Fitri Raihana

Fitri Raihana
eps 25


__ADS_3

Sore hari.


Ardi dan Fandi telah bersiap untuk melakukan lari sore. Begitu juga dengan Fatma.


”Mama, Papa, tunggulah kami di luar. Hana mungkin masih tidur. Aku pergi lihat dia dulu.” ucap Ardi.


”Iya, cepat yah...jika kita terlambat, taman akan penuh. Nanti kita tidak dapat tempat untuk istirahat di sana.” sahut Fatma.


”Iya, Ma.” Ardi pun pergi ke kamar Fitri.


Sementara Fandi dan Fatma pergi ke teras rumah, menunggu kedua anaknya itu di sana.


Di kamar Fitri.


Fitri sudah bersiap dengan celana panjang hitam dan baju kaos hitam serta handuk kecil warna cream, menggantung di lehernya. Handset terpasang di kedua telinganya. Ia sedang mendengarkan musik. Rambutnya di ikat kuda.


Tok tok tok! ”Hana...ini aku, Ardi. Apa kamu masih tidur?”


Terdengar suara dari depan pintu.


”Bentar kak.” sahut Fitri. Ia mempercepat memakai lipgloss nya. Ia tersenyum sendiri melihat pantulan dirinya di cermin. ”Ratu cantik, sudah siap!” ucapnya pada bayangannya di cermin itu.


”Hana...”


”Iya, kak..iya..!” Fitri memakai sepatu olahraganya dan membuka pintu kamar.


Ardi terkejut melihat penampilan luar biasa Fitri. ”Penampilan mu ini... kamu sering menggunakan pakaian itu ketika lari sore. Tetapi..kali ini.. kamu memakainya kok agak berbeda, ya?”


”Masa sih, kak? Apa penampilan ku jelek? Aku akan menggantinya.”


”Ah! Tidak, tidak! Kamu terlihat cantik dan mempesona. Kakak cuma khawatir saja, apakah kakak dan papa bisa menghalau orang-orang yang akan memperhatikan mu nanti.”


Fitri tertawa kecil. ”Kakak, apaan sih! Hana biasa saja. Gak cantik amat, kok! Yuk, pergi! Papa mana?”


”Papa dan mama sudah menunggu di teras. Ayok, pergi.” Ardi memegang tangan Fitri.


Mereka pun pergi. Mereka sampai di teras.


”Mama, Papa. Maaf, Hana terlambat.” ucap Fitri.


”Tidak apa-apa! Ayok kita mulai saja larinya.” ajak Fandi.


”Ok!”


Mereka pun berlari kecil dan santai dari depan rumah. Fatma dan Fandi berada di depan. Sementara Ardi dan Fitri di belakang.


Mereka berlari santai sudah agak jauh dari rumah, sudah keluar dari kompleks bahkan sudah hampir mendekati kompleks lain.


”Kita akan terus berlari sampai di mana kak?” tanya Hana. Keringat sudah membasahi kening dan seluruh badannya.


”Kenapa? Capek? Kamu kalah dari mama dan papa. Coba lihat mama dan papa, mereka berdua masih tampak semangat berlari, padahal usia mereka jauh lebih tua darimu...”


”Hana masih kuat berlari kak. Jangan remehkan Hana.” pangkas Fitri. Ia tidak suka dirinya di banding bandingkan. ”Hana hanya bertanya saja tujuan lari kita itu sampai di mana?” jelas Fitri.


”Sampai di taman, tempat biasa.” jawab Ardi.


Tempat biasa? Aku tidak tahu. Lebih baik, tidak usah banyak tanya. Ikuti saja di mana larinya mereka. benak Fitri.


”Ayo...cepat sedikit, kita sudah jauh dari mama dan papa.” ucap Ardi.


”Iya, kak.” jawab Fitri.

__ADS_1


Mereka terus berlari. Kali ini larinya sedikit cepat, mereka ingin mengejar mama dan papanya yang sudah agak jauh larinya dari mereka.


Beberapa menit berlalu, mereka berlari telah sampai di taman. Di taman tersebut, telah ramai oleh para pengunjung. Mereka beristirahat di sana. Fitri dan Ardi beristirahat di bawah pohon rindang, Fitri berbaring berbantalkan paha Ardi, kakaknya itu.


Sedangkan Fatma dan Fandi, mereka juga beristirahat di tempat yang berbeda, namun, masih di taman tersebut.


”Kamu dengar lagu apa sih? Sepanjang jalan terus mendengarkan musik. Apa gak sakit telingamu?” tanya Ardi. Ia mengambil sebelah handset yang berada di telinga Fitri. Ia penasaran dengan lagu yang di dengar oleh adiknya itu.


Membuat Fitri terbangun dan duduk bersandar di pohon. Ia memindahkan handset yang ada di telinga kirinya ke telinga kanan, agar kakaknya juga bisa mendengarkan musik yang ia putar.


”Kamu suka lagu-lagu seperti ini?” tanya Ardi.


”Iya, kak.”


Ardi melihat Fitri. ”Hana...jujur kakak katakan. Semenjak kamu bangun dari pingsan, ada beberapa perubahan yang terjadi padamu. Entah itu dari kebiasaan tidur, makanan, kesukaan, musik, dan tingkah laku mu. Ada saja yang berubah darimu.” ungkap Ardi.


Itu karena aku dan Hana adalah orang yang berbeda. Aku bukan adik mu. benak Fitri.


”Lalu, menurut kakak bagaimana? Apakah aku ini adik kakak atau bukan?” tanyanya.


”Kamu adiknya kakak lah!” jawab Ardi.


”Hai...boleh aku duduk di sini? Bergabung bersama kalian?” ucap seorang pria yang berdiri di hadapan Ardi dan Fitri.


Ia melihat Ardi dan Fitri, namun, ia lebih melihat lama ke Fitri.


”Oh...boleh! Silahkan duduk, Bang!” kata Ardi.


Sementara Fitri, ia acuh saja, itu karena ia tidak mengenal pria yang sudah duduk di hadapannya itu.


”Bagaimana kabar mu, Ardi.”


”Alhamdulillah, baik, Bang.” jawab Ardi.


”Han, kamu gak sapa dosen mu?” bisik Ardi pada Fitri.


”Dosen? Apa dia dosen ku? Aku tidak mengenalnya.” balas Fitri berbisik.


”Iya, dia dosen mu. Tapi, dia sudah tidak mengajar di kampus mu lagi. Ia telah berpindah tugas.” jelas Ardi.


”Ekhem.” Pria itu berdehem. Ia seperti tidak di anggap kehadirannya di sana. Ardi dan Fitri sibuk berbisik-bisik.


Ardi dan Fitri melihat pria yang ada di hadapan mereka itu.


”Apa aku mengganggu kalian berdua?” tanya pria itu.


Fitri tersenyum, ”Iya, apa mata Anda buta? Anda lihat kan kalau kami berdua sedang berpacaran? Mengapa Anda sengaja datang untuk mengganggu kami?” tanyanya.


”Oh, ya? Kalian berdua berpacaran? Sudah lama pacarannya?” tanya pria itu lagi. Ia menahan tawa.


”Iya, kenapa? Anda tidak percaya?” Fitri mencium pipi Ardi. ”Apa Anda masih tidak percaya?” tanyanya pada pria di hadapannya itu.


Pria itu pun tertawa.


Fitri memandang pria itu dengan bingung.


”Hana! Bagaimana bisa kamu melakukan hal konyol di hadapan dosen mu? Dia itu pak Zahidin. Dosen yang selalu membantu mu di kampus.” ungkap Ardi.


”Apa?” mata Fitri membulat sempurna. Ia memang telah melakukan hal konyol. Zahidin memang tahu kalau dia dan Ardi adalah adik kakak. ”Kenapa kakak gak bilang padaku?” bisik nya pada Ardi.


”Bukan kah kakak sudah memberi tahu mu tadi? Kakak sudah bilang kan dia dosen mu.” balas Ardi berbisik.

__ADS_1


”Salahnya kakak tidak menyebut nama. Coba kakak katakan namanya adalah pak Zahidin. Kan gak mungkin Hana akan melakukan hal konyol.” bisik Fitri lagi.


Ia merasa malu. Jika saja lebih awal dia tahu pria itu adalah Zahidin, dia tidak akan bertingkah konyol begitu.


”Sudah, tidak perlu merasa malu sama aku. Aku juga tahu kamu, kok. Kamu kan memang tidak suka di dekati dan berbicara dengan pria lain, selain papa mu, kakak mu, paman mu dan pak dosen mu.” ucap Zahidin.


Fitri tidak menanggapi.


”Em..maaf, kan adikku, Bang.” ucap Ardi pada Zahidin. Dia juga merasa tidak enak hati sama Zahidin.


”Tidak jadi masalah!” sahut Zahidin.


Fitri melihat wajah pria itu baik-baik. Inikah pria yang namanya Zahidin? Nama pria yang ada di dalam buku diary Hana? Inikah Zahidin yang berada di dalam hati Hana? Dia kah pria yang di gelari dengan sebutan dosen tampan?


Aku akui dia memang tampan. Tapi, sayangnya...aku tidak berniat untuk memacari pria ini. Hana, maaf kan aku, aku tidak bisa mewujudkan kisah asmaramu dengan pria ini. Kamu mungkin akan caper kalau bertemu dengan pria yang kamu sukai ini, aku tidak. benaknya.


”Em...kakak, aku ke tempatnya mama dulu.” pamit Fitri. Ia berdiri.


”Tunggu!” Ardi dan Zahidin sama-sama mencegat Fitri. Tangan mereka juga sama-sama memegang tangan Fitri.


Fitri melepas tangan Zahidin. ”Kenapa kak?” tanyanya pada Ardi.


”Kamu tidak boleh bersikap begitu ke dosen mu. Mana sopan santun mu?” ucap Ardi.


”Tapi, kak. Aku tidak ingin bertemu dengan pria lain, dengan maksud lain.” sahut Fitri. Ia melihat Zahidin. ”Anda memang dosen ku dulu, sekarang tidak. Jadi, di antara kita tidak ada hal yang harus di bicarakan. Bukan kah tujuan mu hanya untuk menyapa kakak ku?” tanyanya pada Zahidin.


Zahidin terdiam. Tujuannya adalah mendatangi Fitri, bukan untuk Ardi. Zahidin memang tahu jika Hana tidak suka di dekati oleh pria lain. Bisa dekat dengan Hana karena ia seorang dosen. Meskipun begitu, sikap Hana terhadapnya sangat ramah dan sopan, tidak seperti sekarang ini.


”Hana...!” tegur Ardi.


”Sudahlah Ardi. Biarkan saja dia pergi.” Zahidin mencegat Ardi yang ingin menghalangi Fitri pergi.


Ardi menghela nafas, ”Maaf, Bang! Adikku bersikap tidak ramah padamu, juga berbicara kasar.” sesalnya.


”Tidak apa-apa! Aku sudah tahu, dia memang tidak suka di dekati oleh pria lain yang bermaksud lain padanya. Dia membentengi dirinya sendiri. Apa dia pernah kecewa atau pernah di buat sakit hati sama pria lain, pacarnya begitu?” tanya Zahidin. Ia penasaran.


”Setahuku tidak pernah. Dia tidak pernah pacaran. Kalau menyukai seorang pria, aku juga tidak tahu. Tapi... menurut ku, bukan kah sebelumnya hubungan Abang sama Hana baik-baik saja kan? Dia bersikap lembut, sopan, dan ramah padamu kan?”


”Iya, mungkin karena aku waktu itu adalah dosennya yang harus ia hormati.” Zahidin tertawa kecil. ”Adikmu sungguh menarik. Aku tertarik padanya. Aku akan mencoba mendekatinya, apa kamu keberatan?” tanyanya serius melihat Ardi.


Wah, tidak menyangka Hana tahu kalau Zahidin punya niat lain dekat dengannya. Bukan kah seharusnya Hana jatuh cinta pada lelaki seperti ini kan? Apa adikku itu sudah hilang ketertarikan dengan seorang pria? benak Ardi.


”Em...kalau aku pribadi sih tidak keberatan Bang. Semua tergantung dari Hana nya sendiri. Ini saja..ada orang juga yang menyukainya, tapi, dengan yakin dia menolak orang itu.” ungkap Ardi.


”Oh ya? Siapa pria itu?” tanya Zahidin penasaran.


”Dia adalah atasan barunya ayah ku. Namanya Fajrin.” jawab Ardi.


Zahidin terbengong. Apakah Ardi tidak mengenal namanya dengan baik?


”Oh...apa kamu sudah bertemu dengan Fajrin tersebut?” tanya Zahidin.


”Belum. Dia adalah seorang Ceo di perusahaan Wisma Grub.” jawab Ardi, jujur.


”Benar, kamu belum bertemu dengan Fajrin?” tanya Zahidin lagi.


”Iya,” jawab Ardi yakin. ”Aku punya nomor kontaknya. Aku juga tidak tahu darimana dia dapat nomorku.”


”Bagaimana pendapatmu tentang Fajrin?”


”Menurutku dia pria yang bertanggung jawab tentunya, karena dia berani mengemban sebuah perusahaan dari usia mudanya. Untuk sementara hanya itu saja pendapat ku tentangnya. Kalau untuk yang lain, kecuali saya sudah bertemu sama dia baru bisa memberi tanggapan untuknya.” jawab Ardi.

__ADS_1


Zahidin tersenyum di banggakan oleh calon kakak iparnya itu.


__ADS_2