalam mobil. Mobil melaju, meninggalkan halaman kampus.
Ardi geleng-geleng kepala melihat mobil yang telah berlalu itu. ”Hana, Hana...!” ia menghela nafas sambil tersenyum. ”Pantas saja Zahidin suka sama dia. Gemesin emang!” gumamnya.
__ADS_1
Dia menyalakan motor dan pergi dari parkiran kampus.
.. ..
Di tempat kerja Ardi.
Ardi memarkirkan motornya di halaman parkir tempat kerjanya.
”Fajrin, Hana telah pulang bersama temannya. Alvin, Nita, dan Alin. Sebelum di antar pulang ke rumah, mereka akan singgah di restoran untuk makan.”
Ardi mengirimkan pesan untuk Fajrin. Setelah mengirim pesan. Ia lanjut mengerjakan tugasnya. Dengan sesekali melihat layar hape.
”Selalu seperti biasa. Pesan cuma di read doang! Gak bisa apa cari perhatian dikit dengan saya, calon kakak ipar nya.” gumamnya.
”Eh... ngomong-ngomong Hana tadi bilang kalau Alin menyukai ku. Apakah benar? Sejak kapan tuh anak menyimpan perasaan dengan ku? Kok aku gak bisa rasakan yah?”
”Jika benar dia menyukai ku....maka...aku akan semakin menebar pesona di hadapannya kelak. Aku juga tertarik dengan dia.”
Ardi selalu berbicara sendiri membayangkan wajah Alin. Bahkan, ujung pena ia gigit gigit.
.. ..
Di dalam restoran.
”Kalian ingin makan apa ini? Menu nya yang ada tinggal nasi pecel, soto ayam, sama ayam bakar nih. Yang lain habis. Jadi, kalian mau makan apa?” tanya Alvin pada ketiga wanita di hadapannya.
”Ayam bakar aja deh!” seru Alin, Nita, dan Fitri.
”Ok. Minumannya?” tanya Alvin lagi.
”Jus melon untukku.” jawab Alin.
”Aku air putih aja deh!” jawab Fitri.
”Ok! Kalian pergi duduklah! Aku akan pesankan kalian makanan.” ucap Alvin.
”Ok!” sahut ketiga wanita itu bersamaan. Mereka mencari posisi meja yang bagus untuk mereka tempati.
”Eh..kita duduk di bangku yang sana saja, yuk!” ajak Fitri menunjuk tempat duduk yang pojok.
”Oh, yang itu? Boleh juga!” jawab Alin dan Nita setuju. Mereka pergi ke tempat duduk tersebut.
Sementara Alvin, dia pergi memesan makanan untuk ketiga para gadisnya.
”Mba, pesan ayam bakar untuk tiga porsi yah. Ambil yang dada saja ke tiganya Mba.”
”Baik, Mas. Minumannya apa Mas?” tanya sang pelayan restoran.
”Minumannya. Jus melon satu, jus jeruk dua gelas dan satunya air putih biasa saja Mba.” jawab Alvin.
”Oh, iya. Mas silahkan duduk dulu. Nanti saya siapkan dan saya antar kan pesanan Mas, di meja Mas.” ucap sang pelayan dengan ramah.
”Saya tunggu di sini saja Mba. Biar saya sendiri yang bawa pesanan ku.” tolak Alvin.
”Oh. Baiklah!” sang pelayan menurut. Ia masuk ke dalam sebuah bilik dan memberikan catatan si pemesan pada orang yang berada di dalam bilik tersebut.
Setelah memberikan catatan tersebut, dia keluar kembali untuk menunggu tamu lain yang ingin memesan makanan ataupun yang ingin membayar pesanannya.
Beberapa menit dari menunggu. Dua orang yang berada dalam bilik tadi keluar sambil memegang nampan yang berisi pesanannya Alvin. Satu nampan isi makanan, satu nampan isi minuman.
__ADS_1
”Mba. Biar saya saja yang bawa nampan berisi makanan.” Alvin mencegah pelayan yang memegang nampan berisi makanan.
”Baiklah!” sahut si pelayan tersebut. Ia menyimpan nampan berisi makanan tersebut di atas meja panjang.
”Mba. Berapa harganya semua?” tanya Alvin. Dia sudah mengeluarkan dompet dari sakunya.
”Maaf, Mas! Pesanan Mas sudah di bayar oleh seseorang.” jawab si pelayan yang mencatat pesanan Alvin tadi.
”Hah! Sudah di bayar?” Alvin terkejut. Semenjak ia berdiri menunggu pesanan datang, dia tidak melihat siapapun yang dia kenali di dalam restoran tersebut. ”Siapa yang bayarkan Mba?” tanyanya penasaran.
”Beliau adalah sahabat kalian semua. Terutama wanita yang bernama Fitri Raihana. Beliau membayar pesanan Mas, karena wanita si pemilik nama itu.” ungkap sang pelayan.
Kening Alvin mengerut sambil melihat Fitri yang jauh dari tempat berdirinya.
Siapa dia? Sahabat kami semua, terutama Fitri Raihana. Apakah itu Ardi? benak Alvin.
”Kalau boleh tahu.. beliau ini namanya siapa Mba?” tanya Alvin.
”Maaf, namanya di rahasiakan.” jawab si pelayan.
”Oh! Baiklah!” Alvin menyimpan kembali dompetnya ke dalam saku. Dia memegang nampan yang berisi makanan. ”Mba, bawakan minumannya yah.” pinta Alvin pada pelayan yang memegang nampan berisi minuman.
”Iya, Mas.” jawab si pelayan tersebut. Ia pun melangkah mengikuti langkah kaki Alvin.
Alvin menaruh nampan di atas meja. ”Maaf, membuat kalian menunggu lama.” ucapnya. Ia menaruh tiga porsi ayam bakar di hadapan ketiga wanita tersebut.
”Is ok, no problem! Yang penting makanannya ada.” jawab Alin dan Nita.
Alvin menarik kursi kosong di samping Nita dan duduk di sana. Pelayan restoran meletakkan gelas berisi air minum di atas meja. Lalu, ia mengambil nampan kosong yang di letakkan Alvin tadi dan pergi dari sana.
”Ayo di makan.” ucap Alvin.
”Loh, kamu gak makan?” tanya Fitri.
”Enggak! Aku masih kenyang.” Alvin menyesap minumannya, jus jeruk.
”Oh!” Fitri manggut-manggut. Ia memulai menyantap makanannya. Nita dan Alin pun sama, memakan makanannya.
Alvin masih kepikiran dengan orang yang telah membayar pesanannya, dengan menatap Fitri penuh tanya.
”Kenapa menatap ku seperti itu?” rupanya Fitri menyadari tatapan Alvin.
Alin dan Nita menoleh melihat Alvin. Seketika Nita cemburu. Dia curiga. Memang, setelah Fitri kembali ke kampus, wanita itu sedikit berbeda dari sebelumnya. Alvin menyadarinya.
”Ehm...bukan apa-apa. Aku hanya sedang bertanya-tanya saja dalam benak. Kira-kira siapa teman kita ini yang mengenal kita semua. Tetapi, terkhusus kan dirimu. Karena mu, dia membayar makanan yang kalian makan ini.” ungkap Alvin. Dia tidak ingin ada salah paham antara dirinya dan Nita. Apalagi melibatkan persahabatan mereka.
Kening Fitri, Alin, dan Nita berkerut melihat Alvin. Mereka sudah tidak hiraukan makanan yang di depannya. Tetapi, sudah penasaran dengan hal yang di dengar barusan. ”Siapa?” tanya mereka bertiga, penasaran.
Alvin mengedikkan kedua bahunya, pertanda ia tidak tahu siapa dia. Pandangan kini mengarah ke arah Fitri.
”Aku tidak tahu. Mungkinkah itu Ardi? Dia tahu kita akan singgah ke sini.” ucap Fitri. Menjawab tatapan ketiga sahabatnya itu.
”Aku juga sempat berpikir dia Ardi. Tapi, sepertinya itu tidak mungkin.” sahut Alvin.
”Sudah! Tidak usah di pikirkan dia itu siapa! Sekarang, lanjut makan saja. Sayang sekali makanan gratis ini kita anggurin.” ucap Fitri. Ia kembali memasukkan sesuap nasi ke mulutnya.
Alin dan Nita pun melanjutkan makannya. Alvin kembali menyesap minumannya.
Kalau bukan Ardi, lalu siapa? Apakah....si dia? benak Fitri.
__ADS_1
.. ..