Forbidden Love

Forbidden Love
Bab 31 Paroxysm ll


__ADS_3

Dibalik kaca bening yang tebal seorang lelaki berdiri tegak memantau rombongan keluarga besar itu masuk kedalam bagasi pesawat kargo, sekilas nampak tidak ada yang mencolok dari kegiatan tersebut. Bongkahan-bongkahan kotak kayu persegi panjang itu masuk dengan rapi kedalam armada terbang.


Dan ya dia adalah Jimmy sang pelaksana kegiatan kriminal pada keluarga Frans, ah tidak. Kata itu terlalu jahat untuknya. Sembari memejamkan mata dihisapnya cerutu itu sedalam mungkin seolah mencoba menenggelamkan paru-parunya dalam lautan asap, perasaan bimbang turut menenggelamkan otak cerdasnya dalam kepungan asap, membiarkan perkelahian hebat didalam sana saling mengadu kekuatan, dia hanya akan menunggu siapa pemenang dalam kendali dirinya. Jangan tanya apakah dia jahat, tidak bahkan Jimmy terbilang sangat melankolis untuk ukuran pemimpin klan sepertinya. Pemilik Int Corp hanya menjadikannya mesin pembunuh untuk menjalankan misi.


Sedari ia kecil otak cerdasnya penuh dengan doktrin-doktrin kejam dari sang ayah, nuraninya telah mati terkubur dendam yang mengakar semenjak kematian sang ibu ditambah lagi melihat keadaan istri dan anaknya yang sekarang berada ditangan musuhnya. Deklarasi perang yang dikumandangkan ayah Jimmy setalah kematian istrinya oleh ayah Frans menceraikan ikatan saudara diantara mereka.


“Jadi aku harus menghabisi saudara tiriku sendiri ya?” ucapnya sembari meyakinkan diri. Semburat senyum iblis menyamarkan kekhawatiran dalam dirinya.


“Anakku yang hebat, ayah bangga padamu. Lakukan dan selesaikan tugasmu disana dengan baik, ayah percaya padamu.” Seseorang berbicara melalui telepon genggam ditanganya.


“Kau boleh melakukan apapun pada lelaki itu, tapi jangan pernah menyentuh ibu dari anakku dad.” Ucap Jimmy dengan nafas menderu.


“Sudah saatnya kau bahagia nak, ayah hanya akan memberi sedikit sesuatu untuk kebaikanya, jadi kembalilah dan jaga cucuku dengan baik.” Sambung lelaki tua itu seraya mengakhiri secara sepihak pembicaraan mereka.


“Dia anaku tentu aku akan menjaganya dengan atau tanpa arahanmu.” Lirihnya saat memasukan benda kotak itu dalam saku.


Ia memutuskan kembali menuju Longyearbyen saat memastikan pesawat itu lepas landas dari pacuan nya. Memacu kuda besinya dengan kecepatan penuh untuk segera menghampiri sang putra dan kepokananya.


Jimmy selalu bersikap baik selama ini kepada Frans katakan dirinya ingin mengucapkan terima kasih karna menyelamatkan istri dan anak mereka dari kecelakaan hebat saat itu, namun ironinya justru memanfaatkan keadaan Agni yang mengalami amnesia dengan mengaku sebagai suaminya.


Jimmy tak punya pilihan lain selain menjadi tangan kananya untuk selalu dekat dengan Agni dan membuatnya perlahan ingat akan bagian memorinya yang terhapus, namun itu menjadi sulit karna wajah Jimmy saat ini susah untuk dikenali setelah ia melakukan operasi plastik pasca kecelakaan itu.


Betapa tidak ia menahan semua rasa sakit dan cemburu selama bertahun-tahun, membekukan mental dan rasa ibanya saat ini.


Namun ia memastikan bahwa tak akan membiarkan lelaki manipulatif itu menyentuh istrinya lebih dari ini.


Bahkan hingga saat ini Agni masih memiliki trauma atas pelecehan seksual yang pernah dialaminya tepat sebelum kecelakaan maut itu terjadi, semakin kesini keadaanya semakin membaik dan perlahan-lahan serpihan memori Agni kembali. Sehingga membuatnya semakin yakin untuk bergerak cepat.


Tidak mudah baginya untuk menyingkirkan Frans karna bisa diakui saudara tirinya memiliki kemampuan yang setara denganya, ditambah sifat manipulatif lelaki iblis itu.

__ADS_1


 


Suv hitam yang berisikan lima orang itu berhenti tepat di sebelah rumah singgah, mereka Jimmy dan kelompok Ray, setelah mengatakan bahwa mereka para orang tua sudah terlebih dahulu pergi mereka bergegas merapikan barang mereka dan meninggalkan tempat itu menuju bandara.


Jimmy mengatakan bahwa penyakit yang diderita Agni kambuh dan harus segera mendapat pertolongan, maka dari itu mereka langsung pergi tanpa menunggu Ray dan kawan. Spontan Ray terdiam karna dia sama sekali tidak tau ibunya memiliki riwayat penyakit dan sejenisnya, kehadiaran mereka yang secara tiba-tiba saja sudah sangat mengejutkan ditambah lagi saat ini. Sungguh Ray benar-benar dibuat pusing memikirkan ini.


“Katakan padaku paman, berapa banyak hal yang tidak aku ketahui ?” Tanya pemuda tampan itu dengan nada yang serius.


“Banyak nak, sangat banyak dan cepat atau lambat kau akan mengetahui semuanya, bahkan lebih terkejut dari pada ini.” Jawab Jimmy tenang sembari mengemudikan kendaraan mereka menuju landasan pesawat.


Jet pribadi bertuliskn Int Corp yang terparkir dengan megahnya telah siap dengan seluruh awak kabin berbaris menunggu kedatangan mereka.


“Selamat sore tuan dan tuan muda.” Sapa sang kapten dengan ramah, diikuti oleh para crew.


“Selamat sore.” Balas Ray dan hanya dibalas anggukan oleh Jimmy.


Pesawat pribadi itu terbang menuju London menyusul keberadaan Agni dan keluarga besar mereka yang lain yang lebih dulu tiba disana beberapa jam lalu. Ray merasa kali ini semua crew memperlakukan Jimmy sedikit berbeda dari saat biasanya, namun dia hanya berusaha diam.


Mata Ray kemudian membelalak saat ia menerima sebuah pesan gambar dari sahabatnya beberapa menit setelah pesawat lepas landas. Rohman berencana memberitahukan pada Ray penemuanya sepulang dari kegiatan mereka agar lebih privasi, namun ternyata keadaan tidak memungkinkan jadi Rohman fikir tidak ada waktu lagi.


Dibukanya pesan gambar itu yang merupakan hasil tes DNA Ray dan Jimmy, Rohman menggambil gambar saat memata-matai Jimmy kemaren malam karna curiga niat jahat Jimmy. Namun ternyata penemuanya seperti membalik keadaan saat ini.


“Aku harus apa man?” Tanya Ray dengan nada putus asa pada sahabatnya.


“Kita harus menanyakan kebenaranya pada Jimmy! Gak punya pilihan lain.” Imbuh Rohman.


Penerbangan singkat dari Norwegia menuju London hanya memakan waktu sekitar satu jam, sehingga mereka tidak sempat berbicara panjang lebar.


Sesampainya mereka dikediaman Jimmy, para maid segera menunjukan kamar mereka untuk beristirahat, karna sepanjang perjalanan Ray menemui Lexsa dan adiknya tertidur pulas di pesawat, ia menggendong nya tanpa berniat membangunkanya, sementara Rohman dia menggendong adik Lexsa.

__ADS_1


“Paman kita perlu berbicara setelah ini, aku akan segera kembali.” Disempatkan Ray berbicara pada Jimmy sebentar saat menuju kamar yang siapkan dan dijawab dengan anggukan singkat oleh Jimmy.


“Tuan menunggu anda diruang kerja tuan muda, mari saya antarkan.” Salah seorang maid memberitahu kepada Ray dan segera mengantarnya menuju ruang tersebut.


“Tuan, tuan muda sudah disini.” Ucap pelayan itu sopan didapan pintu ruang kerja Jimmy yang masih tertutup.


“Biarkan dia masuk.” Sahut Jimmy dari dalam.


Keterkejutan diwajah Ray nyata tak bisa disembunyikan, betapa raut wajah dengan sedikit nanar menatap sebuah gambar pria dan wanita mengekan gaun pernikahan, mereka tampak serasi dan bahagia. Ya itu adalah foto Agni saat masih muda namun salah seorang lelaki didalam foto itu tak dikenalinya, wajahnya berbeda dengan Jimmy, rasa penasaranya semakin mencuat.


“Duduklah, aku tau ini sangat mengejutkanmu.” Kata Jimmy perlahan lalu memberikan amplop coklat itu pada Ray.


“Aku sudah mengetahuinya, katakan padaku yang sebenarnya paman.” Ucap Ray tak sabar.


“Aku telat satu langkah darimu ternyata son.” Meski mengetahui bahwa sahabat anaknya telah memata-matainya secara diam-diam Jimmy hanya membiarkan saja.


Lalu ia mulai bercerita dengan menunjukan sebuah album pernikahan pada anak semata wayangnya.


“Ayahmu menjadi pria terbodoh yang ada dimuka bumi ini karna cintanya, maka kuharap kau tidak demikian.” Sebuah suara yang terdengar renta masuk tanpa ijin kedalam ruangan itu. Ya ia merupakan ayah Jimmy.


Sontak Ray menoleh pada sumber suara itu, pria tua itu masuk dengan mengenakan setelan semi formal dengan cerutu yang tidak lepas dari tanganya.


“Wajahmu sangat mirip dengan ayahmu saat muda dulu, nak. Kau cucuku, kemarilah peluk aku.” Dengan sedikit gugup berlarut bingung Ray menuruti saja perintah pria tua yang mengaku kakeknya itu.


“Lalu dimana ibuku?” tanya Ray kemudian kepada Jimmy.


“Ibumu ada diruangan khusus, ada dokter bersamanya.” Jawab Jimmy.


 

__ADS_1


__ADS_2