Forbidden Love

Forbidden Love
Tidak perlu di pikirkan


__ADS_3

“Aku sudah bilang kan sama papah, aku nggak setuju dengan hubungan Jennifer dan Nando. Nando itu bukan laki laki yang tepat untuk Jennifer pah. Nando bukan laki laki yang baik.”


Jennifer tidak sengaja mendengar suara kakaknya yang sedang mendebat papahnya pagi ini saat melintas di depan ruang kerja papahnya. Merasa namanya dan Nando di sebut, Jennifer pun merasa sangat penasaran hingga akhirnya memutuskan untuk mendekat ke arah pintu yang sedikit terbuka itu untuk mendengarkan lebih jelas lagi apa yang sedang di perdebatkan oleh kakak dan papahnya.


“Cukup Leo !! Papah tau apa yang terbaik untuk Jennifer. Jennifer itu anak papah. Papah lebih berhak memutuskan segala yang terbaik untuknya. Mengerti kamu !!” Tegas tuan Ardiansyah.


Jennifer menelan ludah. Gadis itu tidak mengerti kenapa pagi ini tiba tiba kakak dan papahnya memperdebatkan tentang kelangsungan hubungannya dengan Nando. Padahal Jennifer sudah benar benar bisa membuka hatinya untuk mencintai Nando.


“Nggak bisa gitu dong pah.. Aku juga kan kakaknya Jennifer. Aku juga nggak mau adik aku tidak bahagia. Aku nggak mau adik aku menyesal karena menderita pada akhirnya. Masih banyak pah laki laki diluar sana yang jauh lebih baik dari Nando untuk Jennifer.”


Tuan Ardiansyah menggelengkan kepalanya tidak menyangka Leo akan begitu sangat menantang hubungan Jennifer dan Nando. Padahal sebelumnya Leo begitu sangat setuju dan terus menggoda Jennifer.


“Apa mau kamu sebenarnya Leo? Kenapa kamu tiba tiba menentang hubungan mereka? Bukankah dulu kamu sangat setuju saat tau Jennifer dan Nando punya hubungan? Kenapa sekarang kamu menentang?”


Leo menelan ludah. Leo sendiri tidak tau kenapa dirinya merasa benci setiap melihat Nando dan Jennifer bersama. Apa lagi setiap hari Nando selalu membersamai Jennifer seolah berniat menjauhkan Jennifer darinya.


“Adik kamu terlihat sangat bahagia dengan Nando, Leo. Nando juga selalu bisa memposisikan dirinya menjadi pelindung yang baik untuk Jennifer. Dimana salahnya? Tolong jangan membuat adik kamu sedih.” Tuan Ardiansyah sedikit memelankan nada bicaranya berharap Leo mengerti dengan maksudnya.


“Kamu sendiri juga merasakan kan bagaimana rasanya jatuh cinta? Kamu juga pernah merasakan bagaimana setiap hari menghabiskan waktu dengan Sinta. Jangan kamu pikir papah nggak tau Leo, kamu bahkan tinggal satu atap dengan Sinta kan di Amerika?”


Kedua mata Leo melebar mendengarnya. Leo pikir papahnya tidak tau tentang hal tersebut.


Tidak hanya Leo saja yang terkejut, tapi juga Jennifer yang mendengarkan secara diam diam di depan pintu ruang kerja papahnya. Jennifer tidak menyangka jika kakaknya bahkan sudah pernah tinggal satu atap dengan Sinta padahal mereka belum menjadi pasangan suami istri.


Mendadak pikiran Jennifer menjadi bercabang kemana mana. Jennifer membayangkan bagaimana bebasnya Leo dan Sinta saat itu.

__ADS_1


“Pah aku...”


“Leo, laki laki yang baik adalah laki laki yang bisa menjaga kehormatan perempuan. Papah memaklumi apa yang kamu lakukan karena akhirnya kamu menikahi Sinta. Jadi mulai sekarang kamu berhenti merecoki hubungan adik kamu dengan Nando. Karena kamu jelas tidak lebih baik dari Nando.”


Enggan mendengarkan lebih panjang lagi perdebatan antara papah dan kakaknya, Jennifer pun memilih untuk berlalu dari depan pintu ruang kerja papahnya.


“Apapun yang terjadi, apapun yang akan kakak lakukan aku tidak akan berubah pikiran. Aku yakin Nando adalah jodoh terbaik yang Tuhan kirim untuk aku.” Gumam Jennifer penuh tekad.


“Loh dek.. Kamu nggak sarapan?” Tanya nyonya Ardiansyah pada Jennifer yang pagi itu nyelonong begitu saja melewatinya.


Jennifer berhenti melangkah kemudian menoleh pada mamahnya. Gadis itu tersenyum berusaha agar terlihat baik baik saja dan seakan tidak mendengar apapun tadi di ruangan papahnya.


“Eh mah.. Nggak deh mah. Aku lagi buru buru.” Jawab Jennifer yang akhirnya memutuskan untuk mendekat pada sang mamah.


“Loh, kan Nando belum datang jemput kamu..”


“Hem.. Ya mah.. Tapi...”


“Dek, sarapan itu penting. Kamu nggak boleh melewatkannya. Apa lagi kan kamu mau beraktivitas. Atau nggak mamah siapin bekel aja gimana?”


Jennifer menganggukkan kepalanya. Gadis itu tidak punya pilihan selain setuju dengan saran sang mamah untuk membawa bekal.


“Oke, tunggu ya.. Mamah ambil dulu kotak makannya.”


Jennifer menghela napas. Pagi ini Jennifer benar benar tidak ingin bertemu dengan kakaknya. Apa lagi setelah mendengar perdebatan Leo dengan papahnya tadi.

__ADS_1


Tidak lama kemudian nyonya Ardiansyah datang dengan membawa kotak makan untuk wadah bekal yang akan di siapkan untuk Jennifer.


“Nah kamu mau apa sayang? Mau sandwich atau nasi goreng sama telur ceplok?” Tanya nyonya Ardiansyah pada Jennifer.


“Hem.. Sandwich saja deh mah.. Tapi yang kacang yah.. Soalnya Nando lebih suka selai kacang dari pada selai coklat.”


“Iya deh iya mamah ngerti yang nggak pengin membuat calon suami merasa tidak suka.” Goda nyonya Ardiansyah yang hanya berhasil membuat Jennifer tersenyum kecil saja.


Sekitar beberapa menit menunggu, sandwich buatan nyonya Ardiansyah pun selesai. Wanita itu segera menyerahkannya pada Jennifer yang dengan cepat menerimanya.


“Makasih ya mah.. Kalau begitu Jennifer berangkat dulu. Bye mah..”


Dengan sangat terburu buru Jennifer menyalimi dan mencium pipi kanan mamahnya sekilas. Gadis itu kemudian melangkah cepat berlalu dari meja makan yang membuat nyonya Ardiansyah merasa aneh.


Jennifer sedikit berlari melewati halaman luas kediaman kedua orang tuanya. Gadis itu tidak ingin bertemu dulu dengan kakaknya yang pasti akan sangat menyita waktunya. Sekarang Jennifer tau kakaknya Leo merasa keberatan dengan hubungannya dan Nando. Dan Jennifer sudah bertekad apapun halangan itu dia akan menerjangnya. Karena Nando adalah pria yang berhasil membantu Jennifer melupakan perasaan terlarangnya pada Leo.


“Pagi non..” Sapa pak satpam yang pagi itu sedang menikmati secangkir kopi dan sepiring gorengan di depannya.


“Ya pak pagi.. Pak tolong bukain gerbang dong..” Balas Jennifer meminta tolong pada pak satpam dengan sangat terburu buru.


“Eh iya iya non.. Sebentar.” Saut pak satpam yang langsung meletakan gorengan yang sedang di nikmatinya kembali ke piring.


“Buruan pak...” Rengek Jennifer yang tidak ingin jika sampai Leo melihat dan mencegahnya.


Setelah pak satpam membuka kunci gerbang, Jennifer dengan cepat keluar dari gerbang. Gadis itu bahkan sedikit berlari saat menjauh dari area kediaman kedua orang tuanya.

__ADS_1


Pak satpam yang melihat itu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu karena kebingungan. Pria berkulit coklat gelap dengan postur tubuh tidak terlalu tinggi itu juga merasa aneh karena Jennifer keluar dari pekarangan rumah sebelum Nando menjemputnya. Apa lagi Jennifer juga tidak mengendarai mobil sendiri.


“Non Jennifer kenapa yah? kok aneh banget.” Gumam pak satpam bertanya tanya.


__ADS_2