
Sore ini Nando tidak bisa menjemput Jennifer di kampus. Namun pria itu sudah meminta tolong pada Mutia agar mengantar Jennifer yang memang tidak pernah lagi membawa mobil itu untuk pulang sampai di rumah dengan selamat dan tanpa kurang satu apapun.
“Aku benar benar nggak nyangka banget loh Jen kamu sama Nando bisa begitu dekat. Padahal dulu kamu sebal banget kayanya sama Nando. Kamu juga salah satu orang yang paling yakin Nando tidak akan mungkin jatuh cinta pada perempuan karena Nando adalah seorang gay.” Ujar Mutia sambil mengemudikan mobilnya.
Jennifer tertawa sendiri. Dulu memang Nando sangat menyebalkan karena begitu lancang beberapa kali menciumnya. Nando juga pernah melecehkannya. Tapi setelah mereka berdua dekat, lambat laun penilaian Jennifer terhadap Nando berubah. Nando sudah tidak lagi semenyebalkan dulu menurut Jennifer. Nando sangat pengertian dan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuknya.
“Aku serius Tia, Nando tidak semenyebalkan dulu sekarang. Dia sangat baik dan juga pengertian.” Balas Jennifer masih dengan sisa tawanya.
“Ya.. Kadang memang cinta itu berawal dari benci.”
Jennifer hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepala mengiyakan. Sekarang Jennifer merasa sangat tergantung pada seorang Nando Arseno. Tentu saja, karena hampir setiap hari Jennifer memang selalu menghabiskan waktunya bersama dengan Nando.
“Kamu tau Jennifer? Nando bahkan sampai meneleponku untuk menitipkan kamu sama aku. Sepertinya dia sangat takut kamu pulang sendiri dan terjadi sesuatu sama kamu. Apa Nando tidak tau kamu ini juara bela diri saat SMA?”
Jennifer tertawa lagi. Jennifer memang tidak banyak menceritakan sesuatu tentang dirinya pada Nando. Karena Jennifer memang lebih fokus dengan kedekatannya bersama Nando tanpa sedikitpun berpikir untuk menceritakan apapun tentang dirinya kecuali tentang rasanya pada Nando. Karena toh memang Nando juga sudah tau bagaimana perasaan Jennifer pada Leo bahkan tanpa Jennifer memberitahunya.
“Nando memang terkadang terlalu berlebihan.”
Mutia tersenyum. Gadis itu merasa ikut bahagia jika memang Jennifer bahagia bersama dengan Nando.
“Jadi bagaimana sebenarnya perasaan kamu sama Nando?” Tanya Mutia kemudian.
Jennifer terdiam namun senyuman masih menghiasi bibirnya. Jennifer tidak pernah berpikir tentang cinta pada Nando. Tapi Jennifer tidak bisa bohong karena bersama Nando, Jennifer memang merasakan nyaman juga aman.
__ADS_1
“Aku nggak tau Tia. Tapi.. Nando sangat baik dan selalu ada untuk aku.. Yah.. itu berhasil membuatku selalu merasa kurang jika sehari saja tidak bersama dia.”
Mutia mengangguk paham. Gadis itu mengerti jika memang Jennifer belum menyadari perasaan cintanya pada Nando.
“Oke oke.. Apapun itu aku harap kamu selalu bahagia ya Jen. Aku juga sangat berharap kamu bisa benar benar menghilangkan perasaan terlarang kamu pada kakak kamu.”
“Yah.. Aku pasti bisa Mutia.” Angguk Jennifer merasa yakin dengan dirinya sendiri.
Tidak lama kemudian mobil Mutia sampai tepat di depan gerbang kediaman keluarga Ardiansyah. Gadis itu segera membunyikan klakson dan pak satpam dengan sigap membukakan pintu gerbang tersebut.
Saat Jennifer hendak turun dari mobil Mutia, tiba tiba ponselnya berdering. Gadis itu segera meraih benda pipih yang ada di dalam tasnya itu lalu tersenyum begitu mendapati nama kontak Nando yang tertera di layar ponsel miliknya.
“Nando telepon.” Senyum Jennifer memberitahu Mutia dengan penuh rasa bangga.
“Sebentar aku angkat dulu.” Ujar Jennifer kemudian.
“Iya.. Ini aku sama Mutia sudah sampai di halaman rumah kok.”
Mutia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Nando seperti sedang mengkhawatirkan gadis TK yang baru menginjak usia 5 tahun dan tidak tau apa apa.
“Iya.. Nanti aku makan.. Kamu nggak usah berlebihan deh.” Jennifer kembali menyauti apa yang Nando katakan lewat sambungan telepon. Gadis itu berbicara dengan Nando dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya.
Sementara Mutia, dia hanya mendengarkan saja dengan perasaan geli. Jennifer dan Nando sudah benar benar saling ketergantungan sekarang.
__ADS_1
“Ya sudah kalau begitu udah dulu ya.. Kamu juga jangan lupa makan malam. bye..” Jennifer menutup teleponnya kemudian menghela napas dan menoleh pada Mutia yang pura pura saja tidak mendengar apa yang Jennifer katakan pada Nando di telepon tadi.
“Udah yuk, masuk..” Ajak Jennifer yang di angguki kepala setuju oleh Mutia. Mereka berdua kemudian turun dari mobil Mutia dan masuk ke dalam kediaman keluarga Ardiansyah. Untuk pertama kalinya sejak sepakat untuk sama sama dekat, Jennifer pulang dengan Mutia. Karena biasanya Jennifer selalu di antar jemput oleh Nando dan baru akan pulang setelah mereka menghabiskan waktu bersama entah hanya bermain di pasar malam atau duduk duduk santai sambil ngobrol di kafe.
------------
Sementara itu di tempat lain, ternyata bukan hanya Mutia saja yang menjadi saksi kebucinan Nando dan Jennifer. Tapi juga Daniel yang akan menghadiri rapat bersama di perusahaan sore ini. Hal itu juga yang membuat Nando tidak bisa menjemput dan mengantar pulang Jennifer sampai ke rumah.
“Baiklah.. Istirahatlah dengan baik sayang.” Ujar Nando sebelum menurunkan ponsel dari telinga kanannya.
Daniel menggelengkan kepalanya tidak menyangka Jika Nando akan benar benar sangat dekat dengan Jennifer. Bahkan mereka selalu bersama kemana mana. Terlebih jika melihat usaha Nando yang begitu sangat keras demi bisa membuat Jennifer merasa nyaman saat bersamanya.
“Sepertinya kamu sudah benar benar mencintai seorang Jennifer, Nando.” Ujar Daniel tersenyum geli menatap Nando yang sedang meraih kotak berwarna hitam yang ada di depannya.
Nando tertawa mendengarnya. Nando sendiri juga tidak menyangka hal itu akan terjadi. Karena sebelumnya Nando juga tidak pernah berpikir dirinya akan dekat dengan Jennifer seperti sekarang.
“Sepertinya memang begitu.” Balas Nando menatap sebentar pada Daniel yang duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya kemudian mulai membuka kotak berwarna hitam pemberian dari Jennifer siang tadi.
“Apa itu dari Jennifer?” Tanya Daniel yang membuat Nando mengeryit kemudian menatap Daniel lagi seolah sedang bertanya bagaimana kamu bisa tau?
“Tanpa kamu memberitahu ekspresi wajah kamu sudah menjawabnya. Dan sebagai sahabat sekaligus bawahan yang baik, aku hanya bisa mendo'akan semoga kamu selalu bahagia dengan apapun pilihan kamu.” Ujar Daniel.
Nando hanya tertawa pelan. Itu juga harapan terbesarnya untuk hubungannya dan Jennifer saat ini.
__ADS_1
Nando kemudian meraih sesuatu yang ada di dalam kotak hitam tersebut. Sebuah dasi warna hitam dengan motif batik yang tentu Nando tau berapa harganya. Namun seberapapun harganya Nando tidak mempermasalahkan. Karena apapun hadiah pemberian dari Jennifer, Nando akan menerimanya dengan senang hati.
Daniel yang juga melihat dasi tersebut tersenyum. Daniel juga tau berapa harga dasi tersebut tapi Daniel tau bagaimana Nando. Nando bukan orang yang memandang sesuatu dari harganya. Tapi dari manfaatnya. Apa lagi jika barang itu pemberian dari orang yang sangat berharga baginya.