
Di kampus.
”Waktu kalian tinggal lima menit lagi!” Zahidin mengetuk-ngetuk mejanya. Pandangannya menyapu anak muridnya di dalam kelas itu.
Dia melihat begitu banyak wajah panik dan keringat yang keluar dari pelipis anak muridnya, terkecuali Fitri.
Wanita itu terlihat tenang meskipun situasi mendesaknya. Apakah dia mampu menyelesaikan tugas ku? benak Fajrin.
”Tiga menit! Setelah Bapak bilang kumpulkan, semua tidak ada yang boleh menulis lagi. Jika masih ada yang menulis, maka hukuman akan di tambahkan!” gertaknya.
Semua anak muridnya semakin panik. Apalagi yang membuat pak Zahidin tidak senang dan menghukum mereka seperti ini? Mencatat tujuh lembar pembelajaran, merangkumnya menjadi empat lembar dalam waktu singkat, lima belas menit.
Zahidin melihat Fitri, wanita itu tetap terlihat tenang. Tidak ada kegugupan yang dia tunjukkan.
Biar kamu bisa menyelesaikan tugas mu, kamu tidak akan luput dari hukuman ku. Kucing liar ku, hukuman mu tersendiri. benak Zahidin.
”Kumpulkan!”
Semua anak muridnya menyimpan pena di atas meja. Satu pun tidak ada yang memegang alat tulis itu.
”Fitri Raihana, kumpulkan semua buku catatan teman-teman mu dan bawakan ke mejaku!” titah Zahidin..
”Baik, Pak.” Fitri berdiri. Dia memegang bukunya sendiri dan mengambil buku Alin, teman sebangkunya.
Dia keliling mengumpulkan buku catatan teman-temannya. Setelah semua terkumpul, dia maju ke depan dan meletakkan buku-buku tersebut di atas meja pak Zahidin. ”Semua sudah terkumpul, Pak.” lapornya.
”Ambil kursi dan bantu Bapak cek semua catatan ini. Apakah semua menulis sesuai dengan perintah Bapak atau tidak? Di pisahkan, yang menulis selesai, yang menulis setengah, dan yang menulis baru sedikit.” titah Zahidin.
”Bolehkah meminta satu orang lagi untuk membantu, Pak?” tanya Fitri.
Zahidin menatap Fitri.
Gadis ini... benar-benar....benak Zahidin.
Fitri balas menatapnya. ”Zulfa, atas perintah Bapak Zahidin, kamu majulah ke depan untuk membantu tunangan mu, memeriksa buku catatan teman-teman.” ucapnya, tanpa memutuskan pandangan matanya dengan Zahidin.
Zahidin semakin menatapnya dengan tajam.
Wanita ini.. sungguh paling bisa membuat emosiku mendidih. benaknya.
Zulfa segera maju ke depan dengan membawa bangkunya, dengan tersenyum senang. Dia menaruh bangku nya di dekat Zahidin. ”Dengan senang hati, tunangan ku.” ucapnya menggoda.
”Huuuuu!”
Zulfa mendapat sorakan dari teman-temannya. Dia tersipu malu.
Fitri mengulum senyum. Dia pergi mengambil bangkunya saat Zahidin menyipitkan mata melihat dia.
Fitri duduk berhadapan dengan Zahidin. Dia mengambil buku dan memeriksanya. Tanpa melihat pria itu.
”Ini..buku yang sudah Bapak periksa, yang mana yang menulisnya setengah, Pak.” tanya Fitri, dia melihat Zahidin sebentar.
”Dari beberapa buku yang bapak periksa, belum ada yang mencapai setengahnya.” ketus Zahidin menjawab, dan itupun tanpa melihat Fitri.
”Oh,” singkat Fitri menyahut. Dia pun meletakkan buku yang menulis setengah di samping buku yang sudah di periksa Zahidin.
Pemeriksaan selesai dengan buku terakhir yang di periksa sendiri oleh Zahidin, buku milik Fitri.
Pantas gadis ini tenang-tenang saja. Dia merangkumnya dengan cepat dan yang dia tulis yang terpenting saja dari bacaan-bacaan yang ada. Bahkan, dia merangkumnya hanya selesai tiga lembar. Aku salah meremehkan anak manja ini. benak Zahidin.
Buku Fitri tersebut dia simpan di hadapannya. ”Fitri, Zulfa, terima kasih, sudah membantu. Kalian, kembalilah ke tempat kalian.”
”Sama-sama, Pak.” sahut Fitri.
”Sama-sama, sayang.” sahut Zulfa, menggoda.
”Huuuuu!”
Zulfa kembali mendapatkan sorakan dari teman-temannya.
Mereka kembali ke tempatnya dengan membawa bangkunya masing-masing.
Brak! Zahidin menggebrak meja dengan keras. Dia berdiri. Di pandangannya semua anak muridnya. Semua terdiam dan menunduk.
”Ini kampus. Tempat untuk mencari ilmu. Bukan tempat umum untuk urusan pribadi. Zulfa, sekali lagi saya bilang. Jangan mengaku-ngaku aku tunangan mu!”
”Tidak bisa! Kamu memang tunangan ku. Kakekku dan kakek mu sudah menentukan waktu pertunangan kita. Itu sudah jelas!” elak Zulfa.
__ADS_1
Zahidin terdiam. Jika dia menyahuti ucapan Zulfa lagi. Akan semakin lama menyita waktunya. Dia memilih kembali dalam materi kuliah.
”Catatan kalian semua sudah selesai di periksa. Kalian mau jadi apa nanti kedepannya? Di suruh merangkum ini saja, kalian tidak bisa! Bagaimana jika kalian bekerja dalam sebuah perusahaan? Jika hal kecil seperti ini saja kalian tidak becus!” Zahidin menatap anak muridnya satu persatu. Semuanya menunduk dan terdiam.
”Fitri, maju ke depan!” titah Zahidin.
Fitri maju ke depan, berdiri di samping Zahidin.
”Bacakan nama-nama dari pemilik buku itu. Nama-nama yang di panggil, maju ke depan!” titah Fajrin.
Fitri pergi ke meja Zahidin, dia berdiri di hadapan buku-buku catatan teman-temannya. Dia mulai membacakan nama-nama yang tulisannya baru sedikit.
”Anton, Niko, Niken, Rahma,....,.....”
Nama-nama yang di sebut Fitri, maju satu persatu berbaris di depan.
”.....,...., dan terakhir Zulfa.” sebut Fitri. Ia tersenyum mengejek Zulfa.
Kurang ajar! Dia mengejekku! benak Zulfa. Dia marah pada Fitri.
Zulfa dan kedua temannya ikut berbaris dengan yang lain, di depan kelas.
”Kalian semua berlari putar lapangan besar sebanyak seratus kali. Itu hukuman bagi kalian. Kalian harus berlari sesuai dengan perhitungan pak Adit. Sekarang, keluar!” titah Zahidin.
Mereka semua yang berbaris di depan berjalan keluar menuju lapangan besar.
Fitri melangkah kembali ke tempatnya.
Zahidin menahan tangannya. ”Siapa yang suruh kamu kembali?! Tetaplah di tempat berdiri mu!”
Fitri mengerut melihat Zahidin, namun, dia tetap kembali di tempat berdirinya.
”Di antara kalian semua, hanya Fitri Raihana saja yang mampu menyelesaikan tugas kecil yang Bapak berikan. Kalian harus mencontoh Hana. Kalian yang duduk semua ini, keluar terima hukuman kalian. Berlari sebanyak lima puluh kali di lapangan voli.” titahnya.
Mereka semua berdiri menuju ke lapangan voli, termasuk Alin, Nita, dan Alvin.
”Sekarang saya sudah bisa pulang, Pak?” tanya Fitri.
Zahidin menyudutkan Fitri di dinding. Fitri terkejut, apalagi bibirnya di usap oleh ibu jari Zahidin.
Apa lagi yang ingin di lakukan si mesum ini? Apa dia akan kembali mencium ku? benak Fitri.
Zahidin menelan saliva nya saat melihat bibir ranum Fitri. ”Kamu! Ikut aku ke kantor ku!” dia memegang pergelangan tangan Fitri dan membawanya keluar dari kelas.
Hah! Ke kantornya? Tidak! Aku tidak mau! benak Fitri.
Dia masih mengingat kejadian saat berada di ruangan khusu Zahidin. Dan Bagaimana pria mesum itu memperlakukan dirinya.
”Tidak! Aku tidak mau! Lepaskan aku, Pak! Ini pemaksaan namanya! Lepaskan aku!” berontak Fitri.
Namun, Zahidin mengabaikan kata-kata Fitri. Dia semakin memegang erat pergelangan tangan Fitri dan membawanya ke ruangannya. Mereka telah tiba ke perpustakaan.
”Pak, mohon lepaskan aku. Aku tahu, aku salah. Mohon maaf kan aku dan tolong lepaskan aku.”
”Kamu tahu apa salah mu?” tanya Zahidin. Dia membuka pintu untuk menuju lantai atas, ruangannya yang berada di lantai dua, di perpustakaan itu.
Apa salah ku yah? Jujur aku tidak tahu apa salah ku. Dan mengapa pria brengsek mesum ini marah padaku. benak Fitri.
Zahidin membawa Fitri ke dalam bilik kecil di lantai dua itu, kamarnya Zahidin. Dia melepaskan Fitri ke ranjangnya. Dia mengunci pergerakan Fitri. Fitri ketakutan.
”Katakan! Katakan padaku, di mana salah mu?” kembali Zahidin bertanya.
”Aku...aku tidak tahu....ja..jangan begini. Ku mohon! Lepaskan aku. Mari kita bicara baik-baik.” pandangan mata Fitri mengiba.
Zahidin teringat pada kata-kata Ardi kalau Fitri tidak suka di ancam, di desak, dan di paksa.
Zahidin menarik dirinya dari atas tubuh Fitri. Fitri bernafas lega. Dia melihat Zahidin telah membuka bajunya.
Refleks Fitri menutup matanya. ”Mengapa membuka baju di sini? Apa Bapak gak malu membuka baju di hadapan ku? Hadapan seorang gadis?”
Zahidin tersenyum. Dia telah memakai baju kaos. Dia berjalan mendekati Fitri. ”Kenapa aku harus malu membuka bajuku di hadapan pacarku, kekasih ku, tunangan ku sendiri? Hum? Jangan kan baju, aku juga akan membuka...”
”Hah! Jangan-jangan! Kamu...kamu gak boleh begitu!” pangkas Fitri.
”Buka tangan mu, lihat aku.” titah Zahidin.
”Gak mau!” tolak Fitri.
__ADS_1
Zahidin memegang kedua pergelangan tangan Fitri.
”Gak mau! Jangan paksa aku! Aku mohon!” Fitri semakin mempererat menutup wajahnya.
Namun, Zahidin mampu membuka kedua tangan Fitri dari wajahnya.
Zahidin kembali tersenyum. Fitri memejamkan matanya dengan kuat.
”Kalau kamu gak buka matamu, aku akan mencium kening mu, pipimu, dan bibir mu.” ancam Zahidin.
Fitri membuka matanya, namun, sebelumnya dia memalingkan wajahnya ke belakang.
”Lihat aku. Kamu bilang kita bicara baik-baik. Sekarang aku menuruti mu untuk bicara. Tapi, kamu malah bersikap begini. Kamu sudah menyinggung ku.” tutur Zahidin.
”Tapi...kamu...”
”Aku kenapa? Berbalik lah, lihat aku.” pangkas Zahidin.
Fitri memalingkan wajahnya perlahan, melihat Zahidin. Dia bernafas lega. Pria itu berpakaian lengkap.
Sial! Dia mempermainkan aku. benak Fitri.
”Sekarang katakan di mana salah mu?” tanya Fajrin.
”Aku...aku tidak mengangkat telfon mu.” jawab Fitri.
”Apalagi?”
”Aku tidak tahu.”
Zahidin mengeluarkan uang seratus ribu dari sakunya dan memperlihatkan Fitri.
Kening Fitri mengerut. Mencoba memahami maksud Zahidin. Dia mengingatnya.
”Itu...aku menitipkan uang pada papa ku untuk memberikan padamu. Aku berutang pada pelayan mu, jadi aku membayarnya. Dengan menitipkan padamu, nanti kamu yang berikan pada pelayan mu.” jelas Fitri.
”Kamu menghina ku.”
”Tidak, bukan. Aku tidak bermaksud menghinamu. Tapi, aku tidak mungkin akan bertemu dengan pelayanan mu lagi, makanya aku menitipkan padamu.” jelas Fitri.
”Kenapa tidak memberikannya langsung padaku?”
”Aku...aku...kamu nanti akan memperlakukan ku tidak baik.” Fitri menunduk menjawabnya.
Dia takut padaku? Takut aku mencium dan memeluknya? Atau...apa dia menganggap ku najis, makanya dia enggan untuk aku cium dan peluk? benak Zahidin.
”Kenapa kalau aku mencium mu? Memeluk mu? Kamu tunangan ku, aku berhak melakukannya karena aku sudah yakin, kamu adalah istriku untuk kedepannya dan seumur hidupku.”
Fitri mendongak, melihat Zahidin. Dia melihat wajah tegas pada pria itu.
”Atau...berciuman dan berpelukan dengan ku, membuat mu jijik?” lanjut Zahidin bertanya.
”Bukan. Jangan salah paham. Aku...aku dan kamu tidak punya hubungan apa-apa. Yang kedua, kamu adalah tunangannya Zulfa. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman lagi di antara kami.” jelas Fitri.
Oh, jadi itu alasannya kamu menolak ciuman dan pelukan ku. Bahkan kamu menjauhi ku dan membatasi jarak kita. Good! benak Zahidin.
”Hana, dengarkan aku untuk terakhir kali ini. Aku akan memperjelas sesuatu. Dengarkan aku baik-baik. Aku dan Zulfa memang di jodohkan oleh kakek kami. Tapi, aku tidak menyukai Zulfa dan tidak pernah menganggap serius ucapan kakekku. Pertunangan itu, aku dan papa ku sudah membatalkannya. Hanya, kakekku saja yang belum tahu dan keluarga Zulfa tidak terima keputusan ku dan papa ku.” Zahidin menjeda ucapannya.
”Aku mencintai kamu. Aku hanya akan bertunangan dan menikah dengan kamu. Lusa adalah ulang tahun kampus. Aku akan memperkenalkan kamu pada kakekku. Jadi, berhentilah mengejekku dengan Zulfa.” lanjut Zahidin berucap.
”Tapi, aku tidak mencintai kamu."
”Apa yang kurang dariku?”
”Tidak ada, kamu sangat sempurna. Tapi, aku belum memikirkan hal pacaran, bertunangan, apalagi menikah. Aku belum siap untuk itu. Aku ingin kamu dan aku hanya berteman.”
”Baiklah, kita berteman. Aku akan menunggu mu. Tapi, aku akan tetap memperkenalkan kamu pada kakekku.”
Fitri mengangguk.
”Baiklah. Aku akan antar kamu pulang.”
Antar aku pulang? Apa benar dia akan mengantar ku pulang? benak Fitri.
”Jangan takut! Aku akan mengantar mu pulang ke rumah mu. Ayo!” ajak Zahidin.
Baiklah, aku akan percaya padamu kali ini. benak Fitri. Dia mengangguk.
__ADS_1
Mereka keluar dari ruangan Zahidin. Mereka berjalan sampai ke halaman parkir, tempat mobil Zahidin terparkir.
Zulfa tidak senang melihat mereka.