
Keesokan harinya, di kantor Fajrin.
Tok tok tok! ”Permisi, Pak direktur!”
”Masuk!”
Fandi membuka pintu ruangan pak direktur dan masuk ke dalam dengan membawa dua buah map di tangannya.
”Pak, ini adalah laporan pekerjaan beberapa bulan ini di kota P. Bangunan sudah delapan puluh delapan persen, berjalan.” Fandi membuka map laporan pekerjaan itu dan memperlihatkan pada Fajrin.
Fajrin mengambil dan melihatnya. ”Hum...bagus! Semuanya berjalan dengan lancar.” dia tersenyum puas.
”Dan ini adalah berkas yang di kirim oleh perusahaan Randi. Mereka selalu mempertanyakan kesediaan perusahaan kita untuk menanggapi permintaan mereka, secepatnya.” Fandi memberikan map tersebut pada Fajrin.
Fajrin mengambilnya, namun, tidak membuka dan melihatnya. ”Sudah kamu beritahu mereka tentang syarat ku?” tanyanya.
”Iya, Pak. Dan mereka sudah menyanggupinya. Mereka telah menyediakan uang tersebut. Bagaimana tanggapan Bapak?”
Fajrin menghela nafas. ”Bilang saja pada mereka, jika saya belum membaca dan melihat permintaan mereka. Saya masih di luar negri, mengurus sesuatu.”
Mengapa dengan perusahaan yang satu ini..pak Fajrin sangat berat hati untuk menerimanya? Apakah dia memiliki dendam dengan si pemilik nama ini? benak Fandi.
”Baik, Pak. Bagaimana jika saya pergi ke kota C, untuk melihat perusahaan tersebut dulu, Pak direktur?” usul Fandi.
”Tidak perlu. Bukan waktunya sekarang. Kamu harus menggantikan saya di sini, mengurus perusahaan. Masih ada hal lain yang ingin kamu sampaikan?” dia menatap Fandi.
Fandi mengeluarkan selembar uang kertas senilai seratus ribu dari kantongnya dan meletakkannya di atas meja, di hadapan Fajrin.
”Apa maksud mu?” Fajrin melirik uang itu dan kembali menatap Fandi.
”Saat sarapan pagi tadi, Hana memberikan ku uang itu dan meminta padaku untuk memberikannya padamu. Uang itu untuk membayarkan utangnya pada pelayan mu. Tolong berikan pada pelayan mu.” jelas Fandi.
Kucing liar....beraninya kamu menitipkannya pada papa mu untuk di berikan padaku! Aku...yang selalu memberikan uang untuk karyawan ku dengan nilai jutaan, kamu beraninya memberiku uang senilai seratus ribu rupiah, itupun kamu menitipkan pada seseorang untuk di berikan padaku? Apa kamu menghina diriku, Hana? benak Fajrin.
Fajrin menghela nafas. Dia terpaksa mengambil uang itu dan memasukkannya ke dalam kantung dalam jasnya. ”Masih ada keperluan lain?” tanyanya.
”Tidak ada lagi, Pak.”
Fajrin berdiri. ”Kalau begitu...aku pergi dulu. Jaga kantor ku dengan baik-baik.” Fajrin melenggang pergi dari ruangannya.
Apa dia akan mengajar ke kampus dan mengganggu anakku? benak Fandi.
Fandi berbalik setelah mendengar pintu ruangan Fajrin kembali tertutup. ”Di mana rasa hormatnya padaku, sebagai ayah dari wanita yang dia cintai?” kesalnya.
Dia mendengus. ”Huh! Ini di kantor, dia memerintah ku memang wajar, dialah atasan ku.” dia keluar dari ruangan Fajrin. Dia menempel pemberitahuan di depan pintu ruangan Fajrin dengan tulisan "Pak direktur lagi keluar. Silahkan temui asistennya jika ada keperluan" baru, Fandi pergi dari sana. Dia pergi ke ruangannya sendiri.
.. ..
Di kampus.
”Ais...sudah jam berapa ini? Pak dosen tampan akan datang mengajar gak sih?” keluh Alin.
”Iya, nih! Katanya sebentar lagi akan datang. Kok, sampai sekarang malah belum datang juga?” keluh Nita.
__ADS_1
”Iya, nih! Uda bosan duduk menunggu di dalam kelas. Mending, kita nunggunya di luar aja, yuk!” ajak yang lain. Namun, dia juga tidak berani keluar dari kelas.
”Zulfa, bukan nya kamu punya nomor telfon tunangan mu itu kan? Telfon dia dong! Tanyakan jadi gak ngajarnya? Kalau gak, kita pulang aja.” usul teman dekat Zulfa pada Zulfa.
”Ada sih nomornya, tapi, malas ah...entar ada yang cemburu.” sindir Zulfa.
Alin melirik Fitri. Fitri malah santai saja. Apalagi, dia sangat tahu jika Zahidin atau Fajrin itu tidak mengakui telah bertunangan dengan dia.
Zulfa merasa panas. Sindirannya tidak termakan sama sekali pada Fitri.
Drrrtt ddrtt. Bunyi dering handphone Fitri yang ada di atas meja berbunyi. Fitri dan Alin sama-sama melirik ke layar hape Fitri.
Alin melongo membaca nama si pemanggil. ”Si brengsek mesum? Siapa dia Han? Kamu gak angkat?” Alin penasaran.
”Bukan siapa-siapa! Tidak perlu di angkat, gak penting juga.” Fitri tetap bersikap santai.
”Palingan juga om-om yang menjadi sugar dady nya, di luar sana!” sindir teman Zulfa.
Zulfa dan yang lainnya tertawa.
Alin dan Nita tidak senang. Mereka melotot pada teman Zulfa.
”Kenapa?” Zulfa menggertak Alin dan Nita.
”Nita, Alin, tidak perlu meladeni orang tak penting itu. Biarkan sajalah mereka berbicara apa.” Fitri menasehati Alin dan Nita.
Zulfa dan teman dekatnya tidak senang melihat Fitri.
Fitri tidak takut sedikit pun. Dia malah cuek pada Zulfa. Dia meraih hapenya dan memainkan hapenya.
Zulfa semakin kesal di abaikan Fitri. Dia meraih handphone Fitri, namun, gerakan Fitri lebih cepat, menangkap tangan Zulfa. Dan bertepatan dengan itu, pak dosen Zahidin melangkah masuk ke dalam kelas.
Zahidin melihat Fitri dan Zulfa. Dia menghampiri kedua wanita itu. ”Ada apa ini?” tanyanya, ketus.
Zulfa menarik tangannya, Fitri melepaskannya. ”Ini, Pak, Hana mengganggu ku.” aduh Zulfa pada Zahidin.
”Apa benar begitu, Fitri Raihana?” Zahidin menekan kan suaranya saat menyebut nama lengkap Fitri.
”Tidak benar, Pak! Saya duduk dengan baik di bangku saya. Tapi, tunangan Bapak yang mendatangi saya dan mencari masalah dengan saya.” ungkap Fitri.
Zahidin benar-benar marah pada Fitri. Pertama, masalah uang seratus ribu. Kedua, saat Fitri tidak mengangkat panggilan nya. Dan ke tiga, dengan lantang Fitri mengatakan Zulfa adalah tunangannya.
”Hari ini Bapak tidak akan mengajar, kalian Bapak akan beri tugas mencatat dari halaman dua ratus lima puluh, sampai di halaman dua ratus enam puluh lima. Kalian catat dengan metode rangkum, dan itu terbatas hanya empat lembar kertas untuk merangkumnya. Dan kumpulkan pada sebelum jam dua belas siang di ruangan ku, ruang guru.” Fajrin melihat jam tangannya. ”Sekarang, kerjakanlah! Waktu kalian hanya lima belas menit.
Gila! Yang benar saja? Apakah bisa, sedangkan dari halaman tersebut samapi dua ratus enam puluh lima ada tujuh lembar, mau di rangkum hanya untuk empat lembar! Dan waktunya hanya lima belas menit. benak Fitri, Alin, Nita, Zulfa dan beberapa murid yang lain.
”Hah! Yang benar saja, Pak! Ini....”
”Jika protes Bapak tambahin catatannya!” ancam Zahidin. ”Zulfa, kembali di bangku mu!” titahnya.
Zulfa kembali ke bangkunya. Zahidin juga pergi ke meja mengajarnya. Dia melihat Fitri dengan tidak senang.
”Jika dalam lima belas menit, tidak mencatat sampai habis tugas yang Bapak berikan, maka siap-siaplah menerima hukuman! Hukumannya juga berbeda-beda, sesuai kemampuan menulisnya.” tegas Zahidin.
__ADS_1
”Huh...! Ini gara-gara kedua wanita itu!” kesal teman-teman kelas.
Zulfa melirik teman kelasnya yang mengeluh itu. Orang itu terdiam.
Semua mahasiswa putra maupun putri mulai mencatat. Semua serius melihat ke buku dan catatannya masing-masing.
Fajrin memperhatikan mahasiswanya satu persatu. Namun, dia berhenti pada Fitri Raihana. Dia menatap gadis itu.
Kucing liar, bagaimana aku mendidik mu supaya kamu nurut sama aku. Hari ini, kamu membuat kesalahan padaku sebanyak tiga kali. Siap-siaplah untuk menerima hukuman ku. benak Fajrin.
...
Di kota C, di perusahaan Randi corp.
”Bagaimana, apakah sudah ada tanggapan dari perusahaan Wisma grub pada perusahaan kita?” tanya Randi.
”Maaf, Pak. Belum ada kabar dari perusahaan tersebut. Meskipun permintaan mereka telah kita penuhi.” ungkap salah satu divisi yang bertanggung jawab atas kerja sama itu.
”Apakah mereka memberikan alasan mengapa permintaan kita belum di terimanya?”
”Maaf, Pak. Alasannya adalah Ceo perusahaan wisma grub sedang dalam perjalanan dinas ke luar negeri. Ada beberapa hal yang di urus nya di sana. Dan kepulangannya sekitar dua, tiga Minggu lagi.” jawab yang lain.
”Bagaimana kalau saya pergi ke luar negri untuk menjumpainya secara langsung, Pak Randi?” usul si sekretaris Randi.
”Tidak perlu. Mereka akan menilai kita tidak sopan dan tidak menghargai mereka. Sebaiknya kita hanya bisa bersabar untuk menunggunya.” tolak Randi.
”Tingkatkan kinerja kita pada perusahaan yang sudah bergabung. Perusahaan kita harus segera bisa kembali normal.” ucap Randi.
”Baik, Pak.” jawab semua.
”Hum! Rapat selesai! Semua kembali ke tempat kerjanya masing-masing.” titah Randi.
Semua anggota rapat membubarkan diri. Kembali pada mejanya masing-masing. Randi masih tetap di ruang rapat tersebut.
Dia mencubit pangkal hidungnya.
Sial! Ini semua karena Cindy dan ayahnya itu! Selalu foya-foya. Menggunakan uang tidak main kira-kira. Sekarang, aku yang pusing. benak Randi.
”Haih! Kalau saja ada kamu Fit....aku tidak pusing seperti ini.” gumamnya. Dia mengusap wajahnya dengan kasar.
Dia menyandarkan punggungnya sambil memejamkan mata. Matanya terbuka dan dia terkejut saat sebuah tangan memeluknya dari belakang.
Dia menoleh, ”Cindy? Kenapa kamu ke sini? Kamu lagi hamil besar, seharusnya kamu berada di rumah.”
”Aku mau ajak kamu berbelanja keperluan bayi.”
”Cin, Cindy...bulan kemarin kamu berbelanja kebutuhan bayi, Minggu kemarin juga kamu sudah berbelanja. Dan sekarang, kamu ingin berbelanja lagi?” suara nada bicara Randi terdengar kesal.
”Ish...mana cukup itu! Ayo, kita pergi berbelanja. Dua Minggu lagi anak kita akan lahir. Kita belum membeli keranjang tidur bayi. Selimut bayi, mainan bayi, kereta bayi. Ayok!” Cindy merengek sambil memegang lengan Randi.
Kepala Randi makin pusing, namun, dia juga tidak berbuat apa-apa. ”Baiklah, ayo!” terpaksa dia menurut.
Akhirnya dia dan Cindy pergi berbelanja kebutuhan bayi lagi.
__ADS_1